NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tabrakan Takdir dengan Kereta Kencana Modern

Deru mesin diesel bus ekonomi yang kasar dan getaran konstan dari bodi kendaraan yang tua menemani perjalanan Alessa menembus kegelapan pekat jalur pantura. Di sudut kursi paling belakang, gadis itu duduk meringkuk, memeluk erat kedua lututnya yang gemetar. Kain gorden yang melilit dadanya di balik kemeja biru pudar peninggalan ayahnya kini telah mengering secara paksa oleh embusan angin malam dari ventilasi bus yang rusak. Rasa kering itu justru memicu siksaan baru; kain yang kaku itu kini merekat erat pada jaringan luka sabetan di punggungnya, seperti lemak yang membeku di atas wajan, mengirimkan sensasi ngilu yang konstan setiap kali bus menghantam lubang jalanan.

​Namun, yang paling menderita malam itu adalah sepasang telapak kaki polosnya. Tanpa alas kaki, kulit tipisnya yang terobek oleh kerikil terminal kini telah membengkak hitam keunguan, dipenuhi sisa lumpur kering yang perih. Alessa menatap nanar ke arah lantai bus. Dia merasa seperti seonggok daging tak berharga yang sedang diselundupkan keluar kota. Kesedihan yang teramat mendalam kembali merayap, mencekik dadanya hingga sesak. Dia telah kehilangan segalanya: rumahnya, satu-satunya kakak kandungnya yang telah berubah menjadi monster, dan martabatnya sebagai manusia. Kini dia menuju ibu kota—sebuah labirin beton yang asing—tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa sepasang sepatu untuk menapak bumi.

​“Mamma, Papà... apa aku benar-benar sudah tidak punya tempat di dunia ini?” ratapnya dalam hati, air matanya menetes pelan, membasahi debu yang menempel di pipinya. “Aku pergi sejauh ini, tapi rasa sakitnya tetap ikut di punggungku.”

​Amarah yang dingin dan pekat ikut bergolak di sela-sela rasa sedihnya. Dia marah pada ketidakadilan hidup, marah pada Rian yang mungkin saat ini sedang mengamuk bersama preman pelabuhan, dan marah pada takdir yang seolah-olah menguji batas kemanusiaannya tanpa ampun. Ketika kepalanya mulai berputar hebat akibat vertigo yang dipicu oleh dehidrasi dan kehilangan darah, sekring sarkasme radikal di dalam otaknya kembali menyala secara otomatis, menghalau pusaran depresi yang siap menenggelamkannya.

​"Hebat," gumam Alessa, suaranya terdengar datar dan parau di antara dengkur penumpang lain. "Gaya perjalanan gue malam ini bener-bener mewah. Bukan cuma dapet fasilitas pijat refleksi kerikil gratis tadi di terminal, sekarang gue dapet bonus efek deep-tissue massage dari kursi bus yang pernya sudah jebol ini. Ini kalau dijual sebagai paket wisata horor di Eropa, pasti laku mahal."

​Dia memaksakan seulas senyum kecut, menatap kantong kemejanya yang masih menyisakan beberapa lembar uang kembalian dari kernet. "Setidaknya gue punya modal buat beli sandal jepit swau termahal di Jakarta nanti. Itu kemajuan finansial yang signifikan untuk seorang buronan pelabuhan."

​Fajar menyingsing dengan warna abu-abu keperakan ketika bus akhirnya memasuki pinggiran ibu kota. Alessa terbangun dengan tubuh yang kaku total. Saat bus berhenti di terminal bayangan daerah Jakarta Pusat, Alessa melangkah turun dengan sangat perlahan. Setiap kali telapak kakinya yang terluka menyentuh tanah beton terminal yang kotor, rasa sakit laksana ditusuk ribuan jarum langsung menjalar naik ke tulang belakangnya. Dia berjalan terhuyung-huyung, satu tangannya memegangi rusuk kirinya yang masih linu, sementara tangan lainnya bertumpu pada dinding-dinding ruko sepanjang jalan.

​Dia tidak tahu harus ke mana. Langkah kakinya yang tak berarah menuntunnya menyusuri trotoar jalan protokol yang mulai ramai oleh hiruk-pikuk kaum urban yang berangkat kerja. Di tengah kepungan manusia-manusia berdasi dan berbusana rapi, Alessa tampak seperti anomali yang mengerikan: seorang gadis muda berwajah lebam, rambut kusut masai, mengenakan kemeja pria yang longgar dan bernoda darah di bagian belakang, serta berjalan bertelanjang kaki di atas pedestrian yang kasar.

​Pandangan mata Alessa mulai mengabur. Efek trauma fisik dan mental dari malam berdarah kemarin kini menuntut bayaran penuh. Vertigonya kembali menyerang dengan kekuatan ganda. Jalanan di depannya tampak bergelombang seperti ombak laut, dan suara klakson kendaraan terdengar mendengung pekak di dalam telinganya.

​"Gak... gue gak boleh pingsan di trotoar..." bisik Alessa, mencoba menguatkan hatinya yang mulai goyah. "Bisa-bisa gue dikira korban tabrak lari atau lebih buruk lagi, dikira pajangan manekin hidup edisi penderitaan global."

​Tepat di depan sebuah pelataran gedung perkantoran mewah berarsitektur modern dengan kaca-kaca hitam yang menjulang tinggi, tubuh Alessa benar-benar mencapai batas absolutnya. Langkah kakinya kehilangan daya tumpu. Dia limbung, tubuhnya oleng ke arah kanan, tepat saat sebuah kendaraan mewah bergerak memotong jalur trotoar untuk memasuki lobi utama gedung tersebut.

​Itu bukan sekadar mobil biasa. Benda itu adalah sebuah mobil sedan hitam ultramodern dengan desain aerodinamis yang sangat elegan, keluar dari pabrikan Eropa kelas atas. Permukaan bodinya yang hitam legam mengkilap laksana cermin murni, memantulkan cahaya matahari pagi dengan sangat anggun. Logonya yang melingkar di bagian depan berkilau keperakan, memancarkan aura kekuasaan, kekayaan, dan dominasi yang mutlak. Di mata Alessa yang sedang setengah sadar, mobil itu tampak seperti sebuah "kereta kencana modern" yang turun langsung dari dimensi lain untuk menjemput atau justru melindas hidupnya yang compang-camping.

​Citttt!

​Suara derit rem hidrolik yang sangat halus namun tegas berbunyi seketika. Sistem pengereman otomatis mobil mewah itu bekerja dengan akurasi mili detik, menghentikan laju kendaraan tepat beberapa sentimeter sebelum moncong bumper depannya menyentuh tubuh Alessa.

​Namun, kejutan dan embusan angin dari mobil tersebut sudah cukup untuk meruntuhkan sisa keseimbangan Alessa yang rapuh. Tubuh ringkihnya ambruk ke depan, jatuh terjerembab di atas kap mesin mobil hitam yang panas dan mengkilap tersebut. Kepalanya terkulai di atas lambang perak di kap mobil, sementara kedua tangan polosnya yang kotor meninggalkan jejak noda lumpur dan darah kering di atas permukaan cat mobil yang berharga miliaran rupiah itu.

​Tabrakan takdir telah terjadi. Batas antara dunia bawah yang penuh darah tempat Alessa berasal, berbenturan secara frontal dengan dunia puncak yang dipenuhi kemewahan dan kekuasaan mutlak di dalam kereta kencana modern tersebut.

​Suara pintu mobil yang terbuka terdengar mantap dan berbobot. Dari kursi belakang, melangkah turun seorang pria muda dengan perawakan tinggi tegap. Gerakannya sangat tenang, namun memancarkan aura otoritas yang sanggup membuat ruang di sekitarnya mendadak sunyi. Pria itu mengenakan setelan jas formal abu-abu gelap buatan penjahit terbaik di Italia, tanpa ada satu pun lipatan yang salah. Sepasang sepatu kulit hitamnya yang mengkilap menapak di atas aspal dengan ketukan yang berwibawa.

​Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun sepasang matanya yang berwarna hitam kelam tampak begitu dingin, datar, dan kosong dari segala bentuk emosi manusia biasa. Pria itu adalah sang penguasa dunia malam yang baru, sosok yang namanya ditakuti di seluruh penjuru kota namun wajahnya jarang terekspos publik. Dia menatap jejak noda darah dan lumpur yang mengotori kap mobil mewahnya dengan dahi yang berkerut tipis—sebuah tanda gangguan kecil yang sangat jarang dia tunjukkan.

​"Tuan muda, biar saya bereskan gelandangan ini," kata sang sopir yang buru-buru keluar dari pintu depan dengan wajah panik, bersiap untuk menyeret tubuh Alessa menjauh dari mobil.

​Pria muda berjas itu tidak menjawab. Dia melangkah mendekati kap mobilnya, menatap gadis yang sedang pingsan dengan posisi menempel di atas mesin kendaraannya. Pandangan matanya yang tajam laksana elang beralih meneliti penampilan Alessa: lebam di rahang, kemeja biru pudar yang longgar, noda merah pekat yang meluas di bagian punggung, dan yang paling menarik perhatiannya... sepasang telapak kaki polos yang dipenuhi luka robek menganga akibat berlari tanpa alas kaki.

​Pria itu terdiam selama beberapa detik. Di dalam dunia tipu daya yang dia pimpin, dia telah melihat ratusan orang memohon ampun, ratusan tubuh yang hancur karena penyiksaan, namun ada sesuatu yang tidak biasa dari gadis di depannya ini. Bahkan dalam kondisi pingsan total, sudut bibir Alessa yang pecah masih tampak berkedut kecil, seolah-olah sedang menertawakan kemalangan takdirnya sendiri di dalam mimpi.

​Tepat pada saat itu, kesadaran Alessa merayap kembali dalam hitungan persen yang sangat kecil akibat rasa panas dari kap mesin mobil. Dia membuka kelopak matanya yang bengkak secara perlahan, mendongak dengan sangat susah payah. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan buramnya adalah siluet seorang pria tampan berjas mewah yang sedang menatapnya dari atas dengan tatapan sedingin es.

​Mekanisme pertahanan absurd Alessa langsung bekerja di luar kendali akal sehatnya, bahkan sebelum dia bisa mengenali di mana dia berada saat ini.

​Alessa menatap jas mewah pria itu, lalu menatap noda darah dari punggungnya yang kini sukses mengotori kap mobil hitam tersebut. Sebuah tawa pendek yang sangat serak lolos dari tenggorokannya.

​"Mas..." desis Alessa dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun sarkasmenya tetap tajam. "Maaf banget... gue gak sengaja... numpang tidur di atas meja makan hitam yang mengkilap ini. Tapi serius, kap mesin mobil lu... anget banget, Mas. Jauh lebih fungsional daripada koyo cabai buat meredakan encok di punggung gue yang habis kena sabetan kreativitas Kak Rian."

​Sang sopir terbelalak mendengar ucapan nekat Alessa. "Kamu... berani-beraninya bicara begitu pada—"

​Pria muda berjas itu mengangkat satu tangannya, memberikan isyarat visual yang seketika membungkam ucapan sopirnya. Sepasang mata dinginnya menatap lurus ke dalam mata Alessa yang sayu namun masih memancarkan kilatan pemberontakan yang liar. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sebuah ketertarikan yang tipis muncul di balik tatapan sedingin es milik sang penguasa. Gadis ini baru saja hampir mati, tubuhnya hancur, namun hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah sebuah lelucon sarkas tentang kenyamanan kap mesin mobil mewah.

​"Kamu tahu mobil siapa yang kamu kotori dengan darahmu?" tanya pria itu, suaranya terdengar berat, rendah, dan bergetar dengan otoritas yang mutlak.

​Alessa memaksakan salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman kaku yang menderita sebelum kesadarannya kembali merosot menuju kegelapan total.

​"Kagak tahu, Mas..." bisik Alessa, matanya mulai terpejam kembali. "Tapi yang jelas... pemilik mobil ini pasti kaya banget... dan punya selera fasyun jas yang oke... Sayang banget, sifatnya agak kaku kayak kanebo kering... Terima kasih buat... tumpangan kehangatan daruratnya, Bos..."

​Setelah mengucapkan kata terakhir itu, tubuh Alessa lemas sepenuhnya. Kesadarannya padam total, kepalanya kembali terkulai pasrah di atas lambang perak kap mesin mobil.

​Suasana di lobi gedung perkantoran itu kembali sunyi, hanya menyisakan deru suara knalpot mobil mewah yang halus. Sang sopir menatap tuannya dengan pandangan bertanya, menunggu perintah untuk membuang gadis itu ke rumah sakit terdekat atau menyerahkannya pada pihak keamanan gedung.

​Pria muda berjas abu-abu gelap itu menatap jejak tangan berdarah Alessa di atas kap mobilnya untuk terakhir kali. Sesuatu di dalam diri Alessa—mungkin ketegaran gilanya, mungkin luka-luka yang tumpang-tindih di tubuhnya, atau mungkin sisa keberanian yang terpancar dari sarkasmenya—telah menyentuh sebuah tombol rahasia di dalam protokoler emosinya yang selama ini beku.

​"Buka pintu belakang," perintah pria itu dingin, berbalik arah menuju pintu mobilnya sendiri.

​"Tapi, Tuan muda... baju dan tubuhnya kotor sekali, bisa merusak lapisan kulit jok—"

​"Buka," potong pria itu dengan nada yang tidak menerima bantahan sekecil apa pun.

​Sang sopir dengan cepat mematuhi perintah tersebut, membuka pintu kabin belakang yang mewah dan berbau harum aroma terapi mahal. Pria muda itu kemudian membungkuk, dengan gerakan yang sangat efisien dan tidak terduga, dia mengangkat tubuh ringkih Alessa ke dalam lengannya. Kain kemeja biru pudar yang basah dan bernoda darah bergesekan langsung dengan kain jas mahalnya, meninggalkan noda merah yang kontras di dada jas abu-abunya. Pria itu tidak peduli. Dia membaringkan tubuh Alessa di atas kursi belakang yang empuk, lalu melangkah masuk dan duduk di sampingnya.

​"Pergi ke kediaman pribadi. Panggil dokter keluarga sekarang juga," ucap sang penguasa dunia malam saat pintu mobil ditutup dengan bunyi berbobot yang mewah.

​Kereta kencana modern itu kembali bergerak maju, meninggalkan pelataran gedung perkantoran, membawa Alessa melaju menembus jalanan ibu kota menuju sebuah dunia baru yang jauh lebih megah, namun juga jauh lebih berbahaya daripada neraka kecil yang dia tinggalkan di pelabuhan. Tabrakan takdir pagi itu telah resmi mengakhiri masa pelarian tanpa alas kaki Alessa, membuka sebuah babak baru di mana luka-lukanya akan dirawat, dan sebuah kekuatan baru akan lahir dari pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka oleh kekejaman dunia.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!