Suara tangisan bayi menyita perhatian seorang pemuda yang sedang duduk di taman. kakinya melangkah mendekati sumber suara. Ia meraih bayi mungil itu dan menggendongnya dengan penuh kelembutan. "Alesya." gumamnya membaca ukiran kalung berlian di leher bayi cantik itu.
Bayi kecil itu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan Alex sebagai orang tua tunggalnya. Rasa sayang pada anaknya telah berubah menjadi cinta pada seorang wanita. Alex berusaha menepis namun tidak bisa. Pria itu ingin memiliki Alesya. Menjadikan gadis itu sebagai ratu di hatinya.
Mampukah Alex mempertahankan Alesya untuk tetap di sisinya di tengah pencarian keluarga kandung gadis itu?
Bisakah Alex membuat gadis itu menerima perasaannya?
Ikuti terus cerita menarik ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjaka Tua
"Istri saya dimana Bi?" Tanya Alex memasuki rumah. Pria itu baru saja pulang dari kantor. "Di dapur pak. Lagi bikin...." wanita paruh baya itu tampak berpikir. "Ah sulit namanya. Pokoknya Non lagi di dapur pak." Jawabnya. Alex mengangguk kemudian segera menyusul istri tercinta.
"Lagi bikin apa Sayang?" Tanya Alex langsung memeluk Al dengan erat. "Lagi bikin brownies." Jawab Al membuat Alex tertawa. "Kenapa?" Alesya heran dengan tingkah suaminya. "Enggak tadi kata Bibi kamu lagi bikin makanan yang namanya susah. Eh ternyata cuman Brownies." Jawab pria itu sambil menghela napas. "Oh. Kamu mandi dulu gih. Makan siangnya sudah siap." Kata Alesya namun Alex malah mengeratkan pelukannya. "Temenin." Lirih pria itu.
Alesya sedang mengeringkan rambut suaminya. Kata pria itu tadi hanya minta di temani namun sampai di kamar tentu beda lagi ceritanya. "Siang siang sudah minta jatah saja. Malam nanti libur." Kata wanita itu membuat suaminya melebarkan mata. "Loh. Kok gitu. Tadi kan...." Alex tidak dapat meneruskan kata katanya. "Tadi apa?" Tanya Al dengan kesal. "Tadi kan setengah Sayang. Nanti malam setengah lagi." Jawab pria itu tersenyum menatap sang istri. "Jangan senyum senyum. Kamu nyebelin. Nggak. Itu sudah full. Malam tidak boleh lagi. Salah siapa bikin aku mandi lagi." Al beranjak untuk menyimpan handuk basahnya.
"Jangan gitu dong Sayang." Bujuk Alex saat mereka sedang makan siang berdua. "Kenapa?" Tanya Al dengan entengnya. Alex menghela napas. Betapa kejamnya sang istri membuatnya menahan sesuatu yang tentunya membuat Ia tersiksa. "Masa kamu tega sama aku." Jawab pria itu memelas namun Al tidak perduli terus melanjutkan makannya. "Nanti malam boleh ya?" Tanya pria itu dan Al mengangguk lemah. Mendengar rengekan pria itu membuat telinganya pengang. "Makasih Sayang." Alex memeluk istrinya.
Bayu dan Bima sedang duduk berdua dengan Al. Keduanya mengadu karena dimarahi sang Papa. "Memangnya kalian kenapa?" Tanya Al sembari mengusap kepala kedua anak itu. "Nilai kita jelek Kak. Papa marah marah." Jawabnya pelan. "Pantesan papa kalian marah. Nilai kalian jelek begitu. Memangnya kalian tidak belajar?" Tanya Alex kesal. Waktunya berdua dengan sang istri selalu saja terganggu. "Belajar kok Om." jawab keduanya. "Kalian disini?" Bram datang dan ikut duduk bergabung bersama mereka. "Bagus. Udah salah namun kabur aja kalian." Omel pria itu. "Sudah Om. Bicarakan baik baik." Bram menghela napas kemudian memberikan dua kertas pada Alesya. "Astaga. Ini bukan jelek lagi. Ini hancur namanya." Kata Wanita itu membaut Alex tertawa. "Berapa sih nilainya?" Tanyanya pada sang istri. "Bayu 10 lah Bima 0." Jawabnya. "Pantesan papa kalian marah. Kalian tidak belajar ya?" Keduanya menggeleng pelan. "Kebanyakan main game online sih. Makannya begitu." Bram menyandarkan punggungnya di sofa. "Mulai sekarang kalian belajar. Kakak akan temani." Kata Al membuat suaminya melotot. "Sayang." Keluh pria itu membuat Bram menahan tawa. Alex sangat takut waktunya dengan sang istri terganggu.
Alex ngambek ceritanya. Pria itu tak mau berbicara dengan sang istri. Bisa bisanya Alesya menemani mereka belajar. Lalu waktu dengannya bagaimana? "Mas." panggil Al dengan lembut sembari memeluk tubuh suaminya. "Maaf Mas. Hanya seminggu saja. Bari aku waktu seminggu." Alex tetap diam menahan yang di bawah sana mulai sesak. Hanya dengan begini saja Ia sudah ON. "Mas." Panggil Al lagi yang terdengar sangat menggoda. Alex tak tahan. Persetan dengan ngambeknya. Pria itu berbalik dan menggendong tubuh istrinya. Meletakkan tubuh Al di ranjang dengan hati hati. "Mas." Keluh Al dengan napas terengah engah saat ciuman mereka terlepas. "Salah sendiri menggodaku." Kata pria itu mulai menjamah tubuh candi istrinya.
"Hah...Hah...hah..." napas Al dan Alex sama sama terengah engah. Pria itu mendongak menatap ke atas sembari memejamkan mata menikmati senjatanya menyemburkan benih ke dalam rahim sang istri. "Ungh..." Alex melenguh panjang setelah mencapai pelepasan yang kesekian kali. "I love you." Kata pria itu mengecup bibir sang istri lalu ikut berbaring. "Mau mandi." Kata Al merasa tidak nyaman karena tubuhnya terasa lengket. "Sebentar lagi. Kita istirahat sebentar. Nanti aku mandikan." Ucap pria itu sembari tersenyum. "Mau mandi sendiri. Kalau mandi sama kamu lain ceritanya." kata Al karena suaminya itu tak pernah puas. "Hehehe...Milikmu sangat nikmat sayang." kata pria itu sambil terkekeh. "Punyamu yang terlalu lama diam sampai usia sekarang baru dapat pelampiasan. Kata orang perjaka tua." Ucap Al. "Iya sih. Tapi masih tokcer benihnya. Lagipula milikku ini setiap pelukan sama kamu selalu tegang." Pria itu berkata dengan jujur. "Lalu?" Tanya Al menatap suaminya. "Ya berakhir di kamar mandi. Yang terakhir ya berakhir di lubang kamu waktu itu." Ucap Alex sembari mengedipkan matanya.
typo Thor...