Bagaimana kalau tubuh laki-laki seorang pembunuh bayaran berakhir di tubuh perempuan yang tidak ia kenal. Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Hari itu gedung pengadilan agama tampak ramai, tapi suasana di ruang sidang utama justru berjalan lancar dan tanpa hambatan—karena salah satu pihak, Raga, tidak hadir. Hazel duduk dengan tenang, mengenakan setelan elegan dan tatapan dingin tanpa celah emosi. Segala dokumen telah lengkap, dan hakim memutuskan sidang dilanjutkan ke tahap berikutnya tanpa kehadiran tergugat.
Sementara itu, di tempat lain, Raga justru terjebak dalam drama yang tak kalah kusut dari perceraiannya. Elora tengah berdiri di hadapannya, menangis sambil memegang perutnya yang mulai membuncit.
“Ini anak kamu, Mas. Aku gak pernah tidur sama laki-laki lain selain kamu,” ucap Elora sambil berusaha meyakinkan Raga yang masih menatapnya dengan penuh keraguan.
“Kenapa harus sekarang, Elora?” gumam Raga frustrasi, menahan amarah dan tekanan dari semua sisi. Dia masih belum yakin. Apakah ini memang anaknya? Atau hanya permainan lain untuk mengikatnya?
Namun di balik keraguannya, ada tekanan dari Ibu dan tuntutan dari Elora yang semakin keras. Tak ingin menambah malu di mata publik, Raga akhirnya mengambil keputusan berat menikahi Elora minggu depan.
Bukan karena cinta. Bukan karena keyakinan. Tapi karena terpaksa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit tampak mendung seolah tahu bahwa pernikahan hari itu tak dilandasi cinta. Raga berdiri di pelaminan, mengenakan jas putih yang disesuaikan dengan tema mewah pesta. Tapi di balik senyumnya yang terpaksa, dadanya sesak. Tidak ada kebahagiaan, hanya tuntutan, tekanan, dan rasa kehilangan yang tak bisa dijelaskan.
Elora tampak cantik dengan gaun pengantin berwarna ivory yang menonjolkan kehamilan mudanya. Tangannya gemetar saat menggenggam buket bunga. Ia tahu betul: hari ini bukanlah kemenangan. Ini hanya tali pengikat agar hidupnya tak berakhir sia-sia setelah semuanya ia korbankan untuk mengejar Raga.
Para tamu bersorak, kamera mengabadikan momen, dan janji suci pun terucap… meski hati mereka saling menolak.
Di tempat lain, tepatnya di Cafe terhits…
Hazel duduk di kursi café yang menghadap taman kota. Di depannya, jus apel kesukaannya tersisa setengah. Ia memandangi layar ponselnya—melihat undangan digital pernikahan Raga dan Elora yang baru saja dikirim entah oleh siapa.
Dia tersenyum tipis, bukan karena sedih… tapi karena puas.
“Selamat tinggal selamanya, Raga…” bisiknya lirih. “Sekarang lo resmi jadi milik perempuan yang lo pilih. Dan gue… gue bebas.”
Radit yang berdiri di sampingnya menatapnya dengan cemas. “Nona Hazel… apa Anda yakin tidak ingin menghadiri sidang lanjutan minggu depan?”
Hazel hanya menggeleng, menatap lurus ke taman di depannya.
“Tidak, Radit. Kali ini biar semuanya selesai tanpa aku ikut campur lagi. Aku sudah menang… dan sekarang aku ingin hidupku sendiri.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lampu remang-remang berpadu dengan kilauan lampu sorot berwarna ungu dan biru yang memantul di dinding kaca. Musik EDM berdentum, menenggelamkan suara-suara lain. Di salah satu lounge VIP yang terpisah dari hiruk pikuk lantai dansa, duduklah empat pria—masing-masing dengan segelas minuman di tangan, dan wanita-wanita sewaan di sekeliling mereka.
Kecuali Athan.
Dia duduk menyendiri di ujung sofa, menyilangkan kaki, mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung, rambut sedikit berantakan namun tetap memikat. Tidak ada wanita di sisinya malam itu—dan bahkan jika ada yang mencoba mendekat, aura dingin dari tubuhnya cukup untuk membuat siapa pun mundur.
Calvin meneguk whiskey-nya lalu menyenggol Razi dengan siku. “Gila juga ya, pagi tadi si Raga beneran nikahin Elora. Lo sempat liat fotonya gak?”
Razi mendecak pelan, mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah potret di Instagram story milik salah satu kolega bisnis mereka. Di foto itu, terlihat Raga tersenyum dipaksa, berdiri di samping Elora yang tengah mengenakan gaun pengantin berwarna ivory mewah, perutnya sudah sedikit terlihat menonjol.
“Pernikahan kilat karena hamil duluan, klasik,” komentar Kaivan sambil menghisap cerutunya. “Dulu sok gentleman, sekarang terpaksa kawin. Karma kerja cepet.”
Calvin tertawa pendek, meneguk minuman lagi. “Yang paling lucu tuh ekspresi Elora. Gak kelihatan kayak wanita yang menang, lebih kayak… yang ketipu.”
“Dia pikir dia menang karena berhasil rebut Raga dari Hazel,” ujar Razi, sinis. “Padahal dia yang nyemplung ke jurang yang lagi runtuh.”
Semua tertawa… kecuali satu orang.
Athan diam saja sejak tadi, memutar gelasnya perlahan di tangan. Pandangannya mengarah ke lantai dansa, tapi jelas pikirannya jauh melayang.
Kaivan akhirnya menoleh ke arahnya. “Lo kenapa diem, Than? Masih mikirin Hazel?”
Athan menoleh lambat. Mata dinginnya menatap Kaivan sekilas. “Nggak. Gue mikirin… betapa banyak orang yang berjuang buat sesuatu yang mereka sendiri tahu hancur.”
“Maksud lo?” tanya Calvin.
Athan bersandar, menengadahkan kepalanya dan menatap langit-langit club yang penuh cahaya strobo. “Raga pikir dia bisa dapat segalanya: istri pintar, wanita simpanan, bisnis lancar. Tapi ternyata dia terlalu rakus. Dan Elora? Dia pikir kehamilan itu kartu as. Padahal cuma kartu mati.”
Razi terkekeh, mengacungkan gelasnya. “Lo kalau ngomong tajem banget, bro.”
Athan tersenyum tipis, lalu berdiri sambil mengenakan kembali jaket kulitnya.
“Gue cabut duluan.”
“Lah, lo baru sejam di sini.”
Athan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. “Ada yang harus gue pastiin malam ini.”
“Hazel?” gumam Calvin pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Dan semua kembali terdiam, mengerti bahwa meski pesta dan tawa memenuhi ruangan… ada satu cerita yang belum selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya matahari menembus tirai tipis, menyinari ruangan apartemen yang tertata rapi dan modern. Hazel berdiri di depan jendela besar dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Matanya memandang jauh ke luar—ke arah langit yang tampak tenang, namun pikirannya berkecamuk.
Hari ini, dia akan pergi ke Kota J. Kota yang penuh kenangan… dan luka.
Pintu apartemen diketuk tiga kali.
Tok. Tok. Tok.
Hazel menoleh, lalu berjalan membuka pintu. Radit, asistennya yang setia, berdiri di ambang dengan koper hitam dan map dokumen di tangan.
“Semua sudah siap, nona Hazel,” lapor Radit dengan nada tenang.
Hazel mengangguk pelan, meletakkan cangkirnya di meja.
“Mobil?”
“Sudah menunggu di bawah. Tiket pesawat, hotel, dan jadwal bertemu dengan beberapa orang kunci di sana juga sudah saya atur. Kita akan mendarat pukul sepuluh pagi.”
Hazel mengangguk lagi, kali ini sedikit lebih berat.
“Radit…”
“Asistenmu, nona. Selalu siap.” Radit tersenyum kecil, penuh pengertian.
Hazel menarik napas panjang. “Kalau Aisyah benar-benar masih hidup di sana… saya gak tahu harus bilang apa. Harus mulai dari mana. Saya bahkan gak tahu apakah dia masih akan mengenali saya dan mempercayai ucapan saya.”
“Dia adikmu, nona. Darah tetap darah.”
Hazel terdiam sejenak, sebelum mengambil tasnya dan menatap Radit penuh tekad.
“Baik. Ayo kita jemput masa lalu… dan selesaikan semua yang belum selesai.”
udah ngerbut raga dari Hazel eh tapi malah bagus dong baj•ngan sama lacu•r sama sama cocok jadi satu
manuk diobral nang cangkeme wong wedok gak nggenah..
eh apa msh aktif jd pembunuh bayaran Thor?
koq gak pernah liat aksinya lagi..?