Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setelah cukup lama berpikir dan menimbang semuanya, Reno akhirnya memutuskan pergi ke rumah sakit untuk mencari tahu kebenaran yang sebenarnya. Mungkin semua ini memang sudah terlambat, tetapi ia juga tidak ingin hidup dengan penyesalan di kemudian hari.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Reno bahkan sudah mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Kalau pun nanti semua yang terjadi memang benar kesalahan Inara, ia ingin mencoba memaafkan wanita itu dan memperbaiki hubungan mereka seperti dulu. Setidaknya sebelum semuanya benar-benar terlambat dan Inara pergi untuk selamanya.
Sesampainya di rumah sakit, Reno langsung menuju bagian rekam medis untuk menanyakan riwayat kondisi Zidan saat sempat dirawat.
Awalnya ia hanya berdiri menunggu petugas mencari data yang dimaksud. Namun beberapa menit kemudian, tanpa sengaja pendengarannya menangkap percakapan dua petugas medis di dekat meja pemeriksaan data.
“Dari catatan medis pasien, kejang demam terjadi karena kondisi anak masih belum benar-benar pulih, lalu mengalami kelelahan setelah diajak berenang oleh pihak keluarga,” ucap salah satu petugas sambil menatap layar komputer.
Langkah Reno seketika terhenti. Rahangnya perlahan mengeras saat kalimat itu terdengar begitu jelas di telinganya.
Ia langsung menoleh cepat. “Apa kalian gak salah?”
Kedua petugas itu tampak sedikit terkejut karena Reno tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.
“Data yang kami lihat sesuai hasil pemeriksaan dokter, Pak,” jawab salah satunya hati-hati. “Di rekam medis yang ditulis Dokter Wibowo memang tercatat begitu.”
Jantung Reno seolah dihantam sesuatu. Selama ini ia terus menyalahkan Inara tanpa pernah benar-benar mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa banyak bicara lagi, Reno langsung membalikkan tubuh lalu berjalan cepat menuju ruangan Dokter Wibowo.
Bahkan saat melihat masih ada pasien lain yang sedang diperiksa di dalam, Reno sama sekali tidak peduli. Ia langsung membuka pintu ruangan begitu saja.
“Dok—” Ucapan Reno terpotong ketika beberapa pasang mata langsung menoleh ke arahnya.
Perawat yang berada di sana tampak kaget sebelum buru-buru mendekat. “Maaf, Pak. Mohon tunggu di luar dulu, pasiennya masih diperiksa,” ucap perawat tersebut sopan.
Namun Reno sama sekali tidak bisa tenang. Wajahnya terlihat tegang, napasnya memburu menahan emosi yang sejak tadi terus mendidih.
“Apa saya harus nunggu?” bentaknya. “Apa Anda pantas disebut dokter?”
Suasana ruangan langsung menegang.
Dokter Wibowo yang menyadari keadaan mulai tidak kondusif akhirnya meminta pasien di dalam untuk keluar terlebih dahulu. Namun Reno sama sekali tidak memberi kesempatan pria itu menjelaskan dengan tenang.
“Anda membohongi saya soal hasil pemeriksaan anak saya!” ujar Reno lagi dengan suara tinggi. “Apa Anda tahu gara-gara ini hubungan saya sama calon istri saya berantakan?”
“Pak Reno, saya—”
“Saya apa?” potong Reno cepat. “Bukankah sebagai dokter Anda harusnya jujur?”
Dokter Wibowo mengusap wajahnya pelan, tampak frustrasi menghadapi emosi Reno yang meluap-luap.
“Pak, tolong tenangkan diri dulu. Kita bisa bicara baik-baik.”
“Baik-baik?” Reno tertawa hambar. “Saya udah nuduh orang yang gak salah karena hasil pemeriksaan yang Anda sampaikan.”
Dokter Wibowo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Begini, Pak Reno,” ucapnya hati-hati. “Sebenarnya saya sudah berniat menjelaskan kondisi anak Bapak yang sebenarnya. Tapi waktu itu… istri Bapak yang sempat pingsan memohon pada saya untuk menyampaikan hasil pemeriksaan yang lain.”
Reno mengernyit tajam.
“Istri?”
“Iya,” jawab Dokter Wibowo pelan. “Ibu dari anak Bapak. Dia bilang takut Bapak marah kalau tahu anaknya diajak berenang saat kondisinya belum pulih.”
Seketika tubuh Reno menegang. Pikirannya langsung tertuju pada satu orang, Zoya.
Kaki Reno perlahan mundur satu langkah. Kepalanya terasa penuh, seolah semua ucapan Inara selama ini kembali berputar di telinganya.
Tentang dirinya yang selalu membela Zoya. Tentang dirinya yang tidak pernah benar-benar mendengarkan. Tentang semua tuduhan yang terus ia lemparkan tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Reno mendadak kehilangan keseimbangan. Tangannya refleks bertumpu pada meja di dekatnya, sementara napasnya terasa berat. Semua kejadian beberapa minggu terakhir seperti diputar ulang secara paksa di kepalanya.
Wajah Inara saat mencoba menjelaskan sambil menahan tangis. Tatapan kecewanya ketika dirinya lebih memilih mempercayai Zoya. Hingga tamparan yang ia berikan tanpa memberi wanita itu kesempatan membela diri.
Rahang Reno mengeras kuat.
“Dia… bohong sama saya?” gumamnya lirih, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Dokter Wibowo tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Saya gak tahu masalah keluarga Bapak seperti apa. Tapi waktu itu ibu anak Bapak memang memohon supaya saya tidak mengatakan penyebab sebenarnya.”
Reno menunduk. Tawa hambar tiba-tiba lolos dari bibirnya sendiri, ia merasa dirinya benar-benar lucu. Selama ini ia merasa menjadi pihak paling benar. Merasa semua kemarahannya wajar karena ingin melindungi anaknya. Padahal orang yang terus ia salahkan justru satu-satunya orang yang benar-benar berada di sisi Zidan selama sakit.
Dan lebih parahnya lagi, Inara sebenarnya sudah mencoba mengatakan semuanya, tetapi dirinya sendiri yang tidak pernah mau mendengar.
“Pak Reno…” panggil Dokter Wibowo hati-hati.
Namun Reno sudah tidak benar-benar fokus mendengar. Kepalanya terasa penuh oleh penyesalan yang datang terlambat. Meski begitu, masih ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya sejak tadi, masalah diare Zidan.
Reno perlahan mengangkat kepalanya lalu menatap dokter itu dengan rahang mengeras. “Kalau begitu… masalah Zidan diare itu apa?”
Dokter Wibowo tampak berpikir sejenak sebelum kembali membuka data pemeriksaan di layar komputer.
“Sebenarnya anak Bapak tidak mengalami diare serius,” jelasnya pelan. “Waktu itu kejang Zidan sempat berulang di malam hari, jadi paginya kondisi tubuhnya lemas. Kebetulan saat itu ibunya menyuapi bubur supaya Zidan ada tenaga.”
Reno mulai mengernyit.
“Tapi saya juga kurang paham kenapa akhirnya muncul dugaan diare akibat makanan,” lanjut dokter itu sambil menelusuri beberapa data pemeriksaan. “Karena dari hasil laboratorium dan observasi, tidak ada indikasi keracunan ataupun gangguan pencernaan berat.”
Perasaan tidak nyaman di dada Reno semakin menjadi-jadi.
Dokter Wibowo akhirnya mengambil ponselnya lalu menghubungi salah satu asistennya yang bertugas di hari itu. Awalnya percakapan terdengar biasa saja, tetapi perlahan ekspresi dokter tersebut berubah serius.
Sementara Reno yang berdiri di depannya kini mulai kehilangan kesabaran.
Setelah panggilan itu berakhir, Dokter Wibowo mengembuskan napas panjang sebelum menatap Reno dengan wajah sulit dijelaskan.
“Asisten saya mengaku kalau waktu itu dia menerima sejumlah uang dari istri Bapak,” ucapnya pelan. “Tujuannya supaya laporan awal dibuat seolah-olah makanan dari ibu sambung Zidan yang jadi penyebab kondisi anak Bapak.”
Seketika tubuh Reno membeku. Tangannya perlahan mengepal kuat sampai urat di lehernya terlihat menegang. Ia bahkan sempat tertawa kecil, tetapi terdengar begitu hambar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Jadi selama ini… Inara benar-benar dijebak.
“Pak Reno,” lanjut Dokter Wibowo hati-hati, “sebenarnya wanita yang mengaku sebagai ibu sambung Zidan itu orang baik.”
Tatapan Reno perlahan terangkat.
“Dia yang menjaga Zidan semalaman waktu kejangnya berulang. Dia juga yang terus panik memanggil perawat setiap kali suhu tubuh anak Bapak naik lagi,” jelas dokter itu. “Sementara istri Bapak justru sempat meninggalkan rumah sakit untuk spa.”
“Apa?” suara Reno terdengar pelan, tetapi penuh ketidakpercayaan.
Dadanya mendadak terasa sesak. Bayangan Inara kembali bermunculan di kepalanya tanpa ampun. Wanita itu menjaga Zidan seorang diri sepanjang malam dalam keadaan panik dan kelelahan, sementara dirinya datang hanya untuk menyalahkan, menuduh, bahkan menamparnya tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk menjelaskan.
"Inara maafkan aku."