"Mas, malam ini kamu tidur di rumah ku kan?" tanya Kania istri pertama Agam wicaksana.
"Maaf sayang, malam ini Mas harus tidur di rumah Naura," jawab Agam.
Telepon genggam Agam tiba-tiba berdering, ada panggilan dari Louisiana istri ketiga. Ia meminta Agam pulang ke rumahnya karena perutnya sakit.
Baru saja hendak melangkahkan kaki, telepon genggam Agam berdering lagi. Naura sudah tidak sabar menunggu kedatangan Agam, dan meminta untuk cepat-cepat pulang ke rumah.
***
Agam wicaksana seorang pengusaha muda, yang mempunyai tiga istri. Mereka sudah dibelikan rumah sendiri-sendiri agar adil. Namun, kenyataannya justru merepotkan dirinya harus bolak-balik ke rumah ketiga istrinya. Sebagai suami yang bertanggung jawab Agam berusaha berlaku adil, hingga suatu ketika ia memutuskan membeli rumah besar untuk ditempati bersama ketiga istrinya.
Akankah ketiga istri Agam akur? Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Mari kita simak🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Naura
Naura berjalan dengan langkah gontai, hatinya benar-benar hancur saat ini. Orang yang sudah dianggap sebagai keluarga, justru tidak ingin melihatnya lagi. "Mana sanggup aku melakukannya," gumamnya dalam hati.
Pikirannya sangat kacau, ingin rasanya berputus asa menjalani kehidupan yang menurutnya begitu menyakitkan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya, untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Naura pergi ke kampung dengan naik bus, karena kendaraan umum satu-satunya yang sampai di dekat rumahnya. Walaupun kehidupan keluarganya saat ini sudah membaik, mereka tidak mau hidup di kota yang terbilang biaya kehidupan mahal.
"Naura! Kamu pulang sendiri? Mana Agam?" tanya Pak Hari yang tak lain adalah Bapaknya Naura.
"Kerja, Pak," jawab Naura singkat.
"Awas saja jika kalian bertengkar dan minta cerai!" seru Pak Hari. Beliau takut kembali menjadi orang yang kekurangan, baginya Naura menikah dengan Agam adalah sesuatu keberuntungan. Berkat pernikahan itu, usaha Pak Hari berkembang pesat pelanggan tambah banyak. Beliau selalu koar-koar kalau menantunya orang kaya, dan terpandang. Jadi, orang-orang di kampung menyegani keluarga beliau.
Naura langsung ber hambur ke pelukan Ibu Ani, ia meneteskan air mata membuat sang Ibu merasa kasian lalu mengajak putrinya duduk dan berbicara.
"Bu, Mas Kevin mau menikah ... " ucap Naura lirih.
"Ibu kira kamu sudah bisa melupakan Kevin, ternyata masih saja," kata Bu Ani. Beliau sebenarnya juga menyesal sudah mengikuti ucapan suaminya, menikahkan Naura dengan Agam yang sudah jelas beristri.
Hanya demi uang, putri kesayangannya menjadi korban sebuah keegoisan orang tuanya. Namun, semua sudah terlanjur tidak bisa terulang kembali.
Ibu Ani kemudian memberikan nasehat untuk putrinya, agar mengikhlaskan Kevin dan menjadi istri yang baik untuk Agam. Sebagai seorang Ibu tentunya sangat paham, bagaimana perasaan putrinya saat ini.
"Bu, Naura ingin menginap di sini," ujar Naura begitu merindukan suasana di kampungnya.
"Tidak Naura, kamu harus pulang ke rumah suamimu! Nanti Bapakmu bisa marah," jelas Bu Ani merasa sangat takut dengan suaminya.
Naura memikirkan Ibunya, memang lebih baik dirinya pulang karena Bapaknya kalau marah selalu mengatakan Bu Ani tidak bisa mendidik anak. Kata-kata yang tentunya sangat menyakitkan hati seorang istri.
***
Kania dan Louisiana bingung mencari Naura, mereka berdua takut kalau Agam menanyakan keberadaan Naura.
Di meja makan mereka berdua sudah menunggu kedatangan Agam, yang sedang membersihkan diri.
"Kania, gimana ini?" tanya Louisiana dengan wajah paniknya.
"Entah! Aku juga tidak tau jawab apa nanti," balas Kania tak kalah paniknya.
Agam berjalan menuju ke arah mereka, membuat keduanya memasang wajah tersenyum.
"Sayang, sepertinya aku tidak makan di rumah. Kevin baru saja telepon minta bertemu," kata Agam.
"Kebiasaan! Kenapa tidak bilang, Mas! Jadi, kita gak nungguin," ujar Louisiana kesal dengan Agam.
Agam meminta maaf ke mereka berdua, lalu bergegas pergi dari rumah. Hal itu justru membuat mereka berdua merasa tenang, karena Agam tidak menanyakan Naura.
Louisiana mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi Naura. Namun, ponsel Naura tidak bisa dihubungi.
Di sebuah cafe favorit Agam dan Kevin bertemu, mereka membahas soal Almira. Masalah ini harus diselesaikan dengan cepat, agar tidak berbuntut panjang.
"Vin, batalkan saja tunangan mu," pinta Agam tidak mau melihat sepupunya menderita dan makan hati.
"Mau ku juga begitu! Almira tiap hari datang ke rumah, bujuk Mamah biar acara dipercepat, Gam," terang Kevin.
Mereka berencana membatalkan pertunangan ini dengan cara Kevin tidak hadir ke acaranya sendiri, tapi Kevin ragu. Justru hal itu nantinya akan mempermalukan keluarga besar mereka.
Agam memikirkan hal itu sampai pusing tujuh keliling, tidak ada ide yang bagus. Mereka kemudian memutuskan untuk memesan kopi, dan melupakan soal perjodohan.
"Kalau sampai Almira sakit hati, semuanya bukan salahku! Dari awal aku sudah menjelaskan, jangan menyalahkan aku, Gam!" tegas Kevin.
Agam mencebikkan bibirnya mengejek Kevin, menurutnya tetap saja salah karena tidak menjaga hatinya dengan baik.
"Mau nikah sekali saja, bikin pusing banyak orang," gerutu Agam menatap tajam Kevin.
Sampai larut malam mereka berdua mengobrol di cafe, sampai pelayan mengusir mereka karena akan tutup.
Suasana hujan gerimis membuat Kevin mengendarai mobilnya dengan pelan, saat perjalanan menuju ke rumah. Di tengah jalan ia melihat seorang wanita yang dikenalnya, membuatnya menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Ia meraih payung yang ada di kursi belakang, lalu keluar dan menuju ke arah wanita tersebut. Wanita itu terkejut melihat Kevin yang datang dengan membawa payung untuknya, seulas senyum menghiasi bibirnya.
"Mas Kevin ... " lirih Naura, menatap tajam Kevin penuh dengan rasa cinta yang membuncah dalam hatinya.
"Ngapain kamu malam-malam di tempat sepi seperti ini?" tanya Kevin membalas tatapan Naura.
lou 👍🌹
dan mempunyai suami yang lebih sayang sama Kania
semangat Agam