Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pukul 5 lewat Davin menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan keluar dari ruangannya setelah memastikan komputer miliknya sudah mati. Di depan pintu yang terbuka, ia hanya melihat hanya ada Angga saja yang tersisa di ruangan itu. Sepertinya pria itu juga sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Mau pulang, Pak?" tanyanya karena melihat Davin yang masih berdiri di depan pintu.
"Iya. Yang lain sudah pulang?" tanya Davin.
"5 teng mereka udah keluar, Pak," ucap Angga.
"Hmm yasudah. Saya pulang dulu," ucap Davin.
"Iya, Pak. Hati-hati." Davin mengangguk.
Davin kemudian berjalan keluar ruangan divisinya dan berjalan menuju lift. Tak lama pintu lift terbuka, dan membawa dirinya bersama beberapa orang di dalamnya menuju lantai 1.
Ting.
Pintu lift terbuka ketika sudah berada di lantai 1. Secara bergantian mereka semua keluar dari ruang besi itu. Davin keluar terakhir karena tak ingin berdesakan.
Ketika asik berjalan, Davin dapat melihat di dekat pintu gedung ada Arini dan juga Zidan yang sedang berjalan berdampingan. Ada rasa sesak yang Davin rasakan ketika melihat pemandangan itu. Segera ia berjalan cepat menyusul keduanya.
"Arini," panggil Davin. Arini dan Zidan sama-sama menghentikan langkah mereka dan kemudian membalikkan badannya. Davin mempercepat langkahnya.
"Pak Davin," sapa Arini ketika Davin sudah dekat.
"Maaf, Pak. Saya pulang bareng Zidan aja, rumah kami searah, sedang Bapak harus memutar kalau mengantar saya," ucap Arini.
Mendengar ucapan Arini semakin membuat bara yang sejak tafi ada di hati Davin kini menjadi-jadi. Tanpa banyak kata, Davin langsung saja menarik tangan Arini.
"Loh, Pak," ucap Arini. Ia menahan dirinya agar tak ikut dengan Davin. Namun tenaga Davin yang cukup kuat membuat Arini terpaksa mengikuti langkah Davin. Tentu saja ia juga tidak ingin menjadi tontonan dari penghuni gedung yang masih banyak di lobby.
"Masuk!" ucap Davin ketika mereka sudah tiba di mobil Davin. Pria itu juga bahkan membuka pintu mobil bagian penumpang untuk Arini.
Sebelum masuk, Arini melihat wajah Davin yang masih tampak menegang. Setelah menutup pintunya, Davin memutar untuk masuk ke bagian pengemudi.
"Dasar aneh," lirih Arini ketika Davin memutar.
Perjalanan mereka ini hanya terisi dengan alunan musik yang kekuar dari radio mobil Davin. Arini masih kesal karena atasannya ini memaksa kehendaknya sendiri. Dua tahun bekerja dengan Davin, baru kali ini pria itu bertingkah seenaknya sendiri.
"Kita makan sebentar dulu," ucap Davin memecah keheningan.
"Ngga usah, Pak. Langsung pulang aja," jawab Arini dengan nada yang masih kesal.
Davin menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.
"Temanin saya makan dulu, ya. Biar nanti saya sampai rumah tinggal tidur. Ziza juga sudah makan dan mau tidur pas saya sampai rumah nanti," ungkap Davin.
"Siapa suruh anterin orang," lirih Arini.
"Saya dengar," ucap Davin sambil melirik ke arah Arini yang duduk disampingnya.
"Saya mau makan sate padang," ucap Arini.
Davin tersenyum mendengar jawaban Arini. "Tunjukin saja jalannya," ucapnya.
Setelah berkendara beberapa saat, akhirnya mereka tiba di sebuah warung sate padang. Tempatnya tidak terlalu besar, namun terlihat banyak sekali pengunjungnya.
"Ini ada tempat duduknya buat kita? Penuh gini," tanya Davin ketika melihat betapa ramainya warung itu. Beberala orang yang ingin bungkus bahkan terlihat berdiri tidak jauh dari si abang penjual yang sedang menyendokkan kuah kental sate itu.
"Semoga ada, Pak. Kita masuk aja dulu," ucap Arini sambil memimpin langkah mereka menuju warung tersebut, sedang Davin mengikuti dibelakangnya.
Kebetulan ada dua orang pengunjung wanita yang berdiri dan meninggalkan mejanya karena telah selesai makan. Arini kemudian langsung berjalan menduduki meja itu, diikuti oleh Davin.
"Satenya berapa, Kak?" tanya salah seorang pria pekerja warung itu sambil ia membersihkan bekas makan pengunjung sebelumnya.
"Bapan mau sate daging sapi atau ayam?" tanya Arini pada Davin.
"Sapi aja," jawab Davin.
"Sate dagingnya 2 sama es tebaknya 2. Minta air putihnya juga ya, Bang. Oh iya, yang 1 satenya banyakin bawang gorengnya, Bang," ucap Arini pada pria pekerja itu.
"Oke, Kak. Ditunggu dulu ya pesanannya," jawab pria itu hingga akhirnya berlalu dari meja mereka.
"Es tebak apaan?" tanya Davin yang memang baru pertama kali mendengar nama makanan itu.
"Semacam es campur gitu, Pak. Tapi ini khas daru Sumatra Barat. Cobain aja nanti, pasti nagih," jelas Arini dengan semangat.
Tak lama pesanan mereka datang. Wajah Arini terlihat sudah tidak sabar untuk mencicipi sate pesanannya itu.
"MasyaAllah. Ko iyo ko lamak bana," ucap Arini sambil mengunyah daging sate miliknya. Ia juga mengambil kerupuk kulit yang ada di atas meja. Ia buka bungkusnya dan menuangkannya di piring miliknya.
"Bapak mau?" tanya Arini pada Davin yang ternyata sejak tadi belum memakan sate miliknya. Pria itu sejak tadi hanya melihat Arini memakan sate miliknya.
"Kenapa, Pak? Pak Davin ngga suka sate, ya?" tanya Arini. Wanita itu mengira kalau Davin tidak menyukai makanan yang ia pilih ini.
Davin menggeleng. "Saya hanya senang melihat kamu makan sate itu dengan wajah yang seperti ini. Rasanya belum pernah saya lihat kamu makan dengan semangat seperti itu."
"Hehe. Saya sudah lama mau makan sate ini, Pak. Tapi belum sempat sempat mau kesini nya," ujar Arini.
Davin mencoba menggigit daging sate miliknya.
"Rasanya beda seperti sate padang yang biasa saya makan," ucap Davin.
"Memang beda, Pak. Yang buat ini orang minang asli. Dia pake bumbu asli tanpa ada di kurang-kuranginya. Selama saya merantau kesini, baru ini saya temukan sate padang yang sama persis. Biasanya itu judulnya saja yang Sate Padang, tapi rasanya beda. Kata mereka disesuaikan sama lidah orang sini. Tapi menurut saya jadi hilang cita rasa asli dari sate padang itu sendiri," jelas Arini.
"Benar juga sih," ucap Davin sambil mengangguk.
"Sebenarnya tergantung selera sih ya, Pak. Ada yang mempermasalahkan ada juga tidak. Saya biasanya tidak terlalu mempermasalahkan, namanya juga tergantung lidah masing-masing. Tapi kalau saya rindu kampung halaman, saya pasti akan kesini, cari makanan yang rasanya sama persis," ucap Arini. Davin mengangguk kembali tanda menyetujui.
"Disini langganan kamu dan suami kamu?" tanya Davin. Ia cukup merasa penasaran akan hal ini.
"Tidak, Pak. Tempat ini baru dibuka dua tahunan yang lalu. Sedang suami saya meninggal hampir 4 tahun," jawab Arini.
"Oo."
Mereka melanjutkan makan dengan diam. Sesekali Davin melihat Arini yang makan sambil tersenyum dan tentu saja senyuman itu menular pada Davin.
"Arini," panggil Davin setelah Arini dan dirinya telah selesai dengan sate dan es tebaknya.
"Ya, Pak."
"Maukah kamu menikah denganku?"
#####