Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 ~ Benar Cinta
“Bim, sumpah aku nggak kenal perempuan itu. Kami kerja sama lewat telepon. Maafin aku ya Bim, tolong jangan diperpanjang. Aku hanya diminta kasih obat perang_sang di botol air mineral yang akan kamu minum tapi nggak tahu kalau akhirnya bakal begini.”
“Mana ponsel lo!”
“Untuk apa Bim?”
“Gue perlu kontak lo, sewaktu-waktu lo dibutuhkan jangan menghindar.”
Bella akhirnya menyebutkan nomor ponselnya yang aktif, lalu bergegas pergi meninggalkan Bima.
“Perempuan? Perasaan gue nggak ada musuh, tapi untuk apa juga ngejebak gue. Ini pasti urusannya sama Oliv, ada yang berniat jahat sama dia dan gue hanya dimanfaatkan atau bisa jadi ada yang ingin menggagalkan pertunangan Olivia dengan mantannya.”
Bima masih bingung dengan siapa dan motif dari penjebakan malam itu. Karena masih siang, pria itu mampir ke kampung duku untuk mengambil pakaiannya lagi.
“Kamu sengaja ke sini?” tanya Salamah.
“Iya, tadi dari kampus. Sekalian aja mampir.”
“Nak Oliv tidak diajak?”
“Nggak bu, aku pakai motor. Kasihan kalau ajak Oliv. Mpok Lela mana?”
“Jemput Anis dan Abil.”
Bima menuju kamarnya, mengambil seragam kerja yang kelupaan dia bawa. Sempat berbaring sejenak di ranjangnya dan tidak sengaja malah terlelap. Menjelang sore, pria itu terbangun karena getaran ponselnya.
“Eh jam berapa ini,” gumam Bima lalu mengaktifkan layar ponsel dan menemukan sepuluh panggilan tak terjawab juga beberapa pesan dari Olivia.
“Gawat, ngambek lagi dah.”
Seragam kerja yang tertinggal dimasukan ke dalam ransel, lalu dia keluar dari kamar.
“Om Bima, aku ikut ke rumah tante cantik dong. Mau ikut berenang,” ujar Abil. Bima hanya menjawil pipi bocah itu lalu menuju motornya.
“Nggak makan dulu."
“Nggak Mpok. Udah sore, tadi ketiduran.”
Panggilan telepon berkali-kali dari Olivia, membuat Bima melajukan motornya dengan cepat. tidak sampai satu jam, motornya sudah berhenti di carport kediaman mertuanya.
“Baru pulang Mas?” tanya Pak Iwan.
“Iya, Pak.”
Melewati ruang tamu, Bima berpapasan dengan Naya di ruang keluarga.
“Baru pulang Bim?”
“Iya Mih.”
“Kamu cuti kerja berapa hari?”
“Tiga hari dari kemarin Mih, lusa sudah masuk lagi. Aku ke atas dulu Mih.”
Pria itu menaiki undakan tangga dengan langkah lebar dan cepat. Saat membuka pintu, Olivia berbaring miring di sofa sambil fokus pada ponsel. Setelah melepaskan sepatunya dan meletakan ransel di samping sofa.
“Oliv, kamu butuh sesuatu?”
Olivia beranjak duduk dengan wajah cemberut.
“Katanya ke kampus, tapi seharian. Pasti bertemu mantan atau pacar kamu?”
Bima tersenyum mendengar pertanyaan Olivia yang mengandung unsur kecemburuan begitu pekat. Melihat Bima tersenyum, Olivia melemparkan bantal sofa ke tubuh Bima yang berhasil ditangkap oleh pria itu.
“Malah ketawa. Jadi bener kamu bertemu ….”
“Nggak sayang,” sahut Bima yang sudah duduk di samping istrinya. “Beres di kampus aku mampir ke kampung duku, ambil seragam. Lupa nggak dibawa.”
“Tuh ‘kan. Udah nggak aja aku, eh malah pulang.”
“Loh, kamu mau ikut?”
“Tau ah.”
Bima mengu lum senyum menghadapi istrinya yang sedang merajuk.
“Mau ke mana?”
Brak.
Olivia membanting pintu kamar mandi. Bima membuka ransel dan mengeluarkan baju seragam dan map ijazah lalu menyimpannya di ruang ganti. Sambil bersiul dia merapikan pakaian kotor miliknya juga milik istrinya dan dirapikan ke dalam keranjang.
“Wow,” ucap Bima spontan karena kehadiran Olivia yang hanya mengenakan bathrobe.
“Aku mau pakai baju.”
“Silahkan.”
Bima bersedekap dan bersandar pada pintu lemari, membuat Olivia kembali meradang.
“Kamu ngapain masih di sini?”
“Loh nggak boleh ya?”
“Aku bilang mau pakai baju.”
“Ya udah aku tunggu di sini, takut kamu butuh sesuatu.”
“Jangan nyebelin, sana pergi!”
Olivia mendorong punggung Bima agar menjauh dan keluar dari ruang ganti.
...***...
Sama seperti malam sebelumnya, Bima tidur di karpet dan kali ini dia hanya mengenakan boxer serta kaos dalam. Pikirannya masih kalut dan kesal karena memikirkan pelaku penjebakan yang masih abu-abu. Akhirnya dia tertidur lebih awal.
Entah jam berapa, Bima terjaga karena hawa dingin dari AC membuat kulitnya merinding.
“Astaga,” pekik Bima saat kakinya menyentuh sesuatu dan ternyata Olivia yang berbaring juga di sampingnya. “Ngapain ikut tidur di sini sih.”
Bima beranjak duduk dan menyentuh lengan istrinya.
“Oliv, bangun. Jangan tidur di sini.”
Olivia menggeliat dan mengerjapkan matanya lalu merubah posisi dan kembali terlelap.
“Eh jangan tidur lagi, ayo pindah ke ranjang.”
Karena tidak ada pergerakan dari wanita itu, Bima menarik selimut tebal yang ada di ranjang lalu menyelimuti tubuh Olivia.
“Kalau pengen ditemani ya bilang dong, bukan Cuma ditemenin deh plus peluk juga aku siap kok.”
Bima memandang wajah istrinya yang terlelap damai, bahkan tangannya terulur menyingkirkan helaian rambut yang menutupi kecantikan wajah itu.
“Oliv, aku cinta kamu. Bener-bener cinta,” tutur Bima dan Olivia hanya membalas dengan gumaman.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏