Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.
Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.
Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.
Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - Sheril Berhenti Mengejar
Lama-lama Sheril jadi takut jika Arion melakukan hal yang manis kepadanya. Bukan karena Sheril tidak senang jika diperlakukan hal manis oleh Arion, justru Sheril sangat senang hingga terbang ke langit tujuh.
Yang menjadi masalah adalah Arion akan menjauh ketika Sheril hampir berhasil meraihnya. Jika sebelumnya hanya sekitar dua sampai tiga Minggu saja paling lama mereka berjauhan, sekarang sudah terhitung tiga bulan Arion tidak berbicara kepada Sheril.
Sejak makan malam di restauran bintang, Arion menjauhinya tanpa memberikan penjelasan apapun. Minggu pertama, kedua, ketiga dan selanjutnya Sheril masih membuntuti Arion yang terus menghindarinya kapanpun dan dimanapun. Sheril mendesak Arion agar berbicara kepadanya, menjelaskan ada permasalahan apa diantara mereka, tapi Arion tidak pernah menanggapinya.
Bahkan, Arion sampai memblokir kontak Sheril agar gadis itu tidak bisa lagi menghubunginya.
Tidak sampai disitu, Sheril juga meminta penjelasan kenapa Arion terus menghindarinya kepada teman-teman Arion. Mereka semua menjawab tidak tahu sebab Arion tidak pernah bercerita sedikitpun. Gara yang menjadi harapan besar Sheril agar mendapatkan satu kalimat penjelas, rupanya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Arion sehingga menjadi seperti itu.
"Arion!" Panggil Sheril. Ia sudah membulatkan tekad walaupun hatinya terus menolak.
Keputusan paling sulit yang akhirnya Sheril ambil, yaitu Sheril akan berhenti mengejar Arion. Tidak lagi mengganggu Arion. Sheril juga berpikir, jika ia terus-menerus mengganggu Arion yang sama sekali tidak ingin di ganggunya, mungkin Arion tidak akan merasa nyaman.
Sheril berlari mengejar Arion yang sedang berjalan menuju lapangan basket. Sheril juga terus memanggil Arion walau ia sangat tahu bahwa Arion akan mengabaikannya.
Segaris senyuman terbit di wajah Sheril ketika melihat bola basket menganggur di sudut lapangan. Setelah mengambilnya, Sheril melemparkan bola itu ke arah Arion.
Tapi sayangnya bola itu salah sasaran. Sheril melemparkan bola basket ke arah bola basket yang sedang Arion mainkan, berniat menggagalkan lemparan bola basket Arion ke dalam ring. Namun yang terjadi bola basket Sheril malah mengenai kepala Arion.
Refleks Sheril menutup mulutnya sendiri saking terkejutnya. Ini namanya cari mati! Sudah tahu hubungannya dengan Arion sedang renggang tapi Sheril malah mencari masalah.
Arion tidak meringis, ia hanya menatap Sheril yang sedang kumat-kamit dengan ekspresi panik. Tidak ingin menatap Sheril lama-lama, Arion mengambil bola basket yang sudah menggelindingkan jauh dan kembali memainkannya seorang diri.
"Arion, maaf!"
Tak ada orang lain selain mereka berdua di lapangan basket. Ini masih jam pelajaran, jika kelas Arion sedang jam kosong sementara Sheril kabur dari pelajaran.
"Arion, gue mau ngomong. Terserah elo mau jawab atau enggak, gue harap lo dengerin setiap kata yang gue omongin hari ini," Sheril mulai menyampaikan maksud kedatangannya menyusul Arion. Bahkan Sheril sampai menyusun kata-kata yang akan ia sampaikan kepada Arion sejak beberapa hari yang lalu.
"I'm so sorry, Lo siento, gue minta maaf sama lo. Jujur, gue gak tahu apa yang salah sama gue sejak makan malam di restauran itu sampai bikin lo ngejauhin gue kayak gini. Udah tiga bulan sejak kejadian itu, artinya udah tiga bulan lo ngejauhin gue." Sheril menarik napasnya dalam-dalam, berusaha tetap mempertahankan senyuman andalannya.
Sementara Arion sudah terdiam kaku sejak Sheril meminta maaf. Perasaan tidak enak mulai menghantui Arion.
'Don't apologize, Sheril. You're not wrong. But, I'm wrong.'
Sayangnya, lidah Arion terlalu kelu untuk mengatakan itu semua.
"Gue cape Yon, gue bingung, cara apa lagi yang harus gue lakuin supaya Lo bisa balas perasaan gue?" Dengan cepat Sheril menghapus air matanya sebelum turun ke pipi.
Arion memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, mengambil napasnya dalam-dalam kemudian berpindah posisi menghadap Sheril. Menatap Sheril lekat-lekat dari jarak sejauh lima meter.
Jarak memang memisahkan mereka namun perasaan mereka saling menginginkan satu sama lain.
Tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya, Sheril berkata, "Yon, tenang aja, gue gak bakal ganggu lo lagi, gue gak akan panggil-panggil nama lo lagi seperti biasa, gue bakal berhenti ngejar lo. Kalau lo emang gak bisa bales perasaan gue, tenang aja, gue-" Sheril menarik napasnya dalam-dalam, kalimat berikutnya terlalu berat untuk ia katakan.
"Gue bakal berusaha menghapus perasaan gue buat lo. Jadi elo bisa hidup tenang tanpa gangguan gue mulai sekarang." Arion sendiri tidak tahu kenapa Sheril tetap masih bisa tersenyum ketika sedang berbicara hal menyakitkan seperti ini.
Arion memejamkan matanya rapat-rapat.
'Don't...'
"By the way Arion, makasih banyak buat semuanya." Setelah menyampaikan kalimat penutup, Sheril melangkah pergi menjauhi Arion yang masih berdiam diri tanpa mengatakan sepatah katapun.
Arion menatap punggung Sheril yang semakin menjauh, tangan kanannya terulur hendak meraih Sheril namun ia urungkan. Membiarkan Sheril pergi dari hidupnya tanpa memberikan penjelasan apapun.
Sementara Sheril berusaha menahan diri sebisa mungkin agar tidak menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat sosok Arion.
Aku ingin berjalan selangkah di depanmu
Bukan berjalan di belakangmu lagi
Agar aku bisa memberitahumu meskipun secara tak langsung
Jika aku bisa melangkah maju bahkan tanpa denganmu sekalipun
Tertanda,
Sheril Patricia Eudora
🌞🌞🌞
Beberapa hari kemudian . . .
Ponsel Sheril bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Tanpa perlu melihat namanya, Sheril langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hmm?" Sheril membuka pembicaraan di telepon terlebih dahulu dengan gumaman. Mulutnya sedang sibuk mengunyah roti.
"Lo bisa ngerokin orang kagak? Nih si Gara kayaknya masuk angin habis balapan motor semalem,"
Sheril menjauhkan ponselnya dari telinga, membaca nama kontak yang meneleponnya kemudian kembali menempelkan ponselnya ke telinga.
"Rangga?" Tanyanya setelah menelan roti di mulutnya.
"Iya tau ini Rangganya Cinta. Cepetan dateng ke kantin mumpung masih sepi, jangan gak dateng, gue tau kelas lo lagi jam kosong!"
Setelah menyuruh orang seenak jidatnya tanpa meminta jawaban apakah Sheril menyetujuinya atau tidak, Rangga memutuskan panggilan secara sepihak.
Sheril menatap jengah layar ponselnya sendiri seolah-olah itu adalah Rangga.
"Hih, belum aja nih anak di makan kocheng oren."
Meskipun sedikit enggan, tapi Sheril akhirnya datang ke kantin sesuai permintaan Rangga. 3 jam kosong pelajaran Fisika membuat Sheril merasa ada baiknya ia pergi ke kantin untuk melakukan kebaikan dari pada pelanga-pelongo duduk di kelas.
Sebelum menginjakkan kakinya di kantin, Sheril mengintip apakah ada sosok Arion atau tidak.
"Eh, ada ibu negara ngintip-ngintip tetangga," celetuk Vian mendapati Sheril sedang intip-intip tetangga.
Merasa ketahuan, Sheril berjalan ke arah Vian seraya berkacak pinggang.
"Kakanda mau di usir dari kerajaan ibu negara?" Tanya Sheril ngaco, mana ada ceritanya ibu negara mempunyai kerajaan.
Melihat tingkah Sheril dan Vian membuat Andre memutar bola matanya malas. "Emang nih dua anak sarapnya gak ketulungan setiap ketemu,"
"Tenang aja sih Sheril, kagak ada Arion di sini. Dia anaknya paling anti sama cabut-cabutan," sahut Rangga seolah mengetahui apa yang ada di pikiran Sheril.
Namun Sheril lebih memilih tidak menanggapi Rangga walau dirinya merasa lega karena tidak ada sosok Arion disini. Sejak kejadian di lapangan basket, Sheril belum pernah melihat batang hidung Arion lagi. Berhubung sekarang mereka beda jurusan, hal itu memudahkan Sheril menghindari Arion.
Sheril akan berangkat ke sekolah lebih siang dari biasanya, dan akan langsung pulang ketika bel berbunyi. Ketika istirahat berlangsung Sheril tidak pergi ke kantin melainkan menghabiskan bekal makanan di dalam kelas seraya bermain ponsel.
Mengabaikan Vian yang sedang mengejeknya, Sheril berjalan menghampiri Gara dengan gerlingan jahilnya. Untung saja Arion tidak ada di sini, jadi Sheril bisa leluasa bertindak semaunya. Di kantin tidak ada murid lain selain mereka.
"Kenapa lo? Masuk angin habis balapan motor? Kampungan amat penyakit lo," Sheril tertawa jahat.
Gara menatap Sheril tidak suka. "Terus penyakit yang kagak kampungan apaan, hah? Lo mau sumpahin gue kena kanker?" Sewotnya.
"Ya ampun, sewot sekali teman awak satu ini. Sini cepetan gue kerokin," Sheril mengambil uang logam dan minyak angin yang di letakkan di atas meja.
Gara meringis ketika Sheril sedang mengerok punggungnya hingga terlihat jelas garis-garis merah. Sheril mengerok Gara tanpa lembut, toh Gara berjiwa baja ini.
"Sakit, ***, pelan-pelan napa Sher! Kagak punya-anj-hati amat sih lo!" Umpat Gara.
Sheril, Andre, Vian dan Rangga tertawa puas melihat reaksi Gara yang sedang kesakitan akibat kerokan. Sementara Aidan sedang merekam reaksi Gara selama di kerokan karena video tersebut akan ia sebar luaskan sampai viral!
"Aelah bos, bonyok pas tawuran aja lo udah kebal masa timbang kerokan gini lo udah kayak orang mau melahirkan," ejek Aidan.
Gara menatap Aidan sinis. "Awas lo Dan, abis lo sama gue habis gue kerokan,"
Aidan hanya menanggapinya dengan tertawaan.
Sementara di sisi lain, tanpa mereka sadari ada sosok yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi dari pintu kantin.
Dia adalah Arion.
Melihat apa yang terjadi di kantin, mengurungkan niat Arion untuk menyusul teman-temannya ke kantin. Apa lagi melihat senyuman Sheril membuat Arion semakin merasa bersalah. Di tambah, Sheril dan Gara terlihat begitu dekat dan akrab sampai melakukan kegiatan seperti itu. Arion pikir, padahal bisa saja bukan Sheril yang melakukan, entahlah, Arion sendiri tidak tahu apa yang sedang Sheril lakukan terhadap punggung Gara.
Akhirnya Arion memutuskan untuk putar balik pergi dari kantin. Tidak ingin mengganggu mereka semua.
"Arion, kesini! Jangan pergi!"
Mendengar teriakkan Vian yang menyadari kedatangan Arion, sontak semua orang yang berada di kantin langsung menoleh ke arah pintu kantin, terkecuali Sheril.
Sementara Arion dan Sheril sama-sama terdiam kaku di tempat, merutuki teriakkan Vian dalam hati karena mereka berdua sedang sama-sama menghindari satu sama lain.
Vian sialan.
udh nunggu lama bgt 😭