Masalah ekonomi membuat sepasang suami istri terpaksa harus tinggal di salah satu rumah orang tua mereka setelah menikah. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua sang istri, Namira.
Namira memiliki adik perempuan yang masih remaja dan tengah mabuk asmara. Suatu hari, Dava suami Namira merasa tertarik dengan pesona adik iparnya.
Bagaimana kisah mereka?
Jangan lupa follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Muak
Dava membaringkan tubuhnya di sisi kosong sebelah istrinya. Dengan punggung yang menyandar di sandaran ranjang. Semenjak Sera resmi berpacaran dengan laki-laki itu, Sera jadi sering mengabaikan dirinya. Ia mulai kehilangan Sera yang dulu.
Sera jadi sering mengurung diri kamar untuk video call dengan pacarnya. Dan keluar kamar hanya sekedar menemui ibunya yang teriak memanggil namanya.
Beberapa kali Dava mencoba menahan Sera yang hendak kembali ke kamar usai menemui ibunya di kamar. Akan tetapi Sera malah mengabaikannya.
Tidak sampai di sana, Dava mencoba mencegah gadis itu agar menemani dirinya selama Namira belum pulang dari kerjanya. Dava menarik lengan Sera dan lekas mencium gadis itu, menyeretnya ke tembok untuk sekedar melepas hasrat yang ingin sekali di salurkan, akan tetapi Sera malah mendorongnya. Terpaksa, ia menjadikan foto tubuh polos Sera sebagai bahan untuk menyalurkan keinginannya dan berakhir di kamar mandi.
"Aaargghhh ..."
Namira sontak terkejut mendengar suami nya yang tiba-tiba saja berteriak marah.
"Mas, kamu kenapa?" tanya wanita itu yang baru saja akan tidur.
Dava sadar jika teriakan itu keluar di bawah kendali dirinya. Itu semua karena ia terlalu memikirkan Sera.
Dava menggeleng dan berusaha membuat Namira supaya tidak curiga padanya.
"Enggak, gak apa-apa." Dava memasang senyum tipis sebelum kemudian ia membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua mata supaya tidak di tanya-tanya oleh istrinya.
Namira menatap wajah suaminya dengan perasaan aneh. Akhir-akhir ini Dava memang aneh, bukan hanya perasaan dirinya saja. Namira semakin banyak menemukan perubahan suaminya. Sempat ingin cari tahu, tapi ia lebih memilih untuk fokus pada kesehatan ibu dan perkerjaannya. Dan sekarang, mungkin saatnya ia harus cari penyebab perubahan dan keanehan suaminya. Karena ia yakin sekali, ada sesuatu yang suaminya sembunyikan darinya.
***
Seperti hari sabtu sebelumnya, Dava akan pulang lebih cepat dari hari biasanya. Dan ia jadi memiliki banyak waktu dengan Sera.
Setelah beberapa kali mencoba membujuk Sera agar tetap melanjutkan hubungan dengannya yang terus saja gagal, mungkin di sebabkan karena Sera sedang cinta-cintanya pada pacarnya, kini Dava berusaha dengan cara lain. Ia pulang dengan membawa beberapa jenis jajanan street food kesukaan gadis itu.
Tok tok tok ..
Dava mengetuk pintu kamar Sera. Akan tetapi gadis itu tidak membukanya. Dava mencoba mengetuk nya lagi berharap Sera membukakan pintunya.
Dan untuk ketukan yang kesekian kali, Sera pun muncul dari balik pintu.
"Ada apa, kak?" seru gadis itu dengan malasnya.
Dava mengangkat kantong plastik berisi jajanan street tersebut ke depan Sera.
"Aku bawakan jajanan buat kamu."
Dava berharap dengan itu mood Sera untuk sekedar duduk berdua dengannya kembali membaik, akan tetapi perkiraannya salah.
"Oh, ya udah taro aja dulu di meja depan."
Senyum di bibir Dava perlahan memudar, ia tidak menyangka jika Sera akan se cuek ini padanya hanya karena dia sudah punya pacar baru.
Sera merasa jika hubungannya dengan sang kakak ipar sudah seharusnya berhenti sampai di sana. Sera tidak pernah menganggap jika ia memiliki hubungan lebih atau mendeklarasikan diri sebagai pacar kakak iparnya. Karena bagi dirinya, kakak iparnya hanyalah sosok yang memberi warna dimana harinya terasa kosong dan hampa. Sekarang, ia sudah memiliki sosok pengganti Riki yang dimana ia mengakui jika laki-laki itu pacarnya.
Dava menjatuhkan kantong plastik tersebut dan menahan pintu kamar Sera yang hendak menutupnya kembali. Ia dorong dan buka pintu tersebut hingga bisa ikut masuk ke dalam kamar gadis itu.
"Kak Dava apa sih?" Sera sudah tampak kesal dan muak dengan semua ini.
"Aku gak suka sikap kamu yang cuek kayak sekarang semenjak kamu punya pacar lagi, Sera. Aku mau kamu yang kayak dulu."
"Udah lah, kak. Lagian aku gak mau terus menerus nyakitin kak Namira. Aku juga berhak atas hidup aku, aku gak bisa kayak gini terus, kak. Aku juga ingin punya pacar kayak temen-temen aku. Apa salahnya sih?"
"Tapi aku rindu kamu yang dulu, sayang. Ah ayolah, kita masih bisa seperti hari-hari kemarin kan? Jujur, aku rindu kamu sayang."
Dava menarik tengkuk Sera kemudian dia mencium bibir wanita itu, akan tetapi Sera berusaha melepaskan tautan bibirnya.
_Bersambung_