Maemunah, gadis lajang berumur 25 thn yang belum bisa dewasa sedikit pun. Sifatnya sangat bebas dan suka bergaul dengan remaja yang bukan seumurannya. Gadis ini tidak suka bekerja dan hanya senang bermain, padahal teman" seumurannya banyak yang sudah sukses berkerja dan menikah. Putri babe Rojali dan Nyak Markoneng ini kerap kali menjadi biang kerok dan terkenal dengan kenakalannya. Sifat ini sudah ia miliki sedari kecil senang membuat onar dan membuat pusing kedua orang tuanya. Tak tahu entah cara apa lagi agar Mae beranjak dewasa, kedua orang tuanya memutuskan mencari seorang lelaki untuknya. Mae jelas menolak keras hal ini. Ia tak mau menikah dan berpacaran karena tak mau ribet. Itu melelahkan baginya, menjalani kehidupan seperti yang diinginkan barulah menyenangkan menurutnya. Akankah ada lelaki yang bisa merubah sikap buruknya itu? Berhasilkah orang tuanya mencari lelaki yang cocok dengannya? Temukan jawabannya lewat cerita novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Green Heaven Design
Semua orang sangat sibuk bekerja di tempatnya masing-masing, begitu juga Mae yang memiliki tugasnya sendiri. Namun setelah lama mengetik, jari-jarinya mulai lelah dan dirinya menjadi bosan. Ia memilih untuk istirahat sambil meregangkan otot-otot jarinya. Tiba-tiba saja dirinya menguap sambil menunggu jam makan siang, ia memilih menyenderkan tubuhnya di meja.
Beberapa menit kemudian, seorang gadis dengan pakaian serba pink, berjalan dengan lenggak-lenggok memasuki kantor pemasaran. Semua karyawan yang tadinya sibuk bekerja mendadak berhenti dan saling menyenggol satu sama lain. Mereka saling berbisik karena penasaran dengan gadis tersebut.
"Jum, siapa dia?" Salah seorang karyawan bertanya padanya sambil menunjuk ke arah gadis tersebut.
Jumi menoleh dan melihat ke arah yang di maksud temannya. "Asisten Pak King? Ada urusan apa dia di sini?" tanya Jumi balik.
"Lah Jum, mana gue tau, gue tanya malah lu tanya balik," heran rekannya sambil bergeleng.
Catalina yang merupakan asisten dari King ini lah yang datang ke perusahaan. Dia dengan santai berjalan menuju meja Mae dimana Mae tengah tertidur sekarang.
"Ehem Hem He'em !" Catalina mencoba memberikan efek suara agar Mae terbangun.
Mae terperanjat dan membangkitkan tubuhnya. "Ow lu kan...?" Tunjuknya sedikit berpikir.
"Catalina. Prince ada?" Sambung gadis itu langsung sambil bertanya.
"Ada, tapi ada urusan apa ya?" Mae balik bertanya.
"Ku tentu saja ingin bertemu dengannya sekaligus memberikan dokumen ini padanya," jawabnya.
"Owh." Mae mengangguk. "Bagaimana dengan King?" tanyanya lagi.
"Banyak tanya ya." Catalina sedikit menyindir. "King ada urusan makanya dia nyuruh aku yang datang ke sini," jawabnya.
Mae mengangguk-angguk mengerti. Sedangkan Catalina dengan gaya angkuhnya berdiri menunggu izin Mae untuk masuk ke dalam.
"E, bisa ma...? Cat?" Tak sengaja Prince keluar dari balik pintu untuk memanggil sekretarisnya namun mulutnya berhenti berbicara ketika melihat ada orang lain di sana.
"Prince!" Panggilnya senang. Catalina lalu berlari dan langsung memeluk Prince membuat Mae terkejut.
"Cat! Lepaskan ini di kantor!" suruh Prince padanya.
"Huh baiklah!" Dengan terpaksa dan cemberut, gadis ini menurut untuk melepaskan tangannya.
"Kamu sedang apa di sini? Sangat tiba-tiba." Prince bertanya.
"Tentu saja ingin bertemu dengan mu sekaligus ku ingin memberikan dokumen ini padamu," jawab Catalina sambil menunjukkan amplop coklat kepadanya.
"Owh. Terima kasih lalu bagaimana dengan King?" Prince juga bertanya tentang hal yang sama seperti Mae tadi.
"Dia sibuk makanya aku langsung menawarkan diri sekalian melihat mu, Prince!" jawab Catalina sedikit sebal.
"Oh begitu." Prince mengangguk mengerti.
"Hmm. Kamu tak menyuruhku masuk! Capek tau berdiri terus," keluh Catalina.
"Ah oke oke silahkan masuk!"
Prince segera membuka pintu untuk Catalina. Gadis ini pun berjalan masuk di ikuti Prince di belakangnya. Saat hendak masuk, Mae pun memanggilnya karena teringat jika tadi Prince berhenti memanggil dirinya.
"Prince, tadi apa ada yang perlu ku bantu?"
"Em..., tadinya ada tapi sekarang tidak. Kamu buatkan teh saja untuk Catalina ya," pintanya sambil tersenyum.
"Hmm lah!"
Mae pun dengan malas berbalik untuk pergi menuju dapur kantor. Gadis ini sepertinya merasa kesal karena melihat Catalina yang memeluk Prince seenaknya tadi. Ia bahkan mengambil gula dengan kasar sambil bergumam untung saja dirinya tak salah ambil yang lainnya.
"Apaan banget dah tuh cewek, main peluk-peluk Prince di depan gue!"
"Oi Mae! Kenapa lu?" Jumi tiba-tiba datang sambil menepuk pundaknya.
"Jumi?" Kaget Mae menoleh.
"Lu pasti cemburu ya?" tebak langsung Jumi.
"Gak, b aja tuh," jawab Mae singkat sambil kembali melakukan tugasnya.
"Yakin nih? Gue tadi perasaan denger lu ngomel sendiri dah," goda Jumi menunjuk-nunjuk.
"Apaan sih Jum, mending balik kerja aja sono!" Suruhnya sambil berjalan melewati Jumi dengan membawa nampan berisi 2 cangkir tes di atasnya.
Sementara di dalam ruangan Prince. Catalina yang sudah duduk bersama Prince di sofa, terus memperhatikan lelaki di sampingnya yang tengah serius mengecek dokumen miliknya.
"Rencana yang bagus," ucap Prince memuji.
"Tentu saja." Catalina tersenyum. "Prince, bagaimana penampilanku hari ini?" Tanyanya sambil merapikan dandanannya.
Prince menoleh, "Cantik seperti biasa. Ehe," jawabnya tersenyum canggung.
Catalina langsung salah tingkah mendengarnya, ia terus tersenyum ke arah Prince dan justru membuatnya tak nyaman.
Ehem !
Mae yang baru saja datang sengaja menimbulkan suara agar keduanya berhenti mengobrol. Prince sangat lega karena Mae datang tepat waktu.
"Oh E, terima kasih," ucap Prince tersenyum.
"Ya." Singkat Mae sambil sedikit memalingkan wajahnya.
"Ku cicipi boleh?" izin Catalina tersenyum ke Prince.
"Silahkan!" Prince mempersilahkannya.
Catalina mengangguk sambil langsung mengambil secangkir teh lalu menyeruputnya dengan anggun. "Kurang manis!" komennya sambil meletakkan tehnya kembali.
"Oh benarkah? Mau ku gantikan yang baru?" tawar Mae langsung.
"Tak usah. Kan sudah ada Prince di sini yang lebih manis dari apapun," jawab Catalina yang tersenyum menggodanya.
Hwe !
Mendadak Mae merasa ingin muntah mendengarnya.
"Tak sopan," tegur Catalina yang merasa jijik.
"E, kamu tak apa?" Prince justru langsung khawatir pada Mae.
"Tak apa-apa hehe," jawabnya terkekeh.
"Prince, kamu nanti malam ada waktu tidak? Ku ingin mengundang mu makan malam, sudah lama kita tak makan bersama lagi." Catalina bertanya sambil sedikit menggeser posisi duduknya agar lebih dekat.
"Emm ku tak pasti, iya kan E?" tanyanya beralih pada Mae sambil sedikit menggeleng agar sekretarisnya berbohong.
"Jadwal malam ini sepertinya kosong Pak," jawab Mae yang jujur.
"Bagus, ayo pergi ya ya." Sontak Catalina langsung senang dan mengandeng tangan Prince sambil membujuknya.
"Mae!" pelan Prince memanggil. Ia benar-benar tak mau pergi namun Mae tak memahami dirinya.
"Apa, benar kan? Lagipula sepertinya Catalina ingin mengobrol lebih jauh dengan Bapak," ujar Mae sambil melirik ke arah Catalina yang terus menempel pada Prince.
Prince tak bisa berkata lagi. Ia pun terpaksa mengiyakan ajakan Catalina untuk makan malam dengannya. "Baiklah ku akan pergi," ucapnya.
"Yes!" seru Catalina senang sambil melebarkan senyumannya.
"Kalau begitu ku boleh pulang lebih awal kan?" pinta Mae sedikit ragu-ragu.
"Pulang aja sana! Prince juga akan pergi bersamaku," sambar Catalina langsung menjawab sambil melirik ke arah Prince. Prince terpaksa menekan senyumnya dengan sedikit tambahan anggukan dari kepalanya.
Mae akhirnya mengerti jika Prince sepertinya benar-benar ingin pergi bersama teman lamanya itu. "Oke! Dengan senang hati," ucap Mae yang lalu berjalan keluar.
"Eh E tunggu!" cegat Prince namun Mae sudah terlanjur menutup pintu ruangannya. Ia sebenarnya ingin mengajak Mae juga untuk bergabung dengannya sayang sepertinya dia kesal karena sikap Catalina.
Mae segera membereskan barang-barangnya untuk pulang walau belum mendapatkan izin dari bosnya langsung. Saat melangkah pergi, Jumi dan karyawan lainnya sedikit penasaran karena Mae pulang belum pada waktunya.
......................
Mae yang sudah pulang duluan padahal baru tengah hari memilih untuk pergi menjemput Siti di sekolahnya. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang yang dimana anak-anak sebentar lagi akan pulang sekolah. Saat sampai di SMA yang tak lain mantan sekolahnya dulu, Mae menunggu adiknya di depan gerbang. Bel sekolah berbunyi dan semua murid keluar secara bergilir dari dalam sekolah. Mae sedikit berjinjit untuk mengintip orang yang di carinya. Matanya berhasil menangkap seorang siswi dengan rambut di ikat dua berjalan menuju gerbang sekolah. Dengan cepat Mae memanggilnya.
"Siti!"
Siti yang melihatnya langsung berlari. "Kak Mae? Kakak ngapain di sini?" tanyanya.
"Jemput lu lah, mumpung pulang gasik," jawab Mae.
"Tapi ini masih jam kantor kak, Kakak tak dimarahi kah?" ucap Siti sedikit khawatir.
"Tak, aman lah. Ya udah ayo pulang ku traktir es krim dulu mau?" tawarnya.
Siti dengan senang mengangguk-angguk. Saat mau pergi tiba-tiba nama Siti di panggil oleh seseorang.
"Siti!" Teriak lelaki berponi samping sambil berlari ke arahnya.
"Et dah lu Ndro," ucap Mae saat mengetahui siapa yang memanggil adiknya itu.
"Eh Kak Mae, Indro boleh ikut kagak? Hehe," tanya Indro sambil terkekeh.
Mae langsung menjawab, "Tak!"
Wajah Indro sudah memasang wajah kecewa namun langsung berubah saat Mae melanjutkan kata-katanya. "Tak masalah maksudnya. Takut bener dah!"
Siti sedikit tertawa begitu juga Mae karena telah membuat siswa laki-laki berponi samping ini ketakutan.
"Huh!" Lega Indro menghela nafasnya.
"Gue lagi baik nih walau lu pernah cari masalah ma gue dulu. Tapi karena lu adik sepupunya si Raka gue fine fine aja lah," ucap Mae padanya.
"Ma_makasih Kak E," balas Indro terbata.
"Hmm, ya udah ayo!" Rangkul Mae langsung pada kedua adik juniornya.
Siti mengangguk dan sedikit melirik ke arah Indro sambil tersenyum malu. Terlihat seperti ada sesuatu di antara mereka namun belum terungkap kebenarannya.
Lima belas menit berjalan, mereka bertiga akhirnya sampai di kedai eskrim dekat sekolah. Mae pun meminta dua adiknya untuk duduk sementara dirinya pergi ke pusat pelayanan untuk memesan eskrim.
"Nah punya lu vanila strawberry, ma lu matcha," ucap Mae sambil memberikan es krim pesanan dua adiknya.
"Makasih kak E," ucap mereka berdua kompak.
"Ndro, lu suka rasa yang aneh-aneh ya? apa enak tuh eskrim lu?" Tanya Mae penasaran sambil bergidik membayangkan rasanya.
"Enak lah kak, mau coba!" sodor Indro mengarahkan es krimnya untuk di coba olehnya.
"Ogah, buat lua aja," tolak Mae langsung menggeleng.
"Siti, lu mau coba punya gue kagak?" Indro lalu beralih menawarkan ke gadis di sebelahnya.
"Em." Siti mengangguk malu sambil mengeruk eskrim milik temannya itu.
"Enak?" Mae penasaran.
"Enak kak E, coba sendiri deh!" Siti menwarkan es krim Indro padanya juga.
Mae dengan cepat menggeleng karena tetap saja dia tak akan menyukainya walau di paksa untuk mencobanya. Ia lebih suka menikmati es krim coklat kacang miliknya sendiri.
"Lu mau coba punya gue juga tak?" Kini gantian Siti yang menawarkan es krimnya pada Indro.
"Boleh boleh." Dengan cepat Indro menyetujuinya.
Indro lalu mengeruk es krim milik Siti dan mencobanya. "Em manis kaya lu, Ti," ucapnya sedikit menggoda.
Gadis remaja 18 tahun ini langsung tersipu malu-malu sambil menyantap es krimnya kembali.
Keduanya terus bertukar rasa es krim sambil senyum-senyum malu.
Mae yang hampir selesai menghabisi es krimnya, kini mulai melirik ke arah dua adiknya yang terlihat akur. Padahal dulu Siti sangat tak nyaman jika Indro mendekatinya. Bahkan Siti tampak tersenyum malu saat Indro menggodanya.
Ehem !
Siti dan Indro yang masih tersenyum malu, langsung kembali normal dan menoleh ke arah Mae.
"Sejak kapan kalian akur?" tanya Mae pada mereka.
"Kita selalu akur kok ka, iya kan Dro?" Jawab Siti sambil melirik ke arah Indro.
"He'eh." Indro mengangguk mengiyakan.
"Iya kah?" Mae masih sedikit kurang mempercayainya.
Siti dan Indro mengangguk bersamaan untuk meyakinkan kakaknya.
"Mae?" Tiba-tiba terdengar seorang pria memanggil namanya. Mae dan kedua adiknya pun menoleh bersama.
BERSAMBUNG
ngakak terus sama kelakuan Mae😂