Ayunindya, gadis yang hanya bekerja sebagai pembantu di keluarga Wiliam. Kecantikannya mampu membuat anak dari majikannya itu jatuh hati padanya. Tapi sayang, keluarga Wiliam yang menjunjung tinggi nama baiknya membuat Affandra Wiliam mengubur rasa cintanya.
Hingga akhirnya, Affandra dijodohkan dan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Namun, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dipernikahannya. Affandra kecewa dengan sang istri.
Aileen, istri dari Affandra telah menanam kebencian untuk suaminya. Dirinya yang tak lagi suci membuat Affandra kecewa, tepat di malam pengantinnya.
Malam pengantin yang harusnya berakhir bahagia pada Affandra tapi nyatanya tidak, hingga ia mabuk berniat melupakan semuanya. Karena pengaruh alkohol ia malah melakukan keselahan, di mana ia malah menghabiskan malam pertamanya dengan Nindya, pembantu yang ia cintai sejak dulu.
Lalu, bagaimana dengan kisah rumah tangganya?
Akankah Affandra tanggung jawab pada Ayunindya gadis yang ia rampas mahkotanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Andra pun akhirnya sampai di kota metropolitan bersama sekretaris sekaligus tangan kanannya. Roy begitu setia pada majikannya itu. Mereka langsung menuju rumah. Mereka sampai tepat pukul 22.15, kedatangan mereka disambut oleh Mona.
"Malam, Tuan?" sambut Mona. "Nyonya Aileen di kamar sedang istirahat, perlu saya beritahu beliau?"
"Tidak usah, biarkan saja dia istirahat," jawab Andra. "Buatkan saya teh hangat," pintanya kemudian.
"Baik, Tuan. Untuk Tuan Roy, mau minum apa?" tanya Mona.
"Kopi saja," jawab Roy.
Mona pun undur diri setelah mendapat perintah dari majikannya.
Di dapur, Mona sedang meracik minuman untuk kedua lelaki yang sekarang sedang duduk di ruang tamu. Mona menuangkan sesuatu pada minuman itu. Ini saatnya ia membantu keinginan Aileen, wanita itu menjanjikan sesuatu sampai ia berani melakukan ini pada tuannya sendiri.
Setelah selesai, Mona kembali menemui lelaki itu. Ia membawa dua cangkir minuman untuk disuguhkan.
"Ini, Tuan. Minumannya, silakan diminum selagi hangat." Ucap Mona seraya meletakkan nampan di atas meja, dan ia menyodorkan minuman itu. Setelah itu ia pun undur diri. Sambil berjalan ia tersenyum penuh kemenangan.
"Seger ...," kata Roy setelah menyeruput kopi itu.
Andra juga meminum tehnya. Ia memijat pundaknya sendiri, hari ini membuatnya cukup lelah. Tak lama, ia menguap. Rasa kantuk pun menyerang. Dan Roy melihat itu, ia tahu tuannya pasti sangat lelah.
"Sebaiknya Tuan istirahat, saya juga harus pulang," saran Roy.
"Iya, Roy. Pulanglah, aku juga sudah ngantuk." Ujarnya seraya kembali menguap.
Karena Roy sudah pulang, Andra pun pergi ke kamar. Kantuk yang tak tertahankan tiba-tiba menyerang, setibanya di kamar ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu langsung pulas dan tak sadarkan diri, sampai seseorang datang menemuinya. Meski dalam keadaan tidak sehat, wanita itu begitu nekat.
"Kerjamu cukup bagus, Mona. Saya akan memberikan sesuatu sesuai janji saya. Sekarang kamu boleh keluar," titahnya pada Mona.
Mona yang memberitahukan bahwa Andra sudah tidur pengaruh obat tidur yang ia berikan melalui minuman tadi. Setelah Mona keluar, Aileen menyeringai. Tanpa menunggu lagi, ia langsung membuka pakaian suaminya, begitu pun juga dirinya. Jika ia tak bisa mendapatkan suaminya, mungkin dengan begini ia bisa membuat Andra merasa sudah tidur bersamanya.
Setelah semuanya terlepas, Aileen ikut bergelung di dalam selimut bersama suaminya. Ia lakukan itu seolah mereka sudah berhubungan suami istri.
Ia mendekap tubuh suaminya dengan erat.
* * *
Hingga esok hari, Andra mengerjapkan matanya secara perlahan. Ia terbangun lebih segar dari biasanya. Pria itu merentankan otot-ototnya yang terasa kaku, namun ia teringat sesuatu. Bukankah semalam ia langsung tidur? Perasaan ia tak mengganti bajunya lebih dulu, apa mungkin ia lupa? Tapi ya sudahlah, lebih baik ia segera pergi menuju kamar mandi.
Sementara Aileen, wanita itu masih tertidur di kamarnya. Tak lama kemudian, ia pun terbangun. Wanita itu membuka matanya. Dengan wajah ceria ia langsung meraba sisi ranjang, yang diingatnya bahwa semalam ia telah berhasil membuat suaminya tidur dengannya.
Tangannya terus meraba ke arah samping yang di belakangi karena posisinya sedang meringkuk membelakangi yang ia kira ada suaminya di sana. Tapi ia tak mendapati apa-apa, lalu ia melihat ke sekeliling kamar. Ini bukan kamar yang ditempati suaminya semalam, ia malah tidur di kamar tamu. Apa yang terjadi dengannya?
Aileen segera beranjak dari posisinya, dan ia langsung memanggil Mona. Ia ingin menanyakan apa yang terjadi padanya, dan kenapa ia malah berada di kamar tamu.
* * *
Pagi ini, Andra tengah sarapan. Ia sarapan seorang diri, dan untuk Aileen, wanita itu memang tidak enak badan. Jadi ia hanya rebahan di dalam kamar, itu menurutnya, dan tak lama ia mendengar suara lantang dari kamar tamu yang berada di lantai atas.
Lalu, Andra melihat Mona tengah berlari menaiki anak tangga dengan tergesa. Teriakan Aileen membuatnya harus segera menemui majikannya.
"Apa Aileen memang sakit?" tanya Andra sendiri pada dirinya. "Kalau sakit kenapa dia teriak-teriak?" gumamnya seraya berpikir.
Tapi ia tak peduli, ia malah melanjutkan sarapannya yang sedang mengolesi roti dengan selai kesukaannya.
"Pagi, Tuan," sapa Roy tiba-tiba muncul dari arah belakang.
Andra mengerutkan kening karena bingung, jam berapa pria itu berangkat dari rumahnya?
"Tumben pagi-pagi sudah sampai di sini?" tanya Andra. Seingatnya pria itu pulang tadi malam cukup larut, heran saja karena tak biasanya Roy datang sepagi ini ke rumahnya, biasanya bertemu di kantor jika Roy pulang larut.
"Kalau tidak ada aku, mungkin Tuan sudah masuk jebakan betman istri bar-bar Anda, Tuan," batin Roy.
Semalam, ia memang akan pulang. Tapi ponselnya tertinggal di atas meja, mau tak mau ia kembali untuk mengambilnya. Tapi disaat ia sedang mengambil ponselnya, ia melihat Aileen dan Mona berjalan menaiki anak tangga. Dan ia mengikutinya karena curiga.
Roy tak menyangka bahwa istri dari tuannya itu begitu nekat, apa sebenarnya yang terjadi sampai Aileen melakukan apa pun untuk bisa tidur dengan majikannya? Sayang, setelah Mona keluar dan meninggalkan sang nyonya yang sudah berhasil merebahkan tubuhnya di samping suaminya, Roy langsung saja membekap mulut Aileen dengan sapu tangan yang sudah ia taburi dengan obat bius. Obat bius yang selalu ia bawa untuk jaga-jaga, dan akhirnya itu ada manfaatnya.
Roy tak bisa menganggap remeh seorang Aileen. Roy langsung memindahkan wanita itu ke kamar tamu, dan setelah itu selesai ia kembali ke kamar tuannya untuk memakaikan baju untuk pria yang sedang tidur karena pengaruh obat yang sudah diberikan oleh Mona.
"Jawab, tumben sepagi ini sudah kemari?" pertanyaan Andra membuat Roy terkesiap dari lamunannya.
"Sengaja, bukan 'kah Nona Aileen sedang sakit?" tanyanya. "Saya datang sepagi ini karena sudah menghubungi dokter datang kemari untuk memeriksanya," sambung Roy.
"Dia sudah berobat, Roy. Untuk apa repot-repot mengobatinya?" Karena Andra berpikir bahwa Roy simpatik pada wanita licik itu.
"Saya hanya ingin tahu saja, sebenarnya istri Tuan itu sakit apa?" Ucap Roy sambil mengambil roti, dan mereka sarapan bersama pagi itu.
* * *
"Katakan, kenapa saya ada di sini? Suami saya mana?" cecar Aileen pada Mona.
Mona pun jadi ikut berpikir, bukankah semalam sang nyonya tidur bersama tuannya. Tapi kenapa sekarang ada di sini?
"Siapa yang sudah memindahkanku kemari, hah?" tanya Aileen lagi.
Mona menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tak tahu apa-apa mengenai ini.
"Di mana suami saya?"
"Tuan sedang sarapan dengan sekretarisnya."
"Ini pasti ulahnya," duga Aileen pada Roy. "Kurang ajar, berani sekali dia ikut campur!" Aileen geram pada Roy, matanya melotot tajam sambil mengepalkan tangan.
tapi kadang juga merupakan firasat
Ketika papanya Dewi akan berangkat kerja...
Dia mengatakan " Titip Dewi...jaga baik-baik karena akan pergi jauh"....
itulah perkataan terakhir yang ternyata merupakan suatu firasat....
Nandya punya sikap dan pribadi yang baik...dia dapat menahan perasaannya ketika bertemu dengan Doni ,ayahnya Dewi....
Padahal Nandya sejak Hanum masih hidup dia greget bangeet dengan Doni suaminya Hanum
Tapi karena ada ibunya Doni yang sudah tua...jadi Nandya menahan perasaan itu agar tidak marah kepada Doni....
Nandya menghormati keberadaan ibunya Doni , neneknya Dewi
jadi ketika Akhsa bertanya kepada Dewi ,Apakah dia ( Nathan)sudah mengungkapkan perasaannya kepadamu?"
Jawaban Dewi terhadap pertanyaan Akhsa membuktikan bahwa Nathan tidak berkhianat kepada Akhsa...
Memang kalo sudah jodoh tak kan kemana.
di dunia nyata dan dunia narasi....
pasti hatinya sedih ...
sbb tak ada seorang ibupun yg mau berpisah dg anak yg tlh dilahirkan...
Sabar ya Aileen....masa itu akan datang
Masa dimana kau akan bertemu dengan anak yg tlh kau lahirkan
Morano kalo imitasi gimana bisa pake lebel mas murni.
rongsokan ya berkumpul dengan bardol atuh kang morano. jangan marah dibilang murahan kalo memang di obral.
barang orie mana di obral, di segel kali.
sayang aku telat baca nya ya thoor