Karena sifatnya yang terlalu mudah percaya kepada orang lain membuat Nadira terjebak di sebuah kamar dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenali. Saat sadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
Nadira Laura, atau yang kerap dipanggil Dira hidup sebatang kara di dunia ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia 10 tahun akibat kecelakaan. Hidupnya bertambah hancur saat ia dinyatakan positif hamil.
Keputusan yang ia ambil setelah kecelakaan itu adalah meninggalkan kota ini. Ia tidak berniat mencari lelaki yang telah merenggut kehormatannya. Nadira memutuskan mencari kebahagiaan dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama calon buah hatinya.
Akankah Nadira mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memang Dia
Suara dentuman musik terdengar sangat keras dari sebuah ruangan paling ujung di rumah besar dengan gaya american clasic itu. Sekumpulan pria dengan usia yang sudah tidak lagi muda tapi merasa masih muda mengisi ruangan tersebut.
Kali ini mereka berkumpul di rumah saja, tidak di luar ataupun di bar. Mereka mulai mengurangi minuman berbau alkohol itu, tapi sesekali mereka kadang meminumnya ketika sedang dilanda masalah. Tadi, saat Gabriel sedang lagi pagi dan bertemu dengan Nadira laki-laki itu ditelpon oleh Raihan untuk segera ke rumahnya tanpa menyebutkan alasannya. Sehingga, ia menumpang di rumah temannya.
"Eh, tadi gue sebelum kesini ketemu sama si Nadira di taman kota. Berdua doang sih sama anaknya, gue gak liat suaminya. Dan apa yang paling mengejutkan? Ternyata bener, anak yang fotonya dikirim sama Afnan di grup mirip sama lo han! Bahkan lebih mirip kalau diliat aslinya!" seru Gabriel yang baru saja selesai mandi.
"Ya kan, bener apa kata gue, dia emang mirip sama Raihan!" ujar Afnan yang ikut membenarkan ucapan temannya.
"Tapi kok bisa ya dia semirip itu? Yang bikin gue kaget juga, anak itu punya warna bola mata yang sama kayak lo, yang kata lo itu sangat langka," kata Gabriel sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Makanya sekarang kita disini buat itu, dan lo cukup dibutuhin disini. Daripada lo diem di rumah, ya mending disini bantu kita."
"Jadi gimana? Apa yang ngebuat lo nyuruh gue sampe buru-buru kesini?" tanya Gabriel lalu mendudukkan dirinya di sofa yang kosong.
Afnan mengecilkan sedikit volume dari suara musik yang keluar agar pembicaraan mereka lebih terdengar. "Dia mau minta bantuan dari lo," balas Afnan karena Raihan tak kunjung menjawab pertanyaan dari Gabriel.
"Hah?! Gak salah denger gue?! Seorang Raihan, CEO dari Adinata Grup minta bantuan sama gue? Mau apasih ayo gue jabanin," kata Gabriel dengan wajah tengilnya
"Biasa aja muka lo! Jijik gue liatnya!" seru Raihan ynag sedari tadi diam. "Lo bawa semua rekaman yang lo simpen kan nan?" lanjutnya
"Bawa kok, bentar." Afnan segera mengeluarkan laptop yang tadi ia bawa dan segera menyambungkan flashdisk nya.
Tujuan mereka berkumpul hari ini tidak lain karena kemauan Raihan yang ingin membuktikan rasa penasarannya. Walaupun kurang satu anggota, yaitu Gavin yang sedang melakukan tugasnya sebagai pilot terbang ke luar negeri jadi ia berhalangan hadir hari ini.
Setelah percakapan antara Raihan dan Afnan kemarin, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu dan membahasnya agar lebih cepat selesai. Namun, Raihan juga membutuhkan Gabriel yang menjadi bos dari perempuan yang akan ia selidiki itu.
"Eh, bentar bentar, ini rekaman apa lagi sih? Apa yang gue gak tau? Cepet ceritain dulu sekarang, kalau enggak gue gak mau bantuin lo!" ancam Gabriel yang sedari tadi hanya diam kebingungan dengan perbincangan kedua sahabatnya.
Raihan berdecak sebal karena temannya yang satu ini terlalu banyak bicara, jika ia tidak butuh bantuannya ia tidak akan membawanya kesini. "Gue cuman mau ngebuktiin kalau anak yang fotony dikirim sama Afnan ke grup itu anak gue atau bukan kan katanya dia mirip sama gue. Jadi, gue keinget kejadian beberapa tahun lalu dimana gue tidur sama cewek yang gak gue kenal. Kalau bener dia anak gue, berarti cewek yang tidur sama gue waktu itu ya asisten lo itu. Gue gak mau ini jadi bumerang buat gue kedepannya, jadi gue mau mastiin ini dulu," jelas Raihan dengan panjang lebar berharap temannya mengerti
"Kok lo bisa nyimpulin gitu sih? Kan bisa aja dulu waktu hamil dia ngidam pengen ketemu sama lo, jadinya anaknya mirip sama lo," balas Gabriel memberikan alasan. Karena jika itu benar, masa ia harus merelakan kembali wanita idamannya.
"Bukannya lo sendiri yang bilang kalau tadi lo gak liat suami dia? Bahkan kalian yang bilang anak itu mirip sama gue, jadi gue cuman mau pastiin aja," kata Raihan yang sudah cukup jengkel dengan temannya ini
"Kalau ternyata dia bener anak lo gimana?"
"Gue belum mikir sampai situ, gue harus tau dulu siapa cewek yang gue tidurin waktu itu. Kan sia-sia kalau gue tes DNA tapi ternyata bukan dia orangnya."
Gabriel mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Terserah lo deh, gue pusing. Ayo buruan Nan, biar cepet selesai," ujarnya.
"Ini rekaman yang kita minta dari bar dan hotel yang waktu itu lo kunjungin. Setelah beberapa kali gue liat dan juga teliti, waktu itu lo sama cewek itu datang di jam yang berbeda. Dan gue liat cewek itu juga kelihatan kebingungan waktu pertama kali masuk, soalnya dia diarahin sama pegawai disana. Lo bisa liat dulu rekamannya," ujar Afnan lalu mengarahkan layar laptopnya ke arah Raihan dan Gabriel yang berada di sisinya.
Video itu mulai berputar di awali dengan bagian Raihan yang terlihat baru saja keluar dari sebuah bar dengan sempoyongan. Lalu di menit selanjutnya terlihat seorang wanita yang diantarkan oleh seorang pegawai menuju kamar yang di pesan oleh Raihan, wanita itu terlihat menolak ketika memaksanya.
"Tunggu, dia kayak bawa berkas gak sih itu? Coba lo perbesar deh," ungkap Gabriel ketika sedang melihat rekamannya.
Setelah video itu cukup di perbesar rasionya, mereka dapat melihat jelas jika wanita tersebut membawa sebuah berkas seperti akan melamar pekerjaan.
"Gak mungkin kan dia mau ngelamar pekerjaan tapi malah pergi ke hotel?" ungkap Gabriel lagi.
"Itu emang gak mungkin banget Gab. Tapi, gue juga dapet satu rekaman lagi kalau dia ternyata udah kerja dan kita pernah ketemu sama dia setelah kejadian dia sama Raihan waktu itu."
"Tapi, selama gue liat rekaman ini dari tadi gue gak ngerasa cewek ini mirip sama Nadira, postur tubuhnya juga beda," tutur Gabriel kembali mengutarakan pendapatnya.
"Lo lupa kalau dia udah melahirkan? Bukannya kalau udah ngelahirin biasanya suka berubah. Oh iya, lo harus lihat dulu rekaman yang satu ini, mungkin lo bakal percaya," ujar Afnan sambil mengganti layar laptopnya menjadi video yang dimaksud.
Di video itu menampilkan Raihan, Afnan, Gabriel, dan Gavin sedang berada di sebuah cafe dan akan segera memesan makanan. Lalu setelah itu muncul seorang wanita membawa buku menu. Gabriel cukup terkejut jika wanita yang datang itu adalah Nadira.
"Anjir! Jadi gue pernah ketemu sama Nadira?! Kok gue bisa enggak ngeh sih!" seru Gabriel yang masih kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Kalian harus liat ini."
Afnan segera menyandingkan kedua video tadi yang memperlihatkan bagian samping dan belakang tubuh Nadira. Memang terlihat sama jika disandingkan seperti itu.
"Anjir! Apa lagi ini! Jadi bener cewek itu Nadira?! Gak seru amat!" gerutu Gabriel
"Kalau kita sandingin sama dia yang sekarang ya jelas beda. Jadi, apa yang mau lo lakuin sekarang ini?" tanya Afnan pada Raihan yang sepertinya sedang mencerna semua hal yang baru saja ia ketahui.
"Jangan bilang, lo udah tau dari dulu kalau cewek itu adalah Nadira?" Bukannya menjawab pertanyaan temannya, Raihan malah mengajukan pertanyaan juga.
Afnan menganggukkan kepalanya, yang berarti benar. "Gue emang udah ngeh waktu ketemu di cafe, tapi setelah itu dia hilang dan lo minta buat gak usah dicari lagi kan. Terus gue ketemu dia lagi waktu di rumah sakit, makanya gue foto anaknya," jelas laki-laki itu
"Kalau lo udah tau kenapa gak ngomong sama gue?! Kan gue udah terlanjur naruh hati sama dia, gue harus patah hati lagi abis ini."
Obrolan mereka berakhir dengan ocehan Gabriel yang terus merasa tidak terima dengan keadaan. Ia akan memasuki fase patah hati lagi sepertinya.