Menceritakan seorang gadis remaja yang baru kehilangan sepupu laki-lakinya yang kini pindah keluar kota dan tidak akan kembali dalam waktu lama, karena kepergian kakak sepupunya tersebut ia mencoba mencari sosok seorang kakak diawal perkuliahannya. Kiara Medina adalah gadis yang periang, cuek, casual sekaligus cantik. Namun ia adalah gadis yang penuh rasa sakit karena persahabatan dan percintaannya dimasa SMA yang dramatis sehingga ia mulai kebal dengan segala macam penghianatan dari pacar dan sahabatnya.
Namun dalam perjalanannya mencari kasih sayang seorang kakak pun selalu gagal sampai sudah memasuki semester 2 ia belum bisa memastikan apakah kali ini ia menemukannya atau tidak. Kegagalannya mencari sosok seorang kakak bukan karena penghianatan melainkan sosok yang ia temui selalu saja berakhir jatuh cinta pada Kiara.
Akankah Kiara dapat menemukan sosok seorang kakak sebagai pengganti kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denatalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara
Thariq masih terngiang dengan kata-kata Kiara. Dia masih tidak percaya kalau Kiara melanggar janjinya pada abangnya, Aris. Selama ini Thariq menahan Kiara untuk tetap disisinya agar ia tidak merasa kehilangan dan kesepian karena sosok 'abang'. Thariq berharap Kiara tidak mencari pengganti Aris ataupun menjauhinya seperti ini.
Namun apa benar Kiara yang menjauhinya? Atau Thariq yang menjauh?
"Kamu kenapa sih sayang? Makanannya diaduk-aduk doang. Katanya mau makan mie pangsit, kok nggak dimakan-makan dari tadi? " Celetuk Niki melihat Thariq yang melamun didepan makanannya.
"Hem?? Nggak apa-apa. Tiba-tiba nggak selera aja" Jawab Thariq datar
Niki mendengus kesal. Ia tau Thariq memikirkan Kiara. Apalagi setelah Kiara mengatakan kalau cowok itu adalah pacarnya.
"Aku juga jadi nggak selera makan! Ayo kita pulang aja" Ajak Niki yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Oh, ayo! " Thariq bersemangat
Niki semakin kesal ketika melihat Thariq justru bersemangat untuk mengantarkan Niki pulang.
Sepanjang perjalanan, Niki dan Thariq sama-sama diam tidak mau bicara. Sampailah mereka didepan pintu gerbang rumah Niki.
Rumah dengan pintu gerbang yang tinggi dengan ukiran naga berwarna emas dan berpadu dengan warna coklat tua. Niki menakan bell rumahnya.
Ting Tung
Ting Tung
Beberapa detik kemudian satpam membukakan pintu gerbangnya.
"Sudah pulang, non" Sapa pak satpam.
"Iya mang" Jawab Niki singkat.
"Oia mang, bawain motor Thariq masuk yah" perintahnya lagi.
"Nggak usah, Nik. Gua mau langsung pulang aja. Mama lagi nggak enak badan katanya" Sergah Thariq
Niki mengernyit "Mama sakit? "
"Nggak sih. Mungkin cuma capek" Jawabnya lagi tanpa ekspresi.
Niki melihat langit yang semakin gelap oleh awan. Sepertinya hujan akan segera turun.
"Kayaknya mau hujan loh. Kamu pake mobilku aja pulangnya. Motor kamu masukin aja gih" Saran Niki.
Thariq menggeleng dengan cepat "Nggak. Gua bawa jas hujan kok"
Thariq kemudian mengeluarkan jas hujan dari bagasi motornya dan menaruhnya di bawah stang tempat menaruh barang untuk digantungkan disana, sebagai persiapan kalau-kalau hujan datang saat dia berkendara.
"Lagian kenapa sih kamu nggak bawa mobil aja. Ayah kamu kan punya 3 mobil. Kenapa nggak kamu pakai satu"
Entah informasi darimana, Niki mengatakan itu semua seolah dia tetangganya. Niki bisa tau berapa jumlah mobil dirumah Thariq. Padahal selama ini ia berusaha menyembunyikan jati dirinya sebagai anak seorang dokter. Berpenampilan sederhana dan tidak pernah menyebutkan profesi orangtuanya didepan teman-temannya.
"Gua lebih suka naik motor" Thariq memakai helmnya "Gua pulang dulu" Thariq melajukan sepeda motornya tanpa menunggu sepatah kata dari Niki.
Niki menghela nafas kasar "Elo nggak mau pacarin Kiara, tapi elo juga nggak mau dia punya pacar. Sedangkan elo paling nggak bisa nolak cewek yang nembak lo" Niki menyeringai kesal "Dasar cowok brengsek berwajah malaikat"
Niki menyadari kalau Thariq sudah tidak mencintainya lagi sejak insiden Niki mendatangi rumah kost Kiara. Belum reda rasa marah dan berkurangnya rasa terhadap Niki, disusul aksi penjambakan oleh Yenni yang dilakukan dikelas waktu itu. Thariq jadi melihat sisi jahat Niki.
Sejak saat itu, panggilan 'sayang' kepada Niki sudah tidak ada lagi bagi Thariq. Bahkan Thariq langsung menyebutkan nama Niki dan tidak memakai kata 'Aku, Kamu' untuk percakapan mereka seperti yang dilakukan Niki padanya.
Namun, Niki bersi keras untuk tetap mempertahankan Thariq di sisinya walaupun nyatanya sudah tidak ada cinta. Niki hanya ingin balas dendam terhadap Kiara yang sudah merendahkan dan menyakitinya dengan berada ditengah hubungan mereka sampai saat ini.
***
Disisi lain, Reno yang tengah menunggu jawaban dari Kiara yang sedari tadi diam saja. Minuman yang mereka beli di mini market sudah habis tidak bersisa. Jangankan minumannya, kata-kata dari mulut Kiara saja sudah habis tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan.
Reno dan Kiara masih duduk dibangku taman. Mereka kini duduk tak bersuara di taman yang mulai sepi dan langit yang mulai mendung.
Reno menatap Kiara "Elo beneran nggak mau ngomong apa-apa? " ia memberanikan diri memulai percakapan
"Gue minta maaf bang. Tadi gue cuma mau bikin cowok itu tuh nggak memperpanjang masalah. Makanya gue bilang kalo elo pacar gue" Kiara menjelaskan maksud kata-katanya tadi pada Reno, didepan mini market.
Reno mengangguk pelan "Tapi masalahnya..... " Reno menatap Kiara lebih dalam
"Kenapa ngeliatnya gitu?" Kiara memundurkan wajahnya karena Reno mendekatkan wajahnya.
"Masalahnya... Gue emang mau jadi pacar lo" ujar Reno dengan wajah sumringah.
Kiara membuang wajahnya tak tentu arah. Dia kebingungan dan kehabisan stok kosa kata lagi dalam pikirannya.
"Duh..!! Salah tempat gue" Gumam Kiara
"Salah tempat?!! " Pekik Reno
"Oh, sorry, sorry Kia. Maaf kalo gua kurang persiapan. Gua sampe asal nembak lo disini. Harusnya gua nembak lo ditempat yang romantis gitu kan? " Ujar Reno
Kiara membulatkan mata "Bu.. Bukan gitu.. " Kiara melambaikan tangannya
"Iya gua tau. Harusnya nembak cewek itu ngga asal gini dan spontan kekgini kan. Apalagi tempatnya asal-asalan gini"
Kiara memberikan cengiran bingung pada Reno "Maksud gue... Gue salah ngajak lo pura-pura jadi pacar gue. Malah elo maunya pacaran beneran" Batik Kiara sembari menepuk pelan dahinya.
"Lo kenapa? Pusing yah? " Reno panik
Kiara melepas tangannya dari kepalanya "Eh, nggak. Nggak!!" Kemudian ia menggelangkan kepalanya.
"Elo pusing yah mikirin alesan buat nerima cinta gua nantinya?" Tebak Reno
Kiara tidak bergeming, hanya melihatnya dengan tatapan kosong dan mulut menganga.
"Eh, nggak usah dijawab sekarang. Elo masih bisa jawab besok kok. Lagian gue bakalan nyiapin tempat yang spesial besok biar elo bisa menjawab dengan tenang dan senang" Reno mengusap puncak kepala Kiara
Kiara mundur perlahan "Gue pulang duluan ya bang. Mau hujan kayaknya" Tanpa aba-aba ia pun lari.
"Heh!!! Loh!!! Heh!!! Kiaaaa!!!! Gua anteriinn!!! " Teriak Reno yang baru menyadari kalau Kiara benar-benar lari menjauh darinya.
Kiara yang sudah berjarak 20 meter itupun berteriak "Nggak usah bang. Makasihh!!!! "
***
"Hari ini bisa lari gue. Besok??? Mana bisa??? " Pekik Kiara begitu ia menginjakkan kakinya diteras rumah kostnya.
"Besok kenapa nggak bisa lari? Kaki lo sakit besok? " Zeva tiba-tiba muncul dari balik pintu masuk.
"Aaagghh!!! Ngagetin aja lo. Kayak petasan" timpal Kiara
"Besok belum tentu gua bisa lari dari hujan. Hari ini aja masih selamat ni, hujan turun setelah gue sampe rumah. Iyaaa kan?? " Bohong Kiara.
Kiara tiba dirumah kost nya tepat dengan hujan yang langsung turun dengan derasnya. Ia terpaksa berbohong pada Zeva mengenai Reno karena ia mulai hilang percaya padanya. Persoalan tentang Niki yang berakhir canggung dan renggang dengan Thariq sudah cukup membuatnya repot, jadi ia tidak mau repot-repot lagi menceritakan hal privasi pada Zeva.
Kiara kemudian mandi dan membuat segelas susu hangat untuk ia nikmati diteras rumah. Melihat rintik hujan yang turun membasahi rerumputan dan pohon jambu di halaman membuatnya lebih tenang dan damai.
"Sebenernya mau lo apa sih bang Thor? " Gumam Kiara sebelum menyeruput susu hangatnya