Menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Tentu bukanlah hal yang di inginkan oleh wanita baik-baik, bukan?
Tapi bagaimana? Jika semua itu sudah bagian dari takdir seseorang? Seperti takdir dari gadis cantik yang bernama Farida Pasha (23 tahun) pelayan di salah satu hotel bintang lima di kota besar itu.
Karena tragedi satu malam yang merenggut kehormatan nya, membuat ia terpaksa menikah dengan Aditia Putra Aditama (32 tahun) pria yang sudah memiliki istri.
Akankah Farida bahagia menjadi istri simpanan? Atau ia akan berakhir menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KARINA DI USIR
Saat ini, Karina terus mengejar papa nya yang sudah memasuki rumah. Wanita itu terus mengiba dan meminta maaf.
"Pa, tolong maafkan Arin. Ampuni Arin," ucap Karina sembari mengejar langkah Papa Yan. "Arin ngaku salah, pa. Arin emang salah karena masih berhubungan sama Mas Bara, itu semua Arin lakukan karena Arin masih mencinta Mas Bara. Tapi sekarang, Arin sadar kalau Arin sudah mencintai Mas Adi. Tolong maafkan Arin." setelah berhasil mengejar langkah Papa Yan, Karina duduk bersimpuh di kaki papa nya itu.
Papa Yan yang sudah terlanjur kecewa dan juga malu, sama sekali tidak menghiraukan putrinya itu. Ia malah melepaskan paksa tangan putrinya dan mendorong tubuh itu.
Pria separuh baya itu terus melanjutkan langkahnya menuju lantai atas rumah berlantai dua miliknya itu.
Melihat papa nua yang begitu tidak perduli, Karina semakin menangis histeris. Wanita gila itu benar-benar tidak menyangka bahwa semua nya akan berakhir seperti itu.
"Ini semua terjadi karena Adam dan perempuan sial itu. Aku akan balas semua ini!" geram Karina, wanita itu masih saja tidak sadar akan segala kesalahan nya. Ia menganggap bahwa kemalangan yang ia dapatkan adalah ulah Adam dan Farida, padahal semua kemalangan itu adalah hasil perbuatannya sendiri.
Tak lama kemudian, Papa Yan turun kembali dari lantai atas. Terlihat, pria separuh baya itu menyeret koper kalian putrinya.
"Papa.. Mau di apakan semua barang Arin?" Karina bangkit dari lantai bawah anak tangga itu. Ia mencoba untuk meraih tangan papa nya.
"Sekarang kamu ikut papa!" Papa Yan malah menarik pergelangan tangan Karina dan menyeret putrinya itu keluar dari rumah.
"Papa, Arin gak mau," kata Karina.
Bruk! Papa Yan melempar koper pakaian milik Karina.
"Sekarang juga, kamu tinggalkan rumah ini!" usir Papa Yan. "Papa gak sudi anggap kamu sebagsiy putri papa lagi, kelakuan kamu sudah seperti JA LANG yang ada di luaran sana. Tidak punya etika, tega sekali kamu menyakiti laki-laki baik dan bertanggung jawab seperti Aditia. Tidak punya malu dan tidak punya pikiran!"
"Pa, tolong jangan usir Arin. Kalau Arin di usir, nanti Arin tidur dimana?" Karina terus mengiba.
"Papa gak perduli! Mau kamu tinggal di emperan toko atau kolong jembatan sekalian, papa gak perduli!" cetus Papa Yan. "Untung papa bicara baik-baik dengan Adi, jika tidak papa akan semakin membuat dia terluka!"
"Papa, Arin putri papa. Tolong jangan seperti ini, Arin menyesal," ucap Karina.
"Cepat tinggalkan rumah ini, Karina! Papa begitu muak melihat wajah kamu, selama ini papa menyekolahkan kamu tinggi-tinggi dan mendidik kamu dengan penuh dedikasi, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu sudah mencoreng nama baik papa dan juga mendiang mama mu. Papa yakin, mama yang barada di alam kubur juga pasti begitu malu dan juga menyesal karena telah melahirkan putri seperti kamu!"
Papa Yan segera mendorong tubuh Karina dari depan pintu rumah itu dan segera menutupnya. Tak hanya itu, bahkan Papa Yan mengunci pintu rumah itu dari dalam.
"Hiks.. Papa, tolong buka pintunya," ucap Karina. "Arin mohon, jangan kayak gini sama Arin. Arin gak punya siapa-siapa lagi selain papa." wanita gila itu terus memohon dan berharap hati papa nya itu dapat melunak dengan sedu sedan tangisnya.
Lama Karina menunggu di depan pintu rumah itu, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Papa Yan akan membuka kan pintu. Dan pada akhirnya, Karina pun menyeret koper pakaiannya dan pergi dari depan rumah itu.
Tujuannya kini hanya satu, yaitu kembali pada Bara. "Mas Bara pasti bakalan izinin aku tingal sama dia dan dia juga pasti mau bantu aku untuk balas dendam sama Adam dan wanita sial itu!" guman Karina. Sorot mata wanita itu penuh dengan kebencian, ia benar-benar membenci Adam dan Farida.
"Aku akan pastikan, hidup kamu akan menderita, Farida."
Sekalinya iblis, sampai kapan pun akan tetap menjadi iblis. Begitu pula dengan wanita siluman seperti Karina, meskipun sudah di beri pelajarannya oleh papa nya sendiri. Akan tetapi ia tidak juga sadar diri, kelakuannya semakin menjadi dan tidak terkendali.