Ziel Alexander, pewaris satu-satunya Keluarga Alexander, terpaksa menikah dengan seorang wanita akibat perjodohan yang disiapkan oleh sang kakek, Romano Alexander.
Athena Beatrice Greene, wanita cantik yang dijodohkan dengan Ziel. Ia menerima perjodohan itu untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Pertemuan pertama antara Ziel dan Athena, membuat Athena tak ragu menerima perjodohan itu juga. Namun, ia tak menyangka sikap dan sifat Ziel langsung berubah setelah pernikahan mereka.
Penderitaan bertubi-tubi mulai dirasakan oleh Athena. Namun rasa yang telah timbul membuat ia menerima semuanya. Hingga suatu ketika ia menemukan dan mengetahui sesuatu yang membuatnya jatuh dan sakit tak terkira.
Ia pun bertekad untuk membuat Ziel menyesal dan merasakan sakit seperti yang ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Setelah menemani Dad Charles dan keluarganya di rumah sakit, Athena pun berjalan keluar. Ia ingin sedikit menikmati secangkir kopi sebelum malam ini menemani Mom Julia di rumah sakit.
Athena berjalan dengan langkap tegap sambil menekan layar ponselnya. Ia ingin memesan taksi online, tapi pergelangan tangannya tiba-tiba diraih oleh seseorang yang langsung membawa Athena ke dalam pelukannya.
“Aku merindukanmu,” bisiknya di telinga Athena. Tubuh Athena merasakan getaran yang berbeda dan membuatnya menengadah.
“Ziel,” kata Athena.
“Aku kira kamu melupakanku,” Ziel tersenyum. Pria itu terlihat sedikit berbeda karena kini bulu-bulu halus mulai menghiasi sekitar mulut, dagu, dan pipinya.
Sikap Ziel berbeda. Pria itu benar-benar terlihat menggemaskan. Senyumnya yang terukir di wajah, sangat candu. Athena tak merasa bosan melihatnya, namun ia harus menahan semua itu. Pria itu bukan lagi suaminya, tak memiliki hubungan apapun dengannya. Bahkan pria itu akan segera menikah lagi.
“Bagaimana aku bisa melupakanmu? Kamu mengisi salah satu kenangan di dalam hidupku,” jawab Athena.
“An, kamu masih mengingat kenangan buruk itu? Apa kamu tak akan pernah melupakannya? Bukankah kamu telah memaafkanku?”
“Aku telah memaafkanmu, tapi bukan berarti aku melupakan apa yang telah terjadi. Pulanglah, aku tak mau dianggap sebagai pelakor,” kata Athena pada akhirnya.
“Pelakor? Kamu tak akan dianggap seperti itu. Aku masih single dan aku hanya menunggumu, An.”
“Bukankah kamu akan segera menikah? Pulanglah. Aku harus kembali ke dalam,” Athena memgambil keputusan untuk tak jadi membeli kopi dan akan kembali ke ruangan di mana Dad Charles berada.
Ziel terdiam dan menatap kepergian Athena. Ia tak menyangka kabar pernikahannya akan sampai ke telinga Athena dengan begitu cepat.
“An!” Saat tersadar, Ziel langsung kembali mengejar Athena. Ia tak mau lagi kehilangan wanita yang kini telah memenuhi hatinya itu, bahkan membuatnya tak bisa konsentrasi.
Ziel meraih kembali pergelangan tangan Athena dan menariknya hingga wanita itu kembali jatuh dalam pelukannya.
“Kamu tak mempercayaiku? Kamu tak yakin aku akan menunggumu? Itu semua hanya keinginan Grandpa dan aku tak akan pernah mengikutinya,” kata Ziel di telinga Athena.
“Aku tak tahu, Ziel. Aku juga tak tahu di mana hatiku berada saat ini.”
“An … izinkan aku memulainya lagi dari awal.”
“Aku harus kembali ke ruangan Daddy. Pulanglah,” kata Athena.
Ziel melepaskan Athena. Ia akan membuktikan pada wanita itu kalau ia serius. Ia tak mau Athena bersama dengan pria lain. Wanita itu hanya miliknya.
**
“Van, siapkan konferensi pers untuk besok pagi,” perintah Ziel.
“Konferensi pers? Untuk apa?” tanya Evan yang merasa tak ada produk baru yang akan mereka launching dalam waktu dekat ini.
“Lakukan saja,” kata Ziel.
Mau tidak mau, Evan menjalankan semua yang diperintahkan oleh Ziel. Setidaknya pria itu tak menyuruhnya untuk pergi menggantikan dirinya untuk bertemu dengan Caroline.
Ketika mengingat Caroline, Evan jadi ingat kalau ia belum mendapat kabar apapun dari wanita itu. Bukankah wanita itu berniat menjual mobilnya? Apa dia berubah pikiran?
“Ah, untuk apa juga aku memikirkannya,” gumam Evan yang melanjutkan pekerjaannya untuk menyiapkan rencana konferensi pers esok hari.
Sementara itu, Caroline tengah mempersiapkan rencanaya untuk kabur dari rumah. Ia harus benar-benar mempersiapkan segala surat-surat penting. Oleh karena itulah ia belum menghubungi Evan karena ia masih memerlukan mobilnya untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain.
“Olin, apa yang sedang kamu lakukan?!” Mata Mom Christine membulat saat melihat putrinya sedang merapikan beberapa surat-surat dan memasukkannya ke dalam koper.
Mom Christine langsung menarik koper itu hingga semua isinya terburai ke luar. Hal itu tentu saja membuat Caroline berteriak.
“Mom! Apa yang Mom lakukan?”
“Justru Mom yang harus bertanya, apa yang kamu lakukan?!” tanya Mom Christine.
“Aku hanya sedang beres-beres saja,” kata Caroline.
Namun, Mom Christine yang tahu apa yang ada dalam pikiran Caroline, langsung menarik tangan putrinya itu dan membawanya keluar dari kamar.
“Mom, lepaskan aku!” teriak Caroline.
Dad Ray yang melihat dari luar apa yang terjadi, langsung bangkit dan mendekat.
“Ada apa ini?” tanya Dad Ray.
“Cepat bantu aku, ia mau kabur!”
Dad Ray langsung mengambil alih Caroline hingga putrinya itu tak bisa lagi melawan atau melepaskan diri. Mereka membawa Caroline menuju lantai paling atas dan memasukkannya ke dalam sebuah gudang, kemudian menguncinya.
“Mom! Dad! Bukakan pintunya!” teriak Caroline sambil terus memukul pintu dengan kedua tangannya yang mengepal.
Dad Ray dan Mom Christine yang berada di depan pintu, kini menyunggingkan senyumnya. Mereka kini berencana pergi ke kediaman Keluarga Alexander agar Tuan Romano segera mempercepat pernikahan Ziel dan Caroline.
🌹🌹🌹
👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍