Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Aku pamit pulang pada tante. Karena pak Yahya sudah datang untuk menjemput ku. Aku tidak enak sebenarnya pulang saat Maya masih belum sadarkan diri. Tapi apa boleh buat, aku juga merasa bersalah pada pak Yahya. Karena sudah merepotkan beliau sejak tadi.
Aku pamit pulang dan berjanji akan kembali lagi. Aku bilang pada tante kalau aku akan sering-sering mengunjungi Maya nantinya. Untungnya, tante paham dengan kondisiku saat ini. Ia tidak keberatan aku pulang sekarang.
Aku juga tidak lupa berpesan agar tante terus memberi aku kabar apa saja tentang kondisi Maya. Aku tidak ingin meninggalkan sahabatku sendirian lagi sekarang. Bagaimanapun, Maya sangat butuh teman untuk bisa memberi dukungan dan semangat untuk ia bertahan.
Aku pun segera pulang bersama pak Yahya. Tidak ku hiraukan lagi niat awal ku keluar dari rumah tadinya. Aku memutuskan untuk langsung pulang saja dengan pak Yahya.
"Barang belanjaannya kemana non?" tanya pak Yahya saat melihat aku tidak membawa apapun.
Ternyata, pak Yahya baru sadar kalau aku tidak belanja setelah mobil kami berhenti di halaman rumah.
"Gak sempat beli pak," ucapku sambil beranjak keluar dari mobil.
"Lho, kok gak belanja satu barang pun non."
"Iya pak. Tadi aku ketemu teman, terus ngobrol sebentar. Habis itu, dianya malah pingsan di sana," kataku menjelaskan.
"Oh, pantas saja non Kaila tidak bapak temukan saat bapak cari di swalayan itu, saat pertama kali bapak telpon non."
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Entah apa yang aku anggukkan saat ini, aku juga tidak mengerti. Pak Yahya sangat banyak bicara ternyata. Sampai aku tidak tahu harus bicara apa dengan dia.
....
Saat pulang kerja, mas Adya duduk di samping aku yang sedang melihat ponsel sendirian di ruang tamu. Mas Adya masih menggunakan baju kerjanya saat ini. Bau keringatnya tidak tercium sama sekali. Yang ada hanyalah bau wangi khas mas Adya yang selalu bikin aku merasa aroma ketenangan.
Entah parfum apa yang ia gunakan. Hingga saat pulang kerja pun, baunya masih wangi saja. Padahal, ia berkeringat ketika pulang dari kerja.
"Katanya, kamu tadi ke rumah sakit ya?" Mas Adya memulai pembicaraan kami.
"Siapa yang sakit?" tanya mas Adya lagi.
Sudah ku duga, kalau pak Yahya pasti akan melaporkan semua yang aku lakukan hari ini pada mas Adya. Lihat saja, sopirnya itu sungguh patuh pada mas Adya.
"Aku tidak sengaja bertemu Maya saat ingin belanja tadi. Dia ajak aku ngobrol, tapi tak lama malah pingsan," kataku menjelaskan.
"Maya?"
Mas Adya terlihat memikirkan sesuatu. Mungkin ia mencoba mengingat siapa Maya yang aku ceritakan ini.
"Apakah Maya itu teman yang kamu ceritakan saat itu?"
"Sudahlah mas, aku tidak ingin ingat soal itu lagi."
Aku pernah cerita soal sahabat yang bernama Maya dengan mas Adya. Yang membuat Bram membatalkan pernikahan kami. Aku agak sedikit terbuka dengan mas Adya. Karena ia laki-laki yang sangat pintar mengorek rahasia.
Mas Adya mengangguk mengerti saat aku bilang tidak ingin bicara soal apa yang aku ceritakan padanya tempo hari. Ia selalu mengalah kalau soal masa lalu yang telah membuat aku menjadi istrinya saat ini.
Aku pernah berpikir untuk mengubah hubungan ini menjadi lebih baik lagi. Bukan hanya sebatas teman ataupun suami pengganti saja. Melainkan, suami beneran yang bisa memberikan aku ketenangan dan aku miliki seutuhnya.
Tapi tidak, pikiran itu segera aku singkirkan. Aku tidak ingin terlalu berharap pada mas Adya. Masih banyak yang aku tidak tahu soal kehidupan pribadi mas Adya sampai saat ini.
Terutama, soal apakah ia sudah punya pacar sebelum bertemu dengan aku, atau tidak sama sekali. Hal itu masih menjadi misteri bagiku sampai detik ini. Aku masih belum tahu, apa alasan dia mau menikah denganku waktu itu.
Semuanya masih terlalu buram untuk aku tebak. Bagaikan kabut yang tebal dan sulit untuk menentukan arah. Begitulah aku saat ini. Sulit untuk menebak mas Adya walau aku selalu dekat dengannya.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄