Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.
Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.
Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.
Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disenchanted 26
"Apa? Apa yang bisa Ayah jelaskan?" tanya Jeehan dengan gemetar. Di matanya tersirat kesedihan dan kemarahan yang berbaur jadi satu. Sedangkan Hasya tampak bingung, dadanya bergemuruh hebat. Sedangkan Maura terdiam seribu bahasa, menahan luka yang ia terima.
"Aku benar-benar tak habis pikir Ayah bisa melakukan kekerasan terhadap Ibu. Ayah, kenapa Ayah tega?" kata Jee dengan linangan air mata membasahi pipinya.
Hasya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, emosinya belum reda, tapi anaknya tiba-tiba mencecarnya, membuat ia kembali naik pitam.
"Katakan Ayah! Kenapa?! Kenapa Ayah melakukan ini kepada ibu? Apa salah ibu?"
"CUKUP JEEHAN! DIAM KAU!" bentak Hasya, membuat Jee terkejut dengan nada tinggi itu. "Diam! Ini masalah orang dewasa, kamu tak berhak untuk tahu!" katanya lagi penuh dengan penekanan.
Tubuh Jee bergetar hebat, seumur hidupnya, ia tak pernah menerima bentakan. Tak pernah pula mendengar Hasya menaikkan nada bicaranya. Maka dari itu Jeehan begitu menghormati ayahnya.
"Cepat pergi ke kamarmu! Sekarang!" ucapnya sambil membalikkan wajah.
Dengan hati yang hancur, Jee berlari ke kamarnya. Tangisnya tak mampu lagi ia tahan. Secepat langkahnya naik ke lantai atas, secepat itu pula air matanya jatuh berderai mulus ke pipi.
"Kamu boleh melukaiku, Mas. Tapi jangan lukai hati anakku!" Maura tergopoh-gopoh menyusul Jeehan ke atas setelah mengucapkan kalimat itu.
Hasya, tak banyak yang ia lakukan, dengan sengaja ia menjatuhkan tubuhnya di sofa dan memijit tulang yang ada di antara kedua matanya.
"Apa yang sudah kulakukan?" tanyanya pada diri sendiri. Matanya menatap nanar telapak tangannya sendiri yang tadi ia gunakan untuk menampar dan memukul Maura dengan entengnya.
Saat itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia rogoh ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar pipih itu. Dengan enggan dan malas, ia menekan tombol hijau.
"Halo? Apa? Oke, aku segera ke sana," katanya dengan terburu-buru meraih kunci mobil dan melaju ke suatu tempat.
Sedangkan di depan kamar Jee, Maura berkali-kali menarik tangannya, urung untuk mengetuk pintu. Tangannya melayang di udara, ragu-ragu menggaungkan nama sang putri tercinta yang saat ini pasti tengah terluka hatinya.
"Jeehan sayang, ini Ibu, Nak. Tolong buka pintunya ya? Kita bicara sebentar boleh gak Sayang?" Akhirnya, ia memberanikan diri. Tak lama dari itu, Jee muncul dari balik pintu dengan pipi yang basah.
Melihat Maura, Jee langsung menghambur ke dalam pelukannya dan menangis sejadi-jadinya. Bagi Jeehan, pelukan ibu adalah tempat paling tepat untuk menumpahkan tangis selain sajadah.
Di pelukan ibulah, Jee rebahkan jiwanya yang rapuh. Kepada pelukan ibulah, Jee membawa pulang semua keluh. Ibu adalah segalanya bagi Jeehan. Maura bukan hanya sosok yang mengandung dan melahirkannya. Tapi lebih dari itu, Maura adalah semestanya. Dunianya.
Dengan penuh kasih, Maura mengusap pucuk kepala putrinya yang masih terbalut dengan hijab. Hanya usapan lembut, tapi Maura harap, usapan lembut itu dapat meredakan sedikit tangis dan luka putrinya tercinta. Lalu, ia kecup lama kening putrinya, seolah ingin mengatakan bahwa Jee adalah permatanya yang paling berharga.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Bu?" tanyanya setelah beberapa saat.
Maura tersenyum tipis, lalu berkata, "Ibu ceritakan di dalam ya Nak?"
Jeehan mengangguk, sambil menggenggam tangan ibunya, Jeehan membawa Maura masuk ke kamarnya. Maura terlihat menarik napas berkali-kali sambil menahan nyeri.
"Aku obati dulu lukanya, ya, Bu?" Tanpa menunggu persetujuan Maura, gadis itu langsung mengambil kotak p3k dan dengan pelan-pelan mengolesi obat merah dan membalut beberapa luka yang terbuka dengan plester.
"Ibu menjual perhiasan milik Ibu, makanya Ayahmu marah besar. Jangan benci Ayahmu, ya, Jee?"
"Hanya karena perhiasan ayah memukul Ibu sampai lebam begini? Ini keterlaluan namanya, Bu!" Jeehan masih saja tak bisa terima.
"Tapi Ibu juga bersalah di sini, Ibu tidak meminta izin ayahmu dulu sebelum menjualnya," jelas Maura, mencoba membuat Jee untuk mengerti.
"Boleh Jee tahu kenapa Ibu sampai menjual perhiasan Ibu?" Jeehan menarik napas dalam-dalam. "Apakah Ibu menjualnya untuk membayar ganti rugi itu?"
Maura mengangguk samar. Mengiyakan pertanyaan putrinya hanya dengan anggukan. Dan Jee langsung mengerti situasinya.
"Ini semua karena Jeehan. Maafin Jeehan, Bu, maaf." Jeehan mulai menyalahkan dirinya lagi.
"Kayaknya baru tadi siang ibu bilang kalau Jeehan jangan menyalahkan diri sendiri. Dalam dunia orang dewasa, ada hal-hal yang terpaksa kita lakukan, Nak. Jeehan harus paham itu, dunianya orang dewasa lebih rumit, Sayang." Netra sayu Maura menatap Jeehan, lalu menuntun Jee untuk merebahkan kepalanya di atas pangkuan Maura.
"Tapi, kenapa Ayah harus semarah itu, Bu? Bukannya segala sesuatu bisa dibicarakan dengan baik-baik? Bukannya dalam hubungan pernikahan, komunikasi itu yang nomor satu, ya?"
Maura tersenyum, kepalanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Jeehan barusan. "Benar, tapi, Nak. Coba pahami juga situasi ayah. Selama ini, apakah Jee pernah melihat ayah marah-marah dan ringan tangan?"
Jeehan menggeleng pelan, "Gak pernah, Bu. Jee selalu lihat ayah jadi sosok yang baik dan berwibawa, makanya Jee sangat menghormati ayah."
Maura tersenyum dengan lembut, "Maka tetaplah begitu. Ayahmu tetaplah orang yang pantas untuk Jeehan hormati. Apa yang Ayah lakukan hari ini pada Ibu, itu semua ada alasannya. Jee paham kan, Nak?"
"Maksud Ibu, Jeehan harus tetap hormat sama Ayah walaupun Ayah udah bersikap kasar sama Ibu?"
"Bukan begitu, Nak. Tetap hormati ayahmu sebagaimana mestinya. Kalau Jee mau benci, Jee harus benci prilakunya, bukan orangnya."
Jeehan tampak menarik napas panjang. Ia sungguh tak mengerti mengapa ibunya tetap membela ayahnya walau sudah dilukai?
"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu tetap membela Ayah? Padahal Ayah udah menyakiti Ibu kayak gini, kenapa Bu?" tanya Jee menahan tangisnya untuk tak keluar lagi. Sungguh demi apapun, Jee sangat tak tega melihat ibunya terluka hingga tubuhnya lebam membiru seperti itu.
"Karena Ibu gak mau membuat Jee jadi seorang pembenci dan pendendam. Memaafkan itu lebih melegakan hati, Nak. Lagi pula, ini masalah rumah tangga kami, biar Ibu dan Ayah yang selesaikan masalahnya, Jee cukup menjadi anak yang baik untuk Ayah sama Ibu, ya?"
Jee kehabisan kata-kata, ia tak lagi dapat membantah perkataan ibunya. Tetapi, yang ia tahu sekarang, ia semakin mengagumi ibunya. Lebih dari siapapun, Maura adalah panutan terbaik bagi Jee.
Semangaaat Jee 💪
hiks.. hiks...
Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk
tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
walaupun itu sgt pahit.....
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya
wkwkwk