NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:922
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Percikan di Ruang Publik

​Kemarahan Alexander Noir malam itu berbuntut panjang. Pagi-pagi sekali, desas-desus mengenai penolakan Cassian terhadap Rebecca Winston sudah menjadi konsumsi internal di jajaran petinggi Noir Enterprises. Namun, bagi Cassian, ancaman sang ayah mengenai reputasi dinasti keluarga hanyalah angin lalu yang tidak mengusik fokusnya.

​"Tuan Noir," Kevin melangkah masuk ke dalam ruang kerja Cassian dengan tab yang menyala di tangannya. Ekspresinya tampak sedikit ragu. "Tuan Besar Alexander meminta laporan audit proyek Scarborough yang baru saja kita batalkan dari keluarga Vance. Beliau juga... menanyakan alasan mendalam mengapa Anda mendadak menyuntikkan dana hibah besar ke sebuah yayasan sosial muslim di Downtown."

​Cassian yang sedang memeriksa berkas investasi tidak mendongak sama sekali. "Abaikan pertanyaannya. Jika dia ingin tahu, biarkan dia mencarinya sendiri melalui agen-agennya yang tidak berguna itu."

​"Baik, Tuan. Dan mengenai Nona Aisya..." Kevin berdeham pelan. "Hari ini jadwalnya Nona Aisya menyerahkan laporan komparatif program pangan musiman ke perpustakaan referensi utama kota. Saya mendapatkan informasi bahwa dia akan berada di sana hingga siang."

​Gerakan pulpen Cassian terhenti. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi marmer, sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Kevin. Penolakan Aisya di perpustakaan minggu lalu masih menyisakan rasa penasaran yang mengganjal di dadanya. Keangkuhan Cassian menuntutnya untuk melihat sejauh mana gadis mungil itu bisa bertahan dengan prinsipnya yang kokoh di tengah kerasnya kota Toronto.

​"Siapkan mobil," perintah Cassian pendek. "Aku ingin melihat bagaimana dia menyelesaikan riset 'mandiri' yang dibangga-banggakannya itu."

​Sementara itu, di lantai tiga Toronto Public Library, suasana sangat tenang dan dipenuhi aroma khas kertas-kertas tua. Aisya duduk di salah satu sudut meja bundar yang dekat dengan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan jalanan kota. Di balik niqab hitamnya, fokus Aisya terbagi antara tumpukan proposal administrasi dari tempat kerjanya dan buku referensi sejarah Mediterranean milik perpustakaan.

​Ia baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen bantuan sosial ketika sebuah ketukan ringan di atas meja kayu membuyarkan konsentrasinya.

​Aisya mendongak. Jantungnya seketika berdesir hebat saat melihat sosok tegap yang berdiri di hadapannya. Bukan Cassian Noir, melainkan sesosok pria asing berambut pirang dengan setelan jas abu-abu yang tampak mahal, tersenyum ramah ke arahnya.

​"Permisi, apakah kursi di depanmu kosong? Area referensi hari ini sangat penuh," tanya pria itu dengan nada suara yang sopan, namun matanya memindai sosok Aisya dengan tatapan penuh minat intelektual yang tak biasa.

​Aisya mengerjapkan matanya, melirik kursi kosong di hadapannya lalu beralih ke sekeliling perpustakaan yang memang tampak lebih ramai dari biasanya. "Ah... ya, silakan, Tuan."

​Pria itu duduk, meletakkan beberapa jurnal arsitektur kuno di atas meja. "Terima kasih. Aku kaget melihat seseorang masih membaca buku sejarah Mediterranean fisik di zaman digital seperti ini. Namaku Julian—ah, bukan Julian Vance, namaku Louis," ucap pria itu sembari terkekeh pelan, mengulurkan tangannya dengan sopan. "Aku seorang kurator seni mandiri."

​Aisya menatap uluran tangan itu dengan canggung, lalu perlahan merapatkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda hormat tanpa menyentuhnya. "Maaf, Tuan Louis. Saya Aisya."

​Louis menarik kembali tangannya tanpa merasa tersinggung, justru senyumnya makin melebar, mengagumi batasan yang ditunjukkan oleh gadis di depannya. "Menarik. Sangat langka menemui seseorang yang begitu memegang teguh identitasnya di tengah pusat kota Toronto."

​Tepat saat Louis menyelesaikan kalimatnya, atmosfer di sudut perpustakaan yang tenang itu mendadak anjlok drastis. Sebuah aura dingin yang pekat dan mengintimidasi mendadak menyelimuti area meja mereka.

​Aisya menoleh ke arah koridor rak buku, dan napasnya seketika tercekat.

​Cassian Noir sedang melangkah mendekat dengan langkah yang lebar dan tegas. Jas hitamnya yang berkibar pelan memancarkan dominasi yang mutlak. Sepasang mata elangnya menatap tajam, mengunci pandangan langsung pada pria asing yang sedang duduk di hadapan Aisya. Senyum miring yang begitu dingin terukir di wajah tegas sang miliarder, membuat Louis yang menyadari kehadiran Cassian seketika menegang di kursinya.

​Suasana di meja bundar itu sebenarnya diliputi kecanggungan yang pekat. Louis, pria asing berambut pirang itu, sebenarnya tidak berniat menggoda. Ia duduk di sana murni karena terpaksa tidak menemukan kursi kosong lain di lantai referensi. Ada jarak pembatas tak kasatmata yang besar di antara mereka; Louis berulang kali melirik canggung ke arah pakaian serba hitam dan niqab lebar Aisya dengan tatapan sungkan sekaligus penasaran, khas orang Barat yang jarang berinteraksi sedekat ini dengan wanita berniqab.

​Aisya sendiri pun memilih menunduk sedalam mungkin, membatasi pandangan mata, dan mempercepat gerakan jemarinya untuk merapikan dokumen-dokumen Islamic Centre. Ia ingin segera pergi dari situasi tidak nyaman ini.

​Tepat ketika kecanggungan itu mencapai puncaknya, langkah kaki yang berat dan berwibawa memecah keheningan koridor perpustakaan.

​Cassian Noir tidak sedang sengaja mengikuti atau menguntit Aisya. Hari ini, Noir Enterprises bersama jajaran dewan kota memang memiliki agenda resmi di gedung perpustakaan utama ini: peresmian sayap literatur baru dan peninjauan laporan dana hibah yayasan sosial. Sebagai donatur tunggal terselubung, Cassian hadir untuk memastikan investasinya berjalan efisien.

​Namun, saat Cassian berjalan melintasi koridor lantai referensi bersama beberapa kepala dinas kota, sepasang mata elangnya menangkap pemandangan di sudut meja dekat jendela.

​Langkah Cassian seketika melambat. Rahangnya mengeras saat melihat seorang pria asing duduk di satu meja yang sama dengan Aisya, mengusik ruang sunyi gadis yang beberapa hari lalu menolaknya demi menjaga batasan syariat.

​"Tuan Noir? Ada yang salah dengan area ini?" tanya salah satu pejabat kota di sampingnya, menyadari perubahan atmosfer Cassian yang mendadak sedingin es.

​"Kalian duluan ke aula utama. Ada hal kecil yang harus kuurus," perintah Cassian mutlak tanpa mengalihkan pandangannya.

​Kevin, yang berdiri di belakang, segera memberi isyarat kepada para pejabat untuk melanjutkan langkah mereka. Kevin sendiri menahan napas, tahu betul bahwa tatapan berapi-api bosnya itu ditujukan pada meja di sudut ruangan.

​Cassian melangkah lebar membelah ruangan. Kehadirannya yang dominan dengan setelan jas seharga puluhan ribu dolar langsung menarik perhatian seisi lantai perpustakaan.

​Begitu Cassian berdiri tepat di samping meja mereka, Louis mendongak dan seketika menciut. Aura intimidasi yang dipancarkan Cassian begitu pekat hingga membuat Louis merasa terancam secara insting. Tanpa sepatah kata pun, Cassian hanya menatap Louis dengan pandangan tajam yang seolah mengatakan 'angkat kakimu dari sini sebelum kuhancurkan hidupmu'.

​Canggung, takut, dan bingung bercampur menjadi satu, Louis buru-buru membereskan jurnalnya dengan tangan gemetar. "Maaf... permisi," bisik Louis gugup, lalu berdiri dan berjalan setengah berlari meninggalkan area tersebut.

​Kini, hanya tersisa Cassian yang berdiri menjulang di samping meja, menatap ke arah Aisya yang masih terpaku menunduk.

​"Kulihat menjaga batasan yang kau agungkan itu cukup sulit di tempat umum yang murah seperti ini, Aisya," bisik Cassian rendah, suaranya yang berat mengalun dingin di antara keheningan rak-rak buku. Ia menarik kursi yang baru saja ditinggalkan Louis, lalu mendudukinya dengan keangkuhan yang mutlak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!