Di tengah puing-puing pernikahan kontraknya yang hancur dengan Revano Alessandro De Luca, CEO dingin dan kejam, Seraphina, wanita karir tangguh nan cantik, mencoba membangun hidupnya kembali.
Pernikahan itu sendiri berawal dari satu malam kelam di mana mereka berdua mabuk berat dan melakukan kesalahan yang tak terlupakan. Bayang-bayang Revano, yang menyimpan cinta terpendam dan penyesalan mendalam, masih menghantuinya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Damien, CEO konglomerat kaya raya sekaligus sahabat karib Revano.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan percikan cinta yang tak terduga, di antara pesona Damien yang hangat dan perhatian. Namun, bayangan cinta Revano yang membara, dan rahasia di balik pernikahan kontrak mereka, membuat Seraphina terjebak dalam pusaran kisah cinta segitiga yang penuh intrik dan duri. Mampukah Seraphina memilih antara kenangan masa lalu yang menyakitkan dan penuh penyesalan, dan janji masa depan yang penuh harap, Cinta manakah yang akan menang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Fox_wdyrskwt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
༺ ༻ BAB 25-Hati yang Belum Selesai. ༺ ༻
... ✧༺♥༻✧...
Setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya, Seraphina memutuskan untuk berpikir positif. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menyingkirkan kekhawatiran dan keraguan yang menggelayut di hatinya.
Ia memutuskan untuk menganggap pertemuan dengan Damien malam ini sebagai sebuah kesempatan untuk bersenang-senang dan menikmati kebersamaan dengan seorang teman.
Ia masih menganggap Damien sebagai teman baiknya, dan ia ingin menikmati waktu bersama Damien tanpa beban.
Dengan tekad baru, Seraphina bangkit dari tempat duduknya dan mulai mempersiapkan diri. Ia memilih gaun yang cantik dan anggun, sesuatu yang membuatnya merasa percaya diri dan nyaman.
Ia merias wajahnya dengan lembut, menonjolkan kecantikan alaminya. Ia memilih perhiasan yang sederhana namun elegan.
Ia ingin tampil sebaik mungkin, bukan untuk memikat Damien, tetapi untuk menghargai pertemuan ini dan dirinya sendiri.
Ia tersenyum melihat bayangan dirinya di cermin. Ia terlihat cantik dan anggun. Ia merasa lebih tenang dan percaya diri. Ia memutuskan untuk menikmati malam ini.
Ia akan menghabiskan waktu bersama Damien dengan tulus dan ikhlas, tanpa beban dan tekanan. Ia akan membiarkan hatinya menentukan arah selanjutnya.
... ✧༺♥༻✧...
Sementara Seraphina tengah mempersiapkan diri, Damien di apartemennya juga tidak kalah gugupnya. Ia berkali-kali memeriksa penampilannya di depan cermin, memastikan dasinya terikat rapi dan rambutnya tertata sempurna.
Ia menyemprotkan sedikit parfum kesukaannya, berharap dapat meninggalkan kesan yang baik pada Seraphina. Ia merasa jantungnya berdebar-debar tak karuan, campuran antara rasa senang, gelisah, dan sedikit takut.
Ini adalah pertama kalinya ia mengajak seorang wanita makan malam dengan maksud yang lebih dari sekadar persahabatan.
Sesampainya di restoran yang telah ia pesan sebelumnya, Damien memilih tempat duduk yang romantis di dekat jendela. Ia memesan meja untuk dua orang dengan pemandangan kota yang indah sebagai latar belakang.
Aroma makanan lezat dan musik lembut yang mengalun menambah suasana romantis di restoran tersebut. Ia terus memandang pintu masuk restoran, menunggu kedatangan Seraphina.
Tak lama kemudian, Seraphina tiba. Damien langsung berdiri menyambutnya. Seraphina terlihat cantik dan anggun dalam balutan gaunnya. Damien merasa jantungnya berdebar semakin kencang. Senyum Seraphina mampu mencairkan kegugupannya.
Damien "Kau… kau cantik sekali, Nona Pina."
Seraphina tersenyum "Terima kasih, Tuan Damien. Kau juga terlihat tampan."
Suasana canggung sedikit mereda. Mereka duduk dan mulai menikmati makan malam mereka. Damien berusaha untuk memulai percakapan, namun ia masih sedikit gugup.
Damien terus memandangi Seraphina yang sedang asyik membaca buku menu. Ia terpesona oleh kecantikan Seraphina.
Rambutnya yang terurai indah, senyumnya yang menawan, dan tatapan matanya yang jernih membuat Damien semakin jatuh cinta. Ia merasa jantungnya berdebar-debar setiap kali tatapan mereka bertemu.
Damien "Jadi, Nona Pina, ingin pesan apa?"
Seraphina yang masih sedikit bengong karena gugup, tersentak. Ia berusaha untuk tenang dan menjawab pertanyaan Damien.
Seraphina "Oh… itu… oh iya, ini saja."
Setelah memesan makanan, suasana menjadi lebih rileks. Mereka mulai bercerita tentang hal-hal lucu yang terjadi di toko bunga, mengenai pelanggan-pelanggan yang unik, dan kejadian-kejadian tak terduga lainnya.
Mereka tertawa bersama, membagi cerita dan pengalaman. Tawa Seraphina terdengar begitu merdu di telinga Damien. Ia merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Seraphina.
Namun, tatapan Damien tak bisa membohongi perasaannya. Ia terus memandang Seraphina yang tertawa. Ia tak mampu mengalihkan pandangannya dari Seraphina.
Tatapannya penuh dengan cinta, kekaguman, dan sedikit keraguan. Ia berharap Seraphina merasakan hal yang sama. Ia berharap Seraphina juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.
... ✧༺♥༻✧...
Setelah menikmati makan malam mereka, suasana menjadi lebih tenang. Musik lembut mengalun di restoran, menambah suasana romantis.
Damien merasa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Seraphina. Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan debar jantungnya yang semakin kencang.
Damien "Nona Pina… ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu…"
Seraphina menatap Damien dengan penuh perhatian. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada Damien malam ini. Ia merasakan ketulusan dan ketertarikan yang kuat dari Damien.
Damien "Aku… aku menyukaimu, Nona Pina. Lebih dari sekadar teman…"
Kata-kata Damien membuat Seraphina tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Damien akan mengungkapkan perasaannya. Ia merasa jantungnya berdebar kencang. Ia merasa sedikit terkejut, sedikit gugup, dan sedikit bahagia.
Seraphina bergumam "Aku…"
Seraphina tidak bisa menjawab langsung. Ia masih merasa bimbang. Ia masih memikirkan Revano, mantan suaminya dan cinta pertamanya. Ia masih ragu apakah ia mampu mencintai orang lain setelah Revano. Ia masih takut akan terluka lagi.
Damien menatap Seraphina dengan penuh harap. Ia menunggu jawaban Seraphina. Ia berharap Seraphina akan menerima perasaannya.
Ia berharap Seraphina juga memiliki perasaan yang sama kepadanya. Ia berharap malam ini akan menjadi awal dari kisah cinta mereka.
Damien bergumam dalam hati, mengungkapkan harapan dan kegelisahannya.
Damien bergumam "Duh… semoga dia menerima perasaanku…"
Ia menutup matanya sejenak, menunggu jawaban Seraphina. Ketika ia membuka matanya kembali, ia melihat Seraphina masih terdiam. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada Seraphina. Air mata mulai menetes di pipi Seraphina.
Seraphina "Tu-tuan…"
Seraphina berdiri dengan tergesa-gesa, mengambil tasnya. Ia terlihat sangat sedih dan bingung.
Seraphina "Maafkan aku…"
Seraphina pergi dengan terburu-buru, meninggalkan Damien yang tercengang. Damien tidak mengerti apa yang terjadi. Ia merasa bingung dan sedih.
Ia tidak menyangka Seraphina akan bereaksi seperti itu. Ia merasa hatinya hancur. Ia harus mengejar Seraphina dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Damien langsung berdiri dan mengejar Seraphina. Ia meraih tangan Seraphina sebelum Seraphina menghilang dari pandangannya.
Damien "Mengapa… apa kau tak suka padaku?"
Damien menggenggam tangan Seraphina dengan erat, jari-jarinya terasa dingin. Seraphina berusaha melepaskan tangannya, namun Damien menahannya dengan kuat.
Mata Damien berkaca-kaca, dipenuhi dengan kecemasan dan kesedihan. Ia tidak bisa menerima penolakan Seraphina begitu saja. Ia harus tahu alasannya.
Damien "Pina… jawab aku! Mengapa kau menangis?"
"Mengapa kau pergi?"
"Apa yang salah?"
Suaranya bergetar, menunjukkan betapa terlukanya ia. Seraphina terisak, mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Namun, air matanya terus mengalir deras. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat.
Seraphina tersendu-sendu "Bukan… bukan karena aku tidak menyukaimu, Tuan Damien…"
Kata-kata Seraphina membuat Damien sedikit lega. Setidaknya, ia tahu bahwa Seraphina tidak membencinya. Namun, pertanyaan selanjutnya membuat jantung Damien seakan berhenti berdetak.
Seraphina "Aku… aku masih mencintai mantan suamiku…"
Pengakuan Seraphina seperti sebuah pukulan telak bagi Damien. Ia merasa dunia seakan runtuh. Ia tidak menyangka bahwa Seraphina masih menyimpan perasaan untuk mantan suaminya.
Ia merasa bodoh karena telah berharap terlalu tinggi. Ia merasa sakit hati karena telah jatuh cinta kepada seseorang yang hatinya masih terpaut pada orang lain.
Damien suaranya meninggi "Mantan suamimu?!"
"Kau masih mencintainya?!" Damien menatap tak percaya.
"Setelah semua rasa sakit yang pernah kau alami...Kau masih mencintainya?"
Damien melepaskan genggaman tangan Seraphina. Ia merasa marah, sedih, dan kecewa.
Ia merasa telah dipermainkan oleh perasaannya sendiri. Ia merasa telah membuang waktu dan perasaannya untuk seseorang yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya menjadi miliknya.
... ✧༺♥༻✧...
Hening. Hanya suara isak tangis Seraphina yang memecah kesunyian malam itu. Damien terpaku di tempatnya, rasa sakit dan kekecewaan memenuhi jiwanya. ia merasa seperti ditampar keras oleh kenyataan.
Semua harapan dan impiannya runtuh seketika. Ia telah jatuh cinta, dengan tulus, namun cintanya ditolak karena bayang-bayang masa lalu yang masih menghantui Seraphina.
Setelah beberapa saat terdiam, Damien menarik napas panjang. Ia menghapus air mata yang tanpa disadari telah membasahi pipinya.
Ia tidak bisa memaksa Seraphina untuk melupakan masa lalunya. Ia tidak bisa memaksa Seraphina untuk mencintainya. Ia harus menerima kenyataan pahit ini.
Damien suara tenang, namun terdengar getir "Aku mengerti, Pina. Aku… aku akan pergi."
Damien berbalik dan pergi meninggalkan Seraphina yang masih terisak. Ia melangkah pergi dengan langkah gontai, hati yang remuk, dan rasa sakit yang mendalam.
Ia tidak tahu harus ke mana, namun ia perlu menjauh dari Seraphina untuk sementara waktu. Ia perlu waktu untuk menyembuhkan luka hatinya.
Seraphina terduduk lemas di tempatnya, menatap kepergian Damien. Ia merasa sangat bersalah. Ia tidak ingin menyakiti Damien, namun ia juga tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
Ia merasa terjebak di antara masa lalu dan masa depan. Ia merasa sangat kesepian dan sendirian. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya. Ia merasa telah kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya.
Di kota yang berbeda, jauh dari tempat Seraphina berada, Revano baru saja keluar dari ruang rapat yang melelahkan.
Hari itu hujan turun deras.
Ia berdiri di depan jendela hotel sambil memijat pelipisnya yang terasa nyeri.
Entah kenapa sejak pagi hatinya terasa gelisah.
Seolah ada sesuatu yang sedang terjadi.
Sesuatu yang berkaitan dengan wanita yang terus memenuhi pikirannya.
Revano menatap layar ponselnya.
Foto Seraphina masih menjadi wallpaper yang belum pernah ia ganti.
Ia menghela napas panjang.
"Sera..."
Untuk pertama kalinya sejak berangkat ke luar negeri, ia benar-benar ingin pulang.
Dan tanpa ia sadari...
...✧༺♥༻✧...
...BERSAMBUNG.......