NovelToon NovelToon
Love In Training

Love In Training

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Kisah cinta yang terjadi antara Pilot muda dan seorang mahasiswi magang yang menjadi dekat dengan cara pendekatan si Pilot yang agak lain!



Mampir dong👉👈

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah rumah

"Hei, kenapa menangis? Dominic! Sini cepat! Adek tersambung!" Jasinda berteriak memanggil suaminya.

Detik berikutnya, muncul sosok pria tegap berwajah tegas dengan seragam pilot maskapai komersial yang baru saja pulang bertugas. Dominic melambaikan tangannya ke kamera dengan senyum ramah.

*"Hola, Jesika! Selamat atas pernikahanmu!"* sapa Dominic dalam bahasa Spanyol yang bercampur aksen Inggris yang kental.

"Kakak sudah dengar semua dari Papa Jacob lewat pesan singkat tadi jam satu siang waktu Peru," ujar Jasinda, matanya berkaca-kaca menatap adiknya melalui layar. "Maaf ya, Adek... Kakak belum bisa pulang ke Indonesia karena jadwal terbang Dominic sedang padat-padatnya bulan ini. Tapi Kakak senang sekali tahu kamu menikah muda seperti Kakak dulu. Menikah di usia dua puluh tahun itu seru tahu!"

Jesika menghapus air matanya, melirik kaku ke arah Adrian yang masih setia duduk mematung di sampingnya dengan wajah lempeng. "Tapi Kak... Kak Jasinda kan menikahnya normal, tidak mendadak seperti Adek."

"Pernikahan itu tidak ada yang kebetulan, Adek. Yang paling penting, siapa pria yang di sampingmu sekarang?" Jasinda menggoda adiknya, matanya mengintip ke arah sudut layar di mana siluet tubuh besar Adrian terlihat.

"Mana ipar baruku? Tolong tunjukkan wajahnya, Kakak mau lihat pilot Bennett yang katanya dingin sekali itu." Jesika merona hebat, ia dengan gugup mengarahkan kamera ponsel ke arah Adrian.

Adrian yang mendadak disorot kamera tidak tampak canggung. Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu memberikan anggukan tegas yang sangat formal ke arah layar. "Selamat siang, Kapten Dominic, Kak Jasinda. Saya Adrian Bennett."

Dominic di seberang sana tertawa renyah melihat sikap kaku Adrian yang sangat khas. *"Sikap yang bagus, Kapten Adrian. Aku titip adik iparku yang manja itu, ya. Jaga dia baik-baik di sana."*

"Pasti, Kapten. Dengan seluruh hidup saya," jawab Adrian tegas dan mutlak, membuat Jesika yang duduk di sampingnya langsung menyembunyikan senyum malunya di balik telapak tangan.

"Bagaimana kau membalasnya, Adrian?" Dominic bertanya.

Jesika berkedip polos, lalu mengembuskan napas. "Wanita gila itu sudah kuberi obat yang sama dan kutaruh di penjara bawah tanah hanggar sebelum dibawah ke sel" sahut Adrian, rahangnya kembali mengeras sejenak mengingat air mata Jesika.

"Baguslah. Aku percaya padamu adik ipar. Silahkan lanjut bermesraan lagi" goda Dominic.

Jesika langsung menyembunyikan wajah membaranya di balik lengan kemeja Adrian, sementara Adrian hanya bisa berdeham kaku.

Melihat adiknya yang semakin menenggelamkan wajah merah padamnya di lengan kemeja Adrian, tawa Jasinda kembali pecah dari balik layar ponsel.

"Sudah, ah, jangan digoda terus Adeknya. Nanti mukanya makin matang kayak kepiting rebus," ujar Jasinda sembari menyenggol lengan Dominic. Tatapannya lalu berubah menjadi jauh lebih lembut, menatap Jesika yang perlahan mulai berani memunculkan matanya lagi dari balik lengan Adrian.

"Adek" panggil Jasinda pelan. "Kakak tahu semuanya terjadi begitu cepat dan mendadak buat kamu. Tapi melihat Adrian di sampingmu sekarang, Kakak tenang. Kamu tahu sendiri, kan, Papa Jacob itu paling pemilih kalau urusan laki-laki. Kalau Papa sudah merestui hari ini juga, artinya Adrian memang pria yang tepat."

Jesika mengangguk pelan, jemari mungilnya beralih menyentuh cincin emas putih di jari manisnya, memutarnya dengan perasaan campur aduk "Iya, Kakak. Kak Adrian... dan keluarga Bennett baik sekali sama Adek."

"Jaga kesehatanmu di sana, Little Sister. Dan untukmu, Adrian... sekali lagi selamat bergabung di keluarga kami. Semoga kita bisa segera bertemu untuk terbang bersama,"timpal Dominic ramah dalam bahasa inggris sebelum berpamitan karena harus bersiap untuk jadwal penerbangan.

Panggilan video itu akhirnya terputus Jesika mengembalikan ponsel besar itu kepada Adrian dengan gerakan pelan. "Terima kasih, Kak," cicit Jesika lembut.

Adrian menerima ponselnya, namun alih-alih memasukkannya ke dalam saku, tangan besarnya justru bergerak menggenggam jemari mungil Jesika yang terasa hangat. Ia menggeser duduknya dari lengan sofa, turun untuk duduk tepat di samping istrinya, memperkecil jarak hingga bahu tegapnya bersentuhan langsung dengan bahu sempit Jesika.

Dari arah dapur, Janice berjalan kembali ke ruang tengah membawa semangkuk sup ayam yang mengepulkan uap hangat, diikuti oleh Vania yang membawa nampan berisi teh herbal dan Andina yang mengekor di belakang dengan semangkuk buah segar.

"Nah, sup hangatnya sudah siap. Adrian, tolong pastikan istrimu menghabiskan ini, ya," ujar Janice dengan senyum keibuan yang sangat lega melihat rona merah alami telah kembali di pipi putrinya.

"Baik, Mama," jawab Adrian patuh. Suaranya yang lempeng terdengar begitu patuh, membuat Chris yang masih duduk di meja makan mengangguk-angguk puas melihat putranya mulai belajar menjadi seorang suami yang siaga.

Andina langsung mengambil tempat di karpet bawah, bersandar pada kaki sofa tempat Jesika duduk. "Je, pokoknya setelah kamu habiskan sup ini dan istirahat lagi, aku kan mau mesra-mesraan sama kamu lagi"

Jesika tertawa kecil sebuah tawa renyah yang paling dinantikan oleh semua orang di ruangan itu sejak subuh tadi. "Iya, Dindin"

"Ingat, kita akan persiapan untuk pelatihan nanti. Mulai besok, Adrian dan Richard akan menjemput tim yang ada di pedalaman. Persiapkan diri kita semua" ujar Chris.

"Dengan adanya kasus Clarissa dan hanggar kota sebelah yang baru saja diputus kontraknya oleh Chris tadi pagi, struktur operasional kita pasti akan dirombak besar-besok selama evaluasi nanti. Banyak hal yang bisa terjadi dan harus diselesaikan bersama di hanggar utama."

Jacob mengangguk setuju, matanya melirik tajam namun penuh rasa percaya kepada Adrian. "Ini akan menjadi minggu yang sangat sibuk dan melelahkan untuk kita semua. Banyak pemeriksaan berkas, uji kelayakan armada, hingga pengaturan ulang rute penerbangan logistik. Tapi Papa senang, karena setidaknya Papa bisa mengawasi langsung bagaimana menantu Papa ini bekerja memimpin hanggar utama."

"Jadi, tidak ada waktu untuk bersantai terlalu lama," ujar Chris Bennett sembari meletakkan cangkir tehnya di atas meja dengan ketukan yang tegas. "Besok subuh, pergerakan besar sudah harus dimulai"

"Karena besok kalian semua akan sangat sibuk, malam ini Mama dan Papa akan langsung pindah ke rumah kita sendiri Adek. Biar kalian anak-anak muda tidak terganggu."

Jesika sempat mendongak, menatap mamanya heran.

'Kalian akan pindah kerumah dinas milik Adrian khusus kapten senior. Dulu sebelum Adrian pulang kesini, papa sudah buatkan rumah untuk Adrian di kompleks ini tapi agak di bagian belakang sana dan jauh dari rumah-rumah yang lain. Kalian akan tinggal disana. Supaya privasi kalian lebih terjaga. Kalau kalian mau, bisa sekali-kali menginap dirumah ini, rumah Jesika atau rumah utama" jelas Chris.

"Mulai sore ini, barang-barangmu sudah dipindahkan oleh orang ke rumah pribadi Adrian," tambah Chris dengan senyum penuh arti.

Jesika refleks melirik ke arah Adrian. Pria tinggi itu sama sekali tidak membantah, wajahnya tetap lempeng dan kaku.

1
laaaa
suka banget sama ceritanya
𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
lanjt
彡 Misaki ZawaZhu-!
Terus berinovasi ya author, semoga sukses dengan ceritanya!
Tajima Reiko
Saya merasa seperti telah menjalani petualangan sendiri.
bea ofialda
Ngangenin banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!