NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:27.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Pagi Yang Basah

Wanita tanpa busana itu nyaris tidak bisa bernapas saat pria besar dengan tubuh berotot diatasnya tersebut melumat bibirnya secara brutal tanpa henti. Dengan beringasnya ia melumat, menggigit, hingga menelusupkan lidahnya masuk, dan membuat wanita itu semakin mabuk kepayang.

Setelah mengutarakan persetujuan atas penawaran Bagas sebelumnya, maka kini Sarah harus rela tubuhnya menjadi santapan Bagas Aryanaka yang tampak sangat kelaparan akan napsu tak berkesudahan.

Tangan kecilnya sedari tadi tiada berhenti memukul bahu sang tuan—sebagai tanda bahwa napasnya hampir habis karena ciuman panjang yang pria itu berikan.

Walau belum merasa puas, Bagas terpaksa menyudahi ciuman mereka. Perlahan ia jauhkan wajahnya. Benang saliva terlihat masih sedikit terjalin disana.

Bagas mendesah dan menatap intens perempuan yang berendam di bathtub-nya itu. "Thalia, kamu sudah setuju. Tapi, sebelum masuk ke perjanjian kita nanti, saya harus melakukan 'test drive' dulu untuk menilai kamu."

Sarah melotot tak percaya, test drive katanya?

Apa yang perlu di coba lagi, ketika sekujur tubuhnya telah dirasai semua oleh sang tuan? Bahkan, mungkin entah berapa ribu kali mereka pernah melakukan hubungan intim saat masih menjadi pasangan suami-istri sebelumnya.

"Tapi kita sudah melakukannya tadi malam. Saya tidak mau lagi," tolak Sarah tegas.

Layaknya pria otoriter pada umumnya, segala penolakan tentu hanya Bagas anggap sebagai angin lalu. Ia tidak berniat mengacuhkannya ketika hal tersebut menentang apa yang dirinya inginkan.

"Saya tidak perduli, saya hanya ingin merasakannya lagi!"

Menghela napas kasar, Sarah masih belum mau menyerah. Ia kembali mengonfrontasi sang majikan. "Tuan harus ingat, kita tadi malam melakukannya tanpa pengaman. Lalu kalau kita melakukannya lagi, bukannya akan memperbesar peluang saya hamil?"

Bagas menanggapi dengan tarikan alis sebagai tanda keheranan atas perkataan Sarah. "Memangnya kenapa?"

"Kenapa? KENAPA katanya? Huh, pria brengsek ini sungguh membuatku kesal," teriak Sarah dalam batinnya.

Masih menahan emosi buruknya, Sarah kembali memberi pengertian untuk menyadarkan otak gesrek putra tunggal Aryanaka itu. "Kalau saya hamil, berarti saya akan terus menjadi gundik Anda. Menjadi parasit dalam kehidupan rumah tangga tuan dengan nona Farah."

"Bagus kalau begitu. Kamu akan tetap menjadi gundik saya bukan? Selama istri saya tidak tahu, maka tidak masalah," tanggap Bagas dengan santainya.

WHATT??!!!

Sungguh Sarah tidak habis pikir dengan pikiran bejat dari pria yang dahulu ia puja—lelaki yang ia anggap merupakan sosok terbaik yang pernah ia temui selama ia hidup di dunia.

Ternyata, selama ini ia salah. Lupa ingatan yang pria itu derita pada akhirnya menyibak karakter asli sang mantan suami, yang berbanding terbalik dari apa yang Sarah percaya sebelumnya.

Merasa tidak ada sanggahan lagi dari gundik barunya itu. Bagas mengambil alih atensi. Ia mundur beberapa langkah dari bathub. Tidak terduga, selanjutnya pria itu tanpa raut bersalah dengan santai disana melepas satu-satunya kain yang menutup badan besarnya itu.

Celana piyama berwarna hitam ia turunkan, terpampanglah bukti keperkasaan yang telah tampak menegang—selayaknya senjata yang ditodongkan kepada Sarah disana.

Sontak Sarah memalingkan wajah. Bagaimanapun ia sudah lama tidak melihat 'milik Bagas'. Semalam pula dirinya terlalu larut dengan kebingungan, kekalutan, dan kenikmatan yang Bagas berikan.

"Jangan sok polos. Kamu sudah merasakannya tadi malam 'kan?"

Ucapan Bagas seakan meledeknya. Ada seringai sinis disana. Sarah hanya terdiam— tidak berniat untuk menimpali perkataan sang tuan.

Namun, tingkahnya itu ternyata cukup mengganggu pria dengan tubuh telanjang penuh tersebut. Merasa gundiknya bersikap kurang ajar dengan mengabaikan apa yang ia telah pertontonkan, akhirnya membuat Bagas semakin mendekat.

Kembali badan kekarnya itu ia condongkan ke arah si wanita yang masih bersikap jual mahal.

"Tatap saya, Thalia!"

Kembali si lelaki memegang dagu Sarah. Kali ini lebih lembut dari sebelumnya.

Sarah menatap nyalang kepada Bagas. Namun, pria itu tidak mau mengindahkannya. Ia lebih memilih memfokuskan objek ke arah bibir molek dari perempuan tersebut, lalu turun ke arah leher jenjang yang mulai basah.

Sungguh menggoda.

Tidak kuasa menahan gairah, Bagas perlahan menurunkan kepala—bibirnya dengan tangkas memburu tengkuk, leher, dan tulang selangka si wanita. Ia kuasai sepenuhnya hingga membuat Sarah mendesah resah.

Tubuhnya masih merasakan pegal yang teramat, serta remuk redam akibat aktivitas mereka tadi malam. Sarah pun masih mencoba menghentikan aksi Bagas sebelum terlalu jauh.

"Sudah tuan akhh, saya mo-mo hon. Ini sudah pagi. Sudah waktunya tuan pergi bekerja. Saya juga sudah lapar," ucap Sarah memohon sembari mendorong tubuh Bagas diatasnya.

Sarah berharap alasannya kali ini dapat diterima dengan baik oleh Bagas. Ia hanya ingin mandi dengan tenang, kemudian benar-benar tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.

Apalagi, sejak semalam ponselnya itu mati. Pasti Rania yang tengah menanti kabarnya, merasa khawatir. Setidaknya, ia harus menjelaskan apa yang terjadi tentang misi mereka. Walaupun dalam hati sebenarnya Sarah merasa was-was dengan reaksi apa yang akan Rania berikan saat mengetahui kebodohannya.

"Oh, kamu lapar Thalia?"

Bukannya memikirkan atas perkataan Sarah terkait seharusnya ia telah berangkat ke kantor—Bagas malah lebih menyoroti alasan lapar yang Sarah utarakan.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sarah segera mengangguk cepat. Meng-iyakan pertanyaan sang tuan bahwa ia sudah merasa lapar.

"Iya tuan."

Well, setidaknya pria itu tidak akan terlalu kejam dengan membiarkan seorang manusia kelaparan bukan?

"Oh begitu ya, oke. Kamu harus makan Thalia. Karena saya baik, saya akan berikan kamu makanan yang enak."

Seketika senyum kecil terbit di bibir Sarah. Merasa lumayan lega bahwa pergumulan mereka tidak akan kembali berlanjut.

Sayangnya, pikirannya itu salah. Seharusnya ia sudah menduga bahwa tidak hanya ingatan saja yang hilang, namun kewarasan dari mantan suaminya juga telah raib entah terhempas kemana.

"Makanannya sudah ada disini loh. Ini kamu makan ya, nikmati sepuas mungkin," ujar Bagas sangat manis sambil mengarahkan bagian bawahnya yang kian menjulang sombong ke mulut Sarah.

"Sial!"

Sarah langsung saja menghindar, menggelengkan kepala ke segala arah dan mengunci mulutnya rapat. Tetapi, Bagas pun tidak hilang akal. Ia mencengkram erat tengkuk wanita tersebut. Kini tubuhnya telah masuk sepenuhnya kebathub penuh air—tempat Sarah berendam.

Bagas senantiasa memaksa Sarah membuka mulutnya, kepala si wanita semakin ia angkat. Bagas sudah merasa sangat tidak sabar menyuapi 'makanan' untuk mainan barunya itu.

Pergerakan Sarah semakin tidak beraturan, dan Bagas kian memaksa dengan keras.

Tidak lama pergulatan itu pun dimenangkan oleh si pejantan. Sarah saat ini naasnya telah dipaksa untuk menelan 'makanan' pemberian Bagas.

Kepalanya terus digerakkan oleh sang tuan. Maju, mundur, dan penuh aturan. Sedangkan sang penggerak terlihat merasa sangat puas, ditandai dengan desahan dan kata-kata kotor yang senantiasa terlontar.

Mulut Sarah sudah terasa pegal, tubuhnya pun sungguh lemas. Menyadari hal tersebut, bukannya berhenti—Bagas 'brengsek' Aryanaka itu malah semakin menjadi.

Merasa sudah berada di ujung tanduk, ia melepaskan 'apa' yang tengah Sarah lahap. Dengan cepat ia berpindah menuju lembah surgawi milik Sarah. Ia benamkan dengan erat disana. Hentakan demi hentakan membersamai keduanya.

Raungan desah dan bunyi cipratan air pun menjadi deru merdu disela kenikmatan tersebut. Tanpa menyadari, bahwa di luar, ada Raska yang tengah setia menunggu, sambil terus merutuki kelakuan atasan-nya yang sedang dilanda birahi itu.

"Ahh, ouhh mas Bagas eughh."

"Arghh yahh ouhh, teruslah mendesah. Saya suka, argghh."

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!