Rumput liar itulah julukanku
Cacian, hinaan dan makian menjadi makanan sehari–hari Raisa
Memiliki otak yang cerdas dan wajah cantik justru membuatku menjadi sasaran bullying bagi semua orang hanya karena kondisi keluarganya yang miskin
Setelah kembali dari kematian tragisnya Raisapun bertekad untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakitinya dimasa lalu, terutama mencari dalang dibalik kematianku yang mengenaskan
Mata dibalas dengan mata, siapapun yang menyakiti dirinya dan keluarganya akan Raisa balas berkali - kali lipat
Dengan bantuan kekuatan kalung liontin biru yang dia temukan sebelum kematian menjemputnya dan kini telah menyatu dalam tubuhnya, Raisa pun mulai membalaskan dendamnya satu persatu
Dalam perjalanannya membalas dendam,Raisa banyak menemukan fakta yang mengejutkan salah satunya adalah fakta jika dia dan sang kakak adalah pewaris asli keluarga Wu yang sedari awal berusaha untuk disingkirkan.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGKAPAN BAGUS
Seth seth seth
Sekelompok bayangan hitam meleset menuju beberapa titik sesuai dan mengepung sebuah pertambangan kosong diperbatasan ibukota.
Semua orang berpakaian hitam–hitam tersebut tampak siap diposisi mereka masing–masing sambil memegang senjata api ditangan menunggu instruksi pimpinan mereka.
Tak berapa lama tampak tiga mobil memasuki lokasi pertambangan yang terbengkalai tersebut yang disusul oleh sebuah limosin dengan satu mobil pengawalan memasuki lokasi.
Raymond pun segera memberi instruksi kepada rekan–rekannya untuk bersiap menangkap mangsa besar malam ini.
Begitu orang yang didalam limosin hitam turun dengan dikawal anak buahnya menuju dimana para lelaki berjas hitam datang menyambutnya.
“Bagaimana ?”, tanya lelaki tua berjenggot tajam.
“ Semua barang lengkap bos”, ucap anak buahnya melaporkan.
Satu ayunan tangan membuat salah satu anak buah lelaki berjenggot tersebut maju dan segera membuka satu koper uang dollar penuh disana.
Melihat uang pembayaran senjata api ada didepannya, lelaki berjas tersebut segera mengambilnya sambil tersenyum lebar.
Tapi belum sempat koper tersebut diambilnya tiba-tiba satu pistol sudah berada dikepalanya membuat lelaki itu hanya bisa pasrah ketika kedua tangannya diikat.
Bukan hanya lelaki berjas tersebut saja yang diamankan oleh Raymond, namun juga lelaki tua berjenggot yang melakukan transaksi dengan targetnya hari ini juga ikut digelandang.
Peluru yang dipergunakan anak buah Raymond tak bersuara sehingga mereka bisa melumpuhkan lawan-lawannya dnegan mudah dalam satu gerakan.
Raymond dan rekan–rekannya segera membawa target menuju tempat yang sudah disiapkan Alexander untuk menginterogasi keduanya nanti tanpa dia tahu jika bosnya malam ini berada dirumah sakit dalam kondisi kritis.
Sementara itu didalam mansion mewah lebih tepatnya didalam kamar yang ada dilantai tiga terlihat seorang lelaki mudah melemparkan ponselnya setelah dia mendengar kabar dari anak buahnya jika transaksi besarnya malam ini mengalami kegagalan.
“Sialan !!!”
"Lagi-lagi dia !!!”
“Lihat saja, aku akan benar–benar membereskan lelaki sialan itu hingga dia tak berani lagi mengangkat wajahnya dihadapanku”, desis Dylan dengan tatapan nyalang penuh emosi.
Dylan Wu yang berada dalam kamarnya menghancurkan semua barang yang ada disana ketika mendengar kabar jika anak buahnya gagal melakukan transaksi besar malam ini.
“Brengsek !!!”
“Kenapa tak ada satupun yang berjalan lancar !!!”, teriaknya marah.
Dylan masih dikurung didalam kamarnya setelah sehari bebas dari hukuman karena kembali membuat kekacauan dengan menyinggung salah satu investor yang hampir membuat perusahaan mengalami kerugian besar.
Selain dihukum kali ini Dylan juga terancam kehilangan posisinya didalam Wu Grup sebagai wakil direktur.
Meski itu hanya posisi diatas kertas nyatanya dengan adanya posisi tersebut Dylan masih cukup dihargai dan disegani jika sedang berkumpul dengan para pengusaha muda ibukota karena mereka tak mengetahui fakta sesungguhnya.
Bahkan dengan posisinya tersebut Dylan bisa melakukan berbagai bisnis illegal yang tentunya bisa mengalirkan pundi–pundi uang untuknya yang tak bisa dia dapat didalam Wu Grup selain gaji dan bonus yang merupakan haknya.
Dylan mengambil kembali ponsel yang sempat dibantingnya tadi dan mencoba menghubungi anak buahnya untuk mencari jejak Raymond yang telah membawa pergi konsumennya.
Jika lelaki tua berjenggot tersebut tak bisa dia temukan maka Dylan siap–siap akan kehilangan pangsa pasarnya ditimur tengah yang selama ini menjadi sumber uangnya yang paling besar selain wilayah eropa dan asia.
Dilain tempat, Raisa tampak gelisah menunggu lelaki yang baru saja dia tolong diluar ruang operasi.
Untung saja dia baru saja memenangkan pertandingan sehingga uang direkeningnya semakin gemuk membuatnya tak segan untuk membantu membayar biaya lelaki asing yang dibantunya tersebut diawal agar segera mendapatkan tindakan hingga tak membahayakan nyawanya.
Raisa bukanlah orang yang sangat baik, melihat pakaian dan mobil serta lawan lelaki itu yang melarikan diri ketika dia datang, Raisa bisa melihat jika lelaki yang dia tolong bukanlah orang biasa sehingga dia mengambil kesempatan ini aga lelaki itu berutang budi kepadanya.
Bukankah mendapatkan dukungan dari orang kaya di ibukota bisa menjadi keuntungan tersendiri baginya dimasa depan dan Raisa menginginkan hal tersebut.
Sementara itu dihalaman luar rumah sakit, setelah memarkirkan motornya Draco bergegas lari menuju ruang operasi sesuai dengan pesan terakhir Raisa.
“Kamu tidak apa–apa ?”, tanya Draco panik.
Bagaimana tidak panik jika lelaki yang baru saja tiba dirumah tiba–tiba dihubungi Raisa untuk menjemputnya dirumah sakit.
Sebenarnya Raisa bisa saja menghadapi semuanya sendiri, tapi saat ini dia membutuhkan Draco agar pada saat dia pulang sahabat kakaknya itu bisa membantu menjelaskan kepada kakak dan ibunya kenapa malam ini dia pulang terlambat.
Ya, Raisa berpamitan kepada ibunya jika dia akan melihat festifal bersama Draco untuk menghilangkan penat setelah satu minggu menghadapi ujian.
Jadi dia pulang kerumah juga harus bersama Draco agar tak menimbulkan kecurigaan dan sahabat kakaknya itu bisa membantunya memberi alasan yang jelas agar dirinya tak kena marah.
“Jika kamu tak apa–apa, lalu siapa yang sedang dioperasi ?”, tanya Draco binggung.
Raisa pun segera menjelaskan semua hal yang terjadi ketika dia sedang berkendara sendiri untuk melepaskan penat yang ada.
“Tapi kamu tidak ikut berkelahi kan tadi ?”, tanya Draco dengan tatapan penuh selidik.
“ Jika saja mereka tidak kabur mungkin aku bisa menghajar mereka untuk melemaskan otot–otot tubuhku yang kaku akibat belajar terus satu minggu ini”, ucap Raisa sambil menggerakkan kedua tangannya seolah–olah sedang melakukan pemanasan.
Draco hanya bisa geleng–geleng kepala melihat kelakuan Raisa yang semakin lama semakin bar–bar.
Semakin dekat dan mengenal adik sahabatnya itu semakin Draco tahu jika sikap lembut dan patuh yang gadis belia itu tampilkan hanyalah topeng agar ibu dan kakaknya tak khawatir.
Raisa bahkan lebih keras daripada Raymond yang bagi Draco baik itu dari watak maupun keinginannya.
“Lain kali, panggil kakak jika ada masalah seperti itu lagi. Kamu tak mau kan jika kakak sampai dibunuh oleh Raymond karena membiarkanmu terluka”, ucap Draco dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Raisa hanya bisa terkekeh melihat wajah Draco yang dibuat sedih seperti itu karena tak cocok baginya.
Siapapun dilingkungannya sangat tahu bagaimana Raymond sangat menyayangi adik satu–satunya itu sehingga diapun menjaga Raisa layaknya berlian yang tak boleh tergores sedikitpun.
Tanpa keduanya sadari, tingkah laku Reliana dan Raymond yang sangat menjaga Raisa membuat gadis itu menjadi lemah dan mudah ditindas oleh orang lain sehingga dia menjadi sasaran bullying paling empuk dalam kehidupan sebelumnya.
Begitu lampu ruang operasi mati dan muncul seorang dokter dari balik pintu, Raisa dan Draco langsung datang menghampiri.
“Operasinya berjalan dengan lancar dan sukses. Anda bisa keruang administrasi untuk mengurus ruang rawat pasien dan menebus beberapa obat diapotik”, ucap sang dokter menjelaskan.
Raisa pun segera pergi ke bagian adiministrasi yang ada dilobi lantai satu untuk mengurus semuanya diikuti Draco yang menatapnya penuh selidik.
“Aku rasa dia bisa aku andalkan dimasa depan, jadi singkirkan pikiran kotor kakak itu”, ucap Raisa tegas.
Draco hanya bisa mengusap tekuknya dengan kikuk karena Raisa bisa menebak isi pikirannya barusan.
“Apakah kamu yakin ?”, Draco kembali bertanya dengan wajah penasaran begitu melihat tagihan operasi yang harus Raisa bayar dimana jumlahnya tak sedikit.
“Apa kakak meragukan penglihatanku ?”, bukannya menjawab Raisa malah balik bertanya hingga membuat Draco bungkam.
Meski belum lama bergaul dengan Raisa, namun Draco bisa melihat jika adik sahabatnya itu cukup bisa membaca situasi yang ada sehingga dia bisa melangkah dengan tepat.
raisa msh 14 thn.. pentilnya aja bru numbuh ya ampunn
klo othor dr aqal jodohin sama alex knp di bkn umurnya sangat tuir.. 34 gilakk.. 25 aja pdhal.