Kemuning Senja tak mengira akan mengalami malam kelam bersama pria yang tak dikenal.
Kalandra, pria impoten yang telah menikah tetapi tak mampu memberikan nafkah batin kepada istrinya. Dia terus berusaha menjalani pengobatan dan terapi karena mengalami difungsi ereksi.
"Pelukan saja tanpa bercinta, kecut Mas!" protes sang istri.
Sudah banyak wanita yang Kalandra pesan demi bisa memulihkan kejantanannya tetapi tak kunjung mendapatkan hasil. Sampai dimana dia bertemu dengan Kemuning Senja.
Malam indah yang mampu membuatnya normal.
"Jangan Tuan! Saya mohon lepaskan saya!"
"Tidak akan, karena kamu membuatku begitu menginginkan."
Bagaimana nasib Kemuning setelah mahkotanya terenggut paksa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Tolong Mas
Kedua mata Kalandra membola melihat banyaknya bukti kegilaan dari Luna yang diberikan oleh adiknya. Tanpa berpikir panjang, Kalandra buru-buru pergi menuju pengadilan karena bukti dari Luna sudah sampai lebih dulu. Beruntung Kashafa memberikan bukti berikut dengan tanggal kapan gambar itu diambil. Yang tertera disana selama Luna sudah menikah dengannya.
Sampai di pengadilan, Kalandra segera memberikan bukti yang diminta agar segera diproses. Tak ada mediasi karena Kalandra tak menginginkan itu. Meski semua harus ia jalani tetapi nampaknya kekuatan uang lagi-lagi mampu sedikit memperlancar proses perceraiannya.
Setelah urusan itu selesai dengan banyak pertanyaan yang ia jawab. Kini Kalandra memutuskan untuk segera pulang. Seharian tak melihat Kemuning membuat hidupnya terasa hambar.
Mobil melaju dengan cukup kencang sampai berhenti di depan halaman rumahnya. Kalandra pun bergegas untuk turun lalu melangkah masuk.
Rumah tampak sepi, Si Mbok pun tak terlihat di sana tetapi suara rintihan Kemuning dapat ia dengar. Mendadak jantungnya berdebar kencang dengan pikiran tak karuan. Kata-kata Kashafa pun terlintas membuat pikirannya semakin runyam.
"Kemuning! Sayang!" seru Kalandra saat melihat sang istri yang mengeluarkan darah dengan tubuh tergeletak di lantai. Kedua pipi merah dengan kaki dan tangan yang terikat.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Kalandra dengan wajah panik. Dia meraih tubuh Kemuning kemudian memeluknya dengan erat.
"Tolong Mas... Tolong anak kita..."
Sontak Kalandra melirik ke arah kaki kemuning dan lantai yang sudah dilumuri banyak darah. Buru-buru Kalandra membuka tali yang mengikat kaki dan tangan istrinya lalu mengangkat tubuh Kemuning. Setengah berlari Kalandra melangkah menuju mobil. Kakinya bahkan seperti melayang karena dirundung kepanikan.
"Sayang kamu kuat! Bertahan Yank, aku akan secepatnya membawa kalian ke rumah sakit." Kalandra berlari dengan wajah pucat. Dia tak tau apa yang menyebabkan ini semua terjadi, yang ia pikirkan kali ini adalah membawa Kemuning ke rumah sakit dan menyelamatkan istri serta anaknya.
"Sabar ya, Sayang." Mobil Kalandra kembali melaju dengan cepat. Tangannya terus menggenggam tangan kemuning yang bergetar. Demi apapun Kalandra akan menuntut siapapun yang mencelakainya istrinya.
"Sakit Mas..."
"Iya Sayang, please kuat. Sebentar lagi kita sampai. Tetap buka mata kamu, Sayang!" ucap Kalandra dengan menoleh sekilas memperhatikan Kemuning yang sudah begitu lemas. Kandungan sudah genap enam bulan tetapi tumben sekali perut Kemuning tak ada pergerakan. Kalandra tak merasakan apa-apa saat mengusapnya. Padahal setiap pamit berangkat kerja anaknya selalu merespon setiap kali ia berikan sentuhan membuat Andra takut.
Pria itu semakin panik saat melihat Kemuning pingsan. Dia merutuki dirinya sendiri yang tak waspada dengan bahaya yang tiba-tiba datang. Entah siapa yang berbuat tetapi pikirannya mengarah pada Luna.
Ketakutan akan kehilangan Kemuning dan bayinya mengalahkan apapun. Dia tak tau bagaimana jika terlambat sampai di rumah sementara kondisi Kemuning sudah sangat memprihatinkan.
Kalandra melewati jalur busway. Dia tak peduli andai kena tilang atau dikejar polisi. Yang ia pikirkan saat ini cepat sampai di rumah sakit untuk menolong keduanya.
"Yut, cepat ke rumah sakit sekarang! Kemuning dicelakai orang. Sebelumnya loe cek semua cctv di rumah gue dan loe cari bukti apapun yang bisa menjadi bukti siapa pelaku sebenarnya!"
"Oke, tunggu gue di sana!"
Sampai di rumah sakit Kalandra mengangkat kembali tubuh Kemuning dan membawanya masuk. Pihak rumah sakit pun dengan gesit menyambutnya dan membawa Kemuning masuk ke dalam ruang UGD.
Kaki Kalandra melemas setelah melihat Kemuning dibawa masuk tanpa ia boleh ikut. Kalandra terduduk di lantai dengan wajah kalut.
"Ya Tuhan aku mohon selamatkan istri dan anakku."
Baru mendapatkan kebahagiaan yang utuh untuk batinnya. Mantan pria impoten itu kembali diserang masalah. Namun kali ini lebih dari rasa sakit mengetahui Luna bermain gila. Kesakitan Kemuning dapat ia rasakan bahkan sampai membuatnya tak bisa menangis.
Rasa takut, khawatir, panik, penyesalan dan kecewa bercampur jadi satu. Dia tak menyangka semua terjadi secepat ini dan kali ini menyangkut nyawa. Andai bisa di tukar, dia ikhlas jika dirinya yang terluka.
...****************...
Yuta bergerak secepat mungkin untuk mengecek semua cctv yang ada di rumah sahabatnya. Sayangnya tak ia temukan jejak apapun. Cctv mati dan tak meninggalkan bukti. Yuta pun berusaha untuk mencari keberadaan Si Mbok tetapi tak ia temukan wanita paruh baya yang sudah bekerja lama di rumah Kalandra.
"Monyet! Siapa yang berani macam-macam? Dia nggak cuma nyerang perusahaan buat gue kelimpungan tapi juga nyerang Kemuning. Nasib loe An, gue kalau jadi loe udah gila," gumam Yuta yang kemudian pergi dari sana. Sebelumnya dia sudah menyusuri semua ruangan untuk mencari bukti tetapi pelaku begitu lihai.
Yuta pun melaporkan masalah ini kepada polisi agar mendapatkan bantuan dan segera ditindak lanjuti siapa yang melakukan kejahatan ini.
"Pembunuhan berencana. Kami akan segera menangani dan mencari pelakunya. Untuk sementara rumah ini pun akan kami pasang garis kuning."
"Baik Pak, saya mohon segera ditindak lanjuti agar kami bisa tenang. Untuk korban saat ini berada di rumah sakit dan pembantu serta bagian keamanan di depan pun tiba-tiba hilang."
"Baik Pak, terimakasih atas kerjasamanya."
Rumah besar Kalandra Regantara Weda dikelilingi dengan garis polisi. Banyak wartawan yang datang untuk meliput. Terlebih berita tentang pria itu pun sedang naik daun. Hanya dalam satu hari nama Kalandra kembali memenuhi laman berita baik di medsos maupun layar kaca.
Kabar itu pun dengan cepat terdengar hingga ke telinga keluarga besar Weda dan Wijaya. Mereka segera datang ke rumah sakit untuk memastikan kabar Kemuning. Terlebih Mamah Kaira yang begitu panik hingga sepanjang jalan terus menangis.
"Kalandra!" seru Mamah Kaira membuat Kalandra terhenyak.
Mamah Kaira melangkah panjang mendekati Kalandra yang sejak tadi masih terduduk di lantai dengan tatapan kosong. Wajahnya memucat, penampilannya berantakan dengan pakaian yang dilumuri banyak darah.
"Mah Kemuning Mah," lirih Kalandra yang akhirnya bisa menitikkan air mata di pelukan sang Mamah. Memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkannya. Menumpahkan semua penyesalan dan kesedihan.
"Sabar Nak, ini ujian hidup kamu. Kamu harus kuat menghadapi semuanya."
Suasana haru menyelimuti mereka. Keluarga yang lain pun ikut terpukul dengan adanya kabar ini. Kalandra sedang ditimpa banyak masalah setelah mendapat obat dari penyakitnya. Dia seperti terhempas di atas tumpukan duri dan kembali diserang dengan beribu senapan.
"Fa, tolong bantu Abangmu menyelesaikan masalah ini. Kasihan Abangmu," ucap Papah Regan pada Kashafa.
"Opa juga akan mengerahkan semua anak buah untuk menyelidiki kasus ini," sahut Opa Tio.
"Setelah istri Kalandra sembuh, biarkan dia tinggal di rumah Papah dulu Re. Akan lebih aman di sana. Bisa ada kegiatan juga yang bisa membuatnya sembuh dari rasa trauma yang pastinya masih sangat melekat di jiwa," sambung Papah Dimas.
"Biar nanti kita lihat bagaimana keadaan Kemuning dulu, Pah. Aku pun setuju jika sementara Kemuning tinggal di rumah Papah."
"Tapi aku tidak yakin dengan Abang, Pah. Mana bisa dia jauh dari obatnya."
bgtu bsarkah cintamu pada luna zn