Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah Pikiran
Di luar, suara Madri terdengar lagi, kali ini lebih pelan tetapi sarat keseriusan.
“Tuan Cakra sudah menyiapkan kediaman baru untuk Anda. Jika Anda bersedia, Anda bisa pindah ke sana secepatnya.”
Jenara yang mengintip dari balik pintu menahan napas.
Seran tidak langsung menanggapi. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab dengan suara rendah.
“Sampaikan terima kasihku kepada Paman Cakra. Tapi, aku akan memikirkannya dulu. Aku tidak mau membuat anak-anak dan Jenara terkejut. Mereka yang pertama harus aku lindungi."
Dada Jenara bergetar mendengar namanya disebut. Mungkinkah Seran menganggapnya penting, hingga ingin menjaga dan melindunginya setiap saat?
Detik selanjutnya, terdengar bunyi kursi yang bergeser diikuti langkah kaki. Pertanda Madri serta temannya akan berpamitan pulang.
Panik, Jenara bergegas menjauh dari pintu. Ia berbalik cepat ke ruang tengah. Seolah tak terjadi apa-apa, Jenara duduk di antara Si Kembar Tiga dan mulai menyuap nasi.
Benar saja, tak lama kemudian Seran masuk ke rumah. Pria itu meletakkan sandal dan ikut duduk di tikar. Kehadirannya terasa begitu dekat, tetapi Jenara sengaja menjaga jarak. Tanpa menatap Seran, ia menyodorkan piring tanah liat yang sudah berisi nasi dan lauk.
Seran menerimanya. “Bagaimana? Kau suka rasa masakan di kedai ini?"
“Hem,” jawab Jenara singkat seraya menatap piringnya sendiri.
Seran menoleh, jelas menyadari sikap dingin sang istri meski ia tidak berkata apa-apa.
Jenara sengaja mengalihkan perhatian sepenuhnya pada 3G. Ia mengambil kain kecil, mengelap bibir Gita yang berminyak, lantas membersihkan sudut mulut Gatra dan Giri bergantian.
“Ayo, setelah makan cuci tangan yang bersih,” kata Jenara pada anak-anak.
Jenara bangkit dan mengantar 3G ke pancuran air, memastikan tangan mereka bersih. Begitu selesai, Jenara menggandeng mereka menuju kamar.
“Ayo, Ibu temani kalian ke kamar,” kata Jenara sengaja mengeraskan suaranya. “Sekalian Ibu ceritakan dongeng Pangeran Kodok yang Terkena Sihir.”
Tanpa menoleh ke arah Seran, Jenara berjalan dengan tenang. Padahal dalam hati, ia masih memendam rasa jengkel yang belum sempat diungkapkan.
Di dalam kamar 3G, cahaya lampu minyak menyala temaram. Jenara menutup pintu perlahan, memastikan bunyinya tidak sampai ke telinga Seran di luar. Setelah itu, ia memberi isyarat agar Si Kembar Tiga duduk di tepi tempat tidur masing-masing.
“Duduk yang manis."
Gatra, Giri, dan Gita menuruti perintah Jenara. Wajah mereka menatap Jenara dengan polos, sama sekali tidak menyadari gelombang pikiran yang sedang berkecamuk di benak perempuan itu.
“Anak-anak, boleh Ibu bertanya sesuatu dulu?" ucap Jenara hati-hati. "Apa kalian ingat siapa Ibu kandung kalian?”
“Maksud Ibu… sebelum Ibu menikah dengan Ayah Seran, kalian pasti bersama Ibu yang melahirkan kalian.”
Tiga pasang mata itu saling pandang, sebelum akhirnya mereka menggeleng bersamaan.
“Kalian tidak ingat?” tanya Jenara heran.
Giri, yang biasanya paling berani bicara, menggeleng lagi. “Kami tidak punya Ibu. Dari kecil kami bersama Nenek dan Ayah Bhadra.”
Jenara tersentak kaget mendengar nama asing itu. Mengapa Giri menyebut nama ayahnya Bhadra, bukan Seran? Mungkinkah Bhadra itu saudara laki-laki Seran?
Gita buru-buru menimpali, “Iya. Kata Nenek, Ibu kami meninggal setelah melahirkan kami.”
Jenara pun menatap ketiga anak itu satu per satu, mencoba menemukan kebohongan atau keraguan. Namun yang ia temukan hanyalah kejujuran polos anak-anak yang berusaha menyampaikan kebenaran.
“Lalu, di mana Ayah Seran saat kalian masih kecil? Dan siapa Ayah Bhadra itu?" lanjut Jenara penasaran.
Krek.
Pintu kamar terbuka sedikit sebelum 3G menjawab. Seran melongok dari luar. Tatapannya langsung jatuh pada Jenara dan anak-anak yang masih duduk di tepi tempat tidur.
Refleks, Jenara segera berubah sikap dan mengalihkan pembicaraan. “Kalian semua berbaring di ranjang dan Ibu akan mulai bercerita."
3G langsung menurut, meringkuk di tempat tidur masing-masing. Jenara duduk di antara mereka, mulai mendongeng dengan suara lembut yang mendayu-dayu. Ia menceritakan seorang pangeran yang dikutuk karena kesombongannya. Sang Pangeran berubah menjadi kodok dan bersembunyi di rawa, hingga bertemu gadis cantik yang tulus padanya.
Tak lama, napas anak-anak mulai teratur. Mata mereka terpejam satu per satu.
Jenara menunggu beberapa saat untuk memastikan 3G tertidur lelap. Kemudian, ia membenahi selimut mereka dan melangkah keluar kamar.
Jenara menutup pintu dengan hati-hati, berniat menuju kamarnya sendiri. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh, dan hatinya masih panas oleh kejengkelan pada Seran. Sebab, pria itu bukan hanya melarangnya memasak, tetapi juga menyimpan terlalu banyak rahasia.
Namun begitu pintu kamar dibuka, langkah Jenara terhenti. Seran sudah ada di sana, sedang bersandar pada bantal. Lampu minyak di sudut kamar membuat bayangan wajah tampan lelaki itu semakin nyata.
Tanpa berkata apa-apa, Jenara berjalan ke sisi tempat tidur yang kosong. Ia naik, berbaring, lalu memunggungi Seran. Jarak di antara mereka hanya sejengkal, tetapi terasa seperti jurang yang lebar.
Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya suara Seran memecah keheningan.
“Jenara, kau marah padaku?”
Jenara tak menyahut. Sejak tadi ia memang sengaja membisu di hadapan Seran. Diam adalah satu-satunya cara agar ia tidak meledak.
Seran berdehem kecil. “Sejak tadi kau tidak bicara. Apa yang membuatmu marah?” tanya Seran melembutkan suaranya.
“Pikir saja sendiri," balas Jenara ketus.
Dari belakang punggungnya, Jenara bisa mendengar helaan napas Seran yang berat. Seolah pria itu bisa membaca isi pikirannya, tetapi enggan untuk mengungkapkan.
"Apa kau sangat ingin memasak untuk Tuan Gubernur?”
Pertanyaan itu membuat Jenara sontak berbalik. Ia menyipitkan mata, menatap Seran dari jarak dekat. Amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya menemukan celah untuk keluar.
“Kau tahu, aku sedang berusaha berjualan makanan. Kesempatan memasak untuk Tuan Gubernur itu bukan soal gengsi. Itu peluang.”
Jenara menelan ludah lantas melanjutkan dengan suara bergetar.
“Jika Tuan dan Nyonya Gubernur menyukai masakanku, orang-orang akan lebih percaya padaku. Usaha makananku bisa lebih cepat berkembang. Tapi, kau malah menghalanginya. Mengambil keputusan sendiri, seolah pendapatku tidak penting.”
Setelah meluapkan emosinya, Jenara membalikkan badan lagi. Dadanya naik turun menahan rasa kecewa dan jengkel.
"Kalau kau keberatan ikut, itu masalahmu sendiri. Jangan libatkan aku," pungkas Jenara. Kali ini, ia tak peduli bagaimana Seran akan bereaksi. Andai mereka harus berdebat panjang, ia tak segan untuk meladeninya.
Namun di luar dugaan, suara Seran justru terdengar lebih pelan dan berat.
“Baiklah, kalau itu maumu… aku tidak akan menghalangi. Kau bisa memasak untuk Gubernur."
Jenara tertegun. Ia tidak berbalik, tetapi kata-kata Seran bergema jelas di telinganya. Kenapa pria ini mendadak berubah pikiran, dan mengizinkannya berpartisipasi dalam penyambutan Gubernur?
to, bagaimana dgn triplets?