Kehidupan malam yg selalu di hiasi dengan alkohol sudah menjadi agenda rutin bagi sitara, gadis muda penerus perusahaan textile milik pak satish. Perusahaan besar yg memiliki cabang di beberapa negara. Santhi and co berdiri mentereng di kota surabaya. Satish sudah berusaha keras mendidik dan mengarahkan putri tunggal nya untuk fokus meneruskan perusahaannya, karena dia ingin saat pensiun nanti dia bisa kembali ke negara nya India. Sitara pulang dalam keadaan mabuk berat dan tanpa sadar dia menabrak dinding pagar dengan kecepatan tinggi. seorang pemuda tampan dengan gamis coklat dan kopiah putih itu bernama Musa, pemuda tampan itu bergegas menghampiri mobil yang sudah remuk di bagian depannya, beruntung pintu tidak terkunci, sehingga memudahkan pria itu mengevakuasi wanita yang menjadi korban. Dengan tidak mempedulikan apapun Musa langsung menggendong dan memindahkan sitara ke mobil nya, tidak lupa dia membawa tas gadis itu. Mobil melaju menuju rumah sakit terdekat, karena darah mulai m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anna dharta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Terlihat Tampan
Ayu yang mendengar teriakan Sitara yang menggema di ruangan itu, seakan ruangan yang luas itu di selimuti awan dengan petir yang menyambar-nyambar di tambah efek seakan tubuh Sitara berputar-putar dan angin yang berhembus sehingga rambutnya yang tidak tertutup oleh pashmina itu berkibar indah.
Ayu tersadar dengan lamunannya yang sudah di luar batas kewajaran, dan akhirnya dia tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya karena sakit akibat tertawa.
“Ayu, Gue butuh pen-je-la-san! Lo mau kawin sama siapa? kenapa lo gak minta pendapat gue? kalo ternyata gue gak suka sama laki lo gimana? kalo dia bukan orang baik-baik gimana? lo gak abis di perkosa dia kan trus nekat mau kawin ama dia?”
Sitara berhenti saat kedua tangan Ayu terangkat ke udara, tanda dia menyerah. Nafas Sitara memburu karena emosi, dia menjadi posesif mendadak terhadap Ayu.
ya inilah akibat hubungan pertemanan yang sangat dekat, sampai-sampai sifat protektifnya Sitara ngalah-ngalahin mami nya sendiri.
“Wooiii ampun beb ampun, sayangku Sitara yang cantik tiada tara sepanjang masa purbakala. itu pertanyaan atau suara deru kereta api, hah?” Ayu yang masih cengengesan melihat raut wajah sitara yang berubah sangar ala emak-emak menghadapi akhir bulan hehehe.
“Gak usah basa basi, sekarang gue minta penjelasan lo. Ayu, lo kan tau gue yang ada masalah sama si ustadz gaul itu dan rencana akan menikah, tapi kan gue cerita. Laahhh lo gak ada angin, dak ada hujan, tau-tau bilang mau nikah, gimana gak senewen gue?”
Sitara tidak bisa lagi mencegah bibir seksi nya untuk nyerocos seperti kereta api.
“Kalo lo terus aja yang ngomong, trus gue kapan beb mau jelasin nya?” Ayu bersungut-sungut dengan mode ngambek.
“Iya… iya buruan cerita, awas jangan ada yang di edit!” kembali Sitara mengeluarkan ancamannya.
“Jadi ceritanya papi nyariin gue jodoh. Karena gue selama ini gak pernah jatuh cinta sama cowok, jadilah gue pasrah sama pilihan papi dan mami. Dan lo tau Ra?”
belum sempat Ayu melanjutkan, Sitara kembali menyambar kalimat Ayu dengan sangat tangkas.
“Tau, ternyata tu cowok ganteng, baik, kaya sehingga lo gak perlu khawatir kalo dia gak ngasih makan lo. Gimana, benerkan tebakan gue, huh?” Ayu langsung memeluk Sitara seperti macan menerkam mangsa.
Sitara langsung memasang wajah wibawa nya. “Kok lo tau beb? waaah lo sekarang nambah keahlian jadi cenayang ya? jadi tau apa yang belum gue omongin!”
Ayu yang sangat antusias dengan hasil tebakan Sitara, tampak makin senang untuk melanjutkan ceritanya.
“Namanya Harun beb. Dia ternyata orang yang paham agama. Gue gak tau sih dia ustad atau bukan, tapi hawa-hawanya kayak Ustadz gaul lo yang bernama Musa itu beb.”
“Dia kerja dimana?” Sitara mulai tidak tahan untuk mengorek jati diri dari calon suami sahabatnya itu.
“Dia punya usaha di bidang travel beb, travel haji dan umroh gitu. Gue belum terlalu banyak tanya sih, dan Gue mau ngundang lo untuk acara pernikahan gue besok di surabaya, lo harus bisa hadir ya beb.”
Sitara merasa dunianya berputar begitu cepat, dia tidak lagi mampu menjawab. Undangan dari sahabatnya seakan mimpi disiang bolong. Jantungnya berdebar dengan cepat.
Telinga nya tidak begitu bisa menangkap suara ayu yang sibuk bercerita kesana kemari dengan sangat ceria tanpa ada beban sedikitpun.
*****
Di Pesantren, Musa yang sedang sibuk mengatur para pengajar untuk jadwal kelas putri, tampak berhenti sejenak. Karena ada salah satu santri yang datang menghampirinya. Mengatakan padanya, ada seseorang yang sedang menunggunya di rumah Kyai.
Musa berpamitan dengan rekan-rekan pengajarnya, dan bergegas menuju ke rumah Abi nya. ‘Siapa ya kok tumben tidak menyebutkan namanya’ Musa bertanya pada dirinya sendiri dengan suara batinnya.
Sebelum masuk kedalam rumah Musa mencuci tangan dan kaki nya terlebih dahulu, karena dia merasa sangat kotor sekali.
Karena tamunya sudah menunggu, rasanya kurang adab jika dia harus mandi dan membiarkan tamunya menunggu lama.
“Assalamualaykum, maaf anda men-ca…” kalimat itu menggantung begitu saja, Musa terdiam terpaku, ini sungguh kejutan baginya, sahabat nya yang sangat lama tidak pernah ketemu, sekarang berada di hadapannya.
Terakhir Musa bertemu sehari sebelum sahabatnya itu berangkat ke Kairo untuk melanjutkan kuliah disana. Sementara Musa memilih untuk kuliah di Surabaya, agar tidak jauh dari kedua orang tua nya
“ya Allah, ini kamu Harun? Maasya Allah Run, kamu berubah sekali, hampir saja aku tidak mengenalmu, kamu sudah seperti artis saja Run, Tampan dan bercahaya, Maasya Allah.”
Harun merentangkan kedua tangannya, menyambut Musa. Dua sahabat yang terpisah lama, saling berpelukan melepas kerinduan. Rasa bahagia menyelimuti hati kedua pemuda tampan di usia mereka yang sudah matang.
Setelah puas berpelukan, Musa melepaskan pelukannya. Dia mengajak harun untuk duduk di sofa sederhana yang ada di ruang tamu.
Mbak yanti yang biasa membantu di rumah Kyai, datang membawakan dua gelas minuman dan beberapa cemilan, termasuk pisang goreng kesukaan mas Ustadz nya.
“Silahkan di minum den, mas Ustadz, mumpung masih hangat pisgor nya.” Mbak Yanti dengan ramah mempersilahkan kedua pemuda tampan itu. “Temen nya mas Ustadz, guaanteng banget je, bikin hati mbak yanti adem ngeliatnya hehehe.” Yanti memang sedikit susah menahan lisan nya jika melihat orang ganteng.
Hal ini malah membuat kedua sahabat itu tertawa bersama. “Mbak yanti sudah memandangnya, nanti malah kebawa mimpi lo.” Musa mengingatkan yanti agar tidak lama-lama terpesona nya. “Monggo den ganteng, dinikmati hidangannya.”
Yanti berlalu dan kedua sahabat ini masih saja tertawa dan saling melempar candaan, sehingga pertemuan yang sudah lama mereka rindukan, terasa hangat dan menyenangkan.
“Harun, kamu kok gak ngabarin aku kalo mau pulang ke kampung sini? aku dapet kejutan lagi dengan datangnya kamu kerumahku.” Musa sudah tidak sabar ingin tau kabar berita dari sahabat nya itu.
“Musa, aku datang kesini mau ngantar undangan pernikahan. Sekalian aku minta maaf, karena sudah mendahului kamu sobat.” Harun berbicara sambil mengeluarkan undangan yang cantik.
“Maasya Allah, Tabarakallah, luar biasa ente Run, gadis mana yang sudah beruntung menjadi istri dari sahabat ku yang multi talenta ini, huh?” Musa menerima undangan dan membukanya. Sekilas dia membaca isi undangan tersebut.
“Jadi acaranya di Surabaya? loh, besok acaranya? kenapa mendadak begini, dan pengantinnya yang nganter sendiri di hari min Satu. Luar biasa ente sob, salut ana.”
Musa yang terkejut melihat waktu dan tanggal yang sangat mendadak itu, langsung saja memberondong Harun dengan pertanyaan.
“Iya Sobat, semuanya memang serba mendadak, kurang dari seminggu. Aku belum mengenal calon Istriku, tapi karena orang tua ku yang menjodohkan, jadi aku bersedia. Orang tua ku sahabat lama orang tua gadis ini, jadi kami bertemu sekali, dan langsung aku melamarnya.”
Musa kembali menatap kedua netra sang calon pengantin. Dia pun tertawa bahagia.
"Akhirnya sahabat ku ini sudah siap untuk menjadi imam, dan tinggal aku nih yang jomblo." Merekapun tertawa bersama.
.
.
.
Assalamualaykum pemirsa.
Mohon maaf hari ini cuma up 1 episode aja ya, Author lagi ngurusin anak sakit, mohon doa nya ya pemirsa. Jangan lupa ajak semua teman untuk membaca novel ku ya.
tolong bantu like, komen, share dan juga vote agar karya ku makin maju. Makasiih pemirsa tercinta.