Olivia, Jatuh cinta dengan senior di kampusnya. Pernyataan cintanya ditolak dan dibenci seluruh kampus. Hidupnya berantakan, ibunya menjadi sasaran kemarahan dari orang-orang yang membencinya.
Untuk mengakhiri semua penderitaan, ia menjauhi seniornya, meninggalkan kota dan pindah ke kampus lain. Disaat kepergiannya, sosok pria yang sangat ingin ia hindari justru menyatakan cinta padanya.
Lalu bagaimana Olivia harus menanganinya? Apakah ia akan menerima cinta pria itu atau justru menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Nurmaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
5 tahun kemudian
5 tahun sudah berlalu sejak Olivia berada di luar negeri. Melanjutkan sekolah perguruan tinggi nya selama 3 tahun dan mulai bekerja di perusahaan papanya setelah lulus. Tahun ini merupakan tahun kedua ia bekerja. Awalnya papanya ingin mempromosikannya sebagai Presdir, tetapi ia menolak. Dengan alasan belum banyak hal yang ia ketahui tentang perusahaan, takut jika ia yang menjadi Presdir maka perusahaan ini akan menurun. Ia juga sebenarnya takut kalau orang lain akan menganggap dirinya berada di posisi atas karena ada papanya.
Menurutnya, menjadi seorang karyawan biasa merupakan langkah awal dalam mengembangkan karirnya di perusahaan. Setiap kali rapat penting dilakukan, ia selalu datang dan bertugas untuk mencatat hal-hal penting yang bisa dijadikan sebagai rujukannya. Dengan begitu ia dapat mengetahui hal penting apa yang terjadi di perusahaan.
"Minggu depan kita akan pindah kembali ke Amerika"
Olivia terdiam saat mendengar kalimat papanya. Sudah lama ia tidak mendengar negara itu semenjak 5 tahun. Tidak tahu kenapa, Amerika mengingatkannya tentang seseorang.
"Lalu, bagaimana dengan perusahaan disini?"
Olivia menatap bingung papanya, setahu nya perusahaan ini merupakan satu-satunya perusahaan milik papanya. Kalau mereka pindah kembali ke Amerika, siapa yang mengawasi perusahaan ini?
"Perusahaan ini sudah papa jual dan papa sudah membeli perusahaan yang lebih besar lagi di Amerika berserta dengan seluruh karyawannya"
Ucap papanya dengan lembut. Menjual perusahaan ini untuk perusahaan yang lebih besar menurutnya bisa meningkatkan keuntungan yang besar. Dengan sumber daya dan tempat yang baik dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal.
"Berarti kita tinggal disana selamanya?"
Tanya Olivia dengan ragu. Ada sedikit kenangan pahit di negara itu, seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui.
"Iya, sayang. Papa sudah membeli rumah juga disana, setelah kita datang, kita bisa langsung menempatinya"
Ucap mamanya dengan senyum lembut. Melihat keraguan dimata Olivia membuat nya sangat tidak sabar, putrinya pasti menghawatirkan sesuatu sekarang.
.......
"Jika kita bisa memasarkan produk ini hingga menembus pasar dunia, maka kita bisa mendapatkan keuntungan yang besar. Jadi saya menginginkan kerjasama dari para investor untuk menanamkan modal dalam mengembangkan produk ini"
Seluruh tamu rapat menatap puas dengan apa yang telah disampaikan oleh sosok pria berjas yang berdiri di depan altar. Mendengar keuntungan yang besar benar-benar membuat mereka semua tergiur. Tidak terkecuali Alex, ia sudah mendengarkannya secara keseluruhan dan menurutnya ada sesuatu yang salah.
"Apakah kau tahu kalau produkmu hanya berlaku untuk untuk anak-anak?"
Alex menatap tajam pada pria didepannya. Ia dapat mengetahui pasti kalau produk yang akan dipasarkan merupakan barang-barang yang ditargetkan untuk anak-anak.
"Ya, saya tahu. Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dengan mereka membeli produk ini, mereka bisa membahagiakan anak-anaknya"
Pria itu membalas Alex dengan tajam juga. Siapa yang tidak mengenal sosok Alex di di industri perusahaan. Pewaris tunggal dari perusahaan ternama di Amerika yang namanya hampir dikenal seluruh masyarakat Amerika karena kepiawaiannya dalam mengelola perusahaannya.
Alex dikenal sebagai sosok yang tajam dan teliti dalam urusan pemasaran suatu produk. Tidak sembarang produk yang bisa ia pasarkan. Produk yang berhasil ia pasarkan hanyalah produk yang sudah melewati beberapa tahapan yang sesuai dengan prosedur yang dimiliki oleh perusahaannya.
"Efek samping yang ditimbulkan oleh produk ini sangat berbahaya bagi perkembangan otak, kau ingin menjadikan anak-anak bodoh!"
Alex meninggikan suaranya dihadapan semua orang. Ia menatap datar pada sosok yang masih berdiri diatas altar.
"......."
Ruangan tampak sunyi saat Alex mengucapkan kalimatnya barusan. Sepertinya, mereka tidak mengetahui apa efek samping yang ditimbulkan apabila produk itu dipasarkan. Mereka hanya memikirkan keuntungannya tanpa memikirkan efek sampingnya yang berbahaya.
"Kalau sampai produk ini sampai ke telinga pihak hukum, kau bisa didenda!"
Alex melanjutkan kalimatnya, mencibirkam bibirnya dengan lantang. Melihat keterdiaman seluruh tamu rapat membuatnya semakin yakin kalau mereka semua hanya dibutakan oleh keuntungan. Tapi tidak dengan dirinya, ia tidak bisa memasarkan produk yang bisa merusak nama baik perusahaannya.
"Dalam bisnis kita harus pintar, Pak Alex. Karena yang kita cari adalah keuntungan bukan kerugian"
Pria diatas altar hanya bisa mengkerutkan keningnya tajam. Apa yang baru saja dikatakan Alex memang benar. Tapi, tidak seharusnya ia mengatakannya didepan koleganya. Bisa saja mereka yang awalnya setuju bisa langsung berubah pikiran setelah mendengarkan apa yang baru saja Alex katakan. Ia bisa rugi besar.
"Saya keluar"
Alex bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan rapat yang belum selesai. Regan sebagai sekretarisnya hanya menatapnya bingung, tidak biasanya Alex meninggalkan rapat yang belum selesai. Tapi, ia tidak dapat menolak ataupun membanta atasan yang merangkap sebagai sepupunya sendiri, bisa-bisa ia akan dimarahi.
Selepas kepergiannya, ruangan rapat langsung hening. Mereka semua memikirkan apa yang baru saja Alex katakan. Untuk apa mencari keuntungan dengan mengandalkan sesuatu yang dapat merugikan orang lain, apalagi anak-anak yang akan dirugikan.
......
Saat ini Olivia bersama papanya sedang berkemas-kemas di perusahaan mereka yang baru. Mereka baru saja tiba di Amerika semalam. Perusahaan ini 5 kali lebih besar dari perusahaannya di luar negeri, gedung bertingkat dengan 15 lantai.
Ia membantu memindahkan dokumen-dokumen penting dari perusahaan lama yang akan diletakkan diruang kerja papanya. Untuk meja karyawan ia juga sudah melengkapi fasilitasnya dengan baik. Sebelum perusahaan ini dibeli papanya, pemilik sebelumnya adalah seorang pria yang sama sekali tidak mementingkan kenyamanan karyawan sehingga banyak karyawan yang risgn dan perusahaan ini pun bangkrut.
Tapi, akhirnya perusahaan ini berhasil dibeli oleh papanya. Sehingga karyawan-karyawan yang sudah risgn sebelumnya bisa bekerja kembali di perusahaan ini. Dengan menambahkan beberapa pendingin ruangan, dapur, toilet, ruang kesehatan dan cafetaria yang nantinya bisa digunakan oleh seluruh karyawan. Sehingga bisa membuat karyawan merasa lebih nyaman saat bekerja disini.
Olivia juga merapikan meja yang akan ia gunakan sebagai tempat kerjanya, menambahkan foto keluarga dan foto dirinya didekat kabin. Menambah beberapa bunga, jam dan juga furniture lainnya. Ia menatap dengan senang hasil karyanya. Dengan begini ia bisa lebih nyaman untuk bekerja.
"Oliv?"
Olivia segera berjalan menghampiri suara papanya yang memanggil. Papanya masih berada diruangan kerjanya. Dihadapannya ia dapat melihat beberapa lembar dokumen.
"Ya, Pa?"
Ia menghampiri papanya yang masih melihat-lihat isi dokumen itu. Ia juga sempat melihat beberapa dokumen itu sebelumnya dan hampir mengetahui apa isinya.
"Kamu berikan dokumen kerjasama ini dengan perusahaan ini, perusahaan ini merupakan perusahaan terbaik di Amerika. Tahun kemarin mereka sudah meluncurkan sebuah handphone yang dilengkapi dengan fasilitas seperti laptop/komputer. Hasil produk mereka terjual laris dipasaran sampai saat ini. Papa ingin menanamkan modal untuk produk ini agar keuangan kita bisa meningkat"
Olivia mengangguk setuju dengan apa yang telah dikatakan oleh papanya. Perusahaan ini memang sangat bagus Bagaimana mungkin bisa menciptakan sebuah handphone yang dilengkapi dengan fasilitas laptop/komputer, pasti ia sangat jenius.
Ia melihat dokumen ditangannya dan membacanya satu-persatu. Setelah itu ia pamit dengan papanya dan berjalan pergi dengan taksi. Untuk saat ini, ia belum bisa mengendarai mobil karena belum mendapatkan izin surat pindah.
Olivia memperhatikan jalanan sekitar yang masih terlihat sama dimatanya, sepertinya memang banyak yang belum berubah sejak kepergiannya. Mungkin hanya beberapa gedung yang mulai memenuhi jalanan yang semakin memadat.
......... Bersambung........
kamu tau yg paling keren dari novelmu cara Alex melindungi dan membalas penganggu hubungan mereka.
sumpah. juara! aku ga nyangka sampe ke situ.
jgn kecewain aku ya thor. novelmu menjadi fav ku
yg hrs celaka ya Emily! buat si Alex seperti saat dia memperlakukan Hana. mempertahankan miliknya. melindungi cintanya
dia bisa bersikap kejam ke Hana dk sampe membunuh Hana.
kenapa tdk bs bersikap kejam ke Emily.
toh sama aja. per3mpuan terobsesi ga jelas.