"Apa aku memakai pengaman?" Satu kalimat dari seorang kapten mengacak-acak rambutnya frustasi.
Yang ada diingatan terakhirnya hanya menghabiskan satu malam dengan seorang wanita yang cantiknya bak bidadari. Wanita yang meminta bayaran untuk menjual keperawanannya.
"Apa aku pada akhirnya harus menikahi seorang bocah!?" Teriaknya frustasi.
***
Di tempat berbeda, seorang siswi SMU tidak sabar rasanya menunggu jam pulang sekolah hanya untuk mendapatkan bayarannya.
Seperti kata salah seorang temannya, memiliki Sugar Daddy yang dapat membelikan apapun.
"Sugar Daddy-ku yang tampan, aku ingin smart phone, aku ingin laptop dan biaya kuliah, aku juga ingin sepatu baru, juga membayar hutang ke kang cilok 25.000..." Batin si cupu membayangkan 35 juta yang akan didapatkannya.
Tapi bagaimana jika hidup tidak sesuai anggapannya? Bukannya uang, Sugar Daddy-nya memberi cincin untuk melamarnya?
Cinderella termalang abad ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harimau Pemakan Kobra
Tidak cinta? Cinta dan suka adalah hal yang berbeda bagi Satya. Melihat fisik dan karakter sekilas adalah suka. Sedangkan mengenal lebih jauh, benar-benar mengetahui karakter asli, dan bersedia menerima kekurangannya. Itulah cinta.
Tidak begitu mengenal Driella lebih dalam. 5 kali bertemu tapi sudah mengikrarkan cinta sehidup semati? Dirinya bukan pujangga yang punya berjuta rayuan dan janji manis. Juga bukan seperti Romeo yang menjadi kekasih Rossaline, tapi malah menyatakan cinta sehidup semati pada Juliette hanya karena kecantikannya. Satya hanya ingin lebih terus terang. Tidak ada kebohongan sama sekali.
Bukan seperti caleg yang tidak semua janjinya terbukti. Suka ya suka, saat cinta maka semua hatinya telah diserahkan.
Namun, tetap saja memang dasarnya bujang karatan. Tangannya tidak akan bisa diam, walaupun katanya belum cinta.
"Aku mau mandi." Ucap Driella mendorong kepala Satya yang tengah mencetak tanda di bahunya.
"Mandi bersama?" Tanya Satya malah memeluknya.
"Katanya tidak cinta? Sampai bilang sudah cinta, baru boleh!" Wanita yang mengomel begitu berisik, mendorong tubuh Satya.
Ini aneh bukan? Belum menikah melakukannya, tapi sudah menikah malah sulit untuk terpuaskan.
"Aku beri uang jajan lebih besok, kamu ingin beli mobil agar tidak naik bus? Sekali saja ya?" Penuh bujuk rayu, tangannya merayap membelai area paha, sedikit naik perlahan.
Driella kembali memegang tangan Satya menghentikan aksinya."Aku belajar banyak dari pengalaman dua bulan ini. Melakukannya dengan orang yang tidak mencintaiku tidak boleh sama sekali. Karena itu akan meningkatkan resiko, sakit hati jika ditinggalkan suatu hari nanti."
Sang wanita muda yang bangkit memegang agun pengantinnya, hampir melorot. Akibat resleting yang telah diturunkan Satya.
"Driella, kemari..." Satya kembali menepuk tempat tidur. Apa yang kurang? Udara dingin, ditambah dengan suara ombak di luar sana, memberikan kesan romantis. Pria dewasa nan rupawan memberikan kode padanya untuk kembali naik ke ranjang.
Memilin jemarinya sendiri. Entah kenapa ingin kembali, apa dirinya menyimpan perasaan pada sang pilot? Tapi hidup seperti Eri! Sebagai wanita harus memiliki harga diri! Jika Satya tidak cinta, hanya suka. Maka suatu hari saat anak ini lahir, dirinya akan dibuang kan? Dipisahkan dari anak yang dilahirkannya.
Karena itu."Kak, komitmen kita untuk bertanggung jawab pada anak ini bersama-sama. Jika hanya aku yang...aku juga bingung menyebutnya ini apa? Jika aku jatuh cinta pada kakak, sedangkan kakak tidak, maka jika berpisah nanti aku akan menderita sendiri. Maaf, sebelumnya merayu kak Satya, dan menjadi tidak dewasa hanya memikirkan uang."
Satya berusaha tersenyum, benar-benar berusaha."Aku akan setia. Tidak cinta sekarang, tapi nanti pasti cinta. Ayo kemari dan berbaringlah. Malam ini dingin, aku janji hanya berpelukan saja.
Berpelukan saja? Siapa yang percaya, itu hanya trik sang kapten.
"Kak Satya cinta itu seperti mengendarai pesawat. Terkadang ada badai, ada topan, ada burung. Terkadang juga harus mendarat darurat di sungai jika terjadi kerusakan mesin. Tapi segala rintangan itu dapat diatasi bukan? Namun jika perlahan aku jatuh cinta pada kak Satya sedangkan kak Satya hanya ingin menanamkan jagung tanpa cinta. Maka seperti pesawat yang hanya salah satu mesinnya berfungsi. Sudah pasti, serpihan cintaku meledak di udara, tenggelam di palung Mariana, mengetahui cintamu hanya sebatas menyemai benih saja." Penjelasan singkat dari Driella.
"Kamu belajar bicara seperti itu dari siapa?" Tanya Satya mengernyitkan keningnya.
"Eri," Jawab Driella penuh kebanggaan.
"Dia... siapapun itu pengaruh buruk. Jangan bergaul dengan orang seperti itu lagi." Pemuda yang tertawa kecil, kenapa pergaulan istrinya bisa seperti ini? Masih tertanam di benaknya para kutu buku yang sebelumnya membatu Driella.
"Bukan pengaruh buruk. Karena Eri, aku berfikir lebih positif dan bersumpah tidak akan menggunakan jalan pintas lagi." Kalimat demi kalimat bagaikan pahlawan nasional wanita.
"Tapi enak kan? Pertama memang sakit, tapi kedua? Ketiga? Keempat? Kita sudah empat kali merasakan sensasinya." Satya menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.
"Ki...kita sudah dewasa dan bertanggung jawab. Jadi aku sudah memikirkannya baik-baik. Kita... pacaran...tapi menikah. Begini, jika kak Satya sudah jatuh cinta padaku, baru kita melakukannya. Selama itu aku akan melakukan kewajibanku sebagai istri sebagaimana mestinya." Tegas Driella menelan ludah berkali-kali. Matanya tidak lepas melihat wajah rupawan dengan bentuk tubuh yang...
Tidak! Dirinya harus tegas jika soal perasaan. Harus merubah kepribadiannya yang labil. Anaknya sekarang telah berkembang, menanti kehidupan yang lebih baik. Membuat Satya jatuh cinta adalah tujuannya, tapi bukan hanya cinta karena urusan ranjang dan kecebong kecil yang harus dikeluarkan.
"Jadi tidak mau?" Tanyanya meyakinkan.
"Sekarang tidak!" Driella berteriak, kemudian memasuki kamar mandi dengan cepat. Menguncinya dari dalam.
Pemuda yang membaringkan tubuhnya. Menghela napas, tidak apa tidak mendapatkannya malam ini. Tapi malam-malam berikutnya? Hari masih panjang. Lagipula panggilan yang biasanya Om, telah berubah menjadi kakak. Semakin dekat dengan panggilan, Sayang.
*
Terkadang ada beberapa kisah hidup yang pahit. Usia 23 tahun, kala itu dirinya gagal untuk kedua kalinya. Sama seperti sebelumnya, pacarnya berselingkuh.
Venera? Itulah nama kekasihnya. Seorang pramugari yang begitu cantik. Membagikan makanan gratis? Hanya nasi bungkus setiap dirinya berhasil melewati tahap dalam hidupnya. Seperti sekedar rasa syukur.
Masih jelas di benaknya, kala kariernya perlahan mulai melejit. Venera membantunya membagikan makanan untuk anak-anak yang lewat. Hanya anak kecil, mengingat lingkungan yang begitu kumuh.
Namun, hari ini, baru saja dirinya menyaksikan Venera memeluk pria lain yang bertelanjang dada. Di apartemen miliknya, wanita yang hanya mengenakan kimono satin pendek. Dengan belasan tanda keunguan.
Merayakan ulang tahun Venera dengan pulang lebih awal? Hanya itulah yang didapatkan Satya?
Menghela napas, Venera menyalahkannya, dengan alasan kurang perhatian. Hingga berselingkuh, apa yang salah? Kurang perhatian? Jika dirinya hanya ada untuk Venera. Jika materi tidak terpenuhi, akankah Venera bahagia?
Beberapa pertanyaan dalam otaknya kala memberikan nasi bungkus pada anak jalanan, hanya untuk merayakan ulang tahunnya.
Hujan mulai turun, dirinya berteduh di emperan toko. Beberapa anak juga ada disana, didekatnya, memakan nasi bungkus yang dibagikannya.
"Om minta lagi." Ucap seorang anak laki-laki, menadahkan tangannya.
"Kamu sudah dapat tadi! Dasar rakus!" Keluh Satya tersenyum, tapi tetap membagikan sebungkus lagi.
Anak laki-laki yang berlari kemudian memberikan nasi bungkus pada seorang anak perempuan yang juga berteduh di sana.
Menipiskan bibir menahan tawanya. Bocil saja bisa seromantis ini?
Penghiburan? Mungkin itu yang terasa, hatinya berdebar ingin mengetahui apa yang akan dilakukan kedua anak itu.
Tapi.
Sang anak perempuan malah menggeleng menolak. Berjalan cepat ke arah Satya.
"Aku bisa minta lagi! Kak minta nasi kak!" Anak perempuan menadahkan tangannya.
"I...itu pacarmu...maaf salah temanmu sudah mengambilkannya untukmu." Ucap Satya, apa ini cinta bertepuk sebelah tangan? Nasibnya sama dengan si bocah laki-laki.
"Ada udang di balik penggorengan! Dia minta aku mengerjakan PRnya!" Teriak sang anak wanita.
"Dasar istrinya Giant! Pacarnya Patrick! Hidungmu seperti Squidward!" Sang anak laki-laki berteriak tidak kalah sengit.
Aksi perkelahian dimulai. Antara Tsunade melawan Sasuke, mereka mengeluarkan jurus masing-masing. Sedangkan Satya memijit pelipisnya sendiri, pemuda berusia 23 tahun itu menarik bagian belakang kerah pakaian kedua bocah.
"Kalian daripada bertengkar pacaran saja." Sebuah aliran sesat dari seorang pemuda.
"Tidak mau! Pacarku nanti secantik Meika!" Teriak sang anak laki-laki.
"Pacarku nanti om ini!" Sang anak perempuan tidak mau kalah.
Perkelahian kembali terjadi, adu argumen yang tidak ada habis-habisnya.
"Aku punya motor."
"Aku punya mobil."
"Aku punya helikopter."
"Aku punya pesawat."
"Aku punya roket."
"Aku punya alam semesta."
"Bisa kalian berhenti? Karena pertengkaran kalian aku yang jomblo ini, mulai memikirkan untuk child free (menikah tapi memutuskan untuk tidak memiliki anak)." Satya menghela napas, hanya menatap betapa berisiknya pertengkaran kedua orang anak.
"Child free apa om?" Tanya sang anak perempuan penasaran.
"Tidak punya anak." Jawab Satya benar-benar berusaha tersenyum.
"Tuh kan? Om ini tidak punya anak! Artinya kamu juga tidak punya anak." Celoteh sang anak laki-laki.
"Om akan punya anak!" Anak perempuan tidak mau kalah.
"Pasti mereka bertarung lagi..." Gumam Satya dan benar saja.
"Jurus patokan kobra!"
"Jurus harimau putih pemakan kobra!"
Satu kata yang diucapkan Satya, pemuda berusia 23 tahun saat itu pada akhirnya."Bocah gila!"
Tapi jodoh tidak akan kemana bukan? Kalimat sembarang terkadang akan menjadi kenyataan.