"Tanggal 1 April pukul 11.11 aku sepertinya telah jatuh cinta!"
Gema menyadari perasaannya dan pada hari itu juga pemuda yang masih duduk di bangku sekolah itu akan melamar sang pujaan hati.
"Aku akan menikahi Chila sekarang juga!"
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah Pikiran?
Gema sangat kesal karena Armon memintanya meninggalkan Chila, tidak ada niat seperti itu dalam hatinya.
"Lagipula masalahnya hanya sepele," ketus Gema seraya berjalan ke arah kamar Chila.
Di dalam sana Chila tidak tidur tapi membaca buku di atas ranjangnya.
"Istriku..."
Gema memanggil Chila saat masuk ke dalam kamar itu.
Atensi Chila langsung teralihkan oleh sosok suaminya yang baru saja masuk kamarnya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Gema perhatian.
Chila hanya menggelengkan kepalanya tanpa suara.
"Kalau begitu, ayo kita makan di luar sekaligus merayakan selesainya ujian kita!" ajak Gema.
Tidak ada jawaban dari istrinya itu yang membuat Gema harus mendekat dan ikut naik ke atas ranjang.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kau pasti sudah mendengarnya, kan?" Chila bertanya balik.
"Jangan pura-pura tidak tahu!"
Gema menaikkan kedua bahunya tanda kalau dia tidak peduli. "Aku percaya dengan istriku jadi jangan memikirkan hal apapun sampai membuatmu mengurung diri begini, okay!"
"Peluk aku, Gema!" pinta Chila kemudian.
Siapa sangka kalau Chila akan nyaman dengan pelukan suaminya yang sebelumnya dia tolak itu.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua di kamar saja.
Di luar Armon menunggu anak dan menantunya turun tapi batang hidung keduanya belum juga terlihat.
"Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah sendiri, bukankah kita sudah sepakat dari awal?" tegur Roro.
"Tapi, aku rasa Gema juga berhak mendapat pilihan lebih baik seperti orang yang bisa membalas kasih sayangnya," balas Armon.
"Gema itu seperti Chila, dari kecil mereka sudah mendapat hidup yang berkecukupan berbeda denganku dulu. Jadi, saat mereka sudah besar mereka bisa menentukan pilihan hidupnya dengan baik," ucap Roro berusaha membuat pengertian suaminya yang tidak pernah hidup kesusahan ekonomi.
"Apa kau tahu bedanya anak orang miskin dan anak orang kaya? Anak orang kaya bisa mencoba berkali-kali jika mengalami kegagalan tapi anak orang miskin jika gagal sekali maka tidak bisa mencoba lagi," lanjutnya.
Armon tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya itu. "Kenapa jadi membahas masalah ekonomi?"
"Bukan begitu, saat ini Gema sudah menemukan tujuan hidupnya dan sedang berproses jadi hargai usahanya, jangan mematahkan semangatnya," sahut Roro.
Armon sampai menggelengkan kepalanya karena merasa perkataan istrinya tidak nyambung tapi dia mengerti kalau Armon tidak boleh membandingkan hubungan Gema dengan dirinya dulu.
"Lebih baik kita lihat Sean di kamarnya!" ajak Armon yang mencoba mengalihkan perhatian dari masalah Chila.
Keesokan paginya, mereka baru bisa berkumpul di meja makan saat sarapan.
Tidak ada yang membahas masalah apapun hanya Armon yang mengingatkan jadwal kontrol Chila sekali lagi.
"Bisakah aku ikut?" tanya Gema di sana.
"Biasanya pengecekan akan memakan waktu seharian jadi jangan memaksakan diri," balas Chila yang menolak.
"Hei, hal seperti itu tidak masalah," Gema tidak mau diremehkan.
"Baiklah kalau kau memaksa," ucap Chila.
Dan hari pemeriksaan Chila pun dipercepat, Gema mengikuti istrinya yang pergi ke rumah sakit Brisek.
Tanpa diduga di sana Gema bertemu dengan mamanya.
"Apa yang mama lakukan di sini?" tanya Gema pada Dara.
"Ada bayi kembar siam di rumah sakit ini jadi akan ada tindakan operasi gabungan yang melibatkan beberapa dokter dan mama menjadi salah satu dokter yang ikut menangani kasus ini," jelas Dara.
Mendengarnya saja membuat Gema sakit kepala, dia memang tidak berbakat menjadi seorang dokter.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku menemani istriku melakukan check up rutin,"
"Apa Chila sakit?"
"Tidak, hanya pemeriksaan biasa!"
Dara jadi mengingat dulu jika Armon sempat menyembunyikan Chila karena sang putri terkena penyakit kanker.
"Gema..." Dara mencoba memberi nasehat pada putranya.
"Jika kau memang benar-benar serius dengan Chila, pikirkan semua langkah yang tepat sebelum melangkah seperti memiliki anak. Usia kalian masih sangat muda apalagi dengan riwayat penyakit Chila bisa membahayakan nyawa ibunya dan gen kanker bisa menurun ke anak!"
"Kenapa mama membuatku takut?" protes Gema.
Kemarin Armon yang meminta meninggalkan Chila dan sekarang mamanya memberi ultimatum seperti itu.
Chila mendengar dari tempat persembunyiannya, dia ingin mencari Gema tapi justru tidak sengaja mendengar obrolan suami dan mertuanya.
"Apa Gema akan berubah pikiran sekarang?" tanya Chila dalam hatinya.
cui cui cui