Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Jadi kapan mau pindahan lagi? Kamu masih sah istriku lo, Ra. Tidak baik kamu pergi dari rumah,” ucap Reza ketika baru saja mengantarkan Maira ke kosnya.
“Iya, Mas. Mumpung besok Minggu, aku akan beres-beres lagi. Tapi, untuk resign lagi aku belum tau harus bagaimana. Aku tidak enak sama Mas Bayu,” ungkap Maira.
Reza kemudian memberikan sarannya agar Maira meminta izin pada Bayu untuk pulang tepat waktu pukul 5 sore, mengingat perjalanannya pulang ke rumahnya bisa sampai 1 jam.
“Meskipun sekarang sudah ada pengasuh yang menginap, tapi aku tidak mau kamu pulang malam. Lagi pula memang seharusnya begitu ‘kan, pulang kantor pukul 5 sore. Bilang saja kalau dia tidak mengizinkannya, ya lebih kamu keluar. Kamu juga bisa kembali ke kantorku,” saran Reza.
Maira pun menolak jika harus kembali ke kantor suaminya itu. Tak mungkin jika ia yang sudah mengundurkan diri, masih mempunyai muka untuk kembali bekerja di sana. Ia pun menyetujui akan mencoba berbicara pada kakaknya Sasa.
“Ya pokoknya besok pindahan saja dulu, masalah Bayu, kalau perlu aku yang ikut bicara,” lanjut Reza.
Setelah itu, Reza berpamitan pada Maira karena hari sudah malam, Maira juga malu kala teman-teman kosnya melihat aneh dirinya yang sedang memakai gaun.
Sementara itu, Cantika yang juga sudah berada di rumahnya, masih memikirkan ada hubungan apa antara bosnya itu dengan Maira.
“Apa mereka ada hubungan ya? Tapi saat di kantor mereka tak tampak dekat sama sekali. Ah, apa jangan-jangan, perempuan yang aku lihat sedang berdiri di jendela rumah Pak Reza saat itu adalah...Maira. Astaga! Kalau sampai benar mereka ada hubungan, Pak Reza benar-benar sudah sakit mata. Aku saja yang mendekati sempurna seakan diabaikannya, sedangkan perempuan seperti Maira malah diliriknya. Dasar duda gila!” omelnya tak terima.
###
Reza yang baru saja merebahkan tubuhnya di kasur, tiba-tiba mendengar ponselnya berdering.
Vino memanggil...
“Wohooo Vino, apa kabar?” sapa Reza dalam panggilan teleponnya.
“Za, aku di Jakarta! Let’s meet tomorrow!” ujar Vino, teman Reza semasa kuliah, yang baru saja pulang dari studi masternya di Melbourne.
Karena Reza sudah ada janji untuk membantu pindahan Maira, ia meminta maaf pada temannya itu jika berhalangan hadir untuk bertemu, dan menjanjikan akan bertemu sesegera mungkin.
“Oke deh, Za. Pak CEO yang super sibuk. Nanti kita atur lagi pertemuan kita ya. Oh ya, aku lihat di storynya Vany, dia sedang di Jakarta juga ya,” tutur Vino.
“Ya, beberapa waktu lalu memang dia sedang mengurus kepindahannya di Jakarta. Tapi aku tidak tahu lagi kelanjutannya,” respon Reza yang sudah mengantuk.
“Really? Wah kita harus segera agendakan pertemuan kita bertiga nih. See you kalau begitu, Za,” tutup Vino terdengar begitu ceria dalam panggilan teleponnya.
Selesai berkomunikasi dengan Vino, Reza kembali mengirimi Maira pesan.
Ra, terima kasih banyak untuk malam ini. Sampai jumpa besok.”
Keesokan harinya,
Maira yang sudah siap akan pindahan lagi, menunggu Reza menjemputnya.
Tak lama, mobil suaminya itu pun tiba di depan kosnya. Saat melihat Maira mulai mengangkat beberapa tas besar miliknya, Reza segera turun dan meminta Maira untuk langsung masuk saja ke dalam mobil. “Ra, biar aku saja. Perempuan tidak boleh angkat berat.”
Karena barang-barang Maira tak banyak, Reza pun tak butuh waktu lama untuk memindahkannya ke bagasi mobil.
“Welcome home, Maira Naraya,” sapa Reza saat akan melajukan mobilnya.
Sementara Maira hanya tersenyum lega karena akhirnya bisa segera bertemu dengan Alisha setiap hari.
“Oh ya, Mas. Aku sudah coba membahas pekerjaanku dengan Mas Bayu. Syukurnya, dia bersedia. Mas Bayu juga mengizinkan bila aku pulang sebelum jam 5, tapi kalau aku sedang banyak pekerjaan, aku harus membawa pekerjaanku ke rumah, biar bisa WFH,” lapor Maira.
“Good, tapi kalau kamu kelelahan, kamu boleh resign, biar aku saja yang kerja,” tawar Reza tersenyum sembari fokus menyetir.
Hingga 35 menit kemudian, mereka sampai di rumah Reza.
“Mobil siapa, Mas?” tanya Maira saat melihat ada mobil berwarna merah yang terparkir di depan rumah Reza.
Reza pun menaikkan kedua bahunya tanda ia juga tak tahu milik siapa mobil itu. Ia kemudian mengajak Maira masuk. “Barang-barang kamu biar diangkat Pak Nurdin. Hari ini dia ada tugas membersihkan taman belakang.”
Begitu masuk ke dalam rumahnya, tak disangka Vany sudah menunggunya dari tadi di ruang tamu.
“Hai, Za,” sapa Vany menghampiri Reza dan bersiap memeluknya.
Sontak Reza menghindari pelukan Vany. “Van, sori.”
Setelah menyapa Vany dengan 1 kali anggukan tanpa berbicara sepatah kata pun, Maira pun bergegas menuju kamar untuk menemui Alisha.
Moodnya seakan dibuat berubah-ubah. Semalam, ia begitu dibahagiakan, tapi pagi ini, ia kembali diberikan kecewa. Entah bagaimana kelanjutan hidupnya esok hari. Kejutan apalagi yang akan ia terima.
Di ruang tamu, Reza tampak berbicara serius dengan Vany.
“Van, aku mohon kamu bisa menjaga jarak denganku, karena aku sudah menikah,” pinta Reza.
Vany tampak kebingungan mendengar pengakuan Reza.
“Maira adalah istriku. 2 bulan semenjak kepergian Nindy, kita menikah siri karena aku butuh dia untuk menjaga Alisha. Sekarang, kita sudah akan meresmikan pernikahan kita secara negara,” lanjut Reza memberi paham pada teman perempuannya itu.
Raut wajah Vany tampak kecewa, juga terlihat tak percaya. “Tapi dia adik ipar kamu, Za. Bagaimana bisa?”
“Ya, mungkin ini memang terdengar aneh, tapi memang begitu lah adanya. Jadi, aku mohon untuk jangan temui aku lagi ya, apalagi kalau hanya berdua. Aku juga harus menjaga perasaan Maira.” Selesai menjelaskan singkat tentang statusnya saat ini, dengan sopan Reza meminta Vany untuk pulang.
“Za, tapi apa kamu menikahi dia dengan cinta? Atau hanya demi Alisha? Kalau hanya demi Alisha, kenapa tidak pakai jasa pengasuh? Ini terdengar dipaksakan sih menurutku.” Bukannya pulang, Vany yang masih belum bisa menerima kenyataan ini, ingin terus membahasnya.
Reza kembali menjelaskan awal mulanya pernikahan itu bisa terjadi, termasuk menceritakan tentang sulitnya mencari pengasuh yang menginap saat itu. Ia juga mengutarakan keinginannya untuk tetap memberikan kasih sayang seorang ibu pada Alisha. Tidak ada pilihan lain kala itu, selain menikahi Maira solusinya.
Vany sedikit tertawa pahit dan menganggap hal ini konyol. Baginya, suatu saat Reza bisa menikah dengan calon mama Alisha, wanita yang ia cintai. Bukan yang terpaksa ia cintai, seperti Maira.
“Aku bahkan tidak melihat kecocokan diantara kalian. Dia sungguh tidak pantas untukmu. Dia juga jauh berbeda dengan Nindy,” ujar Vany sinis.
Di sudut ruangan, Maira yang masih berdiri, tampak mendengarkan ucapan terakhir Vany yang menghinanya secara halus.
...****************...
""' nyesss 😭