Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hurt
Aku keluar dari ruangan Pak Wisnu sambil menatap satu persatu sekretaris disana. Mereka balas menatapku dengan kuatir.
Lalu mereka juga menatap Pos Seven.
"Six. " sapa Pak Bima
Ini dia biang keroknya datang...
"Nanti siang Angeline datang, tolong kamu temani dulu yah kalau saya belum selesai meeting dengan Pak Leon."
Aku hanya menatapnya dingin.
Rasa kesal langsung menyeruak di hatiku.
Tapi aku memutuskan untuk tidak terpancing oleh suasana.
"Baik Pak. Email dari Big Boss mengenai Draft Kontrak HaidarTechno sudah saya kirimkan ke email bapak."
"Oke." Balas Bima masih tanpa eskpresi.
*****
Saat siang sebelum Angeline datang, aku makan bento di pantry sambil mengacak-acak salad.
Beneran aku kesal.
Aku memang ngga suka sama Seven, tapi kalau perusahaan aturannya merendahkan kaum wanita seperti ini, aku lebih ngga terima lagi.
Aku bersandar di sofa santai yang ada di dalam pantry
Capek...
Lebih ke pikiran daripada ke fisik.
Aku menyalakan rokokku dan merebahkan diriku.
Lucas di mana sih?
Lagi ngapain dia?
Kok ngga bilang-bilang sama aku kalau mau cuti.
Ngga balas pesan juga.
Telepon juga ga diangkat...
Aku bertekad buat ngambek sejadi-jadinya kalau ketemu.
"Six..."
Aku menoleh dan melihat Nine disana. Menatapku dengan kuatir. Ia masuk bersama dengan Ten dan Eight.
Aku menegakkan tubuhku. Waspada.
"Ya?"
"Farah dipecat katanya. Aku dengar mereka mau cari Seven yang lain." kata Nine.
"Iya, barusan Pak Wisnu ngomong."
"Kamu ngga tau masalahnya?"
"Secara detail ngga tau, Saya cuma tahu kalau Pak Bima sudah ngga mau pakai dia sebagai sekretaris."
Nine menatapku sambil menyelidik.
"Waktu itu, di ruang tunggu... Kamu ngomong apa sama Jihan dan Angeline?"
Nah...
Sampailah pada pertanyaan jebakan.
"Saya bilang, mereka berdua harus saling bantu karena sama-sama tersakiti oleh Bima." kataku.
"Itu saja?"
Aku mengangguk.
"Kita wanita memang rentan dilecehkan. Tapi bukan berarti kita harus mengemis cinta ke laki-laki. Saya barusan tanya ke Pak Wisnu kenapa Pak Bima ngga mau pakai Farah lagi. Tapi dia ngga jawab. Kalian tahu jawabannya?"
"Memang sepenting apa jawaban kami?"
"Saya atasan kalian, bisa saya pakai untuk meringankan kesalahan Farah. Setidaknya untuk membela dirinya."
Nine memandang Eight dan Ten, meminta persetujuan.
"Waktu kamu udah pulang, Angeline masuk ke ruangan." sahut Nine.
Aku memutuskan untuk hanya menyimak kali ini, ngga ingin salah ngomong juga.
"Sekitar beberapa menit Bima dan Angeline bicara di luar. Setelah itu Bima masuk lagi ke ruangan dengan marah, mendesak Farah ke tembok. Dia teriak-teriak." kata Nine.
"Ternyata selama ini, Farah yang memblokir nomor Angeline. Dia sengaja membajak telepon Bima waktu mereka sedang bersama di hotel. Lalu Farah juga bilang ke sekuriti di rumah Bima, agar menghalangi Angeline masuk. Dan kemarin saat Bima pulang dari Singapur Farah ceritanya mulai melenceng, dia bilang kalo Angeline datang ke kantor ngomel-ngomel karena uang belanja buat anaknya kurang, padahal bukan itu."
Aku menghela napas. Itu sih salah Farah.
Tidak...
Selama ini semua salah Bima.
Sudah menghamili wanita lain, malah bercinta dengan sekretarisnya. Wanita mana yang tidak menaruh hati saat merasa dicintai. Mereka pikir mereka dicintai, tapi nyatanya mereka dibohongi.
False hope is worse than despair (Jonathan Kozol)
"Saya akan upayakan Farah masih bisa bekerja di Beaufort, tapi sudah tidak bisa di sini." desisku akhirnya.
"Nine, Ten, kalian bagaimana?" Tanyaku
Nine dan Ten saling melirik dengan bingung.
"Bagaimana apa?" tanya Nine.
"Masih mau menjalani kehidupan seperti Farah?"
Nine menghela napas.
"Aku ngga ada perasaan apapun ke Aria ataupun Bima. Aku lakukan cuma demi karier."
"Aku juga biasa aja sama Andre. Aku punya banyak pacar lain di luar kantor." Kata Ten.
"Memang kantor bayar kalian bonus untuk melayani birahi direksi?" sindirku.
Mereka mendengus.
"Kalau kalian sedang ngga mood atau kesakitan, para laki-laki itu mau tanggung jawab?" tanyaku lagi.
"Kehidupan ini bukan hanya berputar di kaki kalian. Kalian pikir dengan kenal secara intim dengan para Direksi, maka karyawan yang lain akan mau kalian suruh-suruh, berlagak ratu, begitu? Secepatnya akan muncul pengganti kalian. Yang lebih cantik, lebih pintar, lebih..." Aku menatap Nine dan Ten dari atas ke bawah. "Lebih muda, lebih kencang, lebih seksi, dengan dada yang lebih besar."
Aku menunjuk dada Nine. "Dulu bagian tubuh kamu yang itu bentuknya ngga kayak gitu, Nine." sedikit melecehkannya agar dia langsung sadar kalau dia hanya diperas tenaganya.
Nine reflek menutupi dadanya. Lalu menatapku marah.
"Jangan emosi dulu, kamu tahu persis maksud saya bukan menghina kamu." sahutku cepat.
Mereka diam.
*****
Aku menghubungi Pak Alex.
"Six..." sapanya.
Kenapa suaranya yang rendah membuat hatiku hangat yah... Seperti menghipnotis otakku untuk langsung tersenyum.
Entah bagaimana, aku merindukan suaranya.
"Siang bapak, apa kabar?"
"Baik... Yah, sedikit kacau disini. Saya sedang usaha membereskan semampu saya. Kamu sudah makan siang?"
"Saya sedang makan siang. Pak Alex bagaimana?"
"Baru mau jalan, sama... Leon."
Aku berdecak, pelan sebenarnya.
Tapi rupanya terdengar dari sana.
"Kenapa? Kamu ngga suka saya jalan sama Leon?"
Aku menaikan alisku, malu mengetahui kalau ketahuan berdecak.
Padahal maksudku aku jengkel dengan Leon yang tiap hari aktivitas bareng Pak Alex tapi ngga mau kasih tahu aku sama sekali tampang Big Boss.
"Saya tadi sambil makan Pak, maaf... Bukan maksud saya."
"Masa?" pancing Pak Alex.
"Iya pak. Ehm..." aku berdehem salah tingkah.
"Kalau kamu ngga suka, saya cari teman makan yang lain."
"Maksudnya?!?" terdengar ocehan Leon dari seberang.
"Dia protes tuh."
Aku terkikik.
Ternyata mereka bisa bercanda juga.
"Saya boleh mengganggu sebentar pak?" Tanyaku akhirnya.
"Mau ganggu seharian juga ngga papa."
Aku menyeringai.
"Bar! Bara!! Lo denger ngga barusan?! Boss gue barusan jadi bucin!!" seru Leon dari seberang sana.
"Six! kalo Kamu ganggu seharian, kerjaan dia ngga beres-beres! Nanti ngomel mulu kayak lagi PMS!" terdengar sahutan Bara.
"Maaf asisten saya ngga ada akhlak semua, soalnya waktu masuk sini ngga pada di psikotes." sahut Pak Alex.
"Lagi ramai yah pak, saya jadi ingin segera bergabung." Desisku.
"Hm... Saya juga pingin kamu segera bergabung. Sabar yah..." katanya. Ada nada menenangkan dari suaranya.
"Jadi, ada masalah? Atau cuma pingin ngobrol saja karena galau?" tanya Pak Alex.
"Hem...dua-duanya benar sih pak. Ini tentang salah satu sekretaris di bawah saya, Number Seven. Dia berbuat kesalahan tapi ranahnya sudah masuk ke hubungan personal. Tadinya saya tidak mau ikut-ikutan dengan persoalan pribadinya, tapi nyatanya dia dipecat karena hal itu. Selama ini saya sudah mencoba memperingatkan ia dan teman-temannya, namun memang tidak terlalu kentara. Karena saya kurang pengalaman dalam hal memimpin, atau saya tidak terobsesi menjadi pemimpin, yang manapun benar. Tapi... Walaupun saya tidak terlalu suka dengan sifat anak buah saya, sebagai atasannya saya tahu benar dia sudah berusaha sekuat tenaga bekerja dengan baik. Selama ini saya berusaha netral dengan lebih objektif menilai pekerjaannya. Tapi rupanya ada yang bertindak tidak profesional di sini...jadi..." aku menghela napas.
"...saya ingin menyelamatkan anak itu, supaya dia bisa lebih bebas menjadi dirinya sendiri. Di sini, dia hanya dibutakan oleh nafsu."
Pak Alex terdiam.
Entah dia menyimak,
Entah dia tidak mengerti, jadi memutuskan untuk diam saja menanggapi kegalauanku.
Entah dia sebenarnya ngga setuju denganku.
Dia hanya diam.
Aku memutuskan untuk melanjutkan kata-kataku.
"Pak, Saya... Boleh mengajukan barter karyawan?"
"Di sini, Leon sedang butuh asisten kalau itu maksud kamu. Bara punya asisten banyak, tapi Leon kerja sendiri. Siapa yang kamu ajukan?"
"Farah, ex Number Seven."
"Hm..."
"Full recomended..."desisku.
"Begitu? you're sure?"
"Ya Pak. Mohon dapat dibantu."
"Kamu tahu resikonya disini yah Six, kalau performanya tidak sebagus rekomendasi kamu, kredibilitas kamu juga menurun." kata Pak Alex. "Kamu juga tahu persis Leon sulit ditangani. He hates human..."
"I'm also a human."
"Nope, you're an angel..."
Gombal banget, tapi aku suka.
"Terimakasih atas bantuannya pak."
"Kamu buat memo internalnya yah, nanti saya tandatangan, sekarang saya mau rayu dulu si Leonnya."
"Baik bapak. Selamat Siang."
Aku langsung bergegas ke ruangan Pak Wisnu untuk memberitahu rencana yang kubicarakan dengan Big Boss.
*****
Setelah makan siang, Angeline datang. Para Sekretaris menatapnya dingin.
Bima belum datang jadi aku menemuinya. Dia menggendong Gabriel. Sesuai namanya, dia sangat tampan. Wajahnya mirip Angeline tapi versi laki-laki.
Laki-laki kecil yang manis.
"Sayaaang... Kamu ganteeeng bangeett..." aku langsung menggendongnya. Aku ngga bisa pasang tampang dingin kalau menghadapi malaikat. Dia bahkan tertawa melihatku.
"Kamu selama ini melindungi mama kamu yah, temenin mama terus yah biar mama ngga nangis, biar mama kuat yah... Aduh, pinter banget kamu sayaaaang..."
Angeline terlihat berkaca-kaca mendengarku mengobrol dengan Gabriel.
"Thank's..." Bisik Angeline.
Aku mencium pipi wanita itu.
Aku bisa melihat tatapan menusuk dari para sekretaris.
Mereka mencurigaiku.
Tapi urusan Farah bukan urusanku. Hanya karena penyebab Farah dipecat adalah Angeline, bukan berarti aku berhenti berteman dengan Angeline.
Dan lagi kehidupanku, aku akrab dengan siapa saja, bukan urusan mereka.
"Six..."
Aku mendengar suara yang kukenal dari arah belakangku.
Farah ada disana.
Dengan pakaian casual.
Pandangannya menatapku nanar.
Para sekretaris di belakangku langsung menghampirinya dan memeluknya.
Aku melihat Angeline tegang melihat Farah. Muncul guratan urat di dahinya, pertanda kalau wanita itu sangat marah.
Aku diam saja sambil menimang Gabriel. Kalau di suasana biasa sudah pasti ia akan melabrak Farah, tapi saat ini ada Gabriel, jadi bisa lebih terkendali. Bagaimanapun ia tidak akan ingin terlihat sebagai ibu yang menyeramkan didepan anaknya.
"Six," Farah mendekatiku.
Ia melirik Angeline lalu menunduk sepintas, menghormat.
Semua melihat tingkahnya dengan heran.
Aku sih, sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Terimakasih... Kamu sudah memperjuangkan aku. Karier aku. Penghasilan aku...." ia terdengar tercekat. "...Harga diriku..."
"Keputusannya sudah keluar yah?" kataku. Cepat juga diputuskan, baru satu jam berselang dari aku merayu Big Boss.
"Padahal aku sering jahat sama kamu, aku sering provokator orang lain untuk ngejauhin kamu, aku juga sering nyebar gosip tentang kamu..."
"Itu sih... Karma kamu."
"Iya, aku terima karmaku. Maaf sekali lagi."
Aku mengangguk.
"Kapan mulai kerja?"
"Hari ini aku sudah dipanggil. Mereka butuh orang untuk mengurus administrasi."
"Jadi nanti secara ngga langsung, kamu penghubung saya untuk kantor pusat yah, saya tidak harus mengganggu Pak Leon lagi."
Farah mengangguk.
"Sekarang, aku bisa dipanggil Farah, bukan Number Seven lagi." ia menyeringai.
Aku tersenyum membalasnya.
"Farah..." aku memanggil namanya. Mungkin pertama kali sejak kami mengenal aku memanggil nama aslinya. Aku memutuskan untuk mengucapkan kalimat ini agar yang lain juga mendengar. Juga aku melihat Bima yang baru datang memperhatikan kami dari ujung ruangan.
"Yang perlu direnungkan bukanlah apakah kamu dirobohkan, tetapi apakah kamu bisa bangkit." Kataku.
"Jangan pernah bekerja hanya untuk uang atau untuk kekuasaan. Hal itu tidak akan menyelamatkan jiwa kamu atau membantu kamu tidur di malam hari..."
Farah menitikkan air mata.
"Bu Angeline, maaf... Saya banyak berdosa sama ibu. Saya mengakui kalau saya sudah jatuh cinta sama Pak Bima, dan saya ingin menguasainya sendirian... Beliau tidak menjanjikan apapun, tapi saat dia memeluk saya, saya semakin terlena sehingga saya malah membuat Bu Angeline tersiksa..." isaknya.
Angeline hanya menatap Farah dengan miris.
"Saya ngga berharap dimaafkan, bu. Tapi saya berharap ibu sehat selalu..." Farah menunduk menghormat lagi.
Angeline mengambil Gabriel dariku, lalu menghampiri Farah.
"Perkenalkan, Tante Farah... aku Gabriel..." desisnya mendubbing suara Gabriel sambil tersenyum.
Tangis Farah langsung pecah, ia berlutut di kaki Angeline.
Aku menatap Bima dengan tajam.
Puas kamu sekarang? Disini yang paling punya andil terhadap rasa sakit mereka, adalah kamu, Bima.
Pria itu hanya diam sambil menatapku dan memutuskan untuk keluar. Kemunculannya hanya akan menjadi polemik, dengan bijaksana ia memutuskan mundur dulu sementara.
DOA TAHTIM/KHATAMAN SETIAP MALAM JUMAT
_Juz_
1. Ali. M🚣🏻🎣
2. Ali. F💫
3. Yazid🤲🤲🤲
4. Imam/ Diryono🕋
5. Fitri 🕋
6. Amel/ Umami
7. Elya 🕋❤️
8. Yoyok/Afifah🕋🫰
9. Ipeh🕋
10. Zainu🕋
11. Tri' 🥰🕋
12. Jarot😎😎😎
13. Indarti /Inayah
14. Tarom/Anik🌻
15. Asfurin🇲🇨🇲🇨🇲🇨
16. Mawar 🕋
17. Khuzaenal🕋
18. Karwati/Yossy🕋
19. Wahyudin🎓
20. Iftah🕋
21. Taufiqi 💯
22. Zaenal 🕋
23. Tutik 🕋
24. Rofi'i🌽
25. Zaini/Samsul
26. Umi Hanik✅
27. Suryanti🕋
28. Haris🕋
29. Dewi/ Kodriyah 🕋
30. Qoif 🕋🕋
*Bagi yang berhalangan bisa menghubungi yg belum dapat juz atau segera mencari yg badali terima kasih*🙏
*Mohon dibaca sesuai waktunya, kalau memang tidak bisa segera laporan biar bisa digantikan yang lain, terima kasih 🙏*
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.