NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Status: tamat
Genre:Romantis / Chicklit / Tamat
Popularitas:150.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nofia

Memiliki trauma masa lalu membuatnya takut berhadapan dengan pria. Dia pun dikirim ayahnya ke luar negeri melanjutkan pendidikannya.

Hingga pada saat dia kembali, dia bertemu seorang pria pemilik bar yang berasal dari desa yang sama.

Pria itu mengacaukan pernikahannya, lalu menikahinya.

Nah...
Bagaimanakah kelanjutannya?

Jangan lupa mampir ya.
Terima kasih atas support nya.
Lope lope buat kalian semua🥰🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

Sekitar pukul 8 malam, Dion dan Maura tiba di depan rumah Doni. Saking tak sabarnya ingin bertemu sang ayah, Maura pun melompat turun dari mobil dan mengabaikan suaminya yang masih duduk di bangku kemudi.

Melihat itu, Dion hanya bisa menghela nafas dan membuangnya kasar. Lagi-lagi, Maura tak menganggap dirinya ada sama sekali.

"Sabar Dion, sabar!" batinnya menggerutu.

Setelah mematikan mesin mobil, Dion bergegas turun. Dia kemudian mengikuti langkah Maura yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.

Setibanya di dalam rumah, Maura mengukir senyumnya saat mendapati sang ayah tengah duduk di meja makan. Namun, seketika wajahnya berganti murung mengingat sang nenek yang tidak lagi di rumah itu.

Ya, Nek Ida sudah kembali ke desa tepat satu minggu setelah pernikahan Maura dilangsungkan. Dia tidak bisa berlama-lama di Jakarta mengingat perkebunannya tidak ada yang mengurus.

"Malam Ayah," sapa Maura, dia kemudian memeluk sang ayah dari balik kursi.

Sesaat Doni pun terlonjak kaget, dia tak menyadari kedatangan putrinya sama sekali.

"Maura...?" gumam Doni.

Melihat kedatangan Maura, Doni pun menggulingkan senyumannya. Dia bangkit dari duduknya dan memeluk tubuh sang anak yang sangat dia rindukan.

"Anak nakal! Kenapa mengagetkan Ayah, hah?" tanya Doni, dia pun mencubit hidung Maura hingga memerah, kemudian mengecup ujung kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

Dion yang melihat itu hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Pikirannya melayang jauh mengingat sosok sang ayah yang kini sangat dia benci.

Seandainya dulu sang ayah tidak pergi meninggalkan ibunya, pasti dia takkan kehilangan kasih sayang dari ayahnya itu. Sesaat, dia pun merasa iri melihat Maura yang mendapatkan kasih sayang berlimpah dari sang mertua.

Tak ingin larut dengan perasaannya sendiri, Dion pun mengalihkan pandangannya. Mengusap wajahnya kasar, kemudian berjalan menghampiri Doni dan menciumi punggung tangan ayah mertuanya itu.

Malam ini Doni tampak bahagia, sesaat rasa sepinya pun terobati, ada anak dan menantu yang menemaninya makan malam. Bahkan setelah makan malam usai, mereka bertiga melanjutkan obrolan di ruang tengah.

Waktu semakin berjalan, tak terasa hari sudah semakin larut. Keasikan ngobrol, membuat mereka tak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 1 dinihari. Bahkan Maura sudah terlelap di atas sofa.

Doni beranjak lebih dulu dan masuk ke dalam kamarnya. Esok dia harus bangun pagi karena ada rapat penting yang harus dia hadiri.

Sementara Dion, dia tak tega membangunkan Maura yang tertidur dengan lelap. Dia kemudian membopong tubuh sang istri menuju kamar mereka. Namun saat hendak menaiki anak tangga, Maura tiba-tiba terbangun. Dia pun membuka matanya lebar saat menyadari tubuhnya sedang berada di gendongan sang suami.

"Kak Dion, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!" pinta Maura, dia pun meronta ingin melepaskan diri.

Dion hanya tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya.

"Kak Dion, apa kamu tidak dengar?" tambah Maura meninggikan nada bicaranya.

"Sssttt, jangan berisik!" sahut Dion.

Sesampainya di dalam kamar, Dion membaringkan tubuh Maura di atas tempat tidur. Namun saat Dion hendak naik ke atas kasur, Maura tiba-tiba bangkit dan berpindah ke sofa. Membuat Dion menatap bingung sikap istrinya, kemudian menghela nafas dan membuangnya kasar.

Sesaat setelah Maura membaringkan tubuhnya di atas sofa, Dion pun bergegas menghampirinya.

"Kenapa seperti ini lagi?" tanya Dion sembari menautkan sepasang alisnya.

Maura tak menyahut, dia kemudian memunggungi Dion dan kembali memejamkan matanya.

"Kalau tidak mau tidur denganku tidak masalah, kembalilah ke kasur. Biar aku yang tidur di sini!" suruh Dion, dia pun menghela nafas berat.

***************

Esok paginya, Dion terbangun dan mendapati kasur yang sudah rapi. Dia kemudian bangkit dan mencari keberadaan istrinya hingga ke dalam kamar mandi.

Setelah membuka pintu kamar mandi, Dion pun mengernyitkan keningnya. Bukannya menemukan Maura, dia justru melihat sesuatu yang terpajang di atas wastafel. Hal itu membuatnya penasaran, lalu mendekat.

"Ya Tuhan, jadi karena ini dia menghindar dariku." gumam Dion, dia pun menggulingkan senyumannya.

Karena sudah terlanjur berada di dalam kamar mandi, Dion pun segera membuka pakaiannya. Dia kemudian membuka kran air dan berendam di dalam bathtub.

Usai mandi, Dion keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Baru beberapa langkah berjalan, matanya menangkap keberadaan Maura yang kini sedang berbaring di atas tempat tidur.

Wajah Maura kala itu terlihat pucat, dia menekuk kedua kakinya sambil merintih kesakitan.

"Maura, kamu kenapa?" tanya Dion bingung, dia pun berjalan menghampiri sang istri.

Maura tak menyahut, dia terus saja merintih sambil meremas perutnya dengan kuat. Membuat Dion panik bukan kepalang.

"Maura, apa yang terjadi? Kamu kenapa?" tanya Dion, dia pun mengusap ujung kepala sang istri dengan sayang.

Seketika, Dion teringat kembali dengan barang pribadi milik istrinya yang tadi dia lihat di kamar mandi. Sebuah softex yang biasa digunakan para wanita ketika datang bulan.

Namun, dia benar-benar bingung. Bagaimana caranya membantu Maura, sementara dia saja tidak mengerti akan hal itu. Ini kali pertama baginya melihat seorang wanita mengeluh kesakitan akibat palang merah itu.

"Maura, katakan padaku! Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dion sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Dia benar-benar kehilangan akal melihat istrinya yang terus mengerang kesakitan.

Tak tau lagi harus bagaimana, Dion pun berlari ke luar kamar tanpa peduli dengan keadaannya sendiri. Bahkan handuk yang melilit di pinggangnya hampir saja terlepas saking terburu-buru nya dia menuruni anak tangga.

Sesampainya di dapur, kebetulan sekali dia melihat Bik Sam di sana. Dia pun menceritakan semuanya pada wanita paruh baya itu, berharap Bik Sam bisa membantunya.

Bik Sam yang mendengar itu hanya tersenyum, bahkan dia sama sekali tak menyangka Dion bisa segitunya mengkhawatirkan keadaan sang istri.

"Tidak apa-apa, itu lumrah. Kompres saja perut Non Maura dengan air hangat." saran Bik Sam, dia kemudian menyiapkan air hangat lengkap dengan handuk kecil di dalam sebuah baskom.

Setelah baskom kecil itu ada di tangannya, Dion pun bergegas balik ke kamar. Melihat keadaan istrinya yang seperti itu membuat hati Dion terenyuh.

Dion mengangkat tubuh Maura, kemudian menyandarkannya di tampuk ranjang. Pelan-pelan dia pun mengangkat baju istrinya dan mengompres perut tipis itu sesuai saran Bik Sam tadi.

Maura tak bereaksi sama sekali, dia hanya tersandar lesu menatap wajah suaminya sambil sesekali meringis menahan nyeri yang membelit seluruh isi perutnya.

"Bagaimana?" tanya Dion, dia masih fokus dengan perut istrinya.

"Sudah mendingan," sahut Maura, dia pun menghela nafas berat.

Melihat wajah Maura yang begitu lesu, Dion pun mendekap erat tubuh istrinya di permukaan dada bidangnya yang masih ternganga. Membiarkan bibir Maura menyentuh dadanya begitu saja.

"Kak Dion, aku tidak apa-apa. Pergilah pakai pakaianmu!" suruh Maura, dia merasa canggung melihat tubuh suaminya.

"Nanti saja!" sahut Dion, dia kemudian meraih tangan Maura dan meletakkannya di permukaan dadanya. Membuat Maura malu dan menutup kedua matanya.

1
dhinyuli
novelnya cukup bagus dan menarik semuanya porsi pas alur dan intrik pas gg berlebihan.

novel masih banyak PR
*dion yg hilang ingatan
*hubungan dion dan adila
*siapa yg nabrak dion
*siapa yg berbuat curang dengan perusahaannya
*hubungan miko dan dira
*hubungan maura dan dion
*tulang siapa yg ditemukan di mobil
*apa yg terjadi dengn samuel
*ada yg terjadi dengan david

masih banyak PR jadi terus semangat
arfan
jos
*~W¥^ Al~*
buat episode baru napa kak...
bagus critanya...
dhinyuli: terusin dong ide ceritanya menarik intriknya juga gg terlalu berlebihan porsinya pas koq, asal konsisten aja tiap hari jangan down karna gg ada yg baca segitu sudah lumayan lho. masih banyak PR novelnya dion yg masih hilang ingatan terus si adila terus tentang miko dan dira kelanjutan hubungan mereka terus siapa yg nabrak dion waktu itu yg berbuat curang terus juga david dan juga kenapa dion bisa sama adila terus tulang siapa yg ditemukan di dalam mobil masih banyak PR.
total 6 replies
*~W¥^ Al~*
😭😭😭😭😭😭
aku juga merasakan nya gimana rasanya di tinggalkan seorang yg kita cintai untuk selamanya...
Dion bakal kembali Maura bersabarlah....
*~W¥^ Al~*
ulah si David ni sama Darmawan...
*~W¥^ Al~*
selamat mas Dion akhirnya belah duren juga....
*~W¥^ Al~*
apa ini rencana si Dion
*~W¥^ Al~*
sudah mulai bucin nih tapi gk peka...
*~W¥^ Al~*
antara masa lalu atau mikirin MB Maura nih mas Dion...
*~W¥^ Al~*
Dion nih
💞 Nofia 💞
nt eror apa gimana sih,
kemaren masuk pemberitahuan katanya 3 hari gak up, padahal aku up tiap hari.
sekarang episode yang sudah dihapus malah ditampilkan, jadi double hari ini. padahal bab 77 yang pertama itu salah, sudah aku hapus. malah di publish
💞 Nofia 💞
astaga, ini sudah di hapus, kok muncul di beranda. ini salah ya😅
Alenka
lanjut dong kk
Alenka
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Alenka
kapan dion ingat lagi
Pemujamu
lanjut
Pemujamu
lanjut kk
Pemujamu
lanjut
Kopii Hitam
lanjut kk
Pemujamu
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!