Seorang gadis berusia 23 tahun bernama Aleta Quenby Elvina yang biasa dipanggil Vina ini memiliki jiwa kepemimpinan dan suka menolong dalam bidang kesehatan. ia seorang dokter muda yang memiliki talenta dalam ilmu kedokteran hingga ia bertemu dengan dengan orang yang sangat menyebalkan itu. mau tau selengkapnya mari simak bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon carlin_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
🌼 HAPPY READING 🌼
_____
' percuma kamu Vina. Kamu sendiri yang menolak dia. ' Vina menghela nafas panjang melihangkan rasa sesak.
~~
" Apa! bi Vina sudah pergi? " Tanya Haikal baru saja datang di rumah Vano.
" Baru saja Vina pergi, kamu datang " ucap Nia.
" Kenapa dia tidak tunggu aku " gumam Haikal sambil mengusap wajah dengan kasar.
" Padahal aku sengaja datang lebih cepat agar bisa punya waktu bersama dia. Nia " ucap Haikal.
" Bagaimana kalo aku nyusul aja " tambah Haikal dengan semangat.
" Bagus kalo gitu aku ikut ya.. " ucap Nia.
Kirin Haikal dengan Nia dalam perjalanan menuju rumah sakit cabang di mana tempat Vina berkerja. Haikal meninggalkan semua kerjaannya hari ini begitu juga dengan Nia.
~~
Perjalanan yang biasanya memakan tiga dengan kecepatan tinggi Vina bisa sampai dengan waktu dua jam tiga puluh menit saja sampai di rumah bisa di bilang rumah untuk pekerja rumah sakit ini. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit dengan berjalan kaki pun sampai.
Tok..tok
" Hai Vina. Aku sangat merindukanmu " memeluk Vina dengan erat membuat Vina jadi susah untuk bernafas.
" Kak, lepas! Vina susah bernafas ni " ucap Vina sedikit memberontak.
" Maaf ya, aku sangat kesepian tidak ada kamu di sini "
" Terus di mana kak Angga " tanya Vina.
" Mungkin lagi sibuk kemarin sudah ke sini "
" Hayo! Ngapain? " Ucap Vina.
" Kamu ini ya.. " membuncit pipi Vina dengan kesar membuat merah pipi Vina.
" Kak Nisa, sakit! " Ucap Vina mengelus pipi yang panas. Nisa adalah seorang perawat tapi ia berhenti, ketika selesai operasi beberapa hari Vina menyuruh Nisa untuk tinggal bersamanya dan vina menawarkan Nisa untuk menjadi perawat di rumah sakit ini.
" Kak, aku tidak di suruh masuk " ucap Vina masih erada di depan pintu.
" Eh maaf. Ayok masuk, rumah kamu juga " ucap Nisa.
" Ini bukan rumah Vina " ucap Vina.
" Terserah kamu, mau makan Kaka ada masak sayur bayam dan perkedel jagung " ucap Nisa.
" Kaka ni memang the best, tau aja kalo Vina lagi belum makan " ucap Vina.
" Apa! Kamu belum makan. Kenapa bisa telat begini sih. Ayok kita makan sekarang " ucap Nisa menarik tangan Vina berjalan ke meja makan yang berisi untuk empat orang.
" Kalo Kaka tidak mau dengar kamu telat makan ya.. bisa bisa ini sudah jam sebelas Vi " Nisa memarahi Vina.
Seperti biasa Vina sering telat makan karena terlalu sibuk denga kerjaan dan kebiasaan buruk Vina menonton drama yang kelewat batas. Kadang Nisa menyembunyikan ponsel Vina agar Vina bisa tidur cepat.
Nisa mengisikan nasi lauk pauk ke piring Vina dan menaruh di depan Vina. Vina yang melihat makanan lantas, memakan karena takut di marah dengan Nisa yang sangat cerewet.
" Kamu bawa mobil sendiri " tanya Nisa.
" Iya "
" Tidak di antar sama pemimpin rumah sakit pusat, Vin " goda Nisa.
" Tidak " sontak ucapan Nisa membuat ia tidak bernafsu makan. Tapi, takut di marahi Vina tetap memakannya.
Nisa yang melihat ekspresi Vina yang dan ia melihat cara makan Vina juga berubah setelah ia mengucapkan kalimat tadi.
" Jangan makan lagi " ucap Nisa menaiki nada bicara dan menatap tajam Vina.
" Kenapa, tadi Kaka suruh makan, sekarang di larang " ucap Vina dengan kesal, ia sudah berusaha agar tidak termakan emosi. Takut ketika ia marah dan Nisa menjadi sasaran amarahnya siap meledak kapan saja.
" Masuk kamar mandi dan tidur, agar hati mu bisa tenang " perintah Nisa, mengambil piring Vina yang baru di makan setengah.
Vina melangkah menuju kamarnya tidak sama dengan kamar yang di rumah Vano tapi kenyamanan tetap sama. Vina mandi dengan air dingin Karena tidak ada pemanas air.
Tiga puluh menit Vina berada di kamar mandi. Semua jari tangan mengkerut, Vina menggigil menahan dingin. Memakai baju dan celana panjang menutupi tubuh denga selimut. Vina menyelam ke dalam mimpinya.
~~
Nia dan Haikal baru saja tiba di depan rumah sakit cabang. Haikal yang tidak mengetahui tempat tinggal Vina di sini membuat ia harus ketemu dengan direktur rumah sakit ini.
" Selamat siang pak Haikal " sapa pak Danu direktur rumah sakit cabang.
" Maaf sebelumnya, apa yang membuat pak Haikal datang ke sini " tanya pak Danu dengan sopan.
" Saya mau tanya tempat tinggal dokter Elvina? " Tanya Haikal.
" Oh.. dokter Elvina, rumahnya sekitar dua puluh " ucap pak Danu.
" Biar saya yang mengantarnya, pak Danu " potong Adam.
" Bagaimana pak Haikal, saya dengan senang hati mengantarkan anda ke rumah dokter Elvina " ucap Adam pada Haikal yang menatapnya tajam.
" makasih sebelumnya sudah mau mengantar kami " ucap Nia.
" Mari sini pak Haikal, lewat sini " ucap Adam sambil menunjukkan arah rumah vina.
Adam berjalan di depan menunjukkan jalan. Sedangkan, nia dan Haikal mengikuti di belakang Adam. Mereka menuju rumah Vina dengan berjalan kaki.
Tok..tok
Tok..tok
Nisa yang mendengar suara ketukan langsung berjalan menuju pintu.
*Tok..tok
Ceklek*
" Hai nis " sapa Adam.
" Hai " jawab Nisa.
" Ada apa kamu kesini " tanya Nisa.
" Ohh iya, ada pak Haikal mencari Vina. Nis " jawab Adam.
" Vina lagi istirahat " ucap Nisa menunduk hormat pada Haikal.
" Jangan menunduk seperti itu " ucap Nia menyuruh Nisa bersikap biasa saja.
" Bisa panggilkan Vina " ucap Haikal dingin.
" Maaf pak aku menyela tapi Vina lagi istirahat. Bukan bermaksud kurang sopan tapi bisakah pak Haikal datang kesini lain kali " ucap Adam membuat muka Haikal memerah menahan marah.
" Saya minta mohon sama kamu untuk panggilan Vina, sebentar saja " ucap Haikal pada Nisa.
" Vina lagi istirahat " ucap Adam suara ada naik satu oktaf.
" Kamu bisa diam tidak " bentak Haikal menarik kerah baju Adam .
" apa bapak tidak dengar VINA LAGI ISTIRAHAT " ucap Adam.
" Aku mohon panggil Vina. Ada yang harus aku.. tolong panggilkan Vina " ucap Haikal masih memegang kerah baju Adam.
" Vina tidak mau ketemu dengan anda " ucam Adam.
Bug
Satu pukulan mendarat di pipi kiri Haikal. Haikal yang sudah emosi sejak ketemu Adam. Lantas, membalas pukulan Adam, jadilah adu jotos di antara mereka.
Nia dan nisa berusaha memisahkan kedua pria yang sedang berkelahi. Nia menarik Haikal dan Nisa menarik Adam. Tapi, hasilnya nihil Haikal dan Adam sama sama emosi dan susah untuk di pisahkan.
" Biarkan saja mereka berkelahi " ucap Vina sambil meminum kopi panas.
Vina menuju dapur membuat kopi tadi mendengar namanya di sebut sebut. Vina merasa penasaran langsung berjalan dan di sajikan perkelahian antar dua pria.
Sungguh seru menonton dua pria saling adu jotos. Vina dulu mengikuti lomba bela diri jadi dirinya sudah biasa dengan tontonan ini.
Bug