Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Belajar Berdiri Bersama
Pagi itu udara terasa lebih segar, seolah ikut menyambut perubahan yang perlahan terjadi di kediaman Adhyaksa. Tak ada lagi keheningan yang menegangkan di meja makan. Argan sudah duduk di tempatnya, namun kali ini ia tak lagi menunduk pada piringnya sendirian. Saat Aruna masuk, ia mengangkat wajah dan memberikan senyum tipis yang tulus—senyum yang kini mulai sering ia tunjukkan, seiring berjalannya waktu dan kehadiran gadis itu di sisinya.
“Selamat pagi, Aruna,” sapanya lembut. “Silakan duduk.”
“Selamat pagi, Argan,” jawab Aruna sambil tersenyum, lalu duduk di sebelahnya seperti yang sudah menjadi kebiasaan mereka. “Anda terlihat lebih segar hari ini.”
“Aku merasa lebih ringan,” akui Argan pelan. “Seolah beban yang selama ini memukul pundakku perlahan terangkat. Bukan karena kakinya yang sembuh, tapi karena ada seseorang yang bersedia memikulnya bersamaku.”
Aruna menahan rasa haru yang tiba-tiba menyelimuti dadanya. Ia tak menyangka kata-kata sederhananya dulu kini benar-benar mulai meresap ke dalam hati pria itu. “Kita saling memikul, Argan. Bukan saya saja.”
Setelah sarapan, Argan mengajak Aruna ke teras belakang yang menghadap ke taman luas. Di sana udara bersih dan bunga-bunga bermekaran indah. Ia menggerakkan kursi rodanya perlahan ke arah jalan setapak berbatu yang dulu sering ia lalui saat masih bisa berjalan bebas. Aruna berjalan di sampingnya, sesekali membantu mendorong saat jalannya sedikit menanjak.
“Dulu aku benci tempat ini,” ucap Argan tiba-tiba sambil menatap ke arah kolam ikan kecil di tengah taman. “Karena di sini aku sadar betapa banyak hal yang tak bisa kulakukan lagi. Berlari, duduk di tepi kolam, atau sekadar berjalan tanpa arah bersama seseorang. Semuanya terasa seperti kenangan yang menyakitkan.”
Aruna berhenti di sampingnya, menatap pemandangan yang sama. “Tapi sekarang tempat ini terasa berbeda, bukan? Karena Anda tidak lagi melihatnya sebagai tempat yang mengingatkan pada apa yang hilang, melainkan tempat di mana kita bisa menciptakan kenangan baru.”
Argan menoleh padanya, matanya berbinar lembut. “Kau selalu bisa melihat sisi lain dari segalanya, ya? Bahkan saat segalanya tampak gelap dan suram.”
“Saya hanya belajar dari Anda,” jawab Aruna jujur. “Anda tetap berdiri tegak—meski di kursi roda—saat semua orang menjatuhkan Anda. Itu yang membuat saya berani.”
Di tengah taman yang damai itu, mereka mengobrol lama. Argan bercerita tentang masa kecilnya, tentang impian-impiannya yang sempat terhenti, tentang ketakutan yang ia sembunyikan dari semua orang. Aruna mendengarkan dengan saksama, tak memotong, tak mengasihani—hanya hadir sepenuhnya di sana. Dan saat Argan selesai bercerita, ia merasa seolah sebagian besar luka di hatinya sudah mulai mengering.
Siang harinya, mereka kembali ke kantor bersama. Kali ini suasana jauh lebih hangat dan penuh harapan. Para karyawan menyapa dengan senyum tulus, bukan lagi sekadar sopan santun yang kaku. Aruna semakin mahir memahami urusan perusahaan, kadang memberikan pandangan yang sederhana namun tepat sasaran—sesuatu yang sering kali terlewatkan oleh orang-orang yang terlalu sibuk mengejar keuntungan semata.
Saat ada keputusan sulit yang harus diambil, Argan tak lagi memutuskannya sendirian di ruangan tertutup. Ia memanggil Aruna, mendengarkan pendapatnya, dan mereka berdiskusi hingga menemukan jalan tengah yang terbaik.
“Kau tahu, Aruna?” ucap Argan di sela jeda kerja sore itu, saat mereka berdua saja di ruangan lantai tertinggi. “Dulu aku berpikir berdiri itu soal kedua kaki yang kokoh menapak di tanah. Sekarang aku sadar... berdiri itu soal memiliki seseorang yang tak pernah pergi saat dunia terasa runtuh. Berdiri bersama itu jauh lebih kuat daripada berdiri sendirian, setinggi apa pun puncak yang kau capai.”
Aruna menatapnya lekat, matanya berkaca-kaca namun tetap tersenyum. “Dan kita akan terus berdiri bersama, Argan. Sejauh apa pun perjalanan ini membawa kita, tangan saya tak akan melepaskan tangan Anda.”
Argan mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Aruna dengan lembut namun teguh. Di antara mereka kini tak lagi ada sekat, tak lagi ada aturan yang kaku, dan tak lagi ada rasa pura-pura. Yang ada hanyalah dua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh keadaan yang pahit, namun perlahan-lahan menemukan alasan untuk tetap tinggal dan tumbuh bersama.
Malam itu, saat mereka pulang ke rumah, langit tampak penuh bintang. Bukan berarti semua masalah sudah selesai—Dimas dan Aisyah belum tertangkap, ancaman masih ada di mana-mana, dan perjuangan untuk memulihkan nama baik perusahaan masih panjang. Namun mereka tak lagi takut. Karena kini mereka tahu: selama berdiri bersama, tak ada badai yang mampu merobohkan mereka sepenuhnya.
Lanjut ke Bab 11?