Aku jatuh cinta, pada pandangan pertama.
Awalnya aku tidak pernah percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada dan aku tidak mengira bahwa hal itu akan terjadi padaku.
Matanya yang menatap penuh keangkuhan, alisanya yang entah bagaimana berada di sana menambah kesan menawan di wajahnya, coklat gelap di matanya menatap berkeliling ruangan kelas dengan tajam, tidak ada kesan ramah di sana. Matanya sempat bertatap sebentar denganku.
Lalu tersungging sedikit senyum di bibirnya saat dia memperkenalkan diri.
" Halo semua, namaku Arkana Samudera Wijaya. Panggil saja aku Kana", dia berkata sambil menatapku tanpa malu-malu.
Dan aku berani bersumpah, dia mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum berjalan ke arah bangku yang ditunjuk guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permen Kapas Merah Muda
Tian benar-benar menunggu kami di depan gerbang sekolah. Dia berdiri di sana sambil sesekali menguap lebar. Saat melihat aku dan Inka dia tersenyum cerah dan melambaikan tangannya. Beberapa siswa di dekatnya ikut menoleh ke arah kami.
" Aduh ... Kenapa heboh banget sambutannya ya", Inka berbisik pelan sambil mencolek pinggangku tidak lupa memberikan senyum lebar ke arah Tian.
" Kamu yang iyain pulang bareng", aku balas berbisik sambil ikutan nyengir.
" Iya sih.. Untung ganteng", bisik Inka lagi. " Hai Tian... sudah lama nunggunya?", Inka berbasa- basi.
" Hai, tidak. Baru kok", jawabnya. " Yuk", ajaknya.
" Kamu ke sekolah naik angkot juga?", tanyaku.
" Tidak, aku bawa motor", jawabnya lagi.
" Lah terus motor kamu mana?", aku heran.
" Di bawa teman" ,Tian nyengir santai. " Kita naik angkot ni?", tanya Tian.
" Iya... Kamu bisa kan naik angkot?", tanya Inka curiga. mengingat saat naik angkot bersama Kana, yang bersangkutan mengomel terus karena berdempetan.
" Bisa dong", jawab Tian.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Inka dan Tian banyak bercerita. Aku yang duduk di tengah hanya mendengarkan sesekali menimpali. Aku memikirkan hal lain, aku memikirkan Kana.
Sepertinya Kana tidak terganggu seperti aku terkait kejadian kemarin. Mungkin malah bagus kami menyudahi hubungan bohongan ini. Aku menghela nafas pelan. Seharusnya aku tidak pakai hati saat kemarin-kemarin itu. Rasa sedih menghampiriku.
" Yuk turun", Inka mengagetkanku. " Kamu mikir apa sih? Dari tadi melamun terus", Inka menyelidiki saat kami berjalan pelan masuk ke area perumahan.
" Tidak ada. Aku hanya mengantuk", jawabku bohong.
Tian hanya menatapku, mungkin dia tau aku sedang memikirkan apa tapi Tian pura-pura tidak tau.
" Eh ada Bazar tu. Oh iya hari ini kan ada Bazar kompleks. Yuk ke sana yuk ", Inka menarik ku. Tian mengikuti dari belakang sambil berlari kecil mengimbangi kami yang heboh berlari ke arah Bazar.
" Emm banyak makanan ni. Aku nyari ketan dulu ya", Inka meninggalkan aku dan Tian berdua.
" Cepetan balik ya", aku mengingatkan Inka.
Tian tersenyum padaku. " Kamu mau beli apa?", tanya Tian padaku.
" Emm ... Kita liat-liat saja dulu", aku tersenyum.
" Awan ... kamu harus ceria. Setiap aku ketemu kamu, wajah kamu pasti sedih", kata Tian.
" Masa iya? Aku gak sedih kok", aku berkilah.
" Iyaa.. Kamu di halte sama sekarang raut wajahnya sama. Gini nih..", Tian mencontohkan. Memurungkan wajahnya dan bibirnya di memblekan.
Mau tidak mau aku tertawa melihat kelakuannya. " Memangnya tampangku seperti itu", aku protes.
" Iya beneran, gak percaya. Tapi sekarang sudah cantik sih, gak memble lagi", kata Tian.
Aku tertawa ringan. Aku melihat ke arah permen kapas berwarna pink. Tapi aku mengurungkan niatku dan berjalan terus mencari makanan yang lain.
" Nak Awan", seorang penjual memanggilku. Itu mama Kana.
" Hai tante", aku balas menegur.
Tian ikut tersenyum ke arah mama Kana. " Awan kamu tunggu sini bentar ya. Aku nyari sesuatu dulu", kata Tian.
" Okee...", aku menjawab. Lalu Tian pergi meninggalkanku di dekat gerai milik mama Kana.
" Tante ikut bazar juga? Wiih enak nih kuenya", aku melihat ke arah kue-kue milik mama Kana.
" Iya . Tante jenuh di rumah, mending tante ikutan ramai-ramai di sini", jawab mama Kana sambil tersenyum." Tadi pacarnya nak Awan?", tanyanya lagi.
" Siapa? Tian? Oh bukan. Dia teman sekolahku tante. Bukan pacar", aku menjelaskan ringan.
Mama Kana mengangguk. Lalu membungkus kan beberapa potong kue untukku. "Ini untuk kamu. Makan sama teman-temanmu ya", kata mama Kana.
" Berapa semuanya tante?", aku buru-buru mengeluarkan dompet.
" Tidak usah. Gratis buat calon mantu kesayangan", goda mama Kana.
Aku tertawa ringan mendengar candaan mama Kana. 'Seandainya tante tau aku beneran suka sama anak tante ... Huft', batinku.
" Makasih banyak tante", aku berterima kasih sebelum pergi.
Aku berjalan dengan ringan ke arah pintu keluar dan berdiri menunggu dua makhluk Tuhan yang tidak muncul-muncul batang hidungnya.
" pada ke mana sih", aku mulai mengomel. Suasana hatiku sudah lebih baik saat ini.
Sebuah permen kapas berwarna pink di sodorkan tepat di depan wajahku. Aku kaget tapi senang dengan permen kapas itu.
" Suka?", tanya Tian.
" Iya.. Kamu tadi pergi beli ini?", tanyaku sambil menerima permen kapas itu.
" Iya dong... Nyarinya jauh sih", kata Tian mulai berbohong.
" Mana jauh .. Orang tadi dekat doang. Kamu beli apaan sampai lama banget? ", aku penasaran.
" Gak banyak kok. Cuma nasi uduk, cendol, kue lapis, lontong sayur dan jus mangga", jawab Tian sambil melongok ke dalam tas sekolahnya.
" Buset deh... Kamu mau acara tahlilan di rumah apa gimana... Banyak bener", aku geleng-geleng kepala.
Tian tertawa puas. " Bisa bercanda juga ya neng geulis", kata Tian.
Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu Inka muncul dengan tentengan lebih banyak lagi. Membuat aku dan Tian terpingkal-pingkal.
" Kenapa sih pada ketawa", Inka heran tapi repot sama bawaannya.
" Neng belanjanya banyak banget. Mau ada nikahan di rumah?", Tian bercanda.
Inka ikut tertawa. " Aku lapar mata tau gak. Semua pengen aku beli, sekarang bingung deh siapa yang mau makan", kata Inka sambil melihat bawaannya.
" Udah ah... Yuk...", Inka berjalan duluan di depan kami mirip ibu-ibu baru pulang dari pasar.
" Teman kamu bisa juga ya kelakuannya", kata Tian masih merasa lucu.
" Dia memang aneh ", aku menjawab sekenanya sambil mencomot permen kapas pemberian Tian.
Tian ikutan mencomot permen kapas milikku. " Besok-besok, aku boleh main lagi ke sini gak?", tanya Tian.
" Bolehlah... Kan bazarnya untuk umum", jawabku santai.
" Hadeh... Cantik sih tapi lemot", Tian menggelengkan kepala lalu mencomot permen kapas ku sekali lagi.
" Enak saja lemot", aku protes keras.
" Maksud aku, aku mau datang ke sini. Main ke rumah kamu. Kerja PR bareng gitu", Tian menjelaskan.
" Oh.. Iya boleh kok. Tapi gimana mau kerja PR bareng. Jurusan kita kan beda atuh", aku bingung.
" Gak apa-apa. kamu kerja PR matematika, aku kerja PR akutansi. Yang penting sama-sama PR", jawab Tian asal.
Aku hanya menggelengkan kepala. Bingung dengan pemikiran anak satu ini. " Ya udah", akhirnya aku menjawab.
" Awan buruan... Lama bener jalannya. Heh Tian sana pulang... sudah sore.. Anak SMA kok keluyuran", Inka mulai mengomel.
Tian tertawa karena di usir oleh Inka.
" Iya deh aku pulang.. Sudah ya... Bye", Tian melambai ke arah kami. Aku ikut melambaikan tangan sambil tersenyum.
Sepeninggalan Tian, aku yang kerepotan membantu Inka.
" Em udah fix itu mah", Inka buka suara.
" Apanya yang Fix?", aku bingung.
" Si bule suka sama kamu", kata Inka lagi.
" Sembarangan. Jangan bikin gosip ah", kataku pada Inka.
" Yeee... Kelihatan atuh. Kamu itu kurang peka. Harus di asah lagi kepekaannya", Inka menyentil jidatku pelan.
" Gak ah.... Gak ada... Itu perasaan kamu saja", aku menolak mentah-mentah pengamatan Inka.
" Liat saja... Bentar lagi Kana dan Tian pasti ribut. Aku jamin", Inka berkata yakin.
" Gak....gak mungkin", aku membantah.
****