tag khusus : cinta lansia
“Renata Thomson ?” panggil seorang pria bernama Prima ( 48 tahun ).
Suara yang tak asing dan bahkan sangat lama sekali tak pernah Re dengar tiba – tiba memanggil jelas namanya.
Re menoleh, alangkah terkejutnya ia dengan sosok pria bertubuh tinggi dan atletis itu. Ia tergugu dalam diam. Detik berikutnya ia setengah berlari seolah baru saja melihat hantu.
Setelah 22 tahun dan berumah tangga dengan pria lain, Renata bertemu kembali dengan tunangannya dulu.
Karena Duan sudah bosan dengan kehidupannya bersama Re, pada akhirnya Duan menceraikan Renata.
Lalu apakah Re akan terbuka kembali hatinya untuk seorang Prima ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Agaknya Re merasa bosan sekarang, tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan selain menunggu Prima menghabiskan kopinya.
"Kamu minum kopi rasa setahun," gerutu Re. Wanita bertubuh ceking itu beranjak dari tempatnya menuju lemari buku yang menyita perhatiannya. Dirapikannya buku - buku itu.
"Pekerjaan mu tidak akan berat, Re. Kamu hanya perlu menemaniku kemana pun aku pergi."
Re menoleh, "Hah, jika pekerjaanku semacam ini kenapa kamu tidak menyuruh pria gondrong itu saja untuk menemanimu, biasanya kan juga begitu." protes Re yang ia rasa telah dikerjai oleh Prima.
"Mike maksud kamu ? Dia berbeda tugas denganmu. Kamu keberatan menjadi sekretarisku, Re ?"
Renata menyudahi merapikan buku, membalik posisi tubuhnya menghadap Prima. "Jadi, aku bekerja di perusahaanmu untuk kamu jadikan sekretaris, Prim ? Tidak salah aku mendengarnya ? Aku SANGAT keberatan. Lalu kemana karyawan mu yang cantik - cantik dan seksi itu ?" tukas Re, kebanyakan CEO di perusahaan besar memiliki patner kerja yang modis, muda dan cantik. Itulah yang ada digambaran kepalanya.
"Jika kamu keberatan, aku turunkan jabatanmu untuk jadi istriku. Kamu mau ?" ujar Prima dengan gamblang. Entah mendapat keberanian dari mana Prima bisa berkata demikian.
"Prima! Aku serius!" Sentak Re sambil berkacak pinggang. Tensinya mulai naik agaknya.
"Aku malah seribu rius." Prima beranjak dari tempat duduknya berpindah sejajar dengan Re. Ditatapnya dalam - dalam indra penglihatan wanita itu.
Prima kian mendekat membuat Re menahan dada pria itu hingga posisinya condong ke belakang. "Prima, jangan macam - macam ! Jika kamu berbuat kurang ajar padaku, aku bersumpah akan lari darimu."
Prima mencengkal pergelangan Re, menatap jauh ke bola mata. Terlihat pantulan dirinya di sana. Ia lalu berkata dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan mu menghilang lagi. Cukup kamu selalu berada di dekatku, maka aku tidak akan berbuat macam - macam. Kamu mengerti Re ?" Agaknya ancaman Prima berhasil membuat Re setuju. Renata menelan ludahnya kasar, ia merasakan dari sorotan mata Prima yang berubah menakutkan.
Re mengangguk pelan, "I-ya, baiklah. Sepertinya menjadi sekertaris tidaklah sulit."
Prima meluruskan posisi tubuhnya. "Pilihan yang bagus, Re." Beranjak dari sana menuju kursi kebesarannya.
Renata mengambil asupan oksigen dengan tenang lalu menghembuskan perlahan. Berhadapan dengan pria berkuasa harus lah dengan ekstra sabar dan mengalah.
Prima menarik laci untuk mengambil sesuatu. "Re, kemarilah!" Memberi kode agar wanita itu berjalan ke tempatnya.
Re mengikuti komando, untuk sementara ia menepis pemikirannya yang bukan - bukan tentang Prima. Ia mengganggap semua ucapan Prima hanyalah kelakar saja. Jika pun benar, apa bagusnya wanita seperti dia dijadikan seorang istri ? Ia harus lebih fokus menatap masa depan dirinya dengan Mika. Untuk urusan menikah lagi, sepertinya tidak terdaftar dari agenda kehidupannya. Biarlah masa lalu menjadi kenangan dan cerita tersendiri.
"Ini, gunakan ketika kamu bekerja. " tunjuk Prima setelah memperlihatkan sebuah ipeed baru padanya.
Re menerima dengan canggung. Prima bisa merasakan itu.
Lalu ia membohonginya dengan berkata, "Itu perusahaan yang memberikannya padamu agar mempermudah pekerjaanmu."
"Aku mengerti. Terimakasih."
Dan mulai hari itu juga ia bekerja di perusahaan Bastian Group. Re diperkenalkan oleh Prima di depan semua karyawan sebagai sekretaris barunya.
Dengan adanya Re yang bekerja di tempat itu, banyak mengundang cibiran yang tidak menyukai kehadirannya. Rumor beredar begitu cepat jika Re wanita janda penggoda pria.
"Ia pasti menggunakan cara licik untuk sampai di posisi itu."
"Dia bilang usianya masuk kepala 4, padahal aku lihat dalam data pribadinya dia sudah tua dan hanya punya satu anak. "
"Dasar, janda penggoda!"
.
Saat pertemuan pertamanya bersama Klien di ruang meeting, Re sudah bisa menguasai keadaan dan situasi. Bahkan Re mendapat pujian dengan tutur bahasanya yang sopan dan luwes.
"Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Prima. Kontrak sudah saya tanda tangani. Besok pagi para pekerja akan mengambil barang - barang."
"Terimakasih, semoga kerja sama kita kedepannya terus terjalin tidak berhenti sampai di sini."
"Anda benar. Ngomong - ngomong, Nona Renata dulu lulusan dari universitas mana ?" tanya pak Ronald menghadap ke arah Renata yang sibuk mencatat.
"Ah, iya." menoleh cepat. "Universitas XYZ." sahut Re sekenanya. Menatap klien itu dengan senyuman ramah.
"Pantas, lulusan dari sana tidak diragukan lagi. Baiklah, Tuan Prima, saya pamit undur diri. Nona Re, permisi !"
"Silahkan Tuan Ronald, hati - hati di jalan !"
"Iya, senang berjumpa dengan Anda."
Setelah rapat usai, Prima tak juga beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap Renata yang sedang sibuk.
Begitu tahu ia sedang diperhatikan, Re menyudahi kegiatannya. "Apa aku terlihat salah, tolong katakan agar kamu tidak terus memelototiku seperti ini !"
"Kamu ingin tebar pesona di tempat kerja?" seloroh pertanyaan yang membuat Re membuka mulutnya.
"Hah, fitnah apa lagi ini?" dengusnya sebal.
"Terbukti kan tadi Pak Ronald tak berhenti menatapmu." menelisik wajah Re.
Re menarik nafasnya panjang, "Sepertinya Anda harus merevisi ulang kalimat Anda barusan. Kita saling berkomunikasi tentu saja harus saling menatap satu sama lain. Dan apa untungnya juga aku tebar pesona, aku ini wanita janda tua, Tuan Prima ? Tidak akan ada yang tertarik padaku." protes Re tidak terima dengan tuduhan yang mengarah pada istilah penggoda. Re sedikit tensi meladeni tuduhan Prima yang tanpa dasar dan tidak masuk di akal. "Masa menatap tidak boleh, pakai helm sekalian biar tidak terlihat." gerutunya dalam hati.
Prima berkerut, "Tetap aku tidak suka dengan sikapku seperti yang tadi. Siang nanti saat menemaniku bertemu klien lagi. Kamu diam dan perhatikan saja."
"Terserah. Sikapmu masih saja belum berubah. Padahal sudah tua juga."
Prima menoleh cepat, "Apa yang barusan kamu katakan ?"
"Tau ah, gelap Pak !"
.
Diana memastikan Lyon untuk mengonsumsi obatnya sebelum ia beranjak pergi.
Begitu Lyon selesai minum obat, ia langsung tidur.
Diana tersenyum menang, "Bagus, beristirahatlah, Lyon."
Diana mengendap keluar dari kamar menuju garasi. Ia sudah rapi dan siap berangkat kerja. Tak terlihat di sana motor Lyon. "Tumben pagi - pagi sudah berangkat kuliah."
Diana lalu mengendarai mobilnya.
.
Ella, Dio dan Timmy mendukung Mika untuk bisa bertemu dengan Lyon.
Darwin sudah bersiap di halaman luar menunggu mereka. Tak lama kemudian mereka datang.
"Tidak apa sesekali bolos, Man." hibur Dio.
Mika dan yang lain mengangguk serentak. "Ayo kita berangkat, sebelum tante Diana pulang!" Ella menginterupsi.
Semua masuk di dalam mobil Ella, sementara Darwin memilih mengendarai motornya sendiri.
Sesampainya di rumah Lyon.
"Kak Lyon !" panggil Darwin yang mendapati Lyon tengah membaca komik.
Setelah Diana pergi, Lyon bangun. Ia tidak tidur beneran. Karena jenuh di dalam kamar, ia pun keluar. Jalan - jalan sebentar di halaman lalu kembali masuk ke dalam rumah. Agaknya kesehatannya belum 100 persen sembuh, kakinya terasa pegal. Ia pun memilih membaca komik sambil tiduran.
Lyon menoleh, "Darwin, kamu sudah pulang ?"
"Hm, lihat Kak, siapa yang datang,"
Mika muncul dari luar kamar disusul Ella, Dio dan Timmy.
"Mika !" Bola mata Lyon berbinar melihat sang pujaan hati datang.