NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Hujan punya cerita

Acara reuni malam itu berlangsung meriah. Tepuk tangan terdengar riuh saat Hugo menyudahi lagunya lalu berjalan menghampiri Ana yang berdiri tak jauh darinya. Seketika wajah Ana memerah saat Hugo meraih tangannya dan mengecupnya lembut.

Jreng jreng, ngieeeng!

Tabuhan suara musik terdengar bersahutan saat Hugo turun dari panggung dengan menggandeng lengan Ana. Lelaki itu tertawa sambil mengacungkan jempolnya pada pemain musik yang juga tertawa dan membalas dengan gerakan tangan yang sama.

Malam itu Ana dan Hugo tinggal lebih lama di tempat acara dari pada tamu lainnya, sayang sekali Lea harus buru-buru pulang karena sang kekasih yang baru datang dari luar kota tiba-tiba saja datang menjemputnya. Ana kehilangan teman bicara. Ia pun mengangguk setuju saat Hugo mengajaknya bergabung bersama teman-temannya.

Mereka duduk berdampingan. Hugo memberi batas jarak satu kursi kosong di tempat duduk sebelah Ana, ia tak mau ada yang dekat-dekat dengan Ana. Tingkahnya itu tentu saja membuat semua teman-temannya yang ada di meja itu tertawa dan geleng-geleng kepala. Hugo terlihat seperti anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, celetuk mereka.

Ana merasakan hatinya menghangat, ia senang kehadirannya di tempat itu diterima dengan sangat baik oleh teman-teman Hugo. Selain itu, ia juga bisa melihat keceriaan Hugo yang terus tertawa lepas saat bercanda dengan teman-temannya. Hal yang jarang sekali ia temui dan mungkin hampir tidak pernah terjadi bahkan saat lelaki itu tengah berduaan dengannya.

“Kenapa melamun, sayang?” Hugo berbisik di telinga Ana lalu menautkan jemarinya ke jari-jari tangan Ana dan menggenggamnya di bawah meja. Jarak mereka begitu dekat, dan hal itu menarik perhatian banyak mata yang berada di sekitar mereka.

"Hah?" Ana tersentak dan menoleh cepat, akibatnya bibirnya tanpa sengaja menyentuh sekilas bibir Hugo yang langsung tersenyum menatapnya. Andai saja tak ada yang mengawasi mereka, ingin rasanya Hugo menahan wajah Ana dan balas mengecupnya.

Ana yang menyadari hal itu refleks memegang bibirnya, semburat merah menghiasi wajahnya dan semakin merona saat mendengar suara-suara mendengung di seputar tempat duduknya. Ingin rasanya Ana berlari dan menghilang saat itu juga.

“Astaga, oh my God!”

“Hei, lihat mereka berdua! Tolonglah, apa kalian tidak kasihan pada kami yang jomlo ini?”

“Berhenti memamerkan kemesraan kalian di depanku, lakukan semuanya di tempat lain. Aku benar-benar tak tahan melihatnya.”

Ana malu bukan main, ia menarik tangannya dari genggaman Hugo dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sikapnya itu justru semakin membuat gemas Hugo dan dengan gerakan cepat ia rengkuh kembali bahu Ana dan tanpa menghiraukan teriakan teman-temannya ia cium lagi rambut Ana yang menguarkan aroma wangi segar di indra penciumannya.

“Sori yee sudah bikin iri kalian semua,” sahut Hugo sambil tertawa, sementara Ana terlihat mengerutkan bahu di tempat duduknya dengan tangan masih menutupi wajahnya.

“Cieee, calon pengantinnya malu-malu tutupin muka.” Ledek salah satu teman Hugo, alhasil Ana harus segera membuka tangannya agar mereka berhenti meledeknya.

Ana menoleh pada Hugo, dan laki-laki itu pun tengah menatap lekat ke arahnya dengan bibir tersenyum. Ada binar di matanya dan itu membuat Ana tertegun beberapa saat lamanya, ia dapat merasakan kalau kemesraan yang ditunjukkan Hugo padanya itu bukan pura-pura tapi benar nyata apa adanya.

Ana merasa lega karena teman-teman Hugo sama sekali tak menyinggung atau pun bertanya tentang kegagalan pernikahan mereka dulu, ia pun hanya bisa menahan senyum ketika menanggapi pertanyaan yang bernada canda dari mereka semua hingga akhirnya Hugolah yang lebih banyak menjawabnya.

“Tolong doakan saja semoga pernikahan kami kali ini berjalan lancar dan bahagia,” pinta Hugo pada semua teman-temannya yang langsung diaminkan oleh mereka semua.

Saat waktu merambat naik dengan cepat, tahu-tahu hari sudah semakin malam. Sudah jam sepuluh malam dan acara reuni telah berakhir beberapa menit yang lalu. Mereka pun berpamitan pulang dan pergi menuju kendaraan masing-masing.

“Mau jalan-jalan dulu sebentar sebelum kita pulang ke rumah?” Hugo melirik sekilas arloji di tangannya. Untuk ukuran di kota besar seperti tempat mereka berada saat ini, jam sepuluh malam dianggap masih sore.

Mereka sudah berada di dalam mobil. Ana tertegun sesaat, melambatkan gerakan tangannya memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Ucapan Hugo barusan terasa menggelitik hatinya, ‘pulang ke rumah’ seolah mereka telah menikah.

“Bo-leh,” sahut Ana berusaha menetralkan suaranya yang mendadak serak, mendadak jantungnya berdegup kencang.

“Sudah lama sekali rasanya kita tidak jalan bersama dalam suasana santai seperti sekarang ini.” Hugo tersenyum lalu menyalakan mesin mobilnya, melaju membelah jalanan kota yang tampak ramai tak beda dengan saat siang hari.

Ana mengangguk setuju, membenarkan ucapan Hugo barusan. Mereka memang jarang pergi bersama karena dulu Hugo terkesan selalu menghindar darinya dan sibuk sekali dengan pekerjaannya. Mengingat hal itu membuat Ana menoleh pada Hugo. Ia pandangi wajah tampan itu dan melihat sesuatu yang berbeda di sana. Wajah itu lebih banyak tersenyum sekarang dan sikapnya padanya pun lebih hangat dari pada sebelumnya. Saat Hugo menoleh padanya, Ana cepat-cepat memalingkan wajahnya.

Hugo bukannya tak tahu Ana kerap mencuri pandang ke arahnya, dan ia membiarkannya saja dan justru menikmati momen saat Ana tersipu dan memerah wajahnya. Suasana jalanan yang ramai membuat mereka lupa waktu, Hugo mengajak Ana berkeliling dan sesekali singgah saat Ana menunjuk satu tempat dan mobil pun menepi di sana.

Saat sedang menikmati jagung bakar di jalanan pinggir pantai, rintik hujan perlahan turun membasahi bumi. Ana mengangkat wajahnya, langit tampak menghitam. Banyak pedagang di sekitarnya sibuk mengemasi dagangan dan gerobak mereka.

“Mau hujan, sayang. Balik sekarang, yuk.” Ajak Hugo sambil menggamit lengan Ana, wanita itu mengangguk dan berdiri lalu mengikuti langkah lebar Hugo menuju mobilnya.

Hujan turun deras ketika mereka berlari ke arah sana, Ana terpekik begitu kakinya tanpa sengaja menginjak genangan air di bawahnya saat mereka sampai di dekat mobil. Guyuran air yang tiba-tiba itu membuat tubuhnya basah dan percikan air di bawah kakinya itu membuat gaun yang dipakainya kotor.

Hugo membantunya membuka pintu mobil dan Ana melangkah masuk tergesa. Hugo lalu berlari memutar mengitari mobilnya, ia masuk ke dalam mobil dan melihat Ana memeluk tubuhnya sendiri. Wanita itu tampak kedinginan dan rambutnya yang basah menempel di kedua sisi wajahnya. Gaun yang dipakainya melekat erat membentuk lekukan halus di kulit tubuhnya.

Hugo menggelengkan kepala melihat pemandangan itu, Ana tampak begitu cantik dan membangkitkan sesuatu dalam dirinya.

“Aku kedinginan,” kata Ana dengan suara bergetar dan itu membuat Hugo tersadar dan merutuki dirinya. Hugo membuka jasnya dan memakaikannya di tubuh Ana.

“Sedikit basah tapi lumayan bisa membuatmu hangat,” ucap Hugo kemudian, Ana terlihat mengangguk dan merapatkan jas itu dengan tangannya. Ana menyandarkan tubuhnya sambil membuka sepatunya dengan bantuan sebelah kakinya lalu menyentaknya keluar. Saat sepatu itu terlepas Ana merapatkan kakinya.

Semua itu tak lepas dari pengamatan mata Hugo. Lelaki itu mengusap wajahnya, menyibak helai rambut yang menutupi dahinya. Ia menatap arloji di tangannya, sudah jam sebelas lewat lalu memutar pandangannya dan menyadari kalau jarak mereka dengan rumah saat ini cukup jauh. Teringat pada apartemen miliknya. Tak ada pilihan lain, ia akan membawa Ana ke sana karena tempat itulah yang paling dekat dengan tempat mereka berada saat ini.

“Aku akan membawamu ke apartemenku,” kata Hugo dan Ana hanya mengangguk lemah sambil memejamkan matanya.

Hugo melajukan mobilnya lagi, butuh waktu dua puluh menit mereka akhirnya sampai di apartemennya. Hugo memasukkan mobilnya di garasi langsung, dan tanpa meminta persetujuan Ana, ia menggendongnya keluar menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas. Ia membuka pintu apartemennya tanpa menurunkan Ana dari gendongannya.

“Aku tidak punya satu pun pakaian perempuan untuk ganti bajumu, tapi Kau bisa memakai bajuku sementara.”

Hugo menurunkan Ana di depan kamar mandinya, dan membantu melepas jas yang dipakainya. Jantungnya mendadak berdegup kencang begitu Ana menggerakkan tangan ke atas untuk menggelung rambutnya yang basah. Lekuk tubuh Ana tampak jelas di depan matanya, ia bahkan bisa melihat apa yang tersembunyi di balik gaun yang basah itu.

Ana tidak membantah ucapan Hugo, ia berpikir tak mungkin tetap mengenakan gaunnya yang basah. Andai dicuci langsung pun, tak mungkin kering dalam waktu cepat. “Ya, Aku mau memakainya.”

Hugo berjalan menuju kamarnya dan keluar lagi dengan membawa handuk baru. Ia menyerahkan handuk di tangannya itu tanpa menatap wajah Ana. “Lebih baik Kau keringkan dulu tubuhmu dengan handuk ini dan Aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu nanti.”

Hugo hendak berlalu dari hadapan Ana, tapi langkahnya terhenti begitu mendengar Ana bicara.

“Kenapa tidak sekalian Kau bawakan pakaian ganti untukku saat Kau mengambilkan handuk ini tadi?" Ana mengernyit heran, dan ia melihat tatapan gusar Hugo saat menoleh padanya lagi.

“Kau tahu, Aku tidak biasa berhadapan langsung dengan wanita yang memakai baju basah dan tampak kedinginan di depanku.” Sahut Hugo dan berlalu begitu saja dari hadapan Ana.

“Aneh, apa yang salah dengan pakaianku? Bukannya kita tadi kehujanan sama-sama, kenapa sikapnya jadi aneh seperti itu?” Ana bergumam dalam hati, ia lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melepas pakaiannya yang basah.

Di luar Hugo berdiri kebingungan dengan tangan memegang piama tidur, ia tampak garuk-garuk kepala karena Ana sudah masuk ke kamar mandi. Ia berpikir sejenak lalu berteriak memanggil Ana, “Ana, baju gantimu Aku letakkan di depan pintu!”

Hugo menggeser kursi ke depan pintu lalu meletakkan pakaian ganti di atasnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Hugo, ia malah bersembunyi di balik tembok dan melihat Ana membuka pintu hanya berbalut handuk hingga batas dada. Ia menepuk keningnya, saat Ana menutup pintu kembali Hugo berjalan cepat menuju kamarnya dan menepuk dadanya yang bergemuruh hebat.

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!