Tepat di usia pernikahan yang ke lima, diceraikan oleh suami yang selama ini dicintainya hanya karena tidak bisa hamil. Namun dia tiba-tiba hamil setelah perceraian itu datang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya Atau Tidak
"Bahkan neraka tidak akan menerima orang seperti dirimu." Ucap ku tanpa basa-basi.
Aku berharap kata-kata yang aku ucapkan itu akan meninggalkan rasa sakit di hatinya yang dingin dan begitu gelap itu.
"Iblis bahkan tidak akan mau mempunyai lawan seperti dirimu." Lanjut ku dengan tatapan mata ku yang tidak sedikitpun beralih dari nya.
"Jika kau sangat membenci aku, bunuh saja aku Putri. Ambil hidupku sebagai bayaran atas dosa yang aku lakukan padamu." Balas Mas Al bahkan tanpa berkedip sedikitpun.
Mungkin aku benar, Mas Al sudah kehilangan akalnya. Aku seharusnya tidak heran akan hal itu, karena kegilaan itu semua memang berasal dari semua keluarganya yang juga gila.
"Bahkan jika aku membunuhmu secara terus menerus dan berulang-ulang, lagi dan lagi, itu semua tidak akan merubah apapun. Itu semua tidak akan bisa membuat semuanya menjadi baik-baik saja. Nyawa puteri ku, Vina, tidak akan pernah bisa kembali lagi." Ucap ku penuh rasa sakit dengan rahang ku yang terasa mengeras dan amarah yang mendidih dari dalam diriku.
Aku melakukan yang terbaik untuk menahan rasa sakit yang ada dalam diriku. Tapi itu semua sangat sulit untuk aku sembunyikan. Rasa sakit yang aku rasakan itu semakin besar terutama setelah aku menyebut nama Vina yang telah meninggal. Emosi ku memenuhi mataku, yang membuat air mataku muncul dan perlahan membuat tatapan ku memudar.
Mas Al menggenggam tanganku dengan begitu erat dan mengarahkan senjata api itu mengarah ke arah keningnya. Ketakutan memenuhi hatiku. Aku hampir berhenti bernapas saat dia menekan senjata itu ke arah keningnya.
Aku begitu ketakutan. Tapi wajahku tidak memberikan tanda-tanda apapun dengan pikiranku yang berlarian di dalam kepalaku. Aku tahu senjata api itu sudah berisi peluru, dan memikirkan hal itu malah semakin menambahkan ketakutan ku saja.
Bagaimana jika aku tidak sengaja menarik pelatuk nya? Hal itu malah akan membuatku menjadi seorang pembunuh.
"Maafkan aku." Ucap Mas Al dengan suara yang terdengar begitu lembut saat mengucap kata maaf padaku.
Syukurlah, Mas Al akhirnya menurunkan senjata api itu dari keningnya dan mengamankannya di dalam laci mobilnya. Dia pasti merasakan ketakutan yang ada di dalam diriku dengan melihat tatapan mata ku yang membulat sempurna.
Aku menghela napas yang aku sendiri tidak tahu bahwa sejak tadi aku menahan nya. Rasa lega keluar dari dalam diriku dan aku merasa wajahku yang sejak tadi pucat sekarang sudah mulai berwarna lagi.
"Permintaan maaf mu tidak akan merubah apapun, semuanya sudah terlambat untuk hal itu." Ucap ku dengan kejam yang membuat dirinya tampak begitu terluka dan hal itu terlihat sangat jelas di matanya.
Aku terkejut karena ternyata dia juga bisa merasakan rasa sakit. Aku pikir bahwa dia tetap menjadi orang yang dingin, tidak peduli terhadap apapun dan tidak mempunyai perasaan apapun. Tapi sudah terlambat baginya untuk menyesal saat ini.
"Aku tahu kau tidak akan pernah memaafkan aku. Tapi aku harap suatu hari nanti kau bisa melakukan hal itu." Ucap Mas Al.
"Kita lihat saja nanti. Jika waktu bisa menyembuhkan luka di dalam hatiku. Hanya saja, tinggalkanlah aku dari sekarang. Mungkin seiring berjalannya waktu, aku akan belajar untuk bisa memaafkan mu." Balas ku.
Wajah Mas Al mengeras, perasaan yang sejak tadi ada di wajahnya memudar dan hilang begitu saja. Dia kembali lagi menjadi orang dengan wajah yang datar dengan ekspresi kosong seperti sebuah kertas kosong seolah tidak pernah terjadi apapun hari ini. Dan dia tidak mengatakan apapun. Dia mengalihkan perhatiannya dan fokus mengendarai mobilnya. Setelah itu, dia tidak pernah melemparkan tatapannya ke arahku lagi.
Sangat jelas bahwa semua siksaan ini menjadi membingungkan dengan adanya Mas Al. Dia sekarang sudah menjadi mantan suamiku, dan aku terus mengingatkan diriku sendiri akan hal itu. Semua perasaan yang aku punya untuknya, sudah tidak berarti apapun lagi. Sekarang aku harus menghapus semua perasaan itu dan melupakan dia selamanya.
Dia pastinya akan melupakan aku juga. Aku mencoba tersenyum, berusaha untuk tidak menghiraukan rasa sakit yang ada di dalam diriku. Setelah Mas Al menikahi Angela nanti, seluruh dunianya akan berfokus pada wanita itu dan juga anaknya. Semua pikirannya tentang diriku akan terhapus begitu saja dalam pikirannya.
Aku menyandarkan diri ku di kursi dan mengalihkan perhatian ku keluar mobil dan melihat pemandangan yang ada di luar mobil melalui jendela. Beberapa saat aku menemukan diriku sendiri merasa terhibur dengan pemandangan yang sebenarnya sangat membosankan itu. Jika aku tidak mencoba untuk mengalihkan pandanganku, kepada mantan suamiku saat ini semuanya pasti terasa begitu aneh.
Lima tahun, itulah waktu lamanya pernikahan kami. Kehidupan saat itu dimulai dengan ucapannya yang menerima semua kekurangan dan kelebihan yang aku punya dan berjanji di hadapan seluruh keluarga dan semua orang. Dan sekarang semua itu berakhir setelah aku menandatangani tiket ku untuk kebebasan ku.
Mobil itu akhirnya berhenti. Aku benar-benar tidak menyadari bahwa kami sudah tiba di depan rumah tempat aku tinggal saat ini. Eksterior dari bangunan yang sudah tampak tua itu menyapa mataku saat aku melihat kearah bangunan itu.
Aku bersiap untuk pergi dengan jemari ku yang meraih kearah pintu dan mencoba untuk membukanya. Tapi Mas Al dengan cepat memegang jemari ku. Aku tersentak saat sentuhan nya itu membuat kulitku terasa terbakar.
"Aku tahu kita tidak akan pernah melihat satu sama lain lagi setelah ini." Ucap Mas Al yang mulai bicara dengan suaranya yang terdengar begitu lembut.
Aku tidak bisa melihat reaksinya saat ini, karena aku sedikitpun tidak berbalik untuk menatap ke arahnya.
"Seperti yang sudah aku janjikan kepadamu, aku tidak akan pernah mengganggu dirimu lagi. Tolong jaga dirimu dengan baik Putri. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat padamu selama ini. Dan aku sudah seharusnya akan membayar semua itu selamanya."
Mas Al berhenti bicara, seolah apa yang ingin dia katakan selanjutnya sangat menyakitkan baginya. Aku mendengar dia mengambil nafas dengan dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Malam saat kau lari dari rumah kita malam itu, malam saat Vina meninggal dalam kecelakaan mobil waktu itu, aku bukanlah pria yang kau lihat tidur dengan wanita lain. Aku tahu kau tidak akan pernah percaya padaku, tapi kau harus mengetahui hal itu sekarang." Ucap Mas Al seraya melonggarkan genggamannya pada tanganku, jemariku sudah terbebas sekarang.
Aku mendorong pintu dan melangkah keluar dari dalam mobil. Mesin mobil kembali terdengar dihidupkan dan kemudian melaju dengan begitu cepat.
Mobil itu sudah pergi menjauh setelah beberapa saat. Namun aku masih berdiri disini dengan ekspresi yang seperti kertas kosong. Perasaanku sudah mati rasa dari dalam.
Aku menutup mataku perlahan. Aku tidak tahu apakah aku harus mempercayai Mas Al atau tidak. Aku tidak tahu apa yang harus aku percayai lagi.
Bersambung.....