NovelToon NovelToon
Love Mercenary Killer

Love Mercenary Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bgreen

Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

caffe di pantai pasir putih

SEMINGGU BERLALU...

Setelah berhari-hari memikirkan sosok Sue, Orion akhirnya memutuskan untuk mengunjungi cafe di mana ia bekerja.

Perjalanan mobilnya melewati jalan raya yang berkelok-kelok, hingga tiba di sebuah kota pantai yang sangat terpencil—tempat yang tidak terlalu terkenal dan jarang dikunjungi oleh wisatawan.

Hamparan pasir putih terbentang luas di kejauhan, dengan ombak laut yang membanting pantai mengeluarkan suara riak yang menenangkan.

"Apa kita sudah sampai ?" Tanya Orion kepada asistennya yang sedang mengemudi mobil mewahnya.

"Ya, Tuan." Jawab asisten dengan sopan, menepukkan pedal rem saat mobil berhenti di depan bangunan kayu kecil yang berdiri menghadap laut.

Orion membuka pintu mobil dan turun dengan langkah mantap. Ia melihat sekeliling area yang tampak sangat sepi—tidak ada satu pun kendaraan lain di sekitar, dan bahkan dari luar, kaca jendela cafe tidak menunjukkan adanya pengunjung yang sedang bersantai di dalam. Hanya ada suara ombak dan angin yang menyapu dedaunan pepohonan di sekitar.

Tanpa berlama-lama, Orion melangkah mendekati pintu cafe yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat tua.

Saat ia membukanya, terdengar bunyi lonceng kecil yang berdering lembut: Kring....

"Selamat datang, Sir!" Suara seorang anak laki-laki dengan senyum ramah menyambutnya. Orion langsung terdiam sejenak saat melihat wajah anak itu—wajahnya yang tampan dengan alis tegas dan mata warna biru tua sungguh sangat mirip dengan wajah sahabatnya.

"Silahkan duduk dimana saja, Sir." Ucap anak laki-laki itu lagi, menggerakkan tangannya untuk menunjukkan area meja yang kosong.

Orion tersentak dari kekagumannya, mencoba menenangkan diri sebelum memilih salah satu meja dekat jendela yang menghadap pantai.

Cahaya matahari sore menerobos kaca jendela, memberikan sentuhan hangat di atas meja kayu yang kusam.

"Mau pesan apa, Sir? Ini menu makanan dan minuman kami." Anak laki-laki itu menghampirinya dengan menu yang terbuat dari kertas bergambar pantai.

"Siapa namamu?" Tanya Orion sebelum melihat menu, matanya tetap terpaku pada wajah anak itu.

"Reith, tapi Anda bisa memanggilku Rey saja, Sir." Jawab anak itu dengan senyum yang tidak pernah padam.

"Wah... Bahkan namamu pun mirip dengan sahabatku." Ucap Orion dengan suara rendah, lalu menambah pertanyaan: "Berapa umur kamu, Rey?"

Belum sempat Rey menjawab, terdengar suara wanita yang lembut namun tegas dari arah dapur dalam cafe: "Rey, masuklah ke dalam sebentar! Ada yang harus kita siapkan!"

Rey dan Orion berbalik ke arah suara tersebut—dan tepat saat itu, sosok Sue muncul dari balik tirai kain yang memisahkan area ruang tamu dengan dapur.

Ia mengenakan baju kerja cafe berwarna biru muda dan celana panjang coklat, penampilannya yang sederhana namun tetap menawan jauh berbeda dari ketika mereka bertemu di klub malam Las Vegas.

"Baiklah, Aunty Sue!" Jawab Rey dengan patuh, lalu melihat ke arah Orion: "Pria ini belum sempat memesan apa-apa, Aunty."

"Terima kasih sudah berjaga sebentar, ya Rey. Sekarang kamu bisa masuk dulu." Ucap Sue dengan senyum ramah kepada anak itu—suasana wajahnya benar-benar berbeda saat ia berbicara dengan Rey, jauh lebih lembut dan penuh perhatian.

"Cara bicaranya sungguh berbeda saat bersama anak laki-laki itu..." Batin Orion, merasa semakin tertarik dengan sosok Sue.

Sue berjalan dengan langkah ringan ke arah meja Orion, tangannya menyapu sedikit rambut pirangnya yang tertiup angin masuk dari jendela. "Mau pesan apa, Tuan? Kami punya makanan laut segar dan beberapa hidangan khas pantai yang enak."

Orion hanya diam, tatapannya terpesona melihat penampilan Sue yang alami dan sederhana—sangat berbeda dengan wanita-wanita kemewahan yang biasanya ia temui di dunia bisnisnya.

Ia lupa untuk berbicara, hanya menatap wajah Sue yang bersinar di bawah cahaya matahari sore.

Klik.. Klik... Klik...

Sue menjentikkan jarinya di depan hidung Orion dengan gerakan cepat untuk menyadarinya. "Maaf Tuan, tapi nama menu makanan tidak tertulis di wajahku." Ucapnya Sue dengan sedikit kesal namun ia menahan diri untuk tetap tenang.

Orion akhirnya tersadar dan mengeluarkan senyum tipis di bibirnya.

"And mau pesan atau tidak?" Tanya Sue dengan nada mulai sedikit kesal, merasa sedikit terganggu dengan pandangan pria di depannya yang terus menatapnya.

"Apa begini caramu memperlakukan pelanggan?" Tanya Orion dengan nada bercanda, namun tetap menunjukkan rasa ingin tahu.

"Apa yang Anda inginkan sebenarnya, Tuan? Jangan bilang hanya datang ke sini untuk menggangguku saja..." Ucap Sue dengan nada sedikit dingin, mengira Orion hanya salah satu pria yang datang dengan niat tidak baik seperti yang sering terjadi.

"Aku hanya ingin bertemu denganmu, sebab kau selalu muncul dalam pikiranku sejak kita bertemu di klub." Ucap Orion dengan jujur, matanya tidak lagi bercanda melainkan penuh kesungguhan.

"Haaaah..." Sue menghela nafas panjang, tampaknya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa kita pernah benar-benar bertemu sebelumnya?"

"Kau tidak mengingatku?" Ucap Orion dengan sedikit kecewa, namun segera menenangkan diri.

"Oooo... Oooo... Oooo! Kau... Kau.., pria brengsek di klub yang hampir mematahkan tanganku waktu aku mau kabur dari Sue!" Teriak Storm yang baru saja masuk ke cafe setelah pulang dari mengantar pesanan makanan. Tangannya masih membawa topi helm yang belum dilepas.

"Kau mengenalnya?" Tanya Sue dengan tatapan heran kepada adiknya.

"Ya! Dia yang menahan tanganku waktu aku mau lari! Sekarang ini aku akan menghajar dia—satu lawan satu!" Ucap Storm dengan semangat tinggi, mengatur posisi tubuhnya seperti siap bertarung.

BRAK... BUGH...

Sue dengan cepat mengambil nampan plastik yang ada di meja sebelahnya dan memukul bagian belakang kepala Storm dengan lembut namun cukup keras.

"Aaauuw! Kenapa kau memukulku?" Teriak Storm dengan kesakitan, menatap kakaknya dengan wajah tersiksa.

"Masuk saja ke dalam sekarang juga! Ada banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan!" Ucap Sue dengan nada perintah yang tidak bisa ditentang.

"Aku akan mengerjakannya nanti! Sekarang aku harus menyelesaikan urusan dengan pria bertato ini dulu!" Jawab Storm dengan tetap bersemangat, masih mempertahankan posisi siap bertarung.

Sue mengangkat nampannya lagi seolah akan memukulnya sekali lagi, dan kali ini Storm langsung berlari masuk ke dalam dapur sebelum kakaknya bisa menyentuhnya.

Orion tidak bisa menahan tawa—tawanya yang dalam dan keras mengema di dalam cafe yang sepi, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi riang.

Sue terdiam sejenak, menatap wajah Orion yang sedang tertawa dengan tatapan yang mulai berubah—tawa pria di depannya ternyata sangat memikat dan membuat hatinya sedikit bergetar.

"Sorry... Aku sedikit iri dengan kalian berdua. Aku anak tunggal jadi tidak pernah tahu rasanya punya saudara yang bisa seperti itu." Ucap Orion sambil mencoba menahan tawanya, matanya masih sedikit merah karena tertawa terlalu keras.

"Jadi? Apa sebenarnya maksudmu datang ke sini, Tuan?" Tanya Sue dengan nada yang sudah tidak lagi dingin, bahkan sedikit lembut.

"Orion Gordon. Aku datang ke sini karena benar-benar merindukanmu. Kalau begitu, aku ingin memesan 100 porsi makan malam untuk dikirim ke klub milikku—untuk para karyawanku yang bekerja di sana." Ucap Orion dengan serius, mengambil dompetnya dari saku jasnya.

"100 porsi makan malam?" Sue terkejut, matanya melotot tidak percaya. Jumlah pesanan ini jauh lebih besar dari pesanan biasa yang mereka terima.

"Karyawan?! Jadi kamu itu pemilik Klub Eclipse yang aku sering datangi?!" Teriak Storm yang tiba-tiba muncul lagi dari dalam dapur, wajahnya kini penuh dengan kagum.

"Ya, itu benar. Ini kartu namaku." Ucap Orion memberikan kartu nama emas kepada Sue, lalu menambah: "Silahkan hitung total biayanya, aku akan langsung mentransfernya."

"Oh my gosh... Bos! Tolonglah jadikan aku karyawan Anda!" Ucap Storm dengan nada sopan dan penuh hormat, berbeda jauh dengan sikapnya yang agresif beberapa saat yang lalu.

"Hahaha! Ada apa denganmu? Beberapa menit yang lalu kau masih mengajakku berduel." Ucap Orion merasa lucu dengan perubahan sikap mendadak Storm.

"Sorry Kak... Tadi itu hanya salah paham semata!" Jawab Storm dengan senyum licik, sudah mulai menyebut Orion sebagai 'Kak'.

"Kakak?" Tanya Sue dengan tatapan heran kepada adiknya yang sudah berubah sikap total.

"Diamlah kau, Sue! Aku lagi sedang mencari jati diriku!" Jawab Storm dengan nada ceria, namun segera diam saat Sue mengangkat tangan seperti akan memukulnya lagi. Sue lalu menarik telinga Storm dan menyuruhnya masuk ke dalam dapur.

"Tunggu sebentar ya, Tuan Orion! Aku akan segera menghitung totalnya!" Ucap Sue sebelum menarik adiknya yang masih mengeluh masuk ke dalam.

"Kak Orion... Bos... Tunggu aku! Aku mau menjadi anak buahmu!" Panggilan Storm yang semakin redup saat ia masuk ke dalam dapur.

Orion hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua kakak beradik itu. Namun pandangannya tiba-tiba tertuju pada Rey yang sedang berdiri di pojok cafe, memperhatikan seluruh kejadian dengan wajah penuh rasa penasaran.

Orion memberikan senyum ramah kepada anak itu, namun Rey langsung memalingkan wajah dan masuk ke dalam karena merasa malu.

Tak lama kemudian, Sue keluar dari dapur dengan sebuah buku catatan di tangannya. Ia menghampiri Orion yang sedang santai menikmati pemandangan pantai—ombak yang terus menerus menyapu pasir, dengan beberapa burung laut yang terbang di atas permukaan air.

"Tuan, ini total pesanan Anda. Silahkan mentransfer sesuai pesanan anda." Ucap Sue memberikan kertas berisi nomor rekening dan total harga pesanan.

"Baiklah." Ucap Orion segera mengambil ponselnya dan melakukan transfer. Namun jumlah yang ia kirimkan jauh lebih besar dari total pesanan yang tertera.

"Maaf Tuan, Anda mentransfer lebih banyak dari yang seharusnya!" Ucap Sue dengan khawatir, ingin segera memberitahu Orion tentang kesalahan itu.

"Sisanya untukmu saja. Beli pakaian yang bagus atau apa saja yang kamu butuhkan." Ucap Orion dengan lembut, lalu berdiri dan mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Aku mau mengajakmu kencan besok malam. Aku akan menghubungimu nanti untuk memberitahu lokasinya ya."

Tanpa menunggu jawaban dari Sue, Orion berjalan keluar dari cafe dengan langkah mantap.

Sue hanya bisa berdiri diam, menatap kepergian Orion yang masuk ke dalam mobil mewahnya yang kemudian melaju menjauh dari cafe, meninggalkannya dengan hati yang sedikit berdebar dan pikiran yang penuh dengan pertanyaan.

1
perahu kertas
😯😯
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!