NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Pecahan yang Menyebar

Jakarta malam itu tidak lagi tenang.

Bukan karena suara.

Tapi karena mata semua orang sedang terbuka sekaligus.

Dalam hitungan menit setelah video itu tersebar—

HP di seluruh kota menyala serentak.

Bukan pesan biasa.

Bukan berita hiburan.

Tapi rekaman.

Gelap.

Bergetar.

Penuh potongan gambar yang tidak seharusnya dilihat publik.

Pelabuhan.

Senjata.

Simbol berlian hitam.

Dan satu hal yang membuat semua orang berhenti scroll:

“BLACK DIAMOND”

Di ruang OSIS SMA Wijaya.

Selene menatap layar laptopnya.

Matanya membeku.

“…sudah menyebar.”

Tapi bukan seperti puas.

Lebih seperti menyadari sesuatu terlambat.

“Harusnya… ini hanya tekanan,” bisiknya.

Tangannya yang tadi yakin sekarang sedikit gemetar.

Di gedung Rafardhan Group.

Layar besar di ruangan Arsen menampilkan video yang sama.

Baskoro berdiri tegang.

“Tuan… ini sudah masuk ke media publik. Server tidak bisa menarik kembali.”

Arsen tidak berkedip.

Matanya fokus.

Tajam.

“Dia tidak hanya menyebarkan video.”

Ia berdiri perlahan.

“Dia memancing sesuatu.”

Baskoro mengerutkan dahi.

“Siapa?”

Arsen menjawab singkat:

“Anya.”

Sunyi.

Di mobil Anya.

Tulus mengetik cepat.

“Queen, distribusi video sudah mencapai level viral global dalam 3 menit.”

Anya menatap layar.

Tidak ada panik.

Tidak ada perubahan ekspresi besar.

Tapi… ada sesuatu yang lebih dingin dari sebelumnya.

“Selene sudah tidak bisa ditarik mundur,” kata Anya pelan.

Tulus ragu.

“Kalau kita diam, ini akan menyeret Black Diamond ke permukaan publik.”

Anya mengangguk.

“Dan kalau kita bergerak terlalu cepat…”

Ia menatap ke depan.

“…Arsen akan masuk ke dalamnya sepenuhnya.”

Di SMA Wijaya.

Selene berdiri dari kursinya.

Laptop masih terbuka.

Tapi tangannya sudah tidak stabil.

“Kenapa tidak berhenti…” bisiknya.

Ia melihat layar HP di tangannya.

Komentar mulai muncul.

Media mulai membahas.

Dan nama “Black Diamond” mulai berulang di mana-mana.

Selene mundur satu langkah.

“…ini bukan yang aku mau.”

Namun pintu ruang OSIS tiba-tiba terbuka.

Arsen masuk.

Sendiri.

Tidak seperti ketua OSIS.

Tidak seperti CEO muda.

Tapi seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan.

Selene langsung menegang.

“Arsen…”

Arsen tidak menjawab.

Matanya langsung ke laptop.

“Matikan.”

Selene tertawa kecil.

“Sudah terlambat.”

Arsen melangkah maju.

“Selene. Aku tidak akan ulang.”

Selene mengangkat dagu.

“Kamu pikir kamu masih bisa mengatur ini?”

Arsen berhenti tepat di depan meja.

“Tidak.”

Ia menatapnya.

“Tapi aku bisa menghentikanmu.”

Sunyi.

Selene menatapnya lama.

“Kenapa kamu peduli?”

Arsen tidak langsung menjawab.

Lalu pelan:

“Karena ini sudah bukan permainan sekolah.”

Selene tersenyum kecil.

“Baru sadar?”

Arsen mengabaikannya.

“Siapa yang memberimu data itu?”

Selene terdiam sepersekian detik.

“…tidak penting.”

Arsen langsung menyipitkan mata.

“Jawab.”

Selene mengepalkan tangan.

“Orang yang tidak akan kamu temukan.”

Di luar sekolah.

Mobil Anya berhenti.

Tulus melihat layar.

“Queen… Arsen sudah masuk langsung ke sumber masalah.”

Anya membuka pintu mobil.

“Sudah waktunya.”

Tulus menoleh cepat.

“Ke sekolah?”

Anya turun.

“Ke pusatnya.”

Di gedung Rafardhan.

Arsen menerima notifikasi baru.

Sebuah akses terbuka.

Bukan dari Selene.

Bukan dari sistem.

Tapi dari “EL”.

Baskoro langsung tegang.

“Tuan… ini lagi.”

Arsen menatap layar.

“…dia mengundang aku.”

Ia berdiri.

“Baik.”

Tanpa ragu.

Di SMA Wijaya.

Lampu ruang OSIS tiba-tiba mati.

Selene tersentak.

“Apa lagi ini?!”

Pintu terbuka perlahan.

Dan dari balik kegelapan lorong—

satu sosok masuk.

Langkahnya tenang.

Tidak tergesa.

Tidak ragu.

Anya.

Tapi bukan Anya yang tadi pagi.

Selene langsung membeku.

“…kamu.”

Arsen juga masuk dari sisi lain ruangan.

Dan berhenti.

Di tengah.

Antara Selene dan Anya.

Tiga arah.

Satu ruang.

Hening langsung turun seperti tirai besi.

Selene melihat Anya.

Lalu Arsen.

“Jadi… ini reuni?”

Anya menatapnya.

“Ini akhir dari keputusanmu.”

Selene tertawa kecil.

“Akhir? Ini baru mulai viral.”

Arsen menatap Anya.

“Kenapa kamu tidak menghentikannya dari awal?”

Anya tidak langsung menjawab.

Lalu:

“Karena aku ingin melihat siapa yang berani sampai sejauh ini.”

Sunyi.

Selene menatap mereka berdua.

“…kalian berdua gila.”

Arsen melangkah sedikit ke depan.

“Sekarang jawab pertanyaanku.”

Anya menatapnya.

“Tidak ada lagi pertanyaan.”

Arsen mengeras.

“Jangan main-main.”

Anya akhirnya menatap langsung ke matanya.

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada jarak lagi di antara mereka secara emosional.

“Kalau kamu ingin jawaban…”

“…kamu harus siap kehilangan versi dunia yang kamu kenal.”

Arsen tidak bergerak.

Tapi matanya tidak mundur.

Selene menatap keduanya.

Dan untuk pertama kalinya—

dia merasa bukan pusat dari semuanya.

Tapi hanya pemicu kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Anya melangkah satu langkah ke depan.

“Selene sudah membuka pintu.”

Ia menoleh sedikit.

“Sekarang kalian harus memutuskan…”

Tatapannya kembali ke Arsen.

“…apakah kalian mau masuk, atau tetap berdiri di luar dan berpura-pura ini tidak pernah terjadi.”

Hening panjang.

Dan di titik itu—

video di seluruh dunia masih terus menyebar.

Tapi di ruangan itu…

perang sebenarnya baru saja memilih bentuknya.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!