Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 Menjelang Persalinan
“Aduh, Mas. Mules banget ini,” rintih Lana sambil tubuhnya menggeliat di ranjang.
Saat itu sedang dini hari sekitar jam dua pagi. Sudah seminggu belakangan ini memang Lana kerap kali mengalami kontraksi. Namun, ternyata setelah bergegas ke bidan, rupanya masih hanya kontraksi palsu.
Mendengar rintihan sang istri, Galih gegas terbangun dan menghampiri Lana. Ia tegopoh menanyai bagaimana dan apa yang harus dilakukannya. Tampak air juga mulai merembes di daster hamil yang dikenakan oleh sang istri.
“Sayang, kok ada cairan? Jangan-jangan ketuban kamu udah pecah itu, ya?” tanya Galih panik sementara Lana masih bergulat dengan sakitnya kontraksi yang tak tertahankan, membuatnya tak bisa berkata apa pun untuk menjawab tanya sang suami.
“Bu, ibu!” pekik Galih sambil berlari ke luar kamarnya. Ia mencari kunci mobil untuk segera membawa Lana ke rumah bidan persalinan terdekat.
“Ada apa, Galih? Kamu kok teriak-teriak gitu?” Bu Tutik muncul dari dalam kamarnya dengan rambut masih berantakan.
“Lana sepertinya mau lahiran, Bu. Bantuin Galih bawa tas perlengkapan di kamar, ya. Galih akan gendong Lana ke mobil.” Galih berkata dengan panik.
Raut cemas semakin terukir di wajah pria itu kala ia kembali menghampiri Lana dan istrinya itu semakin menggeliat tak tentu arah dan keringat sudah membanjiri seluruh wajah dan tubuhnya. Bahkan Galih langsung merasakan basah di tangannya yang mengangkat tubuh sang istri. Terlebih saat dilihatnya cairan yang berlinangan di bawah kaki istrinya semakin banyak saja.
“Ya ampun, bukannya HPL nya masih kurang dua minggu lagi, ya?” Bu Tutik malah ribut menghitung tanggal padahal bidan pun sudah sering bilang kalau HPL itu bukanlah tanggal fix, bisa saja kenyataannya nanti maju atau mundur.
Galih tak menjawab karena ia sedang sibuk menelepon Bu Bidan untuk mengabarkan kedatangannya sebentar lagi ke klinik beliau.
“Gimana? Jangan berangkat dulu, nanti malah disuruh pulang lagi sama bidan.Kan ini masih jauh HPLnya. Kayaknya sih itu istri kamu cuma kurang kuat nahan sakit aja itu. Masih kontraksi palsu itu,” saran Bu Tutik ragu.
Mendengar ucapan ibu mertuanya itu, Lana yang kesakitan dan tak berdaya sangat terajam hatinya.
"Sakit mulesnya sungguh tak terkira begini, tapi ibu malah seperti itu ngomongnya. Tidak kuat nahan sakit, katanya? Astaghfirullah, Ibu...." Batin Lana.
Ia ingin berteriak memanggil ibunya sendiri rasanya.
Sambil kesakitan, Lana merutuki kenapa Galih tak menuruti keinginannya yang ingin menanti HPLnya di rumahnya sendiri saja. Setidaknya ibunya akan siap sedia membantunya kala sakit kontraksi mendera. Bukan seperti Bu Tutik yang meskipun dia sudah merintih tak keruan pun, palingan hanya akan diminta tenang dan bersabar menunggu Galih pulang. Ish.
“Nggak, Bu. Ini gawat karena cairannya juga udah merembes banyak. Bidan barusan juga udah nyuruh langsung datang ke sana, kok. Tolong taruh tasnya di mobil, ya, Bu!” pinta Galih lagi. Ia sendiri bergegas membopong istrinya karena Lana merasa tak akan kuat berjalan lagi.
“Halah, manjanya! Dipapah aja kan bisa itu?” komentar Bu Tutik pedas. Padahal Galih saja tidak keberatan. Kenapa pula ibunya yang banyak komentar.
Sepanjang jalan Galih tak berhenti menguatkan Lana dengan dengungan doa dan istighfar. Ia meninggalkan Bu Tutik karena katanya beliau mau siap-siap dulu, ganti baju dan sebagainya. Biarlah nanti beliau berangkat sendiri kalau mau menemani kelahiran cucunya. Toh, rumah bidan tidak jauh dari rumah mereka.
Jalanan masih gelap dan ketika sampai di rumah Bu Bidan, beliau sudah siap dengan segala peralatannya di ruang bersalin. Rupanya di rsana juga sudah ada seorang pasien yang menunggu persalinan. Sang bidan sudah ditemani oleh satu orang asisten perawat.
Mereka langsung menangani Lana karena dia sudah mengalami pecah ketuban.
“Wah, sudah banyak yang keluar ini cairannya, Mbak. Kita periksa dulu, ya,” ucap Bu Bidan lalu sibuk di bagian bawah tubuh Lana, di daerah jalan lahir.
“Udah pembukaan dua. Ayo, Mbak terus atur napas. Ambil napas dalam-dalam lalu keluarkan secara teratur, ya. Nanti kalau datang kontraksi lagi, silakan pegangan yang kuat aja, gak usah mengejan dulu sebelum saya perintahkan, ya.” Bu Bidan berpesan.
Ia kemudian menghampiri pasien yang seorang lagi di ruangan sebelah. Tampaknya pasien yang sebelah belum terlihat tanda-tanda pembukaan tapi dia tidak mau pulang karena takut kalau di rumah kesakitan lagi.
“Mau makan dulu, Lana?” tawar Galih yang membawa roti di tas perlengkapan mereka. Memang dipersiapkan roti dan minuman juga karena konon katanya menjelang persalinan sang ibu harus kuat tenaga dan tidak sedang lapar.
Lana menggeleng. Mana bisa ia makan ketika rasa sakit begitu merajamnya seperti itu. Kesakitan yang abru pertama kali dirasainya seumur hidup itu sungguh luar biasa. Setiap kali datang masa kontraksi, rasanya seluruh sel-sel di dalam tubuhnya dipelintir hingga rasanya sakit sungguh tak terperi.
Galih menemani istrinya, duduk di tepi ranjang dan menjadi sasaran tangan Lana yang gemas menahan sakit hingga tanpa sadar memelintir dan mencakar habis lengannya.
Pria itu bahkan sampai lupa merasakan sakit akibat cakaran Lana karena sangat tak tega melihat rintihan istrinya serta geliatan tubuhnya yang tampak begitu sangat tersiksa. Dalam hati ia terus bersholawat untuk meminta keselamatan sang istri dan juga bayi mereka.
Tak berapa lama, Bu Asih yang tadi ditelepon oleh Galih pun sudah sampai bersama ayah Lana. Bu Asih menyebelahi Lana, mengelus puncak kepala anaknya, mendengungkan shalawat serta rapalan doa sebisanya. Galih tak beranjak dari sana. Ia tak mau meninggalkan istrinya karena meskipun tak tega menyaksikan derita sang istri, ia akan lebih tak tega lagi kalau memilih menunggu di luardan tidak tahu bagaimana kondisi belahan jiwanya itu.
“Ibu kamu mana, Galih?”
“Masih di rumah, Bu. Tadi kami tinggal karena belum siap-siap, sedangkan saya buru-buru, kasihan Lana,” jawab Galih.
“Ya Allah kasihannya. Kalau gitu biar dijemput sama Bapak, ya? Kamu tolong kabarin,” usul beliau seraya keluar untuk meminta tolong ayah Lana.
“Bu, Bapak mau ke situ nyusul ibu, ya? Udah siap kan?” tanya Galih saat ia menelepon ibunya.
“Kamu aja yang nyusul lah, Galih. Ibu sungkan sama besan,” jawab Bu Tutik di seberang.
“Aduh, nggak bisa, Bu. Itu Bapak udah berangkat ke sana.Galih tutup dulu, ya, Bu. Lana udah tinggal dikit lagi ini udah pembukaan delapan.” Galih mengabarkan kemudian menutup teleponnya.
Dan benar saja, ketika Pak Ilham baru datang bersama Bu Tutik, Lana sedang berteriak yang paling keras dari sebelumnya, lantas disusul oleh suara tangisan bayi yang menjerit kuat. Hal mana langsung membuat lega suasana tegang yang sebelumnya menyelimuti semua orang dalam ruangan tersebut.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻