Gadis cantik yang biasa di panggil Arra itu harus hidup tanpa ayah dan ibunya, ia hanya gadis biasa yang hidup bersama bibinya sejak kecil. Namun suatu hari Arra harus menghadapi masalah besar menyelamatkan restauran kecil milik bibinya tersebut dengan jaminan dirinya yang harus menikahi pria yang baru saja dikenalnya. Akankah Arra menerima tawaran tersebut? Ikuti terus cerita ini untuk mengetahui keputusannya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Aku tak lagi menghiraukan mas Daniel yang masih terpaku di bawah, sementara mama dan papa sudah masuk ke dalam kamar mereka. Farel menatapku dari depan pintu kamarnya
"Ra, kenapa gak masuk? " tanyanya kepadaku
"Oh ini mau masuk"
Aku bergegas masuk ke kamar mencoba menghindari percakapan lebih panjang dengan Farel, aku paham sekali mas Daniel pasti juga melihat aku dan Farel telah saling sapa barusan.
Aku meletakkan tas yang sedari tadi ku jinjing ke sofa, lalu membawa koper masuk ke ruang sebelah yang berisi lemari, tempat tidur, dan meja rias. Alangkah terkejutnya aku saat melihat sosok perempuan terbaring di atas ranjang dengan bertelanjang bulat, aku berteriak sekeras mungkin namun mas Daniel menutup mulutku yang sempat berteriak sedikit. Perempuan yang ternyata adalah Gisel itu bangun sembari menatapku, aku menginjak kaki mas Daniel supaya lepas dari cengkraman nya setelah itu aku menghampiri perempuan itu dan menampar wajahnya dengan keras
Prakkkk
"Ra apa-apaan kamu" teriak mas Daniel yang langsung membantu perempuan itu bangkit
"Kamu tega mas, ternyata ini yang sedang kamu tutupi sedari tadi"
"Ini semua salah paham Ra, ini tidak seperti kelihatannya"
"Tidak usah mengelak lagi mas, ini semua sudah jelas-jelas kalau kamu tidur dengan perempuan ini"
Gisella bangkit dari ranjang dan memungut kemeja mas Daniel untuk menutupi tubuhnya
"Dasar perempuan murahan" teriakku lagi
Suara itu ternyata membuat mama dan papa datang ke kamar kami
"Daniel, Rain ada apa ini? "
Aku langsung berlari menuju mama Bella dan memeluk tubuhnya, Gisella muncul dari balik tubuh mas Daniel sembari menutupi pahanya yang masih terbuka.
"Astaga.... apa-apaan ini? "
"Ma, mas Daniel ternyata sedari tadi bersama perempuan itu disini" ucapku sembari menangis sesenggukan
Mama Bella sendiri tak dapat berkata apa-apa, ia langsung mengelus rambutku pelan untuk menenangkanku
"Pa, urusi putramu itu" ucap mama Bella sebelum akhirnya membawaku keluar dari kamar
Semua orang keluar dari kamar mereka, menemuiku yang sedang menangis di ruang tamu. Beberapa pasang mata menatap dengan penuh tanda tanya namun semuanya beralih pandangan menuju papa yang turun dari lantai atas diikuti oleh mas Daniel dan Gisella, sekarang mereka paham kenapa aku begini. Nampaknya satu keluarga besar mas Daniel sudah kenal dengan perempuan itu, bahkan ada salah satu dari mereka tidak menyukai kehadirannya
"Mau ngapain lagi si Gisella disini? apa kurang sudah membuat malu keluarga besar kami? "
"Loh kok bisa Gisella ada disini? " ucap yang lainnya
Semua sudah berada disana termasuk Gisella yang duduk di sebelah mama juga, begitupun mas Daniel yang duduk di samping papa.
"Daniel jelaskan semua ini, kenapa ada Gisella disini? dan apa yang kalian lakukan sebelum kami datang?" ucap mama
"Maafkan Niel ma, saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Niel dan Gisella masih saling mencintai bahkan setelah kami berpisah tiga tahun lamanya"
"Tega sekali kamu berbicara seperti itu Niel? kamu sadar bukan kalau sekarang ada Rain yang menjadi istri kamu? "
"Niel sadar ma, sangat sadar. Tapi mau bagaimana lagi di hati Niel, Gisella tetaplah perempuan yang paling saya cintai"
"Lalu buat apa kemarin kamu minta papa dan mama untuk melamar Rain menjadi istri kamu? "
"Waktu itu Niel pikir Rain bisa mengobati kesepian ini dengan menggantikan sosok Gisella, namun ternyata itu salah. Apalagi setelah Gisella kembali hadir, Niel semakin tidak ingin melepaskannya lagi ma, pa"
"Keterlaluan kamu Daniel, jadi selama ini kamu hanya menjadikan Rain sebagai pelampiasan kamu saja? "
"Sekali lagi maafkan Daniel pa"
Aku tak bisa berkata-kata lagi mendengar penjelasan mas Daniel barusan, aku langsung lari kembali ke kamar untuk mengambil tas ku untuk pergi dari tempat ini, saat aku sampai di bawah masih ada mama dan papa serta beberapa kerabat lainnya. Nampak mas Daniel menatapku yang masih berlinang air mata
"Ra kamu mau kemana? " ucap mas Daniel sembari menghampiriku
"Sudah jangan hiraukan aku mas, urusi saja pacar kamu itu aku mau pergi"
"Sayang, kamu jangan gegabah seperti ini" imbuh mama Bella
"Ma, selama ini Rain mencoba menutupi semua kebohongan mas Daniel yang menjalin hubungan dengan masa lalunya di belakang pernikahan kami. Rain berusaha menutupi rumah tangga kami yang di ambang kehancuran dengan kembalinya perempuan itu di kehidupan mas Daniel, sekarang tidak ada lagi yang perlu Rain pertahankan ma, sudah cukup selama ini Rain mencintai orang yang masih belum selesai dengan masa lalunya.
"Jadi ini bukan yang pertama sayang? "
Aku hanya menggeleng lalu memegang tangan mama untuk melepaskan kepergianku
"Ma, Rain pamit pulang, Rain capek seperti ini, biarkan aku menenangkan pikiran sejenak"
"Baiklah sayang jika itu keputusan kamu"
"Pa, Rain ijin pulang lebih dulu"
"Iya Ra, kalau ada apa-apa kamu hubungi papa ya. Biar pak Agus mengantarkan kamu"
"Tidak perlu pa, Rain naik travel saja"
"Biar mama temani Rain pa" ucap mama Bella yang tidak tega melepaskanku
"Tidak usah ma, tidak enak dengan kerabat yang lain. Mereka kemari untuk liburan dan bersenang-senang, hanya gara-gara masalah pribadi Rain dan mas Daniel mereka semua harus membatalkan rencana yang sudah mereka susun"
"Baiklah kalau kamu bersikeras seperti ini sayang,tunggu sebentar"
Mama mengambil tasnya lalu memberikan aku sejumlah uang tunai untuk pulang, meski aku menolaknya mama tetap saja memaksa.
*
Aku melangkahkan kaki keluar dengan rasa tak percaya, bahkan dalam keadaan seperti ini mas Daniel tidak ada perjuangan untuk mencegah kepergianku. Hanya Farel yang menatapku dengan ekspresi yang sedih lalu menghampiriku
"Biar saya antar"
"Tidak perlu Rel"
"It's okay, aku sekalian mau ke bandara"
"Bukannya kamu akan kembali besok? "
"Tidak, sepertinya ada urusan mendesak yang harus segera ku selesaikan"
"Baiklah kalau itu tidak merepotkan kamu"
Aku masuk ke dalam mobil setelah Farel memasukan koper ke dalam bagasi, mobil melaju meninggalkan vila keluarga Airlangga. Selama perjalanan aku hanya diam sembari menatap jendela yang basah karena air hujan, bahkan langit pun ikut meneteskan air sederas ini mewakili hancurnya perasaanku sekarang. Tanpa sadar air mataku jatuh karena tak sanggup di bendung lagi, Farel menepikan mobilnya dan mencoba menenangkanku sungguh aku tidak tahu lagi harus bagaimana semakin lama tangisanku me jadi-jadi. Dengan sigap laki-laki di sampingku itu meminjamkan bahunya untuk tempatku mencurahkan keluh kesah yang membakar hati, ia juga memelukku supaya berhenti memukul-mukul dadaku yang ikut sesak jika membayangkan kejadian tadi. Sungguh aku sangat merasa sakit yang tak terhingga, selama ini kehadiranku hanya sebagai pengganti sosok masa lalunya, setelah sang pemeran utamanya kembali aku bukanlah siapa-siapa lagi.
kenapa sita sejahat itu
& jgn biarkan dia ada di tengah2 Edgar & Arra
kasian Arra