NovelToon NovelToon
Bad Girl Vs Ice Boy

Bad Girl Vs Ice Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Komedi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:9.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: blue rose

Ig: @nabilakim28

"Bukan mau gua jadi brandalan kayak begini!" -Hera-

Hera adalah seorang siswi SMA yang dikenal sebagai badgirl, langganan pindah sekolah dan hobi berantem sama cowok.

Bukan karena brokenhome, bukan karena dihianati, bukan karena dendam .... Terus kenapa dia jadi bad girl? Apa alasannya?

"Gue gak bisa janji untuk bahagiain lo selamanya, ataupun bersama lo untuk selamanya. Tapi gue janji cinta gue cuma milik elo" -Sean-

Sean cowok dingin yang paling ganteng, irit ekspresi dan bicara, ngomong lebih dari lima kata aja adalah satu kejadian yang langka!

Terus ngimana jadinya kalo bad gril kayak Hera ketemu sama ice kayak Sean?

Note: ini bukan cerita dimana cewek berusaha untuk mencairkan si pria es ..., tapi si pria es yang berusaha untuk membuat si bad girl tobat!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keduapuluhlima

Jika tanganku tidak cukup hangat, mungkin pelukanku yang bisa menghangatkanmu

-Sean bucinya Hera 2k20-

S E L A M A T  M E M B A C A

Sean bergidik ngeri ketika mendapat tatapan selidik dari pacarnya\-\-\-Hera. Hera dari kemarin terus meminta penjelasan lebih lanjut dari Sean, tapi laki\-laki itu seperti menghindari pertanyaan itu.

"Katanya kamu udah ingat," kata Sean hati\-hati. Dia takut pacarnya maung, kan bisa tamat riwayatnya.

"Nggak semuanya," balas Hera. Dia hanya minta penjelasan tapi apa harus sesulit itu? Hera mendengus kesal karena tidak mendapat jawaban apapun dari Sean. Gadis itu menyerah untuk menggali informasi akhirnya dia mengambil buku yang terletak di atas meja, dan mulai membacanya acak. Dia sebenaranya tidak bisa fokus sekarang, tapi dia hanya sedang mempertahankan ego ngambeknya.

"Kamu marah?" tanya Sean mencoba mendekati Hera, tapi Hera langsung mengambil bantal dan membuat tembok di antara mereka. Sean sabar kok, dia tau pacarnya sedang ngambek. Dan dia juga tau bahwa sekarang dia sedang pusing karena nggak tau gimana caranya luluhin hati Hera.

"Mau strawberry ice cream?"

"Ma\-\-\- eh nggak, aku lagi ngambek! Kamu jangan coba untuk suap aku pakek ice cream."

Ok, kesabaran Sean sepertinya sudah habis. Sean langsung mengambil bantal yang menjadi pembatas mereka berdua di sofa ini. Dia melemparnya sembarang, lalu mengambil novel yang dipegang Hera dan menutupnya. Hera hanya terkejut dengan perlakuan Sean yang mendadak, dia bahkan tidak sadar sekarang Sean sedang memeluknya dengan posisi Hera di depan Sean, dan Sean memeluknya dari belakang. Sangat dekat, tidak! Terlalu dekat. Sekarang Sean sedang menyenderkan kepalanya di ceruk leher jenjang Hera.

"Ke\- kenapa?" tanya Hera kaget. Bukannya menjawab, Sean malah mengeratkan pelukannya ... membuat Hera sedikit bergeming dan mencari posisi yang nyaman.

"Aku ... ingat semuanya dari awal. Bagaimana detailnya ... aku ingat," Sean menjeda sebentar penjelasannya dan menghela napas berat.

"Saat itu adalah masa lalu yang seharusnya kita semua lupakan. Kamu, Henry dan ... aku. Tak ada satupun di antara kita yang ingin mengingatnya. Kamu bahkan melupakan kejadian itu. Aku terus mencarimu setelah kejadian itu, namun aku hanya berhasil bertemu dengan Henry ... karena saat itu kamu masuk rumah sakit untuk memulihkan PTSD\-mu \(Post Traumatic Stress Disorder \= gangguan stres paska trauma\) itu. Dan ternyata itu bukan hanya PTSD biasa." Suara Sean mulai bergetar. Sepertinya terlalu berat baginya untuk menjelaskan hal ini.

Hera melepaskan pelukan Sean kemudian, membalikkan badannya dan menatap mata kekasihnya itu, dia mengusap pelan pipi Sean\-\-\-mencoba menyalurkan kehangatan. Sean melanjutkan penjelasannya. "Saat itu, aku mencarimu hingga ke rumah sakit, tapi kamu lupa. Aku sebenarnya bersyukur akan hal itu. Dan sejak dari itu, aku pindah ke Amerika ... memulai kehidupan baru sebagai Sean yang  baru tanpa

melewati bagian menyakitkan itu. Aku bekata seperti itu. Tapi sepertinya tidak semudah itu, aku mulai mendapat teror sejak kelas 3 SMP dan itu adalah teror yang sama dengan yang mengirimmu foto itu. Aku awalnya tidak terlalu peduli, tapi Henry tiba\-tiba meneleponku ... dan mengatakan dia mendapat teror yang sama\-\-\-dan akhirnya kamu juga ...," jelas Sean. Sean menatap mata cokelat Hera, dia mengecup kening Hera singkat ... lalu tersenyum manis ke arah gadis itu. Hanya sebentar, tapi berhasil membuat sejuta kupu\-kupu berterbangan di perut Hera.

"Tapi aku tidak pernah mendapat teror seperti itu sebelumnya," balas Hera.

"Terornya adalah ancaman untuk melukaimu, bukan langsung padamu ... tapi padaku dan Henry," ujar Sean. Hera langsung kaget, dia tidak pernah menyangka bahwa hal yang tidak diketahuinya selama ini lebih parah daripada yang bisa dicerna oleh logikanya. Ada sedikit rasa kecewa, kenapa mereka menyembunyikan hal itu darinya. Tapi dia sadar, bahwa mereka hanya berniat untuk membuat Hera tetap aman.

Setetes embun bening mulai jatuh dari kelopak mata gadis itu. Dia tidak tahu, dia hanya merasa sesak dan rasanya sakit. Saat membayangkan Sean dan Henry harus menanggung semuanya sendiri dan mereka juga harus melindunginya di saat yang sama.

Cup!

Sean mengecup kelopak mata kiri Hera, lalu beralih ke kelopak kanannya. Hanya ingin mengalirkan rasa hangat dan aman, Hera tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang bisa menjadi romantis di saat seperti ini\-\-\-ternyata ada hikmah di balik teror ini juga muehehehe.

"Terus? Sekarang kita harus gimana?" tanya Hera dengan napas yang masih belum teratur.

"Tenang saja, cuma kamu harus ingat ... jangan ikutin orang asing yang kasih permen, ok?" balas Sean dengan nada bercanda. Hera langsung memukul bahu Sean, dasar! Pacarnya terlalu tentang dalam menghadapi permasalahan ini.

Ya Hera gak tau aja, selama dua hari dia gak sadar diri Sean udah kayak zombie di film Train to Busan. Gak bisa tidur, dan terus cari informasi tentang X sampai dia bahkan lupa untuk makan selama dua hari penuh. Sean juga gak pulang ke rumahnya kecuali untuk mandi\-\-\-biar terlihat rapi pas Hera bangun\-\-\-sisanya dia habiskan dengan menemani Hera yang terbaring di kasur.

"Can i hug you tight?" tanya Sean. "I need to charge my energy."

Hera tersenyum melihat tingkah manja Sean. Dia merentangkan tangannya, dan Sean langsung memeluknya, cowok bersurai coklat itu menyenderkan kepalanya di bahu Hera. Memang Hera adalah penyemangat terbaik yang dia punya. Sejenak dia akan melupakan semua masalahnya dan hanya berfokus pada Hera dan bersandar di pundaknya seperti ini.

"I love you more than you know." Sean berkata seperti itu dengan sangat tulus. Hera dapat melihat netra hitam kelam itu tidak menyembunyikan apapun, hanya kejujuran yang terlihat di sana.

"Love you more," balas Hera. Lalu mereka berdua terkekeh bersama. Ini pertama kalinya mereka menggungkapkan perasaan satu sama lain.

"Oh ya," Hera melepaskan pelukannya, "bearti kamu ... udah kenal aku dari awal dong!" seru Hera. Sean hanya tersenyum, dia sebenarnya memang sudah mengenal Hera ..., bahkan dia juga yang menyarankan kak Rendy untuk memindahkan Hera ke sekolahnya supaya lebih mudah untuk menjaga Hera. Sean tau semua tentang Hera, Henry terus memberi kabar tentang Hera. Bahkan Sean tau mantannya Hera.

"Kenapa pura\-pura nggak kenal?" tanya Hera cemberut.

"Masa iya aku bilang gini, 'hai Hera ... ini aku yang disekap dulu sama kamu.' Masa aku ngomong gitu?" ujar Sean sambil mencubit gemas hidung Hera.

"Tapi ya, karena pada dasarnya aku rindu berat, aku gak bisa sembunyiin perasaan aku sih ... jadi aku sering melihatmu diam\-diam," tambah cowok bersurai cokelat itu.

Hera ingat, dulu Sean emang sering natap Hera dengan tatapan aneh dan Sean juga sering ke rumah Hera ...  bahkan menemaninya ke taman bermain. "Masa iya tatapan datar itu kamu bilang tatapan rindu?" balas Hera tidak terima. Sean membolakan matanya, dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Hera ... perasaan dia tidak sedatar itu deh, "itu udah ekspresiku yang paling bahagia."

"Kamu perlu bimbel cara berekpresi deh kayaknya."

                             🙈🙈🙈

"Aku nggak apa\-apa kok, don't worry hehe ...," ujar Hera di seberang sana. Akhirnya Gina dapat bernapas lega ... dia sangat khawatir akan keadaan temannya itu, Hera pingsan mendadak di depan matanya ... bagaimana dia bisa tidak khawatir?! Dan Hera bahkan tidak sadarkan diri selama dua hari\-\-\-benar\-benar mengkhawatirkan! Namun setelah mendengar dari Hera langsung bahwa dia baik\-baik saja ... Gina merasa tenang.

"Yaudah, kamu banyak\-banyak istirahat ... nanti kalau ada apa\-apa jangan lupa kabarin," balas  Gina.

"Iya Gina," jawab suara di seberang sana. Selajutnya terdengar suara bip, yang menandakan bahwa telpon telah diputuskan. Gina menghela napasnya.

Gina kaget karena tiba\-tiba ada tangan yang melingkar seenak jidat di pinggangnya, Gina hampir saja menendang orang itu jika dia tidak segera mengenali tangan ini. Itu adalah Chandra, tunangannya. Chandra memeluknya dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di pundak Gina. Gina membalikkan badannya untuk bisa memeluk Chandra kembali. Karena faktor Gina yang kecil dan pendek, dia pun terlihat tenggelam di balik tubuh Chandra.

"Tadi Hera?" tanya Chandra.

"Hm, dia sudah baikan ...," jawab gadis itu.

"Oh iya, mamaku mau ketemu sama kamu ... kamu belum pernah bertemu kan?"

"Ah iya! Aku hanya ketemu sama daddy,"

Chandra mengusak kepala Gina, "kamu tenang saja ... mommy tidak semenakutkan daddy hehe."

                             😡😡😡

Tak terasa telah berselang seminggu sejak Hera pingsan, dan sejak itu dia dan yang lain menjalani hidup damai dan tentram. Tidak ada ancaman dari X, tidak ada penyerangan dakdakan ... hanya hidup normal seperti orang kebanyakan. Dan seminggu adalah waktu yang cukup untuk Hera dan Sean menghabiskan waktu bersama. Hera selalu menempeli Sean, dan sepertinya cowok itu tidak keberatan akan hal itu. Tidak ada yang berubah dari hubungan mereka, hanya Hera yang merubah panggilan untuk Sean\-\-\-menjadi kakak. Tentu Sean tidak menolak, hanya saja rasanya sedikit aneh mendengar Hera yang bar\-bar ... memanggilnya kakak.

Semuanya berjalan normal, hanya Tristan yang tersiksa harus bergadang untuk menyelidiki tentang X. Sedangkan yang lain hanya menikmati hari\-hari mereka, Chandra dan Gina bahkan akan menyelenggarakan acara pertunangan mereka secara formal dalam waktu dekat ini. Dan oleh karena itu kak Riana, Hera, mommy\-nya Chandra, dan tentu saja bibi Gina sibuk menyiapkan pesta pertunangan itu.

Hari ini pun semuanya terasa biasa dan nyaman, Hera bangun cepat dan berangkat sekolah bareng Sean ... belajar, dan bermain bersama Gina. Ya semuanya terasa biasa sampai saat ini, Hera mendapat surat lagi ... kali ini di lokernya. Dia langsung menyembunyikan surat itu ketika Gina datang dan bertanya kepadanya, "apa itu?" tanya Gina. "Bukan apa\-apa hanya kertas coret\-coret," jawab Hera.

Setelah memastikan bahwa Gina sudah pergi, akhirnya dia baru memberanikan diri untuk membuka surat itu.

Remember me?

Rooftop now!

X

Hera menghela napasnya, akhirnya X akan menampakkan dirinya. Dia sadar bahwa ini jebakan. Tapi untuk mengetahui sesuatu kita harus berani mengambil resiko. Hera meremas kertas itu erat ... dia lalu menyimpan kertas itu didalam saku roknya. Dia menatap ke arah luar jendela, di sana dia dapat melihat dengan jelas Sean dan teman\-temannya sedang bermain bermain futsal dengan seragam lengkap\-\-\-sepertinya mereka cabut lagi. Hera menyungging senyum ketika melihat wajah Sean yang terlihat lelah, rasanya dia benar\-benar membutuhkan senyuman Sean sekarang ... walau kenyataannya sekarang dia tidak tersenyum. Dia butuh kekuatan sebelum berhadapan dengan X.

Cukup! Sudah cukup, Sean dan Henry menanggung semuanya. Dia tidak selemah itu untuk terus dilindungi oleh mereka berdua.

Hera mengeluarkan handphonenya, dia membuka kotak chatnya dengan Sean, dan mengetikkan sebuah pesan di sana.

Sean❤

Aku pulang agak telat, kamu pulang duluan aja nanti ... jangan lupa nanti malam kita kencan\>

Hera tersenyum ketika melihat photo profil Sean yang merupakan foto Hera yang sedang tertidur di pundak Sean. Sejak kapan dia mengubah pp nya? Hera terkekeh. Ya, bertemu dengan Sean adalah kebahagian tersendiri baginya. Sebesar itu Hera mencintai Sean.

Hera memasukkan handphonenya kembali, ok sekarang waktunya bertemu dengan orang yang selama ini menyusahkannya.

Hera mulai melangkahkan kakinya, berjalan menuju rooftop. Dia menaiki tangga dengan perlahan, tidak dapat dipungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat sekarang ... mungkin karena takut? Atau gugub? Hera sekarang berada di depan pintu masuk ke rooftop. Pintu itu masih tertutup rapat dengan knop pintu berwarna silver yang membuat pintu itu tidak bisa langsung dibuka. Hera memengang knop pintu itu, dia menghela napas berat. Mencoba menyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik\-baik saja. Ok, untuk sesaat dia berpikir bahwa mungkin nanti dia akan menyesal karena tidak memberitahu Sean akan hal ini tapi ... biarlah penyesalan datang belakangan, sekarang yang harus dia lakukan adalah menarik knop pintu, membuka pintu itu, dan masuk ke dalamnya. Ya, hanya semudah itu ... tapi kenapa rasanya sulit sekali.

Hera menarik napas dalam\-dalam dan menghembuskan napasnya. Ok Hera, beranikan dirimu! Dia membisikkan hal itu pada dirinya sendiri. Setelah keberaniannya terkumpul akhirnya dia membuka pintu itu secara perlahan. Dia masuk melalui pintu itu. Hal yang pertama tersaji di depannya adalah hamparan kursi dan meja rusak, matahari bersinar sangat terik di sini ... dia dapat melihat beberapa coretan abstrak di dinding pembatas. Rooftop yang di datanginya saat ini adalah rooftop yang sudah lama ditinggalkan, bahkan untuk mengaksesnya saja hanya bisa melalui tangga.

Tempat yang cocok untuk berbuat hal yang berbau kriminal bukan?

Hera melihat ke kanan dan ke kiri, dia berjalan semakin jauh ke dalam rooftop itu. Mencari orang yang memanggilnya ke sini. Dia memanggil dengan keras nama 'X' namun tidak ada sahutan sama sekali. Apa jangan\-jangan ini tipuan?

Ckrek! \*suara pintu yang dikunci

Sial! Hera melihat ke arah pintu masuk tadi. Dan benar saja, pintu yang sengaja dia biarkan terbuka sekarang menutup rapat. Hera berlari ke arah pintu, dia kemudian mencoba membuka dengan paksa pintu itu\-\-\-walau hasilnya nol.

"KELUAR LO PENGECUT!" teriak Hera. Dan masih tidak ada jawaban. Ok, dia benar\-benar terjebak sekarang.

Tak!

Kabur, pandangan mata Hera mulai mengabur ketika ada yang memukul belakang kepalanya dengan benda tumpul. Perlahan tapi pasti cahaya mulai menghilang dari pandanganya. Sekarang yang ada di pikirannya hanya Sean, dia terus berandai: bagaimana jika tadi dia memberitahu Sean? Bagaimana jika tadi dia tidak ke sini sendiri? Bagaimana jika ....

Namun penyesalan hanya datang di akhirkan?

Aku sayang kamu Sean ....

\-TBC\-

ps: selamat menjalankan ibadah puasa^^

1
...
sama andrew aja sis..
...
knp ya aku ngerasa kalau si X ini ada berada di sekitar mereka..
Queen Sha
ahhhciyeeee.... aauthorrr keseringan lihat drakor kayak aq juga
Jennifer Jatam
Luar biasa
Jennifer Jatam
Biasa
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
ntahlah, agak lain memang.

tapi aku ingin mereka berdua putus aja dulu.
Novia Ayu Apriani
🥰🥰🥰
Qaisaa Nazarudin
Oh si cntik Gina menyamar jadi cewek cupu ternyata...ckck..😅😅
Alvinda68
Luar biasa
Qaisaa Nazarudin
Yang anehnya, Kenapa Gina harus baca buku ditempat itu? malam2 lagi..🤫🤫
Qaisaa Nazarudin
Kamu akan di jodohkan dgn Sean deh Hera 😂😜
Qaisaa Nazarudin
Cowok ini Sean kan temennya Henry??
Qaisaa Nazarudin
Whaat Hera baru kelas X? ku pikir kelas X1.. Tapi cerdas nih anak bisa masuk kelas IPA ..
Qaisaa Nazarudin
Asem🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Sekolah lama kak Rendy kan itu 🤣🤣
Yuki azura
kk boleh masukin aku ke grup chat
Riska Auliaa
Y
f1q.x3a
aaa gemes😭
f1q.x3a
adik ipar😂✨
Uma Hidayah
cocok...sesuai imajinasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!