Kiev Bhagaskara adalah selebriti lebih atas dari papan atas. Idola remaja itu telah bermetomorfosa sebagai pria idaman setiap wanita. Bukan hanya sukses menjadi musisi serta aktor profesional, pria itu berhasil merajai dunia bisnis dan disebut-sebut sebagai; The Celebrity CEO.
Sementara itu Rembulan Kivianisya mungkin merupakan supir truk paling menawan seantero negeri. Lain hal dengan Kiev yang bertemankan panggung megah, kilat kamera dan sorak penggemar yang bertalu, Kivia bersahabat dengan truk pengangkut hasil tambang, walkie talkie serta debu.
Sepuluh tahun yang lalu takdir memperkenalkan keduanya dalam sebuah pertemuan tak terduga. Dan di sanalah cerita mereka bermula.
----
ternyata kau bukan sekadar bayang yang singgah
kau menetap,
di sini
Inkina Oktari
The Celebrity CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inkina oktari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susur Sungai
Usai berpose di depan patung bekantan, Kiev dan Kivia cs melangkah lagi untuk menyambangi Pasar Terapung. Ada banyak sampan atau masyarakat Banjar sering menyebutnya dengan jukung. Jukung-jukung itu bergerak mengikuti irama air. Rata-rata penjual di sana adalah ibu-ibu. Kalau kata Pi'i acil-acil. Acil-acil itu mengenakan pakaian khas dengan topi lebar yang disebut dengan tanggui. Acil-acil pedagang di sana menjual aneka buah dari yang wadai (kue) khas Banjar, cemilan, sayur mayur, buah-buahan, ikan, sampai bumbu dapur.
Di Banjarmasin ada dua pasar terapung. Pasar Terapung di Lok Baintan dan di tempat yang mereka kunjungi yaitu Pasar Terapung Siring Tendean.
"Biasanya orang-orang ke Siring olahraga pagi-pagi. Terus lanjut makan atau belanja di Pasar Terapung," jelas Kivia yang berjalan di sisi Kiev. Sedangkan di depan mereka, Pi'i berjala sambil menggandeng lengan Pakde Bambang dan Mas Paijo di sisi kanan dan kirinya. Tingkahnya sudah seperti anak kecil yang sedang jalan-jalan bersama kedua orang tuanya.
Mereka lalu singgah di depan salah satu perahu. Memilih buah-buahan segar. Mereka lalu beranjak untuk menaiki perahu dengan mesin yang disebut dengan kelotok. Setelah membayar tiket, Kiev melangkah lebih dulu menaiki kelotok dan mengulurkan tangan membantu Kivia naik karena kelotok yang terus bergerak terombang-ambing di atas air. Kiev da Kivia mengenakan pelampung keselamatan lalu mengikuti Pi'i naik untuk duduk di atas atap kelotok.
Kiev memperbaiki posisi duduk bersilanya. Lalu kembali mengotak-atik kamera. Sedangkan Kivia dan Pi'i sibuk makan buah karamunting.
"Sekarang kita bakalan susur sungai. Dulu warga Banjarmasin itu mayoritas hidupnya di atas air. Jadi sekarang masih banyak orang-orang yang tinggal di tepian sungai. Transportasi dulu juga nggak lewat darat. Tapi lewat jalur sungai."
Kiev manggut-manggut mendengar penjelasan Kivia. "Oh, makanya Banjarmasin disebut kota Seribu Sungai ya?"
"Betul betul betul, Mas Bro Kiev," sahut Pi'i menimpali.
Kiev takjub ketika klotok berhenti di tengah-tengah sungai. Mendekat ke arah klotok lain dengan banner yang terbentang dengan tulisan "Rumah Makan Terapung". Selain klotok Kiev dan Kivia serta teman-teman, kelotok Rumah Makan Terapung juga dikelilingi oleh klotok-klotok lain yang sudah tiba lebih dulu. Penjual di rumah makan terapung tampak sibuk melayani pesanan.
"Mau pesan apa? Ada sop, soto, rawon sama gado-gado. Ada sate juga," tawar Kivia.
"Hm, soto sama sate," jawab Kiev.
"Ikam pang apa, Pi'i?" tanya Kivia pada Pi'i yang sibuk dengan ponselnya.
"Pun?" Pi'i tergeragap. "Gado-gado."
"Sate?"
Pi'i menggeleng. "Kada, Ya. Buhan pian ja." (Enggak, Ya. Kalian aja)
"Mas Paijo sama Pakde pesen apa?" tanya Kivia sedikit melongok ke bawah, ke arah Pakde Bambang dan Mas Paijo yang duduk di dekat jendela.
"Rawan sama soto. Aku pakai sate. Minumnya teh hangat dua," ujar Mas Paijo.
Kivia lalu menoleh pada Kiev. "Sate kita digabung aja yah biar nggak banyak makai piring."
Kiev mengangguk. "Bisa."
Kivia lalu menulis semua pesanan mereka di kertas yang telah disediakan. Lalu menyerahkannya pada pelayan rumah makan terapung. Sebagian penumpang ada yang makan di dalam kelotok Rumah Makan Terapung, karena penuh yang lain menyantap makanan mereka di kelotok masing-masing.
Kivia dengan hati-hati meletakkan gelas gerisi air putih hangat pesanan Kiev. Setelah semua pesanan mereka datang, Kiev dan Kivia mulai sarapan bersama dengan penumpang kelotok-kelotok lain sembari memandang matahari yang mulai menampakkan diri. Suasana sejuk dan tubuh yang bergerak karena gelombang kecil yang disebabkan oleh kapal lain yang lewat.
"Alhamdulillah, kenyang...." ujar Pi'i sambil mengusap perutnya.
Kiev tertawa. Lalu pandangannya teralih pada sudut bibir Kivia.
Kivia membeku saat Kiev mengambilkan butir nasi di sudut bibirnya. "Ada nasi."
"Oh, hm iya. Makasih, Kiev," ujar Kivia canggung.
----
Masih canggung-canggung berhadiah nih yeeee xixixxi
Jangan lupa vote dan komen yaaaah
Find me on ig: inkinaoktari
romance.thriler.entertainer
ada unsur budaya kalimantan
pokoknya komplit
alurnya bagus
makasih