Kisah cinta remaja yang manis
Aninda adalah cewe yang manis, baru saja lulus SMP. Karena kepintarannya, Aninda berhasil masuk ke SMA Favorit yang ngga jauh dari rumahnya.
Ternyata cowo yang selalu menatapnya diam diam sejak Aninda kelas tiga SMP, juga masuk di SMA yang sama dengannya.
Cowo itu sangat tampan dan kaya raya, tapi dingin. Namanya Gibran. Katanya sudah punya pacar. Tapi pacarnya pindah ke kota lain waktu Aninda dan cowo itu naek kelas tiga SMP.
Aninda bingung kenapa cowo itu selalu memperhatikannya padahal sudah punya pacar. Aninda juga selalu gugup jika beradu pandang dengannya, bahkan Aninda pernah memimpikan cowo itu saat akan masuk SMA.
Aninda yang didukung beberapa temannya berusaha melayani perhatian cowo itu. Tapi tetap dengan cara tarik ulur. Aninda harus pastikan kalo cowo itu sudah putus dengan pacarnya, karena Aninda ngga mau jadi pelakor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke sekolah
Aninda dan para sepupunya bergegas berjalan di lorong rumah sakit.
Katanya Nenek mereka jatuh di kamar mandi. Pantas saja dari tadi Aninda merasa ngga tenang.
Mereka pun disambut orang tua mereka masing masing yang sudah berkumpul di sana.
Bahkan bibi Anne juga ada di sana.
"Nenek di mana, ma?" tanya Aninda dengan suara bergetar.
"Masih di ICU," kata mamanya sambil memeluknya. Bibi Anne pun berada di sampingnya.
Aninda ngga berani melihat para tante dan omnya yang berada di situ. Dia sudah dapat merasakan perasaan menusuk yang sangat tajam.
"Pap, nenek ngga parah, kan?" tanya Deby sangat khawatir.
"Nenek lagi ditangani di ICU. Semoga ngga apa apa," katanya papinya tenang.
"Kenapa kalian membiarkan nenek sendirian? Untung Bibi Anne mengecek nenek di kamar mandi," seru Mami Kamila yang putri kandung nenek yang bungsu marah.
"Ma, kan, ada Mbok Rahmi," kata Kamila membela diri.
"Iya, tadi kita antar Mbok Rahmi langsung, tante," sambung Radina.
"Mbok Rahmi tadi diminta nenek beli tepung di warung," jelas Om Thomas, papi Deby.
"Biasa, nenekmu mau buat kue untuk cucu kesayangannya," sarkas Mama Kamila membuat hati Aninda sakit.
Tapi dia beruntung, papanya belum datang jadi ngga mendengar kata kata menyakitkan dari mamanya.
"Tenanglah, ma," ucap papa Kamila sambil menggelangkan kepalanya.
"Semuanya cucu kesayangan. Nenek mereka ingin membuat kue untuk mereka semua," kata Rino menyabarkan adiknya yang selalu negatif thinking.
"Insha Allah, mama ngga apa apa. Kita berdo'a saja," sambung Thomas.
Dalam suasana kalut begini, adiknya dan istri istri mereka masih saja menyalahkan Aninda.
Semuanya musibah. Bahkan putrinya dan sepupunya yang lain sudah mengantisipasi dengan membawa pembantu mereka ke rumah Aninda.
Tapi nenek mereka yang suka sekali membuat jajan, membuatnya tinggal sendiri sebentar setelah menyuruh pembantunya membeli bahan bahan kue.
Untung Bi Anne hanya pulang sebentar untuk mengambil loyang, dan menemukan mama mereka sudah pingsan di kamar mandi.
Dirinya, adik adiknya dan ipar iparnya yang sedang meeting, langsung pergi ke rumah sakit. Khawatir dengan keadaan mama mereka.
Ngga lama kemudian, seorang dokter keluar bersama dengan dua orang perawat.
Om Thomas dan Om Rino segera mendekat. Begitu juga mama Kamila dan istri istri omnya.
Aninda dan mamanya bersama Bi Anne tetap duduk sambil menunggu kabar.
"Nenek masih di ICU. Tapi keadaannya sudah lebih baik,: lapor Deby yang langsung mendekati Aninda, mamanya dna Bibi Anne.
"Syukurlah."
"Aninda kita kembali ke sekolah. Kamu, kan, juara satu lomba cerdas cermat," ujar Zifa yang menghampiri Aninda bersama Kakaknya Maya.
"Tapi...." Aninda agak ragu
"Selamat ya sayang," ucap Bibi Anne bahagia. Di ikut memeluk Aninda.
"Selamat sayang," ucap mamanya penuh haru.
"Karena itu Aninda harus balik lagi ke sekolah tante," ucap.m Kamila, walaupun dia tau tujuan lain sepupunya. Mau melihat pertandingan basket pemenang dan tim inti sekolah.
Mungkin dia juga ingin melihat Reyhan.
Laki laki yang ngga cukup hanya dengan satu peremouan, batinnya lagi
"Iya, sayang pergilah. Papa juga bentar lagi datang " ucap mamanya setuju sambil menepuk lembut bahu Aninda.
"Selamat, ya, Ninda," ujar Om Thomas serentak sambil menghampiri ponakannya
Aninda kembali tersenyum haru.
"Udah sana, kalian nanti terlambat," tukas Om Rino dengan senyum di wajahnya.
Dirinya senang melihat anak anak dan sepupunya akrab
"Radina, kamu jangan nyetir. Biar pak Jono aja," tukas Om Thomas.
"Siap Om," sahut Radina dengan senyum di wajahnya sebelum menyusul para sepupunya.
"Anak anak terlihat senang. Dan Syukurlah mama ngga apa apa," ucap Thomas sambil melihat kepergian mereka.
Bibi Anne, Mama Aninda dan Om Rino sama meganggukkan kepala setuju.
"Kata dokter, besok mama sudah bisa dipindah di kamar," jelas Om Thomas.
"Syukurlah," sahut Bibi Anne lega. Sementara itu kakak perenpuan dan istri istri kakak laki lakinya juga sedan memisahkan diri.
Papa Kamila terlihat menyambut papa Aninda yang baru saja datang.
*
*
*
Pak Jono memang supir handal. Beliau ngebut sesuai permintaan nona nona mudanya. Tentunya dengan perjanjian ngga akan dilaporkan pada bos besar.
"Sepertinya mereka baru mulai," ucap Maya sambil melihat jam di tangannya.
Mereka pun keluar dari mobil dengan ngga sabar.
"Aninda, kamu sama kita aja," tahan Zifa melihat Aninda yang mau memisahkan diri.
Aninda menatap ragu.
"Udah. Ayo," tukas Deby sambil menarik tangan Aninda agar mengikuti mereka.
"Eh, tim pemenang gabung, ya?" kaget Maya ketika sambil melangkah ke arah rombongan penonton membuka jalan buat para sepupunya.
"Keren ini," ucap Radina excited. Dia pun cepat bergerak melewati kursi kursi penonton.
Mata Aninda langsung mencari keberadaan Gibran sambil mengikuti sepupunya yang mencari tempat duduk buat mereka. Skor sedang imbang sekarang.
"Itu bukannya Ninda," seru Hexa sambil mendribel bola mendekati Gibran yang langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Hexa.
Senyumnya langsung terkembang saat mat abis mereka saling bertatapan. Mood bertandingnya yang tadi hilang kini kembali lagi. Bahkan jantungnya semakin berdebar seolah memacu semangatnya yang udah kendor.
Para fansnya pun bersorak dengan heboh ketika senyum Gibran terurai.
"Gibran senyum sama kamu. Ninda," goda Radina terkekeh.
Kamila dan Maya juga. Tetapi Deby, Shafa dan Zifa hanya saling berpandangan. Walau akhirmya memaksakan sebuah senyuman.
Deby dan Shafa ngga masalah dan sudah menyadari kalo Gibran terlihat menyukai Aninda, sepupunya.
Hanya mereka bingung jika Reva belum bisa menerima hal ini. Sebuah penolakan atas cintanya untuk Gibran. Dan yang berhasil menaklukkan Gibran adalah Aninda sepupunya. Pasti hati Reva akan merasa terpanggang.
Sementara itu dilapangan basket Reyhan pun mengikuti arah sorakan heboh itu ditujukan. Dan dia mendapati Kamila sedang menatapnya tapi kini sudah membuang mukanya ke arah lain
Reyhan tersenyum miring. Menyadari Kamila.dan para sepupu yang baru datang itu kini sedang berkumpul di pojok atas.
Tapi dia sedikit heran, karena tadi mereka pulang terburu buru dengan raut khawatir. Tapi sekarang sudah kembali lagi menonton pertandingan ini.
Ada apa tadi dengan mereka, batinnya kembali mengarahkan pandangannya ke teman temannya.
Ngga disangka tim pemenang mau disadingkan dengan tim yanh kalah. Dan teman teman mereka pun legawa.
Inilah tim Gibran cs sesungguhnya. Mereka mrnjadi sangat tangguh jika bergabung
Operan, dribel dan tembakan mereka memang yahut. Postur tubuh mereka pun sama tingginya dengan dirinya dan teman temannya.
Reyhan pun dapat melihat semangat Gibran yang bangkit lagi ketika melihat adanya Aninnda.
Ternyata isu yang berhembus kencang memang bisa dipercaya. Tanpa sadar Reyhan pun tersenyum miring.
"Itu, kan, Aninda," tukas Laras
sambil menunjuk ke tempat mereka berada.
Kirana dan Vina pun saling pandang.
.CKK kegantung nih...😭😭
Ckk istri nya Thomas.. Padahal ponakan sendiri dijelek jelekin,asal kamu tau,Ibu mu aja lebih milih tinggal dgn putri angkat nya di bandingkan kalian yg katanya ANAK KANDUNG..🙄🙄🙄
MAMPIR THOR 🙋
hihihi