Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 Tahun Kemudian
DELAPAN TAHUN KEMUDIAN....
Delapan tahun berlalu begitu saja, seolah baru kemarin hujan lebat menyambut langkah Nadia saat pertama kali kembali ke desa ini dengan perasaan hancur dan perut yang masih rata.
Kini, sore itu udara di sekitar kantor pengelolaan kebun teh terasa sejuk, beraroma tanah basah dan dedaunan hijau yang membentang luas sampai ke kaki bukit. Nadia duduk di meja kerjanya yang sederhana namun rapi, jari‑jarinya lincah menyusun berkas laporan pengiriman hasil panen: berapa ton yang dikirim ke pabrik pengolahan, berapa yang disalurkan ke pengepul di kota, hitungan pendapatan, hingga gaji para petani yang harus disiapkan minggu depan.
Beberapa tahun lalu, saat Nadia pulang ke desa ini, Kakek Santoso—ayah kandung dari ayahnya Aga—menemukan Nadia sedang merawat kebun sayur kecil di halaman rumah ibunya. Pria tua yang berwibawa namun berhati lembut itu tak pernah menanyakan alasan kembalinya Nadia dari kota, tak pernah penasaran tentang siapa ayah janin yang dikandung Nadia saat perut Nadia semakin besar. Ia hanya melihat ketulusan, ketekunan, dan kepintaran gadis itu saat membantu menghitung hasil panen tetangga.
“Kamu butuh tempat untuk berdiri, bukan sekadar bertahan hidup,” ujar Kakek Santoso hari itu, menatapnya dengan pandangan yang tak menghakimi. “Kebun teh dan ladang kopiku... sepertinya butuh orang yang jujur mengurus keuangannya. Apa kamu membantu kakek tua ini, Nadia?”
Nadia menerima tawaran itu tanpa ragu, apalagi saat itu ia belum punya penghasilan tetap, dan kebutuhan untuk melahirkan serta merawat anaknya sudah di depan mata. Karena itu, Nadia menerima tawaran pekerjaan dari Kakek Santoso. Sejak saat itu sampai sekarang, dia bekerja sekuat tenaga, memastikan setiap catatan keuangan rapi, tak ada satu rupiah pun yang terbuang sia‑sia—sebuah cara baginya untuk membalas kebaikan kakek sekaligus membuktikan dirinya layak.
“Ibu? Ibu!”
Suara ceria terdengar dari ambang pintu. Nadia mendongak, senyum semringah otomatis terukir di bibirnya begitu melihat sosok kecil yang berlari mendekat. Raka Yuanda. Anak laki‑lakinya yang kini berusia tujuh tahun, rambutnya ikal persis seperti milik Aga, matanya bening dan tajam, selalu bersinar penuh rasa ingin tahu. Ia memakai baju kaos sederhana, sandalnya sedikit berdebu habis bermain di lapangan dekat rumah.
“Pelan‑pelan, Nak, jangan sampai jatuh,” tegur Nadia lembut, tangannya terulur menyambut dengan hangat saat Raka langsung memeluk pinggangnya erat.
“Bapak penjaga gerbang bilang Ibu masih di sini. Aku tunggu sampai Ibu selesai ya? Nanti kita beli pisang goreng di jalan pulang,” ucap Raka sambil menatap wajah ibunya, matanya berbinar cerah.
“Boleh, asal nanti kamu bantu Ibu bawa berkas ke ruang arsip dulu.”
Hari‑hari mereka berjalan tenang namun tak sepenuhnya damai. Gosip tak pernah benar‑benar hilang di desa ini. Mulai dari bisik‑bisik halus di belakang punggung, hingga ucapan yang kadang melesat tajam: “Anak haram itu siapa ayahnya ya?” “Kasihan, ibunya pulang sendirian, hamil duluan sih.” “Nanti kalau besar pasti susah diatur, soalnya enggak ada contoh laki‑laki di rumah.”
Raka sering mendengarnya. Kadang dari teman bermain, kadang dari ibu‑ibu yang sedang menggosip di halaman. Tapi anak itu hanya diam, menunduk sejenak, lalu melanjutkan permainan atau memilih pulang. Ia tak pernah bertanya dengan nada menangis, tak pernah marah‑marah. Sejak kecil ia sudah mengerti, bahwa orang lain boleh bicara apa saja, tapi yang paling penting adalah ibu yang selalu ada untuknya.
Namun kesabaran Nadia punya batas.
Sore itu, saat mereka berjalan pulang menyusuri jalan setapak di pinggir kebun, terdengar suara wanita yang sengaja dikeraskan dari kejauhan.
“Lihat tuh anaknya… wajahnya sih ganteng, tapi sayang nasibnya buruk. Tidak tahu siapa ayahnya, entah anak dari laki-laki seperti apa.”
Langkah Nadia mendadak terhenti. Ia menoleh perlahan, tatapannya tenang namun tegas. Raka meremas ujung bajunya, berusaha menarik tangan ibunya agar terus berjalan.
“Ibu... sudahlah, ayo pulang saja,” bisiknya pelan.
Tapi Nadia berlutut sebentar, menyamakan tingginya dengan anaknya, lalu mengusap kepala Raka penuh kasih. “Tunggu sebentar ya, Nak. Ibu mau bicara sebentar.”
Nadia lantas berjalan mendekati sekelompok wanita yang sedang duduk di teras rumah.
“Maaf, Bu,” sapanya tenang, namun matanya menatap lurus ke mata wanita yang tadi berbicara. “Saya diam selama ini bukan karena saya takut, tapi saya tidak mau membuang waktu saya untuk hal yang tidak penting. Tapi tolong, jangan pernah bicara buruk soal anak saya di depan saya, apalagi di depan dia.”
Nadia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang mantap dan jelas.
“Raka adalah anak yang saya lahirkan dengan penuh rasa syukur. Dia cerdas, penurut, dan selalu berusaha berbuat baik. Siapa ayahnya, mengapa kami hanya hidup berdua, itu urusan kami, bukan hak orang lain untuk menghakimi. Selama dia tumbuh menjadi anak yang berguna dan berbudi luhur, asal‑usulnya tidak perlu dipertanyakan lagi. Dan satu hal lagi, tidak ada anak yang haram. Yang haram adalah mulut yang suka menyakiti hati orang lain tanpa tahu kebenarannya.”
Wanita‑wanita itu terdiam serentak, wajah mereka memerah karena malu. Tak ada yang berani membantah. Nadia menundukkan kepala sedikit, lalu berbalik kembali menghampiri Raka yang menunggu di pinggir jalan.
Ia merangkul bahu anaknya, melanjutkan perjalanan pulang. Raka menatap wajah ibunya lekat‑lekat, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di lengan Nadia.
“Ibu tidak perlu marah demi aku,” ucapnya pelan. “Aku tahu aku punya Ibu yang hebat. Itu sudah cukup buat aku.”
Hati Nadia terasa hangat sekaligus teriris sedih. Ia mencium kening anaknya dengan lembut. “Kamu lebih hebat, Nak. Kamu yang mengajari Ibu untuk tetap kuat. Apapun yang terjadi, kita akan hadapi semuanya berdua. Tidak ada yang bisa memisahkan kita.”
Di kejauhan, kabut tipis mulai turun menyelimuti bukit kebun teh. Entah mengapa, saat itu pikiran Nadia melayang sejenak—delapan tahun berlalu, namun nama Aga masih sesekali menyelinap di benaknya, bersama pertanyaan yang tak pernah terjawab. Apakah dia bahagia sekarang? Apakah dia pernah menyesal? Atau... apakah dia sudah benar‑benar melupakan semuanya?
Namun Nadia segera menggeleng pelan, membuang pikiran itu jauh. Sekarang, Raka adalah dunianya. Dan ia akan menjaga dunia itu sekuat tenaga, tak peduli seberapa berat badainya.
demi hrga dirimu...