Ayumi mengganti namanya setelah berpindah ke London mengikuti keluarga angkatnya. Lea Wilson melanjutkan hidupnya yang berantakan di Jepang. Setelah lima tahun berlalu, tanpa disangka Lea bertemu lagi dengan orang yang membuat hidupnya berantakan di masa lalu. Memang masih ada ingatan yang tersisa, seharusnya sekarang baik - baik saja namun ada rahasia tak terduga diantara mereka. Amora, rahasia yang ingin Lea sembunyikan dari Rui Nakajima.
Bagaimanakah reaksi Rui mengetahui Mora? Akankah Rui menerima Mora sebagai anak yang empat tahun lalu lahir tanpa sepengatahuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva IM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMORA #26
Waktu terus bergulir dengan cepat. Hari Sabtu datang lagi. Sabtu pagi Lea pergi ke rumah Maria untuk mengahabiskan akhir pekannya. Dari pagi hingga sore Lea menghabiskan waktunya dengan mengobrol, makan siang hingga tertawa bersama. Ketika sang matahari telah kembali keperaduannya, Lea pamit untuk pulang karena
Mora sepertinya sudah lelah. Lea melajukan mobilnya pelan masuk ke pekarangan ke rumahnya. Mata Lea terbelalak saat sosok Rui terlihat berada di depan pintu rumahnya. Mobil sport hitam dengan Shiragawa yang berdiri bak benteng pertahanan juga terlihat. Biasanya Rui membawa sopir, tapi kali ini hanya mereka berdua saja.
Rui berjalan cepat ke arah pintu mobil saat Lea menghentikan mobil di parkiran rumahnya.
“Darimana? Nomormu tidak bisa dihubungi..” Tanya Rui membantu Lea keluar dari mobil. Setelah itu dengan sigapnya Rui membuka pintu belakang mobil dan melepaskan sabuk pengaman milik Mora.
“Uncle Rui?” Tanya Mora saat melihat Rui melepas sabuk pengamanannya.
Lea hampir tersedak saat mendengar Mora memanggil Rui dengan akrab. Sejak kapan mereka menjadi akrab begitu? Lea tidak pernah mengajari Mora untuk memanggil Rui uncle atau paman.
“Hai cantik.. darimana kamu?”
“Rumah gramma..” Jawab Mora riang.
Rui mengangkat Mora kemudian menurunkannya.
“Maaf ponselku batrenya habis.. masuklah akan aku buatkan kopi.. masuklah bersama Mr. Okano..” Ucap Lea. Namun saat Lea hendak masuk ke dalam, Rui mencegahnya.
“Aku akan menunggu disini saja.. aku sudah memesan kursi di restaurant untuk kita makan malam..”
“Kemana?” Tanya Mora yang diam – diam mendengarkan percakapan Rui dan Lea.
“Makan malam sambil melihat lampu – lampu cantik..” Jawab Rui seraya menuduk kearah Mora.
“Aku boleh ikut?” Tanya Mora polos.
“Tentu saja.. kita bisa pergi bertiga.. lihat itu, mobil uncle sudah siap untuk mengantar kita..”
“Sekarang?”
“Lebih cepat lebih baik..”
“Tapi aku perlu...” Mora berpikir sejenak. “Mommy bisakah kita pergi tanpa harus berganti baju dulu? Mora ingin segara melihat lampu – lampu cantik itu..” Rengek Mora.
“Bisa.. tapi janji Mora tidak akan nakal disana..”
“Yeyyy.. uncle Rui ayo kita segera berangkat..” Sorak Mora gembira. Dia menarik tangan Rui ke arah mobilnya.
“Pastikan kamu menepati janjimu pada Mora Rui.. Mora adalah anak yang aktif. Sekali kamu berbohong, Mora akan marah padamu..” Ucap Lea lirih.
“Jangan khawatir, semua sudah diatur oleh Shiragawa.. jangan ragukan kemampuannya..” Senyum Rui seraya berjalan mengikuti Mora yang menarik tangannya sambil berlari kecil.
Ah! Dalam hati Lea cemburu. Cemburu melihat ayah dan putri yang tidak dia ketahui berdampingan dengan harmonis. Lea harus segera memberitahu Rui jika Mora adalah putrinya, dengan resiko apapun.
Rui membawa mereka ke Skylounge Kangin Hotel, tempat terindah di London yang diklaim menjadi tempat paling romantis untuk berkencan. Sesuai dengan janjinya, dari atas hotel berlantai 20 itu bisa melihat keindahan London City malam hari. Lea mengikuti Rui dengan menggendong Mora. Ada Shiragawa yang mengikuti dibelakang.
Lea berhenti saat pintu Skylounge dibuka oleh dua orang pria yang berpakaian rapi. Tertegun dengan suasana di dalamnya, Lea mematung. Kesan mewah yang pertama terlihat. Lampu yang remang, suara musik klasik, serta pengunjung dengan pakaian rapi, lantai dansa dengan suara riuh rendah obrolan seolah kontras dengan penampilan Lea saat ini. Celana jins biru pucat dengan kaos putih lengan pendak polos, bukan stiletto yang seperti mereka pakai namun hanya flatshoes dan tidak ada aksesoris apapun. Rasa merasa tidak percaya diri untuk melangkah masuk kesana, disana bukalah tempatnya. Dari apa yang dia kenakan saja sudah tidak cocok apalagi dengan seleranya. Selera Lea sederhana, bukan gaya hidup orang kaya seperti ini. Selera mereka berbeda.
Bersambung...