Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Membuat Ulah
"Wahhh, tega kamu Nad, serius dah!" ucap Zizi, Pura-pura kecewa. Agar Nadia tidak berani lagi menghianatinya.
"Bukan gitu, Zi, sungguh. Hidup dan mati kedua adikku ada ditangan mereka. Jadi aku mesti gimana?" tanya Nadia memelas.
"Entahlah Nad, aku nggak tahu ... siap yang salah di sini. Yang jelas, sebenarnya aku sangat malas berurusan dengan keluarga mantan. Tapi gimana lagi? Mereka sudah tahu semuanya. Malah, sekarang... mereka mau aku berhenti kerja dulu. Suruh fokus sama kesehatan. Mereka juga mau aku pindah ke tempat yang udah mereka siapkan. Aku juga nggak kuasa menolak, Nad. Sebab aku takut mereka bakalan tersinggung kalo aku sampai nolak. Mereka udah nganggep aku anak mereka sendiri," ucap Zizi. Terdengar jelas, di setiap kata yang yang ia ucapkan, seperti ada keraguan di sana. Zizi terlihat tidak bersemangat.
"Tapi mereka baik, Zi. Sungguh. Kamu taji Dion dan Shela, kedua adikku itu mereka biayai sampai SMA dan nanti, kalo mereka susah cari kerja, katanya suruh kerja sama mereka aja. Sungguh Zi, berteman denganmu adalah rezeki terbaik untukku. Aku nggak bisa ngomong panjang lembar, mertuamu itu manusia-manusia luar biasa. Wajar jika kamu nggak ingin membuat mereka kecewa." Nadia memeluk Zizi dengan perasaan sangat-sangat bersyukur dan bahagia.
"Ya, kamu benar, Nad. Mereka memang baik. Sangat baik. Tapi aku takut ... takut kalo mereka kasih tahu keberadaanku dan calon bayi-bayi ini pada mantan. Aku takut dia goyah dan tak jadi bersatu dengan wanita yang ia cintai, Nad. Aku nggak mau bikin dia bimbang," ucap Zizi, kali ini dia serius. Karena ketika ia mengucapkan barisan kata itu, butiran-butiran bening ikut keluar dari sudut matanya.
"Sabar, Zi, percayalah Tuhan punya rencana yang baik untukmu. Kalaupun ayah dari bayi-bayimu tidak menginginkan ibu mereka, tapi aku yakin, ibu mereka adalah wanita yang kuat. Pasti kuat menghadapi fase ini!" balas Nadia menguatkan.
Air mata keduanya sudah tak sanggup mereka bendung lagi. Seakan saat ini adalah saat paling buruk dalam hidup mereka.
Suasana hening sejenak. Lalu tak terdengar ponsel Zizi berbunyi. Ternyata itu adalah Bima. Bertanya apakah Zi mau dibawakan makan atau tidak dan dia tidak bertanya apakah Nadia sudah dikeluarkan dari kamar mandi atau belum.
Tentu saja kenyataan itu membuat Nadia kembali naik pitam.
"Kesel kesel kesel... awas aja! Dasar dokter jelek!" umpat Nadia sebel. Beberapa kali gadis cantik ini mengentakkan kaki kesal.
Melihat sang sahabat kembali marah-marah, Zizi hanya tersenyum. Karena ia juga tahu bahwa Bima memang keterlaluan.
"Kamu nggak usah tersenyum, Zi. Kamu sama saja dengan dokter jelek itu!" Nadia menatap kesal pada lantai yang ia pijak. Andai di situ ada Bima, Nadia tak akan segan-segan menendangnya.
"Dih... dia marah! Yang harusnya marah di sini tu aku, Nad. Bukannya kamu.... kebalik buk, kebalik!" balas Zizi iseng.
"Apaan! mana ada begitu? Aku udah nylametin dia, terus seenaknya saja dia ninggalin aku, dengan dalih mau memastikan keadaan, aman untukku atau tidak. Ternyata oh ternyata, dia cuma menipuku. Dasar! Dan sekarang tanpa berdosa, dia hanya menanyaimu, perihal kebutuhanmu. Sedangkan aku, hampir kehabisan napas di kamar mandi, dia tak peduli. Awas aja kalo ketemu? Nadia kembali menatap marah pada arah memandang. Ia juga terlihat mengatur napas. Tentu saja untuk mengatur dan meredakan emosinya.
"Sabar, Buk, sabar. Dia memang gitu, iseng. Tapi aslinya baik kok!" canda Zizi.
Nadia kembali melirik kesal pada sangat sahabat. Bagaimana tidak? Zi selalu membela pria itu, bukan dirinya yang udah lama berteman dengannya.
"Bodo amat, sampai kapanpun aku nggak akan pernah lupain tu keisengan dokter jelek itu. Sampai kapanpun akan ku inget, dasar, penipu!" ucap Nadia kesal.
Zizi tak mau terlalu meladeni sangat sahabat, sebab ia tahu, Nadia lagi dalam mode kesal saat ini. Ditambah ia juga mendapatkan tekanan dari kedua mertuanya. Ini juga memperngaruhi kejiwaan sang sahabat. Itu sebabnya Zi memilih diam dan membiarkan Nadia meluapkan emosinya.
"Jangan senyum Zi! Aku serius!" Nadia cembetut.
"Iya, iya, aku ngerti. Kesel, Kan. Kamu lagi kesel kan?" balas Zi. Sengaja melemahkan suaranya, agar emosi Nadia cepat mereda.
"Udah tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan perlahan. Biar tenang. Kan sekarang aku lagi nungguin kamu, buat ngejelasin ke aku. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan mertuaku!" ucap Zi.
Nadia diam.
Kali ini, Zi yang pegang kendali. Mau tak mau Nadia yang memang memiliki kesalahan terhadap sangat sahabat, tentu saja harus menjelaskan ini semua terhadap masalah yang terjadi.
"Emmm, maaf ya, Zi!" ucap Nadia.
"Ya, aku memaafkanmu." Zi tersenyum.
"Makasih sahabatku, kamu tahu... kamu adalah sahabat terbaikku. Sampai kapanpun!" ucap Nadia sembari memeluk manja Zizi.
***
Di sisi lain Laskar marah besar ketika mendengar Zein kembali membuat ulah.
Diam-diam pria ini pulang ke Batam untuk menemui keluarga Vita yang ada di sana.
Zein langsung melamar kekasihnya itu. Karena keluarga Vita tak tahu kondisi Zein saat ini, mereka pun langsung menerima saja apa yang telah Zein dan Vita inginkan.
Laskar merasa kecolongan dengan sikap gegabah Zein. Tak ingin mengulur waktu lagi, Laskar pun segera meminta sangat istri untuk memesan tiket. Laskar tak sabar, ia ingin segera terbang ke Jakarta dan membuat perhitungan dengan putra yang menurutnya bodoh itu.
Bersambung...