"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
Malam hari ...
Tepatnya pukul jam 10 malam ketika Bi Inah masih berada di dapur sedang duduk terdiam memikirkan ucapan Bianca tadi sore.
"Bi Inah?" Suara Anya pelan dari belakang. Terdengar menghampiri Bi Inah yang tampak terlihat cemas. "Bibi belum tidur?"
Bi Inah tertegun sedikit kaget. Menoleh dan melihat Anya yang sudah duduk bersama di sebelahnya. Bi Inah mencoba menyembunyikan cemas di wajahnya, agar tidak membuat Anya khawatir.
Walaupun, hal itu sebenarnya sudah Anya sadari sewakty pertama kali melihat Bi Inah saat ini.
"Belum Anya. Kamu sendiri?" tanya balik Inah. Masih dengan perasaannya yang coba ia sembunyikan dari Anya.
Karena sebenarnya, Bi Inah merasa sangat cemas sekarang. Karena niat jahat yang akan di lakukan Bianca, pasti membuat Anya terancam akan di marahi. Kemungkinan terburuknya malah bisa saja di pecat.
"Belum Bi ... Ini Anya baru aja ingin tidur. Bibi jangan tidur terlalu malam yaa?" ucap Anya yang ingin hendak pergi, khawatir dengan kondisi dan kesehatan Bi Inah yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Senyum Anya menggantung, menatap wajah Bi Inah dengan tulus.
Anggukan serta senyum kecil dari Bi Inah, menjadi akhir dari obrolan juga pertemuan singkat mereka di dapur. Kini Anya harus segera beristirahat masuk ke dalam kamarnya untuk tidur.
Mata sayu Bi Inah menatap Anya yang perlahan pergi beranjak meninggalkannya. Hembusan nafas kecil namun terasa sangat berat keluar baru saja dari mulut Bi Inah ketika melihat punggung anak baik seperti Anya.
"Anya ..." ucap Bi Inah pelan, samar nyaris tidak terdengar seakan berharap Anya selalu baik-baik saja.
Di sisi lain. Sebelum teman-teman Bianca pulang hari ini. Dan mereka masih berkumpul bersama menonton sebuah film di depan televisi yang sangat besar.
"Whaat! ... lo seriusan Bi, papih lu mau ngadain pesta lagi di rumah ini?" tanya Novi, menatap Bianca penuh keheranan. Dimana semuanya tahu, bahwa di pesta sebelumnya mereka sudah membuat rusuh acara.
"Iyaa. Tapi, yaa gitu ... dia mau, nggak ada lagi tuh, kejadian rusuh lo pada mabok rusuh."
Novi terdiam, menatap temannya satu persatu karena merasa tidak enak. Kecuali Rangga, pada pesta sebelumnya ia tidak sempat hadir namun mendengar ceritanya.
"Maafin kita yaa Bi," ringis Novi, dengan tawanya yang pelan menatap Bianca tidak enak.
"Tapi tenang. Katanya kalian semua boleh ikut lagi! Nanti mamih gue sendiri yang handle acaranya biar kondusif," ujar Bianca, ingin tetap teman-temannya ikut hadir di acara pesta yang meriah dan mewah itu.
"Asiiik~" suara Novi, terdengar antusias menggoyang-goyangkan lengan Wati di sampingnya yang harus berpasrah sekarang.
Bianca menatap Rangga. "Kamu ikut, yaa?" ucapnya pelan, penuh harapan agar Rangga kali ini mau hadir di acara papihnya. Karena terlepas dari hal lain, Bianca hanya ingin kehadiran seorang Rangga yang mampu membuatnya bahagia. Walau itu cuma menurut Bianca saja secara sepihak.
Bianca terus menatap Rangga seraya memegang lembut lengan di sampingnya. Barang sedetik pun Bianca tampak tidak ingin melepaskannya. Bersikap manja di samping Rangga saat ini.
"Liat nanti yaa, gue nggak bisa janji," balas Rangga datar. Tanpa ekspresi melihat Bianca dan tetap fokus kembali menonton film.
Karena di pikiran Rangga saat ini, selain sibuk menonton film. Adegan tatap matanya saat bertemu langsung dengan wajah cantik Anya masih terbayang. Dan hal itu yang tidak bisa Rangga sembunyikan, hingga auranya membuat Bianca kini merasa sedikit kesal.
"Ish, nyebelin!" rutuk Bianca pelan, kembali bersikap manja dan tidur lagi menyandarkan kepalanya di lengan Rangga.
Saat ini ...
Tepatnya ketika Bianca sudah berada di depan pintu kamar kedua orang tuanya. Dengan masih menggunakan piyama tidurnya, Bianca perlahan untuk membuka pintu itu tanpa ingin mengeluarkan suara sekecil apapun.
Keree ... Ket!
Dengan usahanya yang hati-hati kini Bianca telah berhasil membuka pintu kamar kedua orang tuanya. Ia melihat mereka kini sudah tertidur lelap diatas ranjangnya beristirahat.
Bianca mengendap-endap menghampiri nakas yang berada di samping ranjang dan membuka lacinya. Sebuah kalung berlian mahal milik Laras mamihnya tersimpan di dalamnya.
"Dengan ini ... Gua pastiin selesai Anya! Ini hukuman buat lo gara-gara udah berani cari perhatian ke Rangga tadi sore," gumam Bianca pelan, samar hampir tidak terdengar. Menunjukan senyum smirk dan berdecih pelan. Matanya menyorot sinis ke arah kalung yang ia pegang. Membayangkan wajah Anya yang paling ia benci saat ini.
Bianca langsung segera meninggalkan ruangan itu, mengembalikan semuanya seperti normal kembali. Ia berjalan menuruni anak tangga untuk bertemu Bi Inah yang sudah menunggunya di bawah.
"Nih kalungnya! Jangan ampe ketahuan ... Bibi cuma perlu masukin kalung ini ke tas Anya," pinta Bianca seraya memberikan kalung mahal yang sering Laras bangga-banggakan. Menjebak Anya agar masuk kedalam rencana jahatnya.
"Tapi Non ... Bibi takut—"
"Yaa tinggal pilih. Mau lakuin yang gue pinta, apa mau ganti rugi baju gue yang rusak gara-gara Bibi! ... Jangan plin-plan, ini udah setengah jalan!" tegas Bianca menyorot tajam wajah pucat Bi Inah. Menyuruhnya agar terus tetap menjalankan rencananya.
Nafas Bi Inah tertahan di dadanya. Ia merasa benar-benar bingung apakah harus melakukan semua ini? Namun jika tidak, ia harus menanggung biaya ganti rugi bekerja 5 tahun tanpa gaji untuk baju Bianca yang rusak.
"Cepetan!!!" bentak Bianca dengan suaranya yang berbisik. Mendorong-dorong Bi Inah agar langsung segera berjalan ke dalam kamar Anya.
Bi Inah benar-benar tertekan. Tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti tekanan yang Bianca berikan. "Ba-baik Non ..." ucapnya ragu dengan lirih, berbalik badan dan perlahan meninggalkan Bianca yang masih berdiri memperhatikannya.
Senyum kecil Bianca mewarnai penuh di wajahnya. Bagian ujung sudut bibirnya terangkat sedikit menggantung. Serta, kedua tangannya yang berpangku dada menatap kepergian Bi Inah.
"Cih ... Jadi nggak sabar buat cepat-cepat merayakan pesta. Good luck Anya~" desis Bianca, sebelum kembali pergi menaiki anak tangga untuk kembali kedalam kamarnya lagi.
Nngkk ... Kret!
Suara Bi Inah saat membuka pintu kamar Anya dengan hati-hati. Ia melihat Anya kini sedang tertidur pulas di atas ranjangnya. Pandangannya menyapu sekelilingnya untuk mencari keberadaan tas Anya.
Beberapa kali Bi Inah sempat menahan nafasnya agar tidak menimbulkan suara yang bisa saja membuat Anya tiba-tiba terbangun. Setelah menemukan tas Anya, Bi Inah dengan segala perasaannya yang berat meletakan kalung Laras di dalam tas kecil Anya. Dan kembali menggantung tasnya lagi.
Tangan Bi Inah ikut gemetar ketika memasukan kalung mahal milik Laras kedalam tas Anya. Ia sangat tahu, bahwa kali ini Anya bisa saja di pecat ketika di tuduh pencuri oleh Bianca. Dalang dari semua rencana jahat ini.
Nafas yang Bi Inah tahan, harus keluar sedikit karena perasaannya yang kaget. Melihat Anya yang tiba-tiba berbalik badan untuk membenarkan posisi tidurnya. Bi Inah membuang nafas pelan dengan bola matanya yang hampir keluar.
Mata sayu dari wanita tua itu menatap Anya dengan prihatin. "Maafin Bibi Anya ... Bibi nggak punya pilihan," gumam Bi Inah pelan dalam hati. Seraya terus menatap Anya dengan penuh perasaannya yang amat bersalah karena tidak punya pilihan.
Anak itu masih saja tertidur pulas. Dengan wajah cantik dan lugunya sebagai sosok Anya yang di kenal baik. Sampai, bayangan Bi Inah kini sudah tidak lagi terlihat di dalam kamar Anya setelah tugasnya selesai.
Kalung berlian cantik dan mahal yang bernama Christie's Diamond itu kini berada di dalam tas Anya. Tanpa ada yang tahu kebenarannya selain Bianca dan Bi Inah.