NovelToon NovelToon
First Love First Fall

First Love First Fall

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Lana Ra

Serenada Senja, seorang gadis di penghujung 30. Dia ingin melarikan diri dari situasi kantor yang membuatnya stress sekaligus menghindari satu orang yang selalu mengejarnya. Juga desakan orang tuanya untuk segera menikah.

Nada mendapatkan keinginannya itu aetelah beasiswa S2-nya disetujui. Namun, pelariannya kali ini malah membuat Nada bertemu masalah baru.

Narendra, teman dekat yang sekaligus naksir Nada, membuat situasi semakin sulit untuk gadis itu. Dia pun harus berhadapan dengan Agam Alfiansyah, dosennya yang killer.

Situasi itu dimanfaatkan oleh Agam untuk mendekati Nada. Walau gadis itu terang-terangan menolak. Sampai akhirnya satu kejadian mengubah seluruh persepsi Nada. Bahwa takdir itu yang menentukan sisa cerita.

***


Season 2

Setelah Serenada mau membuka hatinya untuk Agam Alfiansyah, apakah akhirnya di bisa mendapat gelar sebagai Nyonya Agam?

***
Season 3

Setelah menikah, kesibukan Agam dan Nada makin bertambah. Apalagi mereka terpisah jarak. Akankah mereka segera menimang buah hati? Atau malah tersibukkan oleh aktivitas masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lana Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Broken Heart

Info dari Pak Agam tentang Rendra cukup menyita pikiranku selama 5 hari di rumah. Walau kusibukkan diri dengan novel dan komik, masih saja berkelebatan menggangu.

Sampai-sampai aku merasa bosan dan berharap dengan membantu Pak Karnis mengurus taman Ibu, bisa mengalihkan perhatian. Hasilnya, gatot alias gagal total. Bahkan pagi tadi Bik Hani memergokiku melamun lalu memintaku membantunya di dapur seharian ini.

Sudah hampir jam 12 malam dan mataku masih belum terpejam. Padahal stok komik dan novelku sudah habis. Kuperiksa hape yang masih berjibun dengan notifikasi WA.

Jariku langsung menuju web jurusan dan memeriksa info pengumuman hasil KHS. Ternyata belum juga update sampai hari ini, sama juga pembagian dosen pembimbing Thesis, belum ada.

Akhirnya aku memeriksa WA. Lagi-lagi yang terbanyak adalah chat dari Rendra. Mulanya ingin kublokir dia, tapi lebih baik hanya ku-read saja. Teleponnya pun tidak kuangkat. Meski tidak jarang tergoda untuk membalas, tapi cerita Pak Agam berhasil membuatku mengurungkan niat itu.

Jika saja bukan karena menunggu hasil KHS online dan pembagian dosen pembimbing, mungkin hape akan kumatikan total. Pendek kata selama sepekan ini hapeku berada dalam silent mode.

Mengabaikan chat dari Rendra yang sangat banyak, buru-buru kubuka chat dari Mbak Mila. Iya, ceritanya tentang situasi di kantor tidak pernah membuatku bosan. Itu menjadi satu hiburan yang kutunggu dari Mbak Milla.

Kali ini dia tidak menceritakan tentang kantor, tapi mengajakku nonton bioskop Sabtu besok. Juga menodongku untuk menginap di rumahnya sampai hari Minggu. Apalagi kalau bukan menemaninya nonton drakor marathon dan membantunya membuat foto baju.

Dasar drakor mania!

Namun tidak kupungkiri, ajakannya itu membuatku senang. Segera kubalas WA-nya dengan stiker OKE. Lalu kutambahkan pesan agar dia datang jam 7 pagi untuk sekalian ikut sarapan.

Ia memang seperti kakakku sendiri. Dulu waktu masih di kantor, sering menceramahiku tentang banyak hal. Bahkan, hanya dia seorang yang kuberitahu tentang rencanaku mengambil beasiswa S2 dan sangat mendukung.

Walau kami akrab, tapi masih saja ada rasa enggan untuk menceritakan tentang Rendra padanya. Masalah ini benar-benar membuatku ogah-ogahan kembali ke Malang. Kota yang dulu kuharap bisa menjadi tempat menenangkan pikiran, sekarang menjadi tempat yang paling kubenci. Jika bukan karena kontrak beasiswa, mungkin aku tidak akan melanjutkan kuliah.

Membuang semua beban pikiran, akhirnya kuputar music JOOX setelah memasang headset di telinga. Beberapa lagu cukup membuatku rileks. Tiba pada list lagu Senorita membawaku ke dimensi lain yang tak terbayangkan.

*I love it when you call me señorita

I wish I could pretend I didn't need ya

But every touch is ooh la la la

It's true, la la la

Ooh, I should be running

Ooh, you keep me coming for you*

"Nadaaaaa,” bisikan lembut itu terdengar samar, "Serenadaaa."

Suara itu seakan terbawa angin yang berhembus sepoi-sepoi dari arah belakang.

“Serenada,” panggil suara tanpa wujud itu lagi. Tidak menakutkan tapi malah membuatku penasaran.

Aku seperti berada di tengah hamparan padang rumput hijau yang luas membentang. Kubalikkan badan, tampak sebatang pohon besar dengan daunnya yang lebat dan berwarna kemerahan. Suara itu semakin jelas terbawa angin sampai ke telingaku.

Terlihat siluet sesosok pria melambaikan tangannya padaku. Aku berjalan mendekatinya, tapi ia berubah menjadi seekor ular yang melilit cabang pohon itu.

“Siapa kamu?” tanyaku.

“Serena,” bisiknya lagi, “jangan tinggalkan aku!“ ucapnya sangat jelas.

Suara itu … membuat tubuhku berguncang. Aku mundur dan mendapati posisiku berada di tebing jurang. Tak ayal lagi aku jatuh ke belakang.

Tergeragap bangun dengan peluh bercucuran, aku mengatur napas. Syukurlah hanya mimpi, mimpi buruk. Semoga bukan karena terlalu memikirkan Rendra aku jadi seperti ini.

Apalagi mimpi itu tidak hanya sekali ini saja. Hampir seminggu aku mengalami berbagai mimpi yang mirip tadi. Seekor ular yang memanggil namaku dan akhirnya aku terjatuh.

Sambil mengatur degub jantung yang berantakan, kulayangkan pandangan pada lubang angin di atas jendela. Rupanya di luar sudah terang. Efek tidak salat membuatku semakin malas bangun pagi. Akhirnya aku kembali berbaring memandang langit-langit. Belum juga berhasil menangkan diri terdengan ketukan di pintu.

“Mbak Nada, Mbaaakk ayo bangun, ada tamu!” panggil Bik Hani.

Siapa juga datang pagi-pagi begini? Bukankah Mbak Milla kusuruh datang jam 7-an biar sarapan di rumah? Kulirik jam dinding, baru pukul enam lewat sepuluh. Tumben ratu molor bisa datang rajin juga.

“Iya Biiik, masuk aja gak dikunciii!” teriakku.

Bik Hani membuka pintu dan menghampiriku yang masih bermalasan di tempat tidur.

“Sapa sih? Mbak Mila ya?” tanyaku sambil garuk-garuk kepala.

“Bukan, Mbak. Bapak-bapak yang tempo hari nyari Mbak Nada itu loh!”jawab Bik Hani polos.

Huwaaat. Mas Rudi ke mari?

“Haduuuhhh, kok gak bilang saya masih di Malang sih Bik?”

“Lah, wong dia di depan ketemu Bapak yang baru pulang, ya langsung disuruh masuk. Ngaku teman kantornya Mbak Nada juga,” ujar Bik Hani membela diri.

“Yaaaaah,” aku lemas deh, ”eh, Ayah pulang sendirian ta? Gak sama temennya?”

Entah kenapa aku berharap Pak Agam datang bersama Ayah. Kan sudah lima hari ini Ayah ke Malang mengurus proyek.

“Nggak, Bapak sendirian kok. Udah, buruan mandi sana!” perintahnya seraya menyeretku bangun dan mendorongku masuk ke kamar mandi.

*

“Nada,” sapa Mas Rudi begitu aku menemuinya di ruang tamu setengah jam kemudian.

“Hei, apa kabar Pak?” balasku. Sengaja kusapa dengan panggilan Pak agar lebih formal dan menjaga jarak.

“Baik-baik, alhamdulillah.”

“Maaf lama, baru bangun soalnya,” lanjutku.

Jujur saja aku canggung berhadapan dengannya. Terbersit rasa bersalah karena pertemuan terakhir kami tidak mulus. Mungkin aku telah mempermalukannya kala itu. Tapi mau bagaimana lagi aku menolaknya, semua cara halus sudah kulakukan dan dia masih saja mengejarku.

“Ah nggak apa-apa. Saya yang harus minta maaf, pagi-pagi mengganggu.”

Sangat amat mengganggu bangeeeeeeeeet!

“Nggak apa-apa, kok. Silakan diminum tehnya, dimakan kueanya,” tawarku kemudian.

“Begini, Nad. Aku kemari sengaja ingin ketemu kamu untuk minta maaf,” matanya memandangku lekat-lekat, ”aku sadar selama ini telah membuatmu merasa tidak nyaman di kantor.”

Iya emang! Baru sadar sekarang?

“Ah, seharusnya saya yang minta maaf, karena tidak bisa menempatkan diri. Tapi mending kita lupakan saja, Pak. Lagi pula semua itu sudah berlalu,” jawabku sesantai mungkin.

“Alhamdulillah kalau begitu.” Wajah duda 40 tahun itu terlihat lega. “Oh iya, boleh nggak aku minta info beasiswa S2 yang kamu dapat itu. Link atau formulirnya dapat di mana gitu? Karena setahuku biasanya hanya staff yang ditunjuk dinas yang dapat.”

Eh, dia serius ternyata.

“Oh, itu. Kebetulan saya memang browsing beasiswa dikti kerjasama dengan dinas. Bisa dilihat di web beberapa universitas yang ditunjuk. Tinggal mendaftar saja, lalu ikuti alurnya. Ada persyaratan administrasi dan ujian seleksi yang harus dilalui,” paparku panjang lebar.

“Wah, berarti seleksi ya?”

Ya iyalaaaahhh, om! Aku mengangguk.

“Ya sudah, nanti aku cari sendiri linknya,” lanjut Pak Rudi kemudian.

Bagus, jangan ngerepotin aku lagi ya!

“Eh iya, silakan diminum tehnya, sama kuenya,” kataku lagi.

Pak Rudi tidak menyentuh kue di meja. Ia mengambil cangkir dan menghabiskan sisa teh di dalamnya..

“Ya sudah, saya pamit dulu. Terima kasih Nada, atas infonya. Dan saya sudah lega sekarang setelah bertemu kamu. Salam ke Ayahmu ya,” pamitnya seraya berdiri.

Aku ikut berdiri dan mengantarnya ke depan pintu. Tepat saat itu, mobil Mbak Milla masuk ke pelataran rumah.

Miss Olshoper itu turun dari mobil dan memandang heran kepada Mas Rudi.

“Ngapain kamu kemari?” tanyanya terus terang.

“Eh, Milla. Cuma minta info beasiswa ke Serena,” jawab Mas Rudi santai.

“Iya tah, Nad?” tanya Mbak Milla padaku masih tidak percaya.

“Iya Mbak. Gak usah galak-galak gitu napa,” tegurku berusaha sopan. Mbak Milla satu-satunya orang yang tidak ikutan mendukung Mas Rudi untuk mendekatiku.

Mbak Milla malah melotot padaku. “Jangan main-main sama Mas Agam loh ya! Kuadukan Ayah kamu nanti!” ancamnya.

Aku terbahak. Sementara Mas Rudi terlihat mengeryitkan dahi.

“Baguslah kalau kamu memang gak nggangguin Nada lagi. Dia sudah punya calon loh, udah disetujuin sama ayahnya juga. Tunggu saja undangannya ya,” ujar Mbak Milla seraya masuk ke dalam. Benar-benar kayak rumah sendiri aja.

“Ya sudah, Nada. Saya pamit, assalamualaikum.” Mas Rudi mohon diri.

“Waalaikum salam.”

Setelah laki-laki itu menghilang bersama motornya, aku segera masuk menemui kakak ketemu gede yang agak sengklek itu.

“Kamu apa-apaan sih, Mbak? Kok pake ngomongin Mas Alfian di depan Mas Rudi,” tegurku.

Nyonya Wahyu yang mengenakan pastan dan tunik ungu itu sedang duduk santai di meja makan.

“Biarin aja napa! Lagian kamu dulu ‘kan sebel banget sama tuh orang. Atau jangan-jangan sekarang kamu ada rasa ya ke dia?”

“Ya nggaklah Mbak. Cuma kasian aja ngelihat dia sampe ngebla-belain kemari,” elakku.

Tidak lama kemudian, Ayah bergabung di meja Makan.

“Loh ada Milla, toh!” sapa Ayah.

“Iya Om, sama Nada disuruh ngabisin makanan katanya. Dia kasian sama saya karena sendirian gak ada temannya di rumah.” Bisa aja cewek satu itu ngocol.

“Hahahha, iya kemari aja sering-sering sama Wahyu walau gak ada Nada. Sejak Nada kuliah kalian jarang main,” timpal Ayah.

“Hehehhe, Om juga jarang di rumah gitu, sibuk sama proyek mulu.”

“Oh, iya ya, hahahahha.”

Senang rasanya melihat Ayah gembira seperti ini.

“Udah ayo sarapan, kebanyakan ngobrol ntar pada kelaparan. Bik Hani, mana Pak Karnis? Ayook kita sarapan!” ajakku bersemangat.

***

Yeaayyy akhirnya bisa apdet, setelah seharian nungguin sinyal pulih.

Happy reading ya gaeessss

1
Shiren Gibrani. the way
Luar biasa
Chu Shoyanie
Kehilangan banget....
jadinya menggantung ...
Chu Shoyanie
Ah Ridwan....aku padamu😘😭
Chu Shoyanie
Kenapa kamu jadi sebijak ini Ridwan....😭😘
Chu Shoyanie
mas Dian itu gk manja tapi......qute(baca:kiyut),so sweet&smart....👍👍😍
Chu Shoyanie: mas Fian maksudnya ya....🙏🤭
total 1 replies
Chu Shoyanie
sudah sepatutnya Nada mulai mencintai sangat sm Mas Fian....apalagi ketika sedih krn kehilangan orang terkasih lagi...
Aku aja yg cm reader suka bgt sm mas Fian mu Nada....😍🤭
Chu Shoyanie
penasaran Mr.Rizky dibilang pengkhianat...🤔👍
Chu Shoyanie
srmoga Nada hamil
Chu Shoyanie
Lebih cintai suamimu Nada...di dunia nyata belum tentu ada suami seperfect Mas Fian...entahlah...🤗
Chu Shoyanie
nah ini yg bikin sebelku ke Nada:gk jjur ma suami,apapn resikonya,jujurlah!
Chu Shoyanie
sblnya Nada:otaknya S2 tp perasaannya SMA...;masa gk tau gelagat orang yg naksir sm dia,apalagi ada pengalaman jalan brg ma alm.rendra,trs dl prnh dikejar2 pak Rudi,apalagi skrg dpt suami dosen,baik,sopan,cinta bgt,eu cm ditanggapi:akan berusaha mencintai,bkn berusaha lg tp tegaskan bhw skrg mas Fian itu suami dunia akhiratmu Nada....
masa sm cwo mentah model ridwan aja gk keukur Nad😔
Chu Shoyanie
Gak tau sebel aja kl ada adegan\dialog\monolog Nada yg kurang menghargai rasa cinta yg dimiliki Mas Fian...makin +umur tuh makin bijak dong Nada....hadeuhhhhh🤔🤐
Chu Shoyanie
sebel sm Nada,gk bisa bilang nunggu suami jgn pakai seseorang?!itu pemicu ridwan makin "berani"!,jgn gt dong Nada...msh pgn klhtn gadis ya....
Chu Shoyanie
part ini bikin aku nangis...😭teringat masa lalu...cinta yg sgt kuat perlahan melemah krn LDR&hadirnya WIL...membuat kami (aku&anakku)terhempas dr sisinya... dia lbh nemilih yg haram(dg sgl rupa teror WIL itu pdku) drpd mmpertahankan yg sdh jls halal....
Qadarullaah....membuatku lbh kuat,lbh shabar&lbh ikhlash menjalani kehidupan....
Chu Shoyanie
Seabdainya di dunia nyata ada laki2 yg seperri Agam melamarku,aku akan langsung bersedia menjadi teman sehidup sesurganya ....,Aamiin🤲🤲🤲
Chu Shoyanie
emg beneran ada di dunia nyata org kyk firman???ngeri ih!!!
Chu Shoyanie
kalau aku malah senang ada canpuran bahasa aaingnya,jd aku bisa sambil belajar,makasih thor atas berbagi ilmunya🙏
Chu Shoyanie
ada kisah mistisnya juga ya thor....hebat kamu thor👍👍👍
Chu Shoyanie
aku selalu menantikan komunikasi Agam&Nada....
Chu Shoyanie
di dunia nyata ada ya karakter firman?namanya tak sebagus akhlaknya....syg bgt!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!