Noir Steel awalnya seorang pedagang kaya, sayangnya beberapa tahun berikutnya perusahaannya mengalami kebangkrutan hingga akhirnya hidup sebagai gelandangan, demi melunasi hutang ia akhirnya menjadi seorang petualang. Sayangnya kehidupan itu tidak lebih baik dari yang ia duga, dia harus menghadapi komandan raja iblis dan bertarung melawan musuh-musuh kuat dengan caranya sendiri yang terbilang licik dan pengecut.
Ini adalah cerita seorang petualang lemah yang harus bertahan hidup di dunia kejam dengan anggota party tidak berguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Fortis
Didesak dengan banyak orang seperti ini, anehnya aku tidak merasa khawatir, pertama anggota partyku meski terlihat lemah mereka bisa diandalkan di situasi tertentu dan satu hal lainnya karena aku memiliki sebuah pedang yang membantuku.
Melihat bagaimana aku berekspresi wajah Lui menegang.
Dia mungkin bertanya-tanya bagaimana aku masih bisa tenang dalam situasi buruk ini.
Tepat saat itu deretan kaca yang membungkus tempat ini hancur berserakan terhantam sebuah katana yang terbang tidak terkendala.
Para pria berotot mencari keberadaan pedang tersebut, sebelum mereka sadari mereka sudah diterbangkan oleh pedang itu sendiri membuat mereka semua terlempar pingsan begitu saja, katana tersebut terbang ke tanganku.
"Aku pikir kau tidak memiliki apapun untuk melindungimu."
"Kau akan membayarnya."
Lui mengambil cerutu dari belahan dadanya dan dari sana sebuah asap mengepul ke udara membentuk dirinya menjadi semacam ular raksasa yang langsung menyerang kami tanpa peringatan.
Aku menggendong seorang bernama Namira di pangkuanku sebelum melompat ke belakang.
Kaguya berkata.
"Sihir yang sangat kuat, jika kau terkena langsung, kau bisa mati Noir."
Aku bisa melihat itu, di mana tempat aku sebelumnya berdiri telah berubah menjadi sebuah lubang raksasa. Ular itu menyeruak dari bawah tanah untuk melanjutkan serangan berikutnya, aku yang menyadarinya segera bersalto ke belakang sebelum akhirnya ke luar dari bangunan untuk mencari ruang yang lebih kuat untuk bertarung.
Aku menurunkan Namira dan memintanya untuk segera bersembunyi. Tepat saat aku berbalik kembali ke arah bangunan sebelumnya, Lui telah berjalan dengan santai dengan cerutu di tangannya.
"Bagaimana bocah, tidak banyak orang yang pernah melihatku bertarung, kau harusnya merasa terhormat karenanya."
"Kau terlihat memandang tinggi dirimu sendiri."
"Ah benar juga, kau bukan dari kerajaan ini atau bahkan dari benua ini. Di sini ada sebuah sebutan untuk sepuluh dewan penyihir yang terkuat dari yang lainnya yang dinamakan sebagai Fortis, mereka adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi seluruh sihir agar tidak disalah gunakan, dan kebetulan aku adalah mantan anggota salah satunya."
"Aku tidak yakin bahwa mereka kuat."
"Apa?"
"Jika mereka ada, bukannya seharusnya mereka akan dengan mudah mengalahkan raja iblis."
Lui jelas kehilangan kata-katanya karena apa yang aku katakan.
Mereka mungkin lebih lemah dari sosok pahlawan dan tidak lebih kuat dari raja iblis, itu saja yang aku pikirkan.
"Noir, kau benar-benar pandai memprovokasi orang... jika dua diantara mereka bertarung bersama, kekuatan mereka bisa menyamai pahlawan."
Terlambat untuk menarik ucapanku, Lui sudah kembali mengirim ularnya untuk menyerangku, aku menarik pedangku sebelum melesat maju.
Melawan ular yang sepenuhnya tidak mungkin bisa diserang adalah buang-buang waktu karenanya aku akan fokus untuk menyerang Lui, paling tidak aku tahu bahwa cerutu yang digunakannya kemungkinan benda sihir yang mengendalikan ular tersebut.
Aku mengelak ke samping, tepat dihadapan Lui aku mengayunkan pedangku yang ia tahan dengan hanya sebuah cerutu.
"Pedangmu bagus, sayangnya digunakan orang yang lemah sepertimu."
"Aku tidak lemah."
Aku ditendang hingga mundur satu meter ke belakang, dengan gerakan cepat Lui melancarkan serangan berikutnya yang tidak bisa aku blokir, dia seperti seorang yang ahli bela diri, yang mengetahui bagaimana aku bergerak dan seperti apa teknik yang aku gunakan.
Singkatnya dia orang yang benar-benar berpengalaman.
Darah menyembur dari tubuhku, dengan kuat Lui menerkam wajahku dengan jari-jarinya yang panjang kemudian melemparkanku ke arah ular miliknya yang telah membuka mulutnya.
"Memangnya akan aku biarkan begitu saja, Kaguya."
"Benar-benar, pastikan untuk memberiku makanan berlimpah setelah ini selesai."
Bilah pedang Kaguya berubah menjadi warna merah darah, dalam hitungan detik ular tersebut telah terbelah jadi dua bagian sebelum menelanku selamanya.